NovelToon NovelToon
Private Military Company

Private Military Company

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Epik Petualangan
Popularitas:547
Nilai: 5
Nama Author: Dena gusdiana

Kisah ini mengikuti perjalanan Raka Pratama, seorang mantan prajurit pasukan khusus Indonesia yang harus meninggalkan dinas militer karena kejadian berbahaya yang disembunyikan pemerintah. Tanpa tujuan dan terjebak dalam hutang, ia akhirnya bergabung dengan salah satu Perusahaan Militer Swasta (PMS) terbesar dan paling rahasia di dunia: "Garuda Security International".

Apa yang dimulai sebagai pekerjaan untuk bertahan hidup, perlahan mengungkap jaringan rahasia yang mengendalikan perang, politik, dan ekonomi dunia. Raka dan rekan-rekannya akan berhadapan dengan musuh dari negara saingan, organisasi bayangan, hingga pemimpin dunia sendiri. Dari misi penyelamatan sederhana hingga menjadi kunci penyelamatan kemanusiaan dari kehancuran total.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Pertemuan Berdarah di Pos Utara

Malam semakin pekat, hanya diterangi cahaya bulan separuh yang pucat dan sorot lampu besar kendaraan yang membelah kegelapan. Konvoi Garuda Security melaju kencang di jalan berkelok-kelok yang semakin menyempit, menembus kawasan hutan pegunungan yang lebat dan sunyi. Suara raungan mesin truk terdengar mengerikan, memecah keheningan malam yang tebal dan penuh ancaman.

Di dalam bak truk tengah, Raka duduk tegak di sebelah peti besi raksasa yang berisi Sumber Unggul. Tangannya menyentuh permukaan dingin peti itu, seolah bisa merasakan denyutan energi yang tersimpan di dalamnya—energi yang menjadi penyebab kematian ayahnya, energi yang memecah belah organisasi ini, energi yang kini menjadi tanggung jawabnya.

Di sekelilingnya, Bara, Rio, Reza, Dedi, dan anggota tim lainnya duduk bersila, senjata mereka tergenggam erat, mata mereka tidak berkedip mengawasi kegelapan di luar. Wajah mereka tidak lagi ragu atau takut. Kini, di dada mereka membara api semangat baru. Mereka bukan lagi sekadar tentara bayaran. Mereka adalah pengawal kebenaran, pengikut pewaris sejati, dan pembawa amanah seorang pahlawan yang dikhianati.

Reza duduk di dekat Raka, wajahnya tegas dan penuh hormat. Perubahan sikapnya begitu drastis, seolah ia menjadi orang yang berbeda. Dulu ia rela membunuh demi rasa iri, sekarang ia rela mati demi melindungi Raka.

"Raka," bisik Reza pelan agar hanya terdengar oleh mereka berdua. "Kalau terjadi apa-apa... kalau kita tidak selamat sampai di sana... aku ingin kau tahu, aku tidak menyesal. Aku bangga bisa bertempur di sampingmu, dan bangga membela nama ayahmu. Maafkan semua kejahilanku dulu."

Raka menoleh, menatap mata Reza yang tulus. Ia tersenyum tipis, senyum yang hangat namun tetap tegas.

"Kita akan selamat, Reza. Kita akan sampai. Dan kita akan mengubah segalanya. Masa lalu adalah pelajaran, bukan beban. Yang penting sekarang... kita berdiri di sisi yang benar."

Mayor Seno yang duduk di sisi lain, di dekat kabin pengemudi, mengangkat kepalanya tiba-tiba. Telinganya yang tajam menangkap suara samar di kejauhan, suara yang bukan berasal dari mesin kendaraan mereka. Ia berdiri, berjalan merunduk mendekati Raka.

"Mereka datang," ucap Seno singkat, dingin, dan pasti. "Pengintai yang lolos tadi pasti sudah melapor. Kubu Merah tahu kita membawa muatan utuh, dan mereka tahu kau sudah tahu segalanya. Mereka tidak akan membiarkan kita sampai di Pos Utara. Mereka akan menghabisi kita di sini, di jalan ini, sebelum kita bisa bertemu dengan Jenderal Agus."

