Bram bekerja sebagai marketing di perusahaan retail di Jakarta. Hidupnya hanya kerja, gym, dan cari wanita lewat app atau club. Dia ahli di ranjang tapi takut komitmen. Cerita mengikuti perjalanan Bram yang terus berganti pasangan, menghadapi konflik dari mantan, keluarga, kantor, dan masalah kesehatan. Dia ingin tetap bebas, tapi tekanan semakin besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iskak M, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Seserius itu
Malem itu gue lagi duduk di balkon apartemen, angin Jakarta yang masih gerah bikin baju nempel di badan. HP gue di pangkuan, chat Laras lagi terbuka. Dia kirim foto selfie tadi sore, senyum manisnya yang biasa, tapi ada sesuatu di matanya yang beda. Kayak lagi mikir yang dalam.
Laras: Bram, besok malem free ga? Mau ketemu, ada yang pengen aku omongin.
Gue bales cepet.
Bram: Free kok. Biasa di kafe kita? Atau mau yang lebih santai?
Laras: Kafe aja. Jam 7 ya.
Besoknya gue dateng lebih awal. Kafe di Senja itu udah kayak tempat biasa kami. Gue pesen Americano, duduk di pojok yang biasa. Laras dateng pas jam 7 pas, pakai dress biru muda yang simpel, rambutnya digerai sebahu. Senyumnya manis, tapi ada kegugupan yang gue rasain dari jauh.
“Eh, udah lama nunggu?” tanyanya sambil duduk, langsung aduk latte-nya.
“Baru juga. Lo keliatan cantik banget malem ini,” gue puji sambil nyengir.
Laras ketawa kecil, tapi matanya ga lepas dari gue. Obrolan awal ringan aja, soal kerjaan dia yang lagi deadline, gym gue, film baru yang lagi rame. Tapi setelah kopi tinggal setengah, Laras tarik napas panjang.
“Bram… aku pengen ngomong serius,” katanya pelan, jari-jarinya muter-muter sendok. “Kita udah sering ketemu, sering chat tiap hari. Aku suka sama kamu. Bukan suka yang main-main. Aku pengen hubungan kita serius. Aku ga mau cuma jadi salah satu cewek yang kamu temuin pas lagi bosan.”
Gue diem sebentar. Kata-kata itu gue duga bakal dateng, tapi tetep aja bikin gue kaget pas beneran kedengeran. Laras ngeliat gue langsung, matanya polos tapi tegas.
“Gue… gue juga suka sama lo, Laras,” gue jawab jujur. “Lo beda dari yang lain. Manis, ga ribet, enak diajak ngobrol. Tapi lo tahu gue gimana. Gue 32 tahun, masih suka takut komitmen. Banyak yang pernah gagal di masa lalu.”
Laras ngangguk pelan. “Aku tahu. Makanya aku ga maksa langsung nikah atau apa. Cuma pengen kita resmi aja. Pacaran beneran, bukan cuma ketemu pas weekend doang. Aku mau kita saling usaha. Kalau ada masalah, kita omongin bareng.”
Obrolan kami ngalir alami. Gue cerita sedikit soal trauma gue mantan yang drama, tekanan keluarga, kerjaan yang bikin gonta-ganti. Laras dengerin sambil pegang tangan gue di atas meja. Ga ada nangis-nangisan atau maksa, dia cuma bilang, “Aku ngerti. Kita mulai pelan-pelan aja. Tapi aku serius, Bram.”
Gue senyum, rasanya ada beban yang agak lega. “Oke. Kita coba serius ya. Gue janji ga main-main lagi.”
Malem itu kami jalan-jalan di sekitaran cafe Senja, tangan bergandengan. Laras ketawa lebih lepas, cerita soal mimpi dia punya rumah kecil, punya kucing, weekend masak bareng. Gue dengerin sambil dalam hati mikir, “Mungkin kali ini bisa.”
Pulang antar Laras, gue balik ke apartemen dengan perasaan campur aduk. Seneng, tapi juga was-was. Serius sama Laras berarti harus lebih jaga diri dari Ria, Vera, Nina, dan yang lain.
Pagi harinya, Aprilia chat mau ketemu buat lunch. Gue jemput dia di lobby kantor banknya. Pas dia keluar, gue hampir ga langsung kenal.
