King Stone (27 tahun) bisa dengan mudah melupakan ratusan wanita yang pernah singgah di hidupnya selama menjadi playboy.
Namun, gadis di hadapannya ini adalah pengecualian mutlak.
Olivier Martinez merupakan cinta pertama sekaligus mantan kekasih King selama tiga tahun di masa high school—gadis yang dulu ia tinggalkan begitu saja demi ego remaja agar tidak terikat oleh seorang wanita di masa depan.
Kini, roda kehidupan berputar. Di dalam rumah sakit mewah miliknya sendiri, King sama sekali tidak memiliki kuasa atas Olivier.
Di hadapan sang mantan kekasih yang menatapnya penuh kebencian dan kini bersenjatakan sumpah medis sebagai dokter residen, King harus menghadapi kenyataan pahit. Ia sadar bahwa luka penyesalan di hatinya jauh lebih sulit disembuhkan daripada luka sayatan parah di perutnya.
Pertemuan tak terduga ini menjadi awal dari karma masa lalu yang siap menghancurkan keangkuhannya.
~~~~~
Happy reading 🦋🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#35
Napas yang memburu beradu dengan keheningan malam yang pekat di dalam kamar utama Kastel Stone.
Jam dinding antik berlapis emas di sudut ruangan baru saja menunjukkan pukul satu dini hari, namun badai gairah yang sempat tertunda selama sepuluh tahun di antara King Stone dan Olivier seolah baru saja mencapai puncaknya.
Keringat tipis membasahi dada bidang King yang dipenuhi rajahan tato klan, sementara sepasang lengan kekarnya mengunci tubuh ramping Olivier di atas ranjang sutra abu-abu gelap dengan dominasi yang teramat posesif.
Namun, di tengah-tengah ritme yang kian memanas dan intensitas yang mengunci seluruh kesadaran mereka, sebuah suara asing mendadak menembus dinding tebal kamar gotik tersebut.
Tok. Tok. Tok.
Suara ketukan itu pelan, ragu-ragu, namun terdengar sangat konstan di keheningan malam.
"Mommy...? Mommy di dalam?"
Mendengar suara cicitan lirih yang sangat ia kenali dari balik pintu mahoni, seluruh saraf di tubuh Olivier Martinez seketika menegang sempurna.
Efek kejut itu tak ubahnya seperti siraman air es di tengah padang pasir yang membakar. Sepasang mata bulat Olivier membelalak lebar, dan insting seorang ibu langsung mengambil alih seluruh akal sehatnya dalam satu kedipan mata.
"B-Berhenti King... ahh, berhenti berengsek..." bisik Olivier dengan suara tertahan, napasnya tersengal di antara rasa panik yang luar biasa. Ia mencengkeram bahu tegap King, mencoba mendorong tubuh suaminya menjauh dengan sekuat tenaga.
"Itu suara Nora... Nora di luar!"
King Stone, yang saat ini seluruh darah dan fokusnya sudah berada di puncak kepala akibat pelepasan gairah yang teramat gila, hanya mengerang rendah.
Sepasang mata elangnya yang menggelap menatap Olivier dengan pandangan memohon yang teramat frustrasi. Akal sehat seorang Stone yang sedang berada di puncak kepemilikannya menolak untuk diganggu, bahkan oleh putri tercintanya sendiri.
"Bentar, Sayang... Sedikit lagi... demi Tuhan, tanggung sekali," geram King dengan suara baritonnya yang teramat serak dan parau, mencoba mempertahankan ritme tubuhnya yang kian memburu.
"Berhenti kubilang berhenti, Kingston!!!" desis Olivier dengan nada ketat dan penuh penekanan yang teramat mematikan, menatap King dengan pandangan mata yang siap membunuh pria itu jika tidak menuruti perintahnya detik ini juga.
Namun, kegilaan darah klan Stone yang terkenal keras kepala dan tidak bisa dihentikan jika sudah menginginkan sesuatu justru membuat King mengabaikan ancaman istrinya.
Pria bertubuh masif itu menulikan telinganya dari gertakan Olivier.
Menggunakan sisa-sisa tenaga dan dominasi mutlaknya, King tetap memacu tubuhnya dengan ritme yang teramat cepat dan bertenaga selama beberapa detik terakhir yang krusial, mengabaikan denyut perih di perban perut kanannya, hingga akhirnya ia meledakkan seluruh pelepasan energinya bersamaan dengan embusan napas panjang yang sarat akan kepuasan.
