NovelToon NovelToon
RED FLAG

RED FLAG

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: ujang Bonang@_@

​"Jangan dekat-dekat mereka, Mika. Saka dan Devan itu red flag berjalan!"
​Mika selalu menertawakan peringatan itu. Bagi Mika, Saka—si bad boy ugal-ugalan yang hobi balapan, dan Devan—si ketua OSIS berprestasi yang kelihatan sempurna, adalah dua sahabat terbaiknya sejak kecil.
​Namun, zona nyaman itu hancur total di hari ulang tahun Mika yang ke-17.
​Sore hari, Saka membawanya kabur dengan motor gede dan menuntut agresif, "Gue muak jadi sahabat lo. Mulai hari ini, lo cewek gue!"
​Belum sempat Mika bernapas, malam harinya Devan justru mengunci pergelangan tangan Mika di sudut sepi, berbisik dingin dengan senyum manisnya, "Jangan pernah terima Saka, Mika. Atau aku bikin hidup cowok itu hancur."
​Dua cowok paling populer di sekolah mendadak membuka topeng mereka. Sifat posesif, dominan, dan manipulatif yang selama ini disembunyikan kini berbalik menjerat Mika.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ujang Bonang@_@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: Intrik di Balik Layar

****

Matahari pagi di hari Selasa belum sepenuhnya naik ketika aku melangkah melewati gerbang utama SMA Tunas Bangsa. Sisa-sisa embun malam masih menempel di pucuk-pucuk daun taman sekolah, menciptakan aroma tanah basah yang menenangkan. Namun, ketenangan fisik itu berbanding terbalik dengan gejolak yang kurasakan di dalam dada. Meskipun takhta Devan sudah resmi runtuh dan sang mantan Ketua OSIS kini sedang dikurung di rumahnya sendiri untuk menjalani masa skorsing dua minggu, atmosfer di koridor kelas XII MIPA 2 tetap terasa berbeda. Ada kekosongan yang ganjil, sebuah ruang hampa di barisan kursi paling depan yang biasanya dipenuhi oleh aura dominasi yang menekan.

Aku berjalan menyusuri selasar kelas dengan langkah yang lebih santai. Di pergelangan tangan kananku, gelang perak pemberian Saka berkilau lembut diterpa cahaya fajar, mengeluarkan bunyi gemerincing halus yang seolah menjadi penanda kebebasanku yang baru. Murid-murid yang berpapasan denganku hari ini tidak lagi menatapku dengan pandangan penuh selidik atau kecurigaan seperti minggu-minggu lalu. Kehancuran reputasi Devan di lapangan upacara kemarin tampaknya telah membuat sebagian besar anak-anak MIPA menyadari bahwa selama ini akulah yang menjadi korban manipulasi psikologis di dalam hubungan tersebut.

"Pagi, Mik! Tumben lo datengnya mepet bel masuk?" suara cempreng Risa langsung menyambutku begitu aku menggeser pintu kayu ruang kelas. Sahabatku itu sudah duduk manis di kursinya, dengan tumpukan buku catatan sosiologi yang sudah terbuka rapi di atas meja.

"Tadi di jalan agak macet, Ris," jawabku berbohong kecil sambil menarik kursi kosong di barisan depan, tepat di sebelah meja milik Devan yang kini kosong melompong tanpa ada tas ransel hitam atau draf agenda OSIS di atasnya. Aku meletakkan tas ranselku dengan perasaan yang jauh lebih ringan. "Gimana situasi di kelas sebelum gue dateng? Masih ada yang hobi ngomongin soal upacara kemarin?"

Risa memajukan posisi duduknya, menopang dagunya dengan kedua telapak tangan sambil melemparkan tatapan mata penuh arti. "Kalau di kelas kita sih udah agak reda, Mik. Anak-anak udah mulai malas membahas si mantan Ketos posesif itu. Tapi... lo tahu gak kabar terbaru dari ruang organisasi?"

"Kabar apa?" jidatku seketika berkerut dalam, rasa cemas yang sempat kukira sudah hilang kini kembali terusik di dalam benakku.

