Turnamen Peringkat Langit baru saja dimulai. Di hadapan para penguasa Alam Tiran, Arka Yudhistira melangkah ke arena bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai naga yang tengah terjaga.
Di antara bayang-bayang Ratna, Citra, dan kesetiaan Larasati, Arka siap mengguncang tatanan dunia. Panggung telah siap, pedang telah terhunus, dan sejarah baru akan segera ditulis.
Inilah awal dari...
LEGENDA ARKA YUDHISTIRA
Biarkan dunia bersujud pada sang naga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Memasuki gerbang gunung, terbentang sebuah jalan setapak sepanjang kurang lebih lima kilometer. Di ujung jalan itulah berdiri megah Perguruan Pedang Surgawi, penguasa mutlak wilayah ini.
Setelah rombongan tujuh orang dari Keluarga Besar Wijaya melangkah masuk, tanpa disadari jarak di antara mereka mulai merenggang. Di barisan depan berjalan sang pemimpin, Jatmika, didampingi dua putranya, Badai dan Guntur. Di tengah ada Bowo serta Ziko. Sementara itu, Tama dan cucunya, Nero, tertinggal di barisan belakang.
Jatmika memiliki empat putra dengan nama yang mengandung unsur alam. Si sulung, Rimba Wijaya telah menggemparkan dunia pada turnamen sebelumnya. Si kedua, Badai, meraih peringkat ketiga pada turnamen terakhir dan namanya telah termasyhur. Kini, giliran si ketiga—Guntur yang baru berusia dua puluh tahun—untuk naik ke panggung.
Adapun si bungsu, Damar, meski sudah genap dua puluh tahun, semua orang tahu ia hanyalah seorang playboy yang tenggelam dalam anggur dan wanita—benar-benar tidak berguna. Tentu saja Keluarga Wijaya tidak sudi membawanya untuk mempermalukan diri. Namun, dialah yang paling dimanjakan karena merupakan putra dari istri sah satu-satunya.
Jatmika melirik sekilas ke belakang, lalu berbisik kepada Guntur, "Guntur, beban untuk melepaskan julukan 'Nomor Tiga Abadi' berada di pundakmu. Ayah tidak berharap kau mengalahkan Yoga. Namun selain dia, tidak ada alasan bagimu untuk kalah dari siapa pun… termasuk dari saudaramu sendiri, Ziko. Dia laksana harimau yang mengincar posisimu."
Guntur mengangguk mantap. "Putra mengerti. Saya tidak akan mengecewakan Ayah."
Di barisan tengah, percakapan Bowo dengan putranya, Ziko, tak kalah sengit. "Ziko, ini kesempatanmu! Lawanmu bukan hanya sekte lain, tapi juga Guntur. Dahulu Ayah kalah dari ayahnya dalam perebutan posisi pemimpin. Namun putraku… tidak boleh kalah dari putranya! Kau harus mengalahkan Guntur dan membuat Ayah bangga!"
Sementara itu, Tama menasihati cucunya, Nero, dengan lebih tenang. "Nero, masuk sepuluh besar mungkin mustahil bagimu sekarang. Tapi sebagai anggota Keluarga Wijaya, jangan sampai kau keluar dari peringkat lima puluh besar. Jadikan ini pengalaman nyata."
"Baik, Kek!" jawab Nero hormat. Ia lalu ragu sejenak. "Kakek, beberapa hari lalu saat aku keluar dari pengasingan, aku dengar kabar pria yang pernah Kakek jodohkan dengan Yuna—si Laksa dari cabang kota kecil itu—katanya dia dilumpuhkan seseorang. Benarkah?"
"Itu benar." Tama mengangguk datar. "Bakatnya memang biasa. Jika tidak cacat, mungkin dia sudah menikahi saudaramu. Tapi biarlah, mencari penggantinya semudah membalik telapak tangan. Yang menggelikan, orang-orang di cabang itu bilang pelakunya adalah pemuda yang menyamar sebagai 'Tabib Sakti' dari kerajaan seberang. Mereka bahkan berani menipuku dengan menyerahkan Inti Binatang palsu. Sungguh tak terampuni. Untung saja Yuna belum telanjur menikah ke sana."
Di depan gerbang utama, kemunculan sekelompok lima orang tiba-tiba menyedot perhatian. Kelima-limanya adalah wanita.
Busana mereka serupa—gaun panjang putih murni yang memancarkan kilau biru es laksana bintang-bintang kecil yang berputar lembut di sekitar tubuh mereka. Kecuali gadis termuda di barisan belakang yang menutupi wajahnya dengan kerudung tipis, empat lainnya tampak berusia awal dua puluhan.