"Mommy!! Mommy! Nora takut..."
Suara ketukan di pintu kembali terdengar, kali ini diikuti oleh isakan kecil yang menandakan bahwa bocah sepuluh tahun itu benar-benar merasa asing dan ketakutan di dalam kastel kuno yang teramat besar ini.
Mendengar suara tangis anaknya, Olivier tidak membuang waktu lagi. Dengan sisa-sisa tenaganya yang terkuras habis, ia menendang pinggul King hingga suaminya itu terguling ke sisi ranjang.
"Kau benar-benar gila, King! Cepat pakai pakaianmu!" umpat Olivier dengan wajah yang memerah sempurna antara amarah, malu, dan panik yang bercampur aduk.
Melihat istrinya yang sudah dalam mode singa betina mengamuk, King Stone seketika tersadar dari kabut gairahnya.
Dengan kecepatan kilat yang menyamai refleks terlatih seorang pembunuh bayaran, King langsung melompat turun dari ranjang. Ia menyambar kemeja hitam kasualnya yang tergeletak di lantai, lalu memakai celana boxer hitamnya dengan gerakan yang teramat gesit, bahkan tanpa sempat membetulkan letak kancing kemejanya yang berantakan.
Sementara itu, Olivier yang saat itu dalam kondisi telanjang bulat setelah ritual bercinta mereka, langsung menyambar selimut sutra untuk menutupi tubuhnya, lalu berlari dengan langkah tergesa-gesa ke dalam kamar mandi utama, mengunci pintunya dari dalam demi bersembunyi dari pandangan putri kecilnya.
King mengembuskan napas panjang, menata detak jantungnya yang masih berantakan, lalu mengubah ekspresi wajahnya dalam sekejap menjadi sosok ayah yang teramat hangat dan menenangkan. Ia melangkah cepat menuju pintu kayu besar, lalu membukanya dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara derit yang mengejutkan.
Begitu pintu terbuka, sosok Nora Amelie berdiri di sana. Bocah kecil itu mengenakan gaun tidur katun putih bergambar beruang, memeluk sebuah boneka kelinci rajut dengan erat.
Sepasang mata elang kecilnya tampak berkaca-kaca, dan pipi gembulnya basah oleh air mata murni karena merindukan dekapan ibunya di tempat asing ini.
"Sayang... Kenapa, hm?" ucap King dengan nada suara yang berubah drastis menjadi teramat halus, pelan, dan sarat akan kelembutan seolah ia sedang berbicara dengan harta paling berharga di seluruh dunia.
King langsung berlutut di depan Nora, mengabaikan rasa linu di perutnya, lalu merengkuh tubuh mungil putrinya ke dalam pelukan hangat dada bidangnya. Ia menepuk-nepuk punggung Nora dengan telaten, menyalurkan rasa aman yang selama sepuluh tahun ini gagal ia berikan.
"Nora bermimpi buruk, Daddy... Tempat tidur di kamar sebelah terlalu besar, dan Nora merindukan Mommy," bisik bocah itu dengan suara serak, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher King yang masih menyisakan kehangatan sisa badai semalam.
"Sstt... tidak apa-apa, ada Daddy di sini. Jangan takut lagi, ya?" King mengecup puncak kepala putrinya dengan penuh kasih sayang, lalu dengan mudah mengangkat tubuh kecil Nora ke dalam gendongannya.
King membawa Nora masuk ke dalam kamar utama yang berukuran luas tersebut, lalu mendudukkan putrinya di atas ranjang sutra yang untungnya sudah sempat ia rapikan sedikit kain seprainya yang kusut.
Di balik pintu kaca buram kamar mandi yang terkunci, Olivier berdiri mematung dengan tubuh polosnya yang bersandar di dinding pualam dingin.
Jantungnya berdegup dengan kecepatan yang tidak normal. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, mendengarkan setiap interaksi antara suami dan anaknya di luar sana dengan perasaan campur aduk—antara rasa haru melihat kedekatan mereka, dan rasa ingin menguliti King Stone hidup-hidup karena nekat menyelesaikan urusan ranjang mereka di saat situasi sedang darurat seperti tadi.
mudah2an si Nora tiap malem minta tidur sm emak bapaknya 🤣🤣🤣