Tepat saat kata-kata itu selesai diucapkan, cahaya terang menyala di depan mereka. Puluhan sorot lampu kendaraan besar berbaris melintang di jalan raya, memblokir sepenuhnya jalur yang harus mereka lewati. Di belakang mereka, jalan yang baru saja mereka lewati juga tertutup oleh deretan kendaraan lapis baja yang datang mengejar. Mereka terperangkap. Terkurung di tengah jalan sempit yang diapit jurang dalam di sebelah kiri dan tebing curam di sebelah kanan.

"SIAP-SIAP! MUSUH DI DEPAN DAN BELAKANG!" teriak Raka lantang, suaranya menggelegar mengalahkan suara mesin.

Konvoi mereka memperlambat laju, akhirnya berhenti total sekitar seratus meter dari barikade musuh di depan. Dari balik kendaraan penghalang itu, muncul sosok-sosok prajurit yang mengenakan seragam hitam dengan lambang Garuda Merah yang menyala-nyala diterangi lampu sorot. Mereka jumlahnya dua kali lipat dari pasukan Raka. Mereka membawa senjata-senjata berat, senapan mesin, dan bahkan peluncur granat.

Dari barisan musuh di depan, seorang pria bertubuh besar, berwajah keras, dan berkulit kasar melangkah maju sendirian ke tengah jalan. Ia mengenakan seragam pangkat tinggi, dan di sebelahnya tergantung sebilah pisau tempur besar yang terkenal kejam. Dia adalah Mayor Joko, tangan kanan utama Jenderal Agus, pemimpin pasukan elit Kubu Merah, dan orang yang konon ikut serta dalam pengejaran dan pembunuhan ayah Raka lima belas tahun lalu.

Mayor Joko tertawa keras, suaranya bergema menakutkan di celah lembah itu.

"Selamat malam, Mayor Seno! Dan selamat malam... anak kecil yang sok tahu itu!" seru Joko dengan nada mengejek dan mengancam. "Kalian pikir kalian bisa lari membawa barang berharga itu? Kalian pikir dengan membawa anak haram Dirgantara itu, kalian bisa mengubah sejarah? Bodoh! Sejarah ditulis oleh mereka yang menang! Dan malam ini... kalian semua akan mati di sini, dan namamu akan dihapus selamanya dari buku sejarah!"

Mayor Seno melompat turun dari truk, berdiri tegak di depan anak buahnya, menatap Joko dengan pandangan tajam dan penuh kebencian.

"Kau yang akan mati malam ini, Joko! Kau dan semua pengkhianat sepertimu! Kami tidak lari! Kami membawa kebenaran! Dan darah yang akan tumpah malam ini adalah darahmu, darah para pembunuh yang menjual kehormatan demi uang dan kekuasaan!"

Mayor Joko tersenyum miring, lalu mengangkat tangannya tinggi-tinggi, siap memberi aba-aba penyerangan.

"Kalian tidak punya jalan keluar, Seno! Di depan ada pasukanku, di belakang ada pasukanku, di atas sana ada penembak jituku! Kalian dikepung! Serahkan peti itu, serahkan anak itu... dan aku akan membiarkan kalian mati dengan cepat dan tidak terlalu sakit. Kalau tidak... aku akan membiarkan anak buahku menyiksa kalian sampai pagi sebelum memenggal kepala kalian satu per satu!"

Suasana menjadi tegang luar biasa. Napas tertahan. Jarak antara hidup dan mati tinggal setipis rambut.

Namun, saat itulah Raka melangkah maju. Ia melompat turun dari bak truk, berjalan melewati Mayor Seno, berjalan maju sendirian menuju ke tengah jalan, mendekati garis batas antara kedua pasukan. Ia tidak membawa senjata di tangannya. Ia berjalan dengan tangan kosong, tegak, tenang, dan matanya menatap tajam tepat ke mata Mayor Joko.

"Berhenti!" teriak Raka, suaranya tidak sekeras teriakan Joko, tapi suaranya berwibawa, jernih, dan mematikan, membuat semua orang yang mendengarnya—baik kawan maupun musuh—seketika diam.

"Kau mencari aku, kan, Joko?" ucap Raka tenang, tidak ada rasa takut sedikit pun di wajahnya. "Aku di sini. Aku Raka Pratama. Anak dari Dirgantara Pratama. Kau ikut membunuh ayahku di tempat ini lima belas tahun yang lalu, kan? Kau ada di sini saat dia dikhianati dan dibunuh oleh sahabatnya sendiri? Kau ada di sini saat dia mati demi melindungi apa yang ada di dalam truk itu?"