Aprilia sekarang pakai hijab. Kerudung cream yang rapi dan elegan, dipaduin sama blazer putih sama rok panjang yang sopan tapi tetep nunjukin postur tubuhnya yang classy. Muka dia tambah glowing, make up natural, senyumnya makin lembut. Cantik banget, kayak versi lebih dewasa dan tenang.
“Wah… lo berubah banget,” gue bilang sambil nyengir lebar pas dia masuk mobil.
Aprilia ketawa malu, pegang ujung hijabnya. “Baru coba kemarin. Gimana? Cocok ga?”
“Cocok banget. Lo tambah cantik. Keliatan lebih… tenang gitu,” gue jawab tulus.
Kita makan siang di resto Thailand deket kantornya. Aprilia cerita kenapa dia mutusin berhijab lagi cari ketenangan setelah semua yang dia lewatin, termasuk trauma masa lalu yang dia ceritain ke gue. Gue dengerin sambil ngeliat dia. Penampilan barunya bikin dia keliatan lebih misterius dan menarik.
“Kamu sendiri gimana Bram? Masih banyak yang dipikirin?” tanyanya sambil nyuap makanan.
Gue cerita soal Laras yang minta serius kemarin. Aprilia dengerin tanpa cemburu berlebihan, malah dukung.
“Kalau emang Laras yang bikin kamu mau berubah, aku seneng kok. Aku juga lagi belajar move on dari masa lalu. Hijab ini salah satunya,” katanya sambil senyum.
Lunch itu enak banget. Aprilia tambah cantik dengan hijabnya, gerakannya lebih anggun, suaranya tetap lembut. Gue antar dia balik ke kantor, cium keningnya pelan sebelum dia turun.
“Lo tambah cantik deh,” gue bisik.
Dia salah tingkah di balik hijab. “Thanks Bram. Hati-hati ya.”
Sore harinya di kantor, Icha lagi sibuk bantu gue input data. Anak magang itu masih sering duduk di pangkuan gue pas kursi tambahan lagi dipake orang lain. Wanginya yang soft floral bikin konsentrasi gue buyar kadang.
“Kak, ini report-nya udah bener?” tanyanya pelan, badannya deket banget.
“Iya, bagus Icha. Lo cepet pinter,” gue puji.
Tapi pikiran gue ke Laras. Malemnya gue chat dia lagi, obrolan kami sekarang lebih dalam. Dia cerita soal keluarganya yang mulai nanyain soal pacar, gue cerita soal tekanan Bu Harti yang masih maksa nikah.
“Pelan-pelan ya Bram. Kita ga buru-buru,” balas Laras.
Gue senyum baca chatnya. Serius sama Laras terasa ringan, ga ada tekanan berat. Tapi di sisi lain ada Aprilia yang makin cantik dengan hijab barunya, Ria yang masih agresif di kantor, dan Sinta yang kadang masih chat minta bantuan.
Weekend berikutnya gue ajak Laras jalan ke Taman Menteng. Kami jalan sambil pegangan tangan, beli es krim, duduk di bangku sambil ngobrol random. Laras ketawa lepas pas gue cerita joke receh soal client kantor.
“Aku seneng banget sama kamu Bram,” katanya tiba-tiba, kepalanya sandar di bahu gue.
“Gue juga Laras. Kita usaha bareng ya.”
Malem Minggu, Aprilia ajak video call. Hijabnya masih dipake, dia keliatan fresh abis sholat.
“Kamu gimana sama Laras?” tanyanya.
“Udah mulai serius. Lo sendiri?”
“Aku seneng kok. Kamu pantas dapet yang baik,” jawabnya tulus.
Gue taro HP, rebahan di kasur. Hidup gue masih berantakan, tapi ada Laras yang bikin gue mau coba serius, Aprilia yang tambah cantik dengan perubahannya, dan yang lain yang masih nunggu giliran. Entah berapa lama gue bisa atur semuanya tanpa meledak.
Tapi buat sekarang, gue nikmatin dulu rasa ringan ini. Malam ini sepi tanpa peduli chat atau pekerjaan kantor.
btw, sy juga baru mula menulis novel. kalau ada masa terluang bole lah singgah profile saya. terima kasih 😄😍