Mereka tidak memakai riasan, namun kulit mereka sehalus giok salju—laksana dewi dari langit yang tak tersentuh debu dunia fana. Aura dingin yang suci terpancar dari tubuh mereka, membuat siapa pun yang memandang merasa segan, bahkan untuk sekadar bernapas.
Murid penjaga gerbang Perguruan Pedang Surgawi terpaku selama lima detik sebelum akhirnya menggigit lidahnya untuk sadar. Ia menundukkan kepala, tak berani lagi menatap langsung.
"S-saya berasumsi… lima tamu terhormat adalah para peri dari Perguruan Awan Beku? S-silakan tunjukkan surat undangan dan daftar nama."
Wanita di barisan depan menyerahkan dokumen itu. Tatapan sang murid menyapu daftar nama dan seketika jantungnya seolah berhenti berdetak.
"Peri Kaca Beku… Peri Es Citra…"
Ia tersentak, menatap wanita bercadar di hadapannya dengan ngeri sekaligus kagum. "Nama Peri Citra seperti guntur di telinga hamba. Mohon maaf atas kelancangan ini. Silakan masuk…"
Setelah rombongan itu berlalu dengan aroma harum yang dingin, murid lain berbisik, "Senior, apa itu tadi benar-benar Citra yang legendaris? Kita harus lapor pada Ketua Perguruan!"
"Diam!" Senior itu membentak. "Ketua sedang bersama Nyonya Besar. Di perguruan ini, semua orang tahu nama Citra adalah pantangan bagi Nyonya. Laporkan saja Perguruan Awan Beku telah tiba dipimpin oleh Dewi Yunanda. Jangan sebut nama kakaknya jika kau masih ingin selamat!"
Menjelang malam, sebuah kelompok yang agak janggal tiba di gerbang. Mereka hanya berjumlah empat orang—bahkan lebih sedikit dari rombongan Perguruan Awan Beku.
Keempatnya adalah Satya Wibowo, Larasati, Arka Yudistira, dan Banu Pradana.
Begitu mereka mendekat, penjaga gerbang melangkah maju dengan sikap tegas. "Para tamu, mohon berhenti. Perguruan kami sedang bersiap untuk Turnamen Peringkat Langit dan tidak menerima kunjungan umum. Silakan kembali."
Melihat empat orang ini—pria tua, seorang gadis, pemuda di Alam Sejati, dan satu lagi raksasa yang masih di Alam Dasar—si penjaga tidak percaya sedikit pun bahwa mereka adalah peserta. Di tengah perhimpunan para jenius terbaik kerajaan, kehadiran mereka tampak sungguh… tidak pantas.
Perlakuan dingin seperti ini sama sekali tidak mengejutkan bagi Satya. Semula ia mengira Larasati akan membawa beberapa pengawal tingkat tinggi untuk perjalanan ini, sehingga ia tidak berani membawa orang lain tanpa izin. Ia tidak menyangka Larasati justru berangkat sendiri. Dari tiga murid peserta yang seharusnya ikut, dua telah dilumpuhkan oleh Arka dan satu lagi dipaksa pergi. Jika ditambah Banu, jumlah mereka hanya empat orang. Satya sendiri merasa keadaan ini agak menggelikan.
Ia melangkah maju dan berkata, “Nak, aku Satya Wibowo. Kami datang untuk menghadiri Turnamen Peringkat Langit.”
“Kalian berempat… datang untuk ikut turnamen?” Murid penjaga gerbang itu menatap kosong sejenak. Namun, saat tatapannya jatuh pada Larasati, ia tersentak. “Dan ini… Putri Larasati dari Keluarga Kerajaan?”
“Benar.” Larasati sedikit mengangguk sembari menyerahkan dokumen resmi. “Kami berempat datang mewakili Kerajaan Surya Kencana. Ini surat undangan dan daftar peserta kami.”
Secara alami, daftar itu hanya berisi empat nama: Satya, Larasati, Banu, dan Arka. Dan pada kolom murid peserta, hanya terdapat satu nama tunggal Arka Yudhistira.
Otot wajah penjaga itu sedikit berkedut. Ia segera menyingkir dan memberi jalan dengan sopan. “Ternyata tamu agung dari Kerajaan. Mohon maaf atas ketidaksopanan saya. Lima kilometer ke depan adalah lokasi utama perguruan, tempat Ketua Perguruan dan Nyonya telah menunggu.”
Setelah keempat orang itu berlalu, para murid penjaga saling berpandangan dengan heran.