NovelToon NovelToon
Dokter Hewan Mencuri Hati CEO Agribisnis Dengan Sapi Wagyu

Dokter Hewan Mencuri Hati CEO Agribisnis Dengan Sapi Wagyu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / CEO
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Saskia Mahendra adalah dokter hewan brilian yang mati kelelahan di laboratorium. Kini ia terbangun sebagai Saskia Utami, 20 tahun, terlilit utang koperasi, dikepung Bibi dan Paman serakah yang siap merampas tanahnya.

Namun, ia membawa sesuatu dari alam kematian: Air Suci. Warisan jiwa yang bisa menyembuhkan ternak dan memicu pertumbuhan ajaib. Setiap tetes bisa mengubah sapi kurus jadi Wagyu bernilai fantastis, tapi setiap tetesnya juga menguras nyawanya sendiri. Harga yang harus ia bayar diam-diam.

Ketika hasil peternakannya menembus standar daging termahal Indonesia, CEO agribisnis raksasa datang membawa kontrak, dan bahaya. Daniel Hardjono. Jenius, arogan, dan terlalu berbahaya untuk dipercaya. Di antara klausul kontrak berdarah dan ciuman yang tak direncanakan, Saskia harus menghadapi ancaman yang lebih ganas dari preman desa, mata-mata korporat internasional yang tahu ada rahasia di kandangnya, dan akan membunuh untuk mendapatkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Keadaan Berubah

Langkah sepatu bot kotor Paman Harto mengotori lantai tanah kamarnya tanpa permisi.

Saskia baru saja selesai mengikat tiga sapi afkir di kandang belakang, memisahkan mereka dari Si Belang dan dua Limosin tua untuk mencegah penularan dermatofilosis. Tangannya masih kotor oleh lumpur kandang. Nafasnya masih memburu. Belum sempat ia meneguk air dari botol mineral yang ia beli di pasar tadi, suara sepatu bot itu sudah mengisi rumahnya.

"Kau punya uang sekarang."

Itu bukan pertanyaan. Itu pernyataan. Paman Harto berdiri di ambang pintu kamarnya, tubuh gempalnya memenuhi seluruh bingkai pintu. Lengan kemejanya digulung sampai siku, menampakkan kulit gelap yang terbakar matahari. Di lehernya, handuk kecil yang sudah lusuh tergantung, keringat masih menetes dari pelipisnya.

Saskia tidak menjawab. Ia duduk di tepi tempat tidur kayunya, tangannya terlipat di pangkuan.

"Dari mana kau dapat uang? Beli tiga sapi di Pasar Dampit? Orang-orang pada cerita. Katanya kau bayar tunai."

"Paman datang hanya untuk itu?"

"Jangan main-main denganku, Saskia." Suara Paman Harto naik setengah oktaf. Matanya yang sipit menyapu seluruh isi kamar. Mencari sesuatu. Amplop. Dompet. Tumpukan uang. "Uangnya di mana? Sisa uangmu. Pasti masih ada."

"Tidak ada."

"Bohong!"

Saskia tidak bergerak. Ia sudah memprediksi ini sejak langkah pertama kakinya memasuki desa. Cemoohan warga bukan cuma hinaan. Itu juga sumber informasi. Bibi Laras dan Paman Harto pasti mendengar dalam hitungan jam. Mereka punya mata-mata di mana-mana. Tetangga yang suka bergosip. Pedagang yang suka mengadu. Preman-preman pasar yang bisa disewa dengan uang rokok.

"Sapi-sapi itu butuh obat, Paman. Uangnya sudah habis."

"Obat apa? Sapi jelek begitu tidak perlu obat! Mending kamu kasih uangnya ke saya. Biar saya yang kelola. Kau kan tidak ngerti apa-apa soal keuangan."

Saskia mendongak. Matanya bertemu dengan mata Paman Harto.

"Paman yang mengelola? Seperti Paman mengelola hasil panen sawahku dua tahun ini?"

Wajah Paman Harto mengeras. Rahangnya mengatup. Langkahnya maju dua tapak, cukup dekat untuk membuat Saskia bisa mencium bau keringat bercampur tembakau.

"Kau berani sekali sekarang, ya? Dulu kau cuma bisa nangis kalau dibilangin. Sekarang mulutmu tajam."

"Keadaan berubah."

"Apa?"

Saskia berdiri. Gerakannya pelan, tidak mengancam. Tapi ada sesuatu di matanya yang membuat Paman Harto tidak langsung melangkah maju.

"Keadaan berubah, Paman. Dulu aku sendirian. Lemah. Sakit-sakitan. Tidak tahu harus berbuat apa. Sekarang..." Ia berhenti. Matanya tidak berkedip. "...aku masih punya sapi-sapi itu. Dan aku tidak akan membiarkan siapapun mengambil apa yang jadi hak mereka."

Paman Harto tertawa. Tawa pendek yang kasar. "Hak? Hak apa? Sapi-sapi busuk itu hakmu? Tanah ini juga bukan hakmu lagi kalau kau tidak bisa bayar utang koperasi."

"Itu urusanku."

"Urusanmu adalah urusanku juga! Aku suami kakak ibumu! Aku walimu sekarang!"

"Wali?" Saskia tersenyum tipis. Senyum yang tidak mencapai matanya. "Umurku dua puluh tahun, Paman. Aku sudah dewasa di mata hukum. Paman tidak punya hak apapun atas diriku atau harta peninggalan orang tuaku."

Sesuatu berubah di wajah Paman Harto. Kemarahan yang tadi mendidih di permukaan, sekarang berubah jadi sesuatu yang lebih dingin. Lebih berbahaya.

"Jadi kau mau lawan aku? Lawan Bibi Laras? Kau pikir kau bisa?"