"Tadi pagi-pagi banget, sebelum bel sekolah bunyi, gue gak sengaja lewat depan ruang wakil kepala sekolah bagian kesiswaan," Risa mendekatkan wajahnya, menurunkan nada suaranya menjadi sebuah bisikan rahasia yang sangat serius. "Gue melihat Yudha—anak ketertiban OSIS yang semalam lo ceritain digerebek sama Saka di kafe—lagi berdiri di sana bareng perwakilan divisi organisasi. Mukanya pucat banget, Mik. Katanya, mereka lagi menyerahkan seluruh draf revisi anggaran dana pensiun dan acara bulan bahasa yang sempat dipegang sama Devan dulu. Tampaknya gertakan dan kartu as cadangan yang dibawa Saka semalam bener-bener berhasil mengunci pergerakan mereka seutuhnya!"

Aku mengembuskan napas panjang, sebuah helaan napas lega yang teramat dalam langsung keluar dari tenggorokanku. Ucapan Risa membuktikan bahwa strategi taktis yang disusun oleh Saka di luar dinding sekolah kemarin malam bukanlah sekadar gertakan kosong. Salinan draf catatan pelanggaran internal organisasi yang sengaja diselipkan Saka di dalam map plastik biru itu benar-benar menjadi hulu ledak yang melumpuhkan seluruh sekutu inti Devan sebelum mereka sempat melangkah ke dinas pendidikan.

"Syukurlah kalau mereka beneran mundur, Ris. Gue bener-bener udah lelah kalau harus menghadapi konfrontasi laporan palsu lagi," ucapku tulus, mengambil kotak susu cokelat dingin dari dalam tas dan meletakkannya di atas meja.

"Tapi lo harus tetap ingat pengaturan baru kita, Mik," Risa menepuk pundakku pelan, mengingatkan dengan binar mata yang penuh kewaspadaan seorang sahabat. "Dengan adanya keputusan untuk memotong durasi keseluruhan cerita *Season 1* ini menjadi **65 bab tamat** demi menjaga ritme plot agar tetap berjalan cepat dan tidak membosankan bagi para pembaca ABG yang gampang bosan, setiap pergerakan kita harus ekstra taktis. Dua minggu masa skorsing Devan ini adalah waktu yang sangat kritis. Devan mungkin kehilangan kekuasaannya di dalam sekolah, tapi di luar sana... dia masih punya sisa amunisi dan pengaruh keluarga yang sangat kuat. Dan gue yakin, si ular manipulatif itu gak bakal tinggal diam menerima kekalahan telak ini begitu aja."

Peringatan dari Risa ada benarnya dan langsung membuat isi kepalaku kembali berpikir keras. Karakter seorang Devan Dirgantara tidak akan pernah menyerah begitu saja hanya karena satu kali takhtanya diruntuhkan di ruang kepala sekolah. Sifat *red flag* posesif dan kecerdasan kalkulatifnya justru bisa menjadi jauh lebih berbahaya dan ugal-ugalan ketika dia sudah terdesak ke titik nadir tanpa ada lagi beban reputasi yang harus dia jaga di depan umum.

Siksaan ketidakpastian itu terus berputar di dalam otakku sepanjang jam pelajaran pertama hingga bel tanda istirahat siang akhirnya berbunyi nyaring memecah kesunyian seluruh gedung SMA Tunas Bangsa. Murid-murid langsung berhamburan keluar kelas menuju area kantin bawah, meninggalkan ruang kelas XII MIPA 2 yang perlahan-lahan mulai lengang.

Aku baru saja hendak berdiri dari kursiku untuk menyusul Risa ke koperasi, ketika sebuah siluet tubuh tinggi tegap mendadak muncul di ambang pintu depan kelas. Langkah kakiku seketika terhenti di tempat.

Itu Saka Aditya.

Cowok ugal-ugalan dari jurusan IPS itu berdiri di sana dengan setelan seragam putih abu-abu yang terpasang dengan sangat rapi mematuhi aturan sekolah—baju dimasukkan dengan sempurna, dasi terpasang kencang, dan almamater biru tuanya terkancing rapi. Namun, potongan rambut pendek barunya yang hitam bersih tidak bisa menyembunyikan aura berandal yang sangat kuat yang memancar dari dalam dirinya. Seringai tipis nan penuh kemenangan terukir jelas di sudut bibirnya yang tampan saat mata elangnya langsung mengunci keberadaanku di barisan depan.

