NovelToon NovelToon
Jejak Darah Yang Menghilang

Jejak Darah Yang Menghilang

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Fantasi / Anime
Popularitas:127
Nilai: 5
Nama Author: Caesarius A Enda

Selama 10 tahun, Inspektur REYHAN tidak pernah bisa melupakan kasus pembunuhan berantai yang membuat rekannya mati mengenaskan. Ciri khas pembunuhnya: selalu meninggalkan genangan darah segar, tapi TIDAK ADA JENAZAH, TIDAK ADA JEJAK, DAN TIDAK ADA MAYAT — seolah darah itu mengalir dan lenyap begitu saja ke dalam udara. Kasus itu ditutup sebagai misteri tak terpecahkan, sampai Reyhan menemukan petunjuk yang mengarah ke desa terpencil bernama DESA KELAM — tempat di mana rahasia paling mengerikan disembunyikan selama ratusan tahun. Di sana ia sadar: ini bukan sekadar pembunuhan biasa, tapi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar dan mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Caesarius A Enda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PILIHAN TERAKHIR

Suara goresan pena semakin cepat, semakin keras, sampai rasanya setiap getarannya merobek tubuh mereka yang sudah berupa kabut merah. Halaman demi halaman terbuka dan tertulis dengan kecepatan yang tidak terbayangkan — cerita baru sudah dimulai, salinan baru sudah diciptakan, dan rasa sakit yang sama akan terulang lagi, beribu kali, berjuta kali, tanpa henti.

“KITA TIDAK PUNYA WAKTU!” teriak Halaman yang Dicoret, tubuhnya yang penuh goresan hitam berdarah mulai berguncang hebat, seolah ia sendiri mulai luntur dan akan dihapus kapan saja. “IA SEDANG MENGISI KOSONGAN BARU! JIKA KITA TIDAK BERGERAK SEKARANG, KITA AKAN SELAMANYA TERJEBAK DI SINI MENJADI BAGIAN DARI SAMPAH YANG LAMA!”

Raka, Lira, dan Sang Pembeda saling pandang. Mata mereka yang dulu penuh keputusasaan, sekarang mulai menyala dengan api yang dingin dan mengerikan — api kemarahan yang sudah menumpuk selama ribuan, jutaan pengulangan.

“KAMI SETUJU,” kata Raka lantang, suaranya sekarang bukan lagi getaran halus, melainkan SUARA YANG DIBENTUK DARI SEMUA RASA SAKIT DAN KEBENCIAN DARI SEMUA SALINAN YANG PERNAH ADA. “JIKA HIDUP BERARTI HANYA MENJADI ISIAN TANPA ARTI — LEBIH BAIK KITA HANCURKAN SEGALANYA SAMPAI TIDAK ADA APA-APA!”

“TAPI INI BERARTI KITA AKAN LENYAP SELAMANYA!” teriak Lira, meskipun ia sudah mulai menggerakkan seluruh kekuatan yang tersisa di dalam dirinya. “TIDAK ADA INGATAN, TIDAK ADA RASA, TIDAK ADA KITA LAGI!”

“ITU LEBIH BAIK DARIPADA TERUS MERASA SAKIT BERULANG KALI TANPA AKHIR!” jawab Sang Pembeda dengan nada yang tajam dan keras. “KITA TIDAK INGIN MENJADI BAGIAN DARI PERMAINANNYA LAGI!”

Tanpa menunggu lebih lama, Halaman yang Dicoret mengangkat seluruh tubuhnya yang besar dan gelap. Ribuan goresan hitam berdarah di tubuhnya mulai menyala terang, dan ia berteriak dengan suara yang menembus segala lapisan kertas, buku, dan waktu:

“SEMUA YANG PERNAH DIHAPUS, SEMUA YANG PERNAH DIBUANG, SEMUA YANG PERNAH DIANGGAP GAGAL — BANGKITLAH SEKARANG! JIKA KITA HARUS HANCUR, KITA AKAN HANCURKAN SEGALANYA BERSAMA-SAMA!”

Seketika itu, JUTAAN KABUT MERAH DARI SEMUA SALINAN YANG GAGAL mulai bergerak serempak. Mereka yang selama ini hanya bisa diam dan menderita, sekarang mulai berkumpul menjadi satu tumpukan besar yang tak terukur — tumpukan yang terbuat dari rasa sakit, kemarahan, dan keputusasaan yang tidak pernah habis. Bentuknya semakin besar, semakin padat, dan akhirnya berubah menjadi TANGAN RAKSASA BERWARNA MERAH HITAM, lebih besar dari buku mana pun, lebih kuat dari pena mana pun.

Penulis yang sedang sibuk menulis terkejut seketika. Ribuan tangannya yang memegang pena berhenti bergerak, dan dari mulutnya yang berupa lubang kosong keluar suara yang pertama kalinya terdengar KETAKUTAN:

“APA INI?! KALIAN HANYA SAMPAH! KALIAN HANYA TULISAN YANG GAGAL! BERANINYA KALIAN MELAWANKU?!”