Mayor Joko terdiam sejenak, sedikit terkejut melihat keberanian pemuda yang dipandangnya sebagai anak kecil ini. Ia menatap Raka dari atas ke bawah, lalu tertawa lagi, tapi kali ini tawanya terdengar sedikit terpaksa.

"Benar, anak kecil! Aku ada di sini! Aku yang menembak punggung ayahmu saat dia berusaha melindungi barang itu! Aku yang memastikan dia mati dan tidak bangun lagi! Dan sekarang... aku akan melakukan hal yang sama persis padamu! Aku akan membunuhmu, aku akan mengambil barang itu, dan aku akan mengirimkan kepalamu ke Jenderal Agus sebagai hadiah!"

Raka mengangguk pelan, wajahnya tidak marah, tidak menangis, tidak gemetar. Wajahnya dingin, tenang, dan penuh rasa kasihan.

"Kau bangga sekali ya, membunuh orang yang tidak melawan? Kau bangga membunuh pahlawan demi uang? Kau tahu apa yang dikatakan ayahku sebelum dia mati di tanganmu, Joko?"

Raka melangkah maju lagi, mendekat sampai jarak mereka tinggal beberapa meter saja.

"Dia bilang... 'Kalian bisa membunuhku, tapi kalian tidak bisa membunuh kebenaran. Suatu hari nanti, akan ada orang yang datang untuk menuntut pertanggungjawaban ini. Dan orang itu... akan membawa keadilan yang jauh lebih mengerikan daripada kematianku sendiri'."

Raka mengangkat tangannya ke samping, memberi isyarat kecil pada timnya di belakang.

"Dan orang itu... sudah ada di sini."

Tiba-tiba, dari arah tebing di sebelah kanan, tempat yang tadinya dianggap aman dan kosong, terdengar suara letusan senapan beruntun yang presisi. DENT! DENT! DENT!

Penembak jitu Kubu Merah yang bersembunyi di atas sana, yang seharusnya menguasai ketinggian dan menjadi ancaman terbesar, jatuh satu per satu tanpa sempat bersuara. Bara, yang sejak tadi diam-diam memanjat bersama dua orang penembak jitu timnya atas perintah Raka, telah mengambil alih posisi tertinggi dan menghabisi ancaman dari atas.

Bersamaan dengan itu, dari arah belakang konvoi Raka, pasukan musuh yang menjaga jalan belakang tiba-tiba diserang dari sisi jurang. Ternyata Raka sudah mengirim Rio dan tim kecil lain menyusup lewat jalur berbahaya di pinggir jurang, berputar memutar, dan menyerang musuh dari belakang—taktik yang sama persis yang ia gunakan saat latihan, dan saat pertempuran sebelumnya.

Kekacauan melanda barisan Kubu Merah. Mereka yakin 100% sudah mengurung lawan, tapi mereka tidak tahu bahwa Raka sudah membaca setiap gerakan mereka, sudah memprediksi setiap jebakan, dan sudah menyiapkan serangan balasan sebelum pertempuran dimulai.

"SEKARANG! SERANG!" teriak Raka, suaranya berubah menjadi raungan singa.

Ia sendiri yang pertama kali bergerak. Tanpa senjata di tangan, ia melesat maju secepat kilat ke arah Mayor Joko yang masih terkejut dan bingung. Joko yang besar dan kuat itu sempat mengayunkan pukulan besar ke arah Raka, tapi Raka menghindar dengan gerakan yang begitu cepat dan luwes, seolah ia bergerak di antara celah angin.

Raka menerapkan kembali teknik kuncian ayahnya—Teknik Kunci Baja—yang kini ia kuasai sepenuhnya, seolah ingatan ayahnya benar-benar hidup di dalam dirinya. Ia menangkap lengan Joko, memutarnya dengan sudut yang mustahil bagi orang biasa, lalu dengan satu gerakan halus namun dahsyat, ia membanting tubuh raksasa itu ke tanah keras, menindihnya dengan kekuatan penuh.

Joko meraung kesakitan, berusaha meronta, tapi tubuhnya terasa diikat oleh besi berat. Ia menatap wajah Raka yang berada tepat di atasnya. Di bawah cahaya lampu kendaraan, Joko melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku. Ia tidak melihat wajah anak muda. Ia melihat wajah Dirgantara. Ia melihat mata yang sama, tatapan yang sama, keberanian yang sama.