"Gak ke kantin?" tanya Saka dengan nada suara baritonnya yang serak dan rendah, berjalan lebar memasuki ruang kelas MIPA tanpa memedulikan tatapan beberapa murid yang masih tersisa di dalam ruangan. Dia melangkah konstan, lalu mendudukkan dirinya dengan santai di atas meja kosong milik Devan yang berada di sebelahku.

"Baru mau keluar sama Risa tadi, Sak," jawabku sambil mendongak, menatap lekat-lekat ke arah wajah tegasnya yang kini berada sangat dekat denganku. "Lo sendiri ngapain ke gedung IPA lagi? Gak takut dicariin sama wali kelas lo?"

Saka terkekeh sinis, sebuah tawa lirih yang terdengar begitu seksi namun sarat akan keagresifan tulus yang selalu berhasil membuat dadaku berdesir aneh. Dia memajukan posisi tubuhnya, melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatapku dengan intensitas perlindungan yang teramat pekat. "Wali kelas gue gak bakal nyariin selama nilai ujian matematika gue aman, Mik. Lagian... gue ke sini cuma mau memastikan kalau cewek gue gak lagi diganggu sama sisa-sisa curutnya Devan siang ini."

Saka meraih kotak susu cokelat yang ada di atas mejaku, memutar-mutarnya di tangan kokohnya sebelum menyodorkannya kembali ke arahku. "Gue baru dapet info dari pangkalan IPS belakang pasar lama. Yudha dan tiga anak buah Devan tadi pagi bener-bener menarik seluruh draf laporan palsu mereka dari meja kesiswaan. Mereka ketakutan setengah mati setelah melihat berkas anggaran OSIS yang gue banting semalam."

"Iya, Sak. Risa juga tadi sempat cerita hal yang sama ke gue," ucapku sambil menerima kembali kotak susu dari tangannya, merasakan kehangatan jemarinya yang sempat bersentuhan dengan kulitku. "Berarti untuk saat ini, posisi kita bener-bener udah aman dari ancaman pihak sekolah, kan?"

"Di dalam sekolah? Iya, kita aman mutlak, Mik," seringai tajam Saka mendadak meredup, bergantikan dengan kilat keseriusan yang sangat dingin di dalam manik mata elangnya. Dia menundukkan wajahnya sedikit, memastikan untaian kalimat berikutnya hanya didengar olehku seorang di sudut kelas yang sepi ini. "Tapi di luar sekolah... permainannya baru saja dinaikkan ke level yang jauh lebih liar. Mata-mata gue di sekitar perumahan komplek lo mendeteksi kalau sejak tadi pagi, ada sebuah mobil hitam asing yang terus-terusan parkir di ujung jalan dekat gang rumah lo. Dan nomor plat mobil itu... terdaftar atas nama perusahaan milik keluarga besar Devan Dirgantara."

Duniaku rasanya kembali membeku mendengar penuturan detail dari mulut Saka. Genggaman tanganku pada kotak susu cokelat di tanganku seketika mengeras hingga wadah kertasnya sedikit penyok. Devan... dia bener-bener sudah memindahkan medan perangnya sepenuhnya ke ranah dunia nyata di sekitar lingkungan tempat tinggal diriku.

"Devan... dia beneran mengawasi rumah gue, Sak?" tanyaku dengan suara yang mulai bergetar hebat karena kombinasi rasa takut dan frustrasi yang kembali menyerang mental jiku.

Saka tidak menjawab dengan kata-kata. Tangan kokohnya tiba-tiba terulur maju, meraih pergelangan tangan kananku dengan satu gerakan cepat yang sangat agresif namun penuh kelembutan. Dia menggenggam erat tanganku, membiarkan bandul bintang kecil di gelang perak pemberiannya menekan kulitku dengan mantap, menyalurkan getaran proteksi posesif yang luar biasa kuat ke dalam seluruh aliran darahku.