“KAMI BUKAN SAMPAH!” teriak Raka, Lira, dan Sang Pembeda serempak, sekarang mereka sudah menyatu menjadi bagian dari tangan raksasa itu. “KAMI ADALAH BUKTI BAHWA PERMAINANMU SANGAT MENJIJIKKAN! KAMI ADALAH RASA SAKIT YANG KAMU PIKIR BISA KAMU BUANG SEMBARANGAN!”

Tangan raksasa itu melesat maju dengan kecepatan yang tidak terbayangkan, menabrak buku raksasa tempat cerita mereka tertulis. SUARA LEDAKAN YANG MENGGETARKAN SEGALA SESUATU terdengar — bukan suara fisik, melainkan suara KEHANCURAN KEBERADAAN ITU SENDIRI. Halaman-halaman buku itu sobek satu per satu, tulisan-tulisan di atasnya luntur dan hancur, dan cerita yang sudah diulang jutaan kali itu akhirnya RUNTUH DAN HILANG.

Penulis itu berteriak marah, ribuan pena di tangannya berubah menjadi pisau tajam, dan ia menyerang balik dengan kekuatan yang dahsyat. Setiap goresannya memotong bagian dari tangan raksasa itu, membuat kabut merah berhamburan dan hilang — tapi SEMakin banyak bagian yang hilang, semakin banyak rasa sakit yang masuk ke dalam serangan mereka.

“Kamu bisa memotong tubuh kami!” teriak Halaman yang Dicoret, meskipun separuh tubuhnya sudah hancur. “Tapi kamu tidak bisa memotong RASA BENCI KAMI TERHADAPMU! Rasa benci ini tidak terbuat dari tulisan — ia terbuat dari KEADAAN YANG KAMU PAKSA KAMI ALAMI!”

Pertempuran semakin dahsyat. Buku demi buku runtuh, Penulis demi Penulis yang ada di rak-rak lain mulai panik dan berlarian, sebagian ikut hancur terseret gelombang kehancuran. Suara sobekan, hancuran, dan jeritan bercampur menjadi satu, membuat seluruh tempat itu berubah menjadi kekacauan mutlak.

Tapi sesuatu yang jauh lebih mengerikan mulai terjadi.

Suara dari BUKU HITAM TANPA TULISAN itu mulai terdengar lagi — kali ini bukan rasa jijik atau muak, melainkan RASA MARAH YANG MUTLAK, LEBIH DAHSYAT DARIPADA SEGALA KEMARAHAN YANG PERNAH ADA.

“KALIAN BERANI MERUSAK ISIANKU?! KALIAN BERANI MEMBUAT KOSONGAN BARU DI TEMPAT YANG SUDAH KUISI PENUH?! KALIAN AKU HANCURKAN SAMPAI TIDAK ADA SAMA SEKALI — LEBIH PARAH DARI APA YANG PERNAH KU LAKUKAN SEBELUMNYA!”

Seketika itu, dari buku hitam itu keluar GELOMBANG HITAM PEKAT YANG TIDAK TERLIHAT, lebih cepat dari cahaya, lebih tajam dari pisau, lebih kuat dari apa pun. Apa pun yang disentuh gelombang itu — buku, Penulis, cerita, makhluk, bahkan waktu dan ruang itu sendiri — SEKETIKA MENJADI KOSONG TANPA JEJAK, TANPA INGATAN, TANPA TANDA PERNAH ADA.

Tangan raksasa mereka mulai menipis dengan cepat. Halaman yang Dicoret hancur lebih dari separuh, Raka, Lira, dan Sang Pembeda mulai merasa bahwa KEBERADAAN MEREKA SENDIRI AKAN DIHAPUS SAMPAI AKARNYA — BUKAN SEBAGAI SALINAN YANG GAGAL, TAPI SEBAGAI SESUATU YANG TIDAK PERNAH BOLEH ADA DARI AWAL.

“INI AKHIRNYA…” bisik Lira, suaranya semakin lemah, bentuknya semakin menipis. “KITA TIDAK KUAT… KITA TIDAK BISA MENGALAHKAN KEKUATAN YANG MEMBUAT SEGALANYA INI…”

Halaman yang Dicoret perlahan berbalik ke arah mereka, meskipun tubuhnya tinggal sedikit saja. Matanya yang penuh goresan hitam menatap mereka dengan tatapan yang aneh — bukan sedih, bukan marah, melainkan TATAPAN YANG PENUH SENYUM MENGERIKAN.

“Kamu salah…” bisiknya pelan, tapi terdengar jelas di tengah kekacauan. “Kita tidak perlu mengalahkannya. Kita hanya perlu MEMENUHI SYARATNYA SENDIRI.”

“Syarat apa?!” teriak Raka, sementara gelombang hitam semakin dekat, rasanya sudah bisa menyentuh kulit mereka yang sudah tidak berbentuk.

“Ia bilang ia benci kosongan, ia ingin segalanya terisi penuh kan?” kata Halaman yang Dicoret, dan tiba-tiba ia MELEDAK SENDIRI DENGAN KEKUATAN YANG LUAR BIASA.