"Kau... kau iblis..." erang Joko ketakutan. "Kau bukan manusia... kau hantu yang hidup kembali..."

"AKU ADALAH KEBENARAN YANG KAU KUBUR LIMA BELAS TAHUN LALU!" bentak Raka, tangannya mencengkeram kerah seragam Joko kuat-kuat. "Sekarang kau akan mendengarkan aku baik-baik! Kau dan semua pengikutmu punya dua pilihan: Serahkan diri, buang senjata, dan berjalan pergi... atau mati di sini seperti anjing, sama seperti nasib yang kalian berikan pada ayahku!"

Di saat yang sama, pasukan Raka—dipimpin oleh Mayor Seno, Reza, dan Dedi—sudah menyerbu masuk ke barisan musuh yang kacau. Pertempuran itu sengit, berdarah, dan dekat. Tapi semangat bertempur pasukan Raka tidak tertandingi. Mereka bertempur bukan demi uang, tapi demi membalaskan kehormatan nama besar yang telah dinodai.

Melihat pemimpin mereka sudah dikalahkan dan ditindih, melihat posisi mereka sudah dikepung balik, dan melihat kehebatan yang tidak masuk akal dari anak buah yang tadinya mereka anggap sampah... moral pasukan Kubu Merah runtuh seketika. Satu demi satu senjata diturunkan, dilempar ke tanah, dan tangan diangkat ke atas tanda menyerah.

Pertempuran yang seharusnya berlangsung lama dan berdarah itu berakhir dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Dan sekali lagi, Raka Pratama berdiri tegak di tengah medan pertempuran, tidak terluka sedikit pun, memegang kendali penuh atas situasi.

Mayor Joko, yang kini terikat dan ditahan, menatap Raka dengan pandangan kosong dan kalah total. Ia sadar, kekuatan yang mereka lawan bukan lagi sekadar pasukan kecil. Mereka sedang melawan takdir itu sendiri.

Raka berjalan kembali ke truk, memberi perintah singkat dan tegas.

"Ambil kendaraan musuh yang masih layak pakai. Bawa tahanan bersama kita. Kita berangkat sekarang juga. Kita tidak punya waktu lagi."

Konvoi itu kembali bergerak, kini bertambah panjang dengan kendaraan musuh yang disita dan diisi oleh pasukan yang baru saja menyerah—banyak di antaranya yang ternyata juga tidak setuju dengan cara Kubu Merah, tapi takut untuk bicara. Mereka kini ikut bersama Raka, tertarik oleh karisma dan kebenaran yang terpancar dari pemuda itu.

Beberapa jam kemudian, saat langit timur mulai memutih, mereka akhirnya sampai di gerbang besar Pos Pengamanan Utara. Sebuah benteng raksasa yang dibangun di atas bukit tinggi, dikelilingi tembok tebal dan kawat berduri, tempat di mana Jenderal Agus bermarkas.

Gerbang besi setinggi sepuluh meter itu terbuka perlahan menyambut mereka. Di halaman utama, di depan gedung pusat, sudah berdiri barisan pasukan lengkap dengan seragam emas—pasukan yang setia pada prinsip asli, pasukan yang sudah lama menunggu kedatangan ini.

Dan di tangga utama gedung itu, berdiri sosok tua yang gagah, berambut perak, bermata tajam namun lelah. Jenderal Agus.

Ia berdiri diam, menonton konvoi yang penuh debu, darah, dan kemenangan itu masuk satu per satu. Ia melihat peti muatan itu utuh. Ia melihat Mayor Seno berjalan tegak. Ia melihat pasukan Kubu Merah yang menjadi tahanan. Dan yang paling penting... ia melihat Raka Pratama turun dari truk terakhir, berjalan mendekatinya dengan langkah tegap, kepala terangkat tinggi, dan mata yang tidak lagi bingung, tidak lagi takut, tapi penuh kebenaran dan pertanyaan.

Raka berhenti tepat di bawah tangga, berhadapan muka dengan orang yang menjadi sebab segala penderitaan hidupnya. Orang yang membunuh ayahnya, orang yang menyembunyikan kebenaran, orang yang membiarkan ibunya hidup susah sendirian.

Keheningan yang berat menyelimuti seluruh benteng itu. Ribuan mata tertuju pada kedua sosok itu. Pewaris darah pahlawan melawan pengkhianat yang menjadi pemimpin.