Langkahnya maju lagi. Kali ini cukup dekat untuk membuat Saskia mundur setapak. Punggungnya menyentuh dinding kamar yang dingin.

"Uang itu. Di mana."

Paman Harto menjulurkan tangannya. Telapak tangan kasar dengan kuku-kuku hitam oleh tanah. Telapak tangan yang sama yang dulu membawa pergi karung beras dari dapur Saskia Utami. Yang sama yang mengambil dedak dari gudangnya.

Saskia menatap telapak tangan itu.

Lalu ia bergerak.

Bukan mundur. Bukan menjerit. Bukan menangis seperti yang dulu dilakukan Saskia Utami setiap kali Paman Harto membentaknya.

Ia bergerak ke samping, kakinya melangkah ke arah dapur yang menyatu dengan ruang tamu. Jemarinya meraih sesuatu di atas meja kayu yang reyot.

Pisau dapur.

Pisau itu tidak besar. Hanya pisau biasa untuk memotong sayur, dengan gagang kayu yang sudah menghitam karena dipakai bertahun-tahun. Bilahnya sudah tumpul di beberapa bagian. Tapi cukup tajam untuk menusuk.

Saskia mengangkat pisau itu.

Tangannya tidak gemetar.

"Paman ingin tahu di mana uangnya?" Suaranya rendah. Tenang. Terlalu tenang untuk seorang gadis dua puluh tahun yang berdiri di hadapan laki-laki dewasa bertubuh gempal. "Uangnya aman. Di tempat yang tidak akan pernah Paman temukan."

Paman Harto menatap pisau itu. Lalu menatap tangan yang memegangnya.

"Kau... kau mau apa dengan pisau itu? Kau gila?"

"Saya tidak gila, Paman." Saskia menatap lurus ke mata laki-laki itu. "Saya cuma... pasien saja."

"Apa?"

"Saya dokter hewan."

Wajah Paman Harto berubah bingung. "Dokter apa? Kau tidak pernah kuliah!"

"Itu tidak penting." Saskia mengangkat pisau itu sedikit lebih tinggi. Ujung bilahnya mengarah ke leher Paman Harto, meskipun jarak mereka masih dua meter. "Yang penting, saya tahu anatomi. Saya tahu di mana letak arteri karotis. Saya tahu di mana vena jugularis. Saya tahu persis di mana harus menusuk supaya darah menyembur paling cepat."

"Saskia...!"

"Leher manusia dan leher sapi tidak jauh berbeda, Paman. Otot sternosefalikus. Arteri karotis komunis yang bercabang jadi interna dan eksterna. Vena jugularis yang mengalirkan darah dari otak kembali ke jantung. Satu tusukan di sudut yang tepat, dan Paman akan kehilangan kesadaran dalam tiga puluh detik. Mati dalam dua menit."

Paman Harto mundur selangkah. Sepatu bot kotornya meninggalkan jejak tanah di lantai.

"Kau... kau benar-benar sudah gila..."

"Keluarlah dari rumah saya."

Suara ketiga tiba-tiba memecah ketegangan.

"Saskia! Apa yang kau lakukan dengan pisau itu?!"

Bibi Laras berdiri di pintu depan. Entah sejak kapan ia datang. Wajahnya pucat. Matanya melebar, menatap pisau di tangan Saskia dengan ekspresi tidak percaya.

Saskia tidak menurunkan pisaunya. "Bibi juga mau mencoba?"

"Coba apa?! Gila kau! Turunkan pisau itu!"

"Suruh suami Bibi keluar dari rumah saya. Lalu Bibi juga pergi. Jangan pernah masuk ke tanah ini lagi tanpa izin saya."

"Ini tanah ibumu! Aku kakaknya! Aku berhak...!"

"Tidak." Potong Saskia. Suaranya tetap tenang, tapi ada nada tajam di ujungnya. "Bibi tidak berhak apa-apa. Bibi sudah mengambil hasil panen dua tahun. Bibi sudah mengambil beras, dedak, bahkan uang kas desa yang seharusnya buat bayar koperasi. Bibi sudah mengambil lebih dari yang seharusnya Bibi dapatkan. Sekarang, keluar."

Paman Harto beringsut mundur, bergerak menuju pintu di mana istrinya berdiri. Wajahnya masih tegang. Matanya masih menatap pisau di tangan Saskia.

"Kau akan menyesal, Saskia," desisnya. "Kau akan menyesal melawan keluarga sendiri."

"Saya sudah menyesal. Menyesal karena tidak melakukan ini lebih cepat."

Pasangan suami istri itu mundur keluar rumah. Langkah kaki mereka terdengar di jalan tanah, semakin jauh, semakin pelan, sampai akhirnya lenyap.

Saskia berdiri di tempatnya, punggungnya masih menempel ke dinding. Pisau itu masih di tangannya. Matanya masih menatap pintu depan yang terbuka.

Satu menit. Dua menit. Lima menit.

Lalu, perlahan, tangannya mulai bergetar.

Getaran kecil di ujung jari, lalu merambat ke pergelangan, lalu ke seluruh lengan. Pisau itu mulai bergoyang. Gagang kayunya terasa dingin dan licin oleh keringat yang tiba-tiba membasahi telapak tangannya.

Pisau dapur itu ia jatuhkan ke lantai. Di bawah remang lampu, jemarinya bergetar hebat tanpa bisa dihentikan.

1
4revenge
aku suka bagian ini
Lini Krisnawati
bagus
gina altira
Suka nie sama Saskia tegassss
gina altira
semangat SASKIA
gina altira
jadi Dilema ya Saskia,
sukensri hardiati
baru mulai buka mata dah banyak banget masalah saskia yg harus diurus....smangatttt....
gina altira
lanjutt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!