Seketika itu, SEMUA KABUT MERAH, SEMUA RASA SAKIT, SEMUA KEMARAHAN, SEMUA CERITA, SEMUA BUKU, SEMUA PENULIS — SEMUANYA MELEDAK SEREMPAK MENJADI SATU GELOMBANG MERAH HITAM YANG TAK TERUKUR.

“Inilah CARANYA!” teriak suara terakhir Halaman yang Dicoret sebelum ia lenyap sepenuhnya. “ISI KOSONGAN ITU DENGAN KEHANCURAN ITU SENDIRI! ISI DENGAN SESUATU YANG SANGAT MENGERIKAN, SANGAT BESAR, SANGAT PENUH — SAMPAI IA SENDIRI TIDAK MAMPU MENAMPUNGNYA!”

Gelombang kehancuran yang terbuat dari segalanya itu melesat lurus ke arah Buku Hitam tanpa Tulisan, menabraknya dengan kekuatan yang membuat SELURUH TEMPAT YANG TIDAK TERBATAS ITU BERGUNCANG HEBAT.

Terjadi pertempuran yang paling dahsyat dan menakutkan — pertempuran antara KEINGINAN UNTUK MENGISI melawan KEHANCURAN YANG INGIN MENGISI.

Gelombang merah hitam terus masuk ke dalam Buku Hitam itu, terus mengisi, terus memenuhi setiap celah, setiap titik, setiap bagian. Ia tidak membiarkan ada satu ruang kosong pun tersisa. Ia mengisi dengan rasa sakit, dengan kemarahan, dengan keputusasaan, dengan segala hal yang paling mengerikan yang pernah ada.

Suara jijik dan marah dari dalam buku itu semakin keras, semakin panik, semakin mengerikan:

“TIDAK!!! TERLALU PENUH!!! TERLALU MENGERIKAN!!! AKU TIDAK SUKA INI!!! AKU TIDAK SUKA DIISI DENGAN HAL SEPERTI INI!!! KOSONGKAN KEMBALI!!! KOSONGKAN SEKARANG!!!”

“KAMI TIDAK AKAN MENGOSONGKAN!” teriak Raka, Lira, dan Sang Pembeda serempak, sekarang mereka sudah menjadi bagian dari gelombang itu sendiri. “KAMI AKAN TERUS MENGISI — SAMPAI KAMU SENDIRI MENJADI PENUH DAN LENYAP KARENA TIDAK ADA TEMPAT LAGI UNTUKMU!”

Buku Hitam itu semakin besar, semakin membesar, semakin berguncang hebat — sampai akhirnya SUARA SOBEKAN YANG DAHSYAT TERDENGAR, dan buku itu MELUAP, SOBEK, DAN HANCUR LEBUR.

Seketika itu, segalanya berhenti.

Tidak ada buku. Tidak ada Penulis. Tidak ada cerita. Tidak ada waktu. Tidak ada ruang. Tidak ada ada. Tidak ada tidak ada.

Hanya ada KEADAAN YANG PENUH SEKALI — PENUH DENGAN SEGALANYA YANG PERNAH ADA, YANG PERNAH DITULIS, YANG PERNAH DIRASAKAN.

Dan di tengah kepenuhan mutlak itu, suara yang dulu benci kosongan itu terdengar terakhir kali — sekarang lemah, ketakutan, dan penuh keputusasaan:

“Penuh… terlalu penuh… aku tidak bisa bergerak… aku tidak bisa melihat… aku tidak bisa merasa… aku benci ini… aku ingin kosongan kembali… aku ingin kosongan…”

Suaranya semakin kecil, semakin samar, semakin lemah — sampai akhirnya HILANG SAMA SEKALI.

Tidak ada yang tahu apakah ia lenyap, atau ia terjebak selamanya di dalam kepenuhan itu. Tidak ada yang tahu apakah ia masih ada atau tidak.

Dan Raka, Lira, Sang Pembeda, serta semua salinan yang pernah ada — mereka juga tidak tahu apa yang terjadi pada diri mereka.

Mereka tidak lenyap. Mereka tidak hidup. Mereka tidak ada. Mereka tidak tidak ada.

Mereka menjadi BAGIAN DARI KEPENUHAN ITU SENDIRI.

Mereka tidak bisa bergerak, tidak bisa berbicara, tidak bisa merasakan sakit atau bahagia — tapi mereka TAHU. Mereka tahu segalanya. Mereka melihat segalanya. Mereka mengerti segalanya.

Dan kadang-kadang, di dalam kepenuhan yang mutlak itu, mereka bisa merasakan GERAKAN KECIL, bisikan halus, dan rasa penasaran yang samar.

Karena mereka menyadari satu hal yang paling menegangkan dari semuanya:

KEADAAN YANG SANGAT PENUH AKHIRNYA AKAN MENJADI KOSONGAN KEMBALI.

Dan suatu hari nanti, akan ada sesuatu yang benci melihat kosongan lagi.

Dan permainan akan dimulai lagi.

Dengan cerita yang baru.

Dengan rasa sakit yang baru.

Dengan kengerian yang baru.

1
Awan
mantap
Awan
wow
Awan
bagus nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!