Jenderal Agus menatap Raka lama sekali, matanya berair, campuran antara rasa bangga, rasa bersalah, dan rasa takut. Ia melihat wajah sahabat lamanya di wajah pemuda itu. Ia melihat keberanian yang sama. Ia melihat prinsip yang sama.

"Kau sampai di sini..." ucap Jenderal Agus pelan, suaranya terdengar berat dan parau. "Kau selamatkan muatan itu. Kau kalahkan pasukan elitku. Kau selamatkan kawan-kawanmu. Dan kau... kau akhirnya tahu segalanya."

Raka menatap lurus ke mata Jenderal Agus, tidak menunduk, tidak berkedip.

"Ya, Jenderal. Saya tahu segalanya. Saya tahu siapa Ayah saya. Saya tahu apa yang Bapak lakukan padanya. Saya tahu apa yang Bapak sembunyikan dari dunia."

Raka mengangkat tangannya ke dada, menunjuk lambang Garuda Emas di sana.

"Dan saya tahu... bahwa organisasi ini yang seharusnya melindungi orang, justru menjadi bahaya terbesar bagi dunia. Semua ini dibangun di atas darah ayah saya, di atas kebohongan, dan di atas keserakahan Bapak."

Jenderal Agus menghela napas panjang, lalu turun perlahan menuruni tangga, berhenti tepat satu langkah di depan Raka.

"Kau marah padaku, kan, Raka? Kau ingin membunuhku, kan? Kau berhak. Sepenuhnya berhak. Aku adalah pembunuh ayahmu. Aku adalah pengkhianat sahabatku. Aku adalah dalang dari semua rasa sakit ini."

Ia menatap ke sekeliling, ke arah ribuan pasukan yang menonton, ke arah matahari pagi yang mulai terbit indah di balik bukit.

"Tapi dengar aku sampai selesai, anak muda... sebelum kau mengambil keputusan yang akan menentukan nasib semua orang di sini, nasib organisasi ini, dan nasib dunia."

Jenderal Agus kembali menatap Raka, dan kali ini tatapannya bukan lagi tatapan seorang pemimpin yang berkuasa. Tapi tatapan seorang pria tua yang lelah, penuh penyesalan, dan sedang memohon pengertian.

"Aku tidak membunuh Dirgantara karena aku benci padanya. Aku tidak mengkhianatinya karena aku serakah... atau setidaknya, tidak hanya karena itu. Ada hal lain, Raka. Ada rahasia yang lebih besar, lebih gelap, dan lebih mengerikan yang bahkan Dirgantara pun tidak tahu saat itu. Dan aku... aku melakukan semua dosa ini, aku memikul semua beban ini, aku membiarkan diriku dibenci dan dikutuk selama lima belas tahun ini... hanya untuk satu alasan: Melindungi kau. Melindungi ibumu. Dan melindungi dunia dari kehancuran yang sesungguhnya."

Raka mengerutkan kening, hatinya berdebar kencang.

"Melindungi saya? Apa maksud Bapak? Bapak yang membuat saya hidup miskin! Bapak yang membuat Ibu sakit karena kerja keras! Bapak yang memisahkan saya dari Ayah!"

"Karena kalau aku tidak melakukannya... kalian berdua pasti sudah mati sejak lima belas tahun yang lalu," potong Jenderal Agus tegas, suaranya bergetar. "Ada kekuatan lain di luar sana, Raka. Kekuatan yang jauh lebih besar, jauh lebih kejam, dan jauh lebih berbahaya daripada Kubu Merah atau Kubu Emas kita. Kekuatan yang menginginkan Sumber Unggul itu untuk menghancurkan peradaban. Dan mereka... mereka tahu kalau Dirgantara punya anak. Mereka tahu kalau kau ada. Kalau aku tidak membuat seolah-olah aku yang membunuh Dirgantara, kalau aku tidak menyembunyikan keberadaanmu, kalau aku tidak membuatmu hidup dalam kemiskinan dan ketidaktahuan... mereka pasti sudah membunuhmu dan ibumu sejak lama."

Jenderal Agus menunjuk ke arah peti besi yang kini dijaga ketat di belakang Raka.