"Gue udah pernah bilang sama lo semalam, kan, Mikaela?" geram Saka dengan nada suara yang merendah penuh dengan penekanan yang tak terbantahkan. "Gue gak bakal membiarkan si ular manipulatif itu menyentuh atau merusak kebebasan hidup lo lagi selangkah pun. Sifat patuh aturan gue cuma taktik formalitas biar gue bisa terus berjalan di koridor ini bareng lo. Di luar sekolah... gue tetap Saka Aditya yang ugal-ugalan, agresif, dan gak punya urat takut mati untuk menghancurkan siapa saja yang berani mengganggu hak milik gue."

Saka bangkit berdiri dari atas meja Devan, membuat tubuh tingginya kembali menjulang tegak memberikan perlindungan mutlak bagi diriku yang masih terduduk lemas. Dia menarik napas dalam-dalam, menatap ke arah jendela kelas yang menampilkan pemandangan luar sekolah dengan kilat amarah yang meletup-letup di balik ketenangannya.

"Nanti pas bel pulang sekolah berbunyi, lo gak usah nunggu gue di lab fisika bawah lagi. Langsung jalan keluar lewat pintu belakang kantin, anak-anak IPS dari pangkalan udah siap nunggu lo di sana pake mobil sewaan. Sore ini juga... gue sendiri yang bakal mendatangi mobil hitam milik keluarga Devan di ujung jalan komplek lo itu buat menyelesaikan sisa amunisi yang dia punya sebelum bab 65 tamat nanti. Lo harus tetap percaya sama gue, Mik," tegas Saka, matanya menatapku lurus-lurus dengan binar cinta beracun yang anehnya justru menjadi perisai paling kokoh yang membuatku merasa sangat aman di tengah badai baru yang kian mencekam ini.

Gue mengangguk pelan sebagai tanda kepatuhan mutlak pada perintah protektif dari cowok *red flag* di hadapanku ini. Sumbu konflik asmara di luar dinding sekolah telah resmi ditarik semakin dalam dan berbahaya, dan perjalanan kami menuju akhir cerita dipastikan bakal berjalan dengan ritme yang jauh lebih cepat, padat taktik, dan penuh dengan konfrontasi liar yang memacu adrenalin. Takhta Devan memang telah runtuh di dalam sekolah, namun perang sesungguhnya di dunia nyata baru saja resmi dimulai di koridor kelas XII MIPA 2 siang hari ini.

### **Komentar Penulis (Author's Corner)**

> Tapi untungnya, Saka Aditya versi rapi-posesif ini punya insting perlindungan yang jauh lebih agresif dan taktis untuk mengunci pergerakan musuh sebelum berkembang menjadi ancaman nyata yang membahayakan keselamatan Mikaela. Momen interaksi mereka di kelas MIPA bener-bener nunjukin sisi protektif yang tulus di balik sifat *red flag*-nya yang dominan.

> Kira-kira konfrontasi seperti apa yang bakal terjadi saat Saka nekat mendatangi mobil hitam mata-mata milik keluarga Devan di ujung jalan komplek sore ini? Apakah Devan sendiri yang ada di dalam mobil tersebut?

> Yuk, jangan sampai ketinggalan kelanjutan kisahnya yang makin memacu adrenalin tiap harinya dengan target peluncuran konsisten **1 bab sehari**! Langsung klik tombol **Like** di bawah, berikan **Vote** yang banyak untuk kelancaran proses kontrak baru kita di NovelToon, dan ramaikan kolom **Komentar** dengan teori gila kalian: Siapa yang gak sabar melihat Saka mengobrak-abrik mata-mata kubu Devan sore ini?! Sampai jumpa di Bab 26 besok pagi, *keep reading, stay sharp, and stay alert, guys!*

>

1
listia_putu
lanjut
Sri Dewi
terimakasih kaka jangan lupa promosikan ke teman nya soalnya ini novel pertamaku dengan genre ini jangan lupa di like ya kk
Indah Sari Nurwahyuningtyas
seru bngt panik dan rasa takutnya dapet dari ceritanya jadi yg baca ikut ngerasain jugaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!