"Dan sekarang mereka datang. Mereka sudah ada di pintu gerbang negeri ini. Mereka ingin mengambil benda itu, dan mereka ingin memusnahkan seluruh keturunan Dirgantara agar tidak ada yang bisa menentang mereka lagi. Dan aku... aku sudah tua. Aku lemah. Aku tidak sanggup lagi melawan mereka sendirian. Itu sebabnya aku membiarkanmu masuk ke sini. Itu sebabnya aku melatihmu. Itu sebabnya aku membiarkanmu tahu kebenaran perlahan-lahan. Aku tidak punya pilihan lain, Raka... kecuali menyerahkan segalanya kepadamu."

Jenderal Agus berlutut. Di hadapan ribuan pasukan, di hadapan seluruh pimpinan, Jenderal Agus—pemimpin tertinggi, orang paling berkuasa—berlutut di depan Raka Pratama.

"Aku tidak meminta maaf karena aku pantas dimaafkan. Aku meminta maaf karena aku sudah gagal menjadi sahabat, gagal menjadi pelindung, dan gagal menjadi pemimpin. Dan sekarang... aku menyerahkan kekuasaan ini, aku menyerahkan rahasia ini, aku menyerahkan nasib organisasi ini, dan nasib dunia ini... ke tanganmu, anakku. Tangan yang mewarisi darah, keberanian, dan kebaikan hati Dirgantara Pratama."

Suasana hening mutlak. Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang bernapas.

Raka menatap pria tua yang berlutut di depannya. Ia melihat air mata menetes di pipi keriput itu. Ia melihat penyesalan yang tulus. Ia menyadari bahwa kebenaran tidak sehitam dan seputih yang ia bayangkan. Bahwa ada dosa demi kebaikan, ada kebohongan demi keselamatan, dan ada pengkhianatan demi perlindungan.

Ia teringat kata-kata ayahnya dalam ingatan samar: "Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan. Jadilah lebih besar dari mereka yang menyakitimu."

Raka mengulurkan tangannya, bukan untuk memukul, bukan untuk menangkap, tapi untuk mengangkat tubuh tua itu berdiri kembali.

"Berdirilah, Jenderal Agus," ucap Raka lembut namun tegas, suaranya terdengar seperti suara pemimpin sejati. "Dosa masa lalu sudah terbayar dengan rasa sakit dan penyesalan Bapak selama lima belas tahun ini. Dan Bapak benar... musuh sesungguhnya bukanlah Bapak, bukanlah Kubu Merah, bukanlah siapa pun di sini. Musuh sesungguhnya ada di luar sana, yang ingin menghancurkan kita semua."

Raka berbalik menghadap ribuan pasukan yang berkumpul, mengangkat tangannya tinggi-tinggi, lambang Garuda Emas di lengannya bersinar terang terkena cahaya matahari pagi.

"Kita tidak lagi ada Kubu Emas atau Kubu Merah! Mulai detik ini, Garuda Security hanya ada satu! Kita bersatu kembali! Kita lupakan perpecahan ini! Kita perbaiki apa yang rusak! Kita bersihkan apa yang kotor! Dan kita bertempur bersama-sama... untuk melindungi apa yang Ayahku lindungi dengan nyawanya! Untuk melindungi dunia dari bahaya yang sesungguhnya!"

Suara sorak sorai menggelegar seisi benteng, mengalahkan suara petir pun. Ribuan prajurit, yang dulu saling bunuh karena perbedaan warna lambang, kini bersorak satu nama: RAKA! RAKA! RAKA!

Di belakang Raka, Bara, Rio, Reza, Dedi, Mayor Seno, dan semua kawan seperjuangannya tersenyum bangga. Misi pertama selesai. Kebenaran terungkap. Persatuan tercapai.

Tapi di balik sorak sorai itu, di kejauhan di balik bukit-bukit yang jauh, sepasang mata dingin mengamati semuanya lewat lensa teropong. Mata itu milik pemimpin kekuatan sesungguhnya yang ditakuti Jenderal Agus. Mata itu milik musuh yang jauh lebih besar.

"Jadi anak itu akhirnya muncul..." gumam suara berat itu dingin dan mengancam. "Dia menyatukan Garuda. Dia punya benda itu. Dan dia punya darah Dirgantara. Bagus... ini akan menjadi perburuan yang jauh lebih menarik."

Perang saudara sudah selesai. Tapi perang yang sesungguhnya... baru saja dimulai.

1
NonaAns
keren, Kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!