Di usia lima belas tahun, Yuni dipaksa melipat rapat mimpinya memakai seragam abu-abu. Sebagai anak sulung dari keluarga yang serbakekurangan, dia harus mengalah demi menghidupi enam adiknya yang lahir beruntun setiap dua tahun sekali. Yuni memilih merantau menjadi buruh pabrik di Jakarta. Namun, kepulangannya dua tahun kemudian justru membawa takdir baru yang tak pernah dia duga: sebuah pinangan dari Hendra, pria mapan yang sama sekali belum dikenalnya.
Demi bakti pada ibu angkat dan harapan bisa mengangkat derajat keluarga, Yuni yang baru berusia 17 tahun akhirnya menerima pernikahan kilat tersebut. Alih-alih menemukan kebahagiaan, Yuni justru terjebak dalam sangkar emas yang dikendalikan penuh oleh ibu mertuanya yang kejam. Di bawah intimidasi mertua dan sikap Hendra yang perlahan berubah dingin, rumah tangga yang baru berjalan lima bulan itu mulai retak di ambang kehancuran.
Hingga suatu malam, sebuah rahasia gelap yang selama ini disembunyikan di balik punggung Yuni akhirnya terbo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pashadena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: BENIH DI TANAH PINJAMAN
Musim kemarau yang menyengat di desa pengasingan itu tidak mampu mengeringkan gejolak cinta yang kian hari kian membakar rumah petak Laras. Bagi Rendra, hari-harinya kini adalah sebuah simfoni pelarian yang begitu manis. Ia telah benar-benar menanggalkan identitasnya sebagai Rendra Wijaya—putra keluarga terpandang yang gagal—dan menjelma menjadi sosok pria yang ia ciptakan sendiri: seorang ayah yang penuh kasih dan pendamping yang setia.
Hubungan mereka telah melampaui sekadar tetangga yang saling membantu. Di bawah atap yang sama, mereka berbagi suka dan duka. Rendra, yang dulunya hidup dalam kemewahan materialistis, kini menemukan makna hidup dalam hal-hal kecil: membelah kayu bakar untuk Laras, memperbaiki kebocoran dinding bambu, dan mendengarkan keluh kesah Laras tentang beratnya hidup yang ia pikul selama ini.
Penulis menyaksikan bagaimana kedekatan itu semakin intim seiring berjalannya waktu. Rendra tidak lagi memiliki keraguan. Setiap kali ia memandang Laras, yang ia lihat bukan lagi sekadar pelarian dari kesepian, melainkan seorang wanita yang berhasil mengisi ruang-ruang kosong dalam dirinya. Mereka menjalani kehidupan layaknya pasangan suami istri tanpa ikatan yang sah. Rendra merasa telah menemukan rumah yang sesungguhnya—sebuah rumah yang ia bangun dengan kebohongan, namun terasa begitu nyata dan hangat bagi jiwanya yang lelah.
Satria, bocah kecil itu, menjadi perekat yang semakin menguatkan ikatan mereka. Ia tidak lagi memanggil Rendra dengan sebutan "Om", melainkan "Ayah" dengan intonasi yang begitu alami dan tanpa paksaan. Rendra sendiri, entah karena pengaruh kasih sayang yang ia curi dari Laras atau karena hasrat terdalamnya untuk menebus kesalahan masa lalunya, benar-benar mencurahkan segalanya bagi Satria. Ia melihat bayangan masa depan yang ia inginkan di mata bocah itu, masa depan di mana ia bisa menjadi pria yang bertanggung jawab, meski tanggung jawab itu berada di pundak yang salah.
Namun, di balik keintiman yang semakin dalam, takdir mulai merajut benang baru yang akan mengubah segalanya.
Satu pagi, Laras merasa tubuhnya tidak seperti biasanya. Perasaan mual yang hebat saat mencium aroma kopi, rasa pening yang berkepanjangan saat ia harus memeras cucian, serta kelelahan yang luar biasa yang membuatnya ingin terus terlelap, mulai mengganggu kesehariannya. Awalnya, Laras mengira itu hanya karena kelelahan bekerja atau masuk angin karena terlalu sering begadang. Namun, ketika siklus bulanannya tidak kunjung datang hingga melewati dua bulan, jantungnya mulai berdegup tidak karuan.
Ia membeli alat tes kehamilan sederhana di warung pasar desa dengan tangan yang gemetar hebat. Di dalam kamar mandi rumah petak yang sempit itu, Laras menunggu dengan napas tertahan. Saat dua garis merah itu muncul dengan jelas di atas stik kecil tersebut, dunia di sekeliling Laras seakan berhenti berputar.
Ia hamil. Buah cintanya dengan Rendra kini mulai bersemi di dalam rahimnya.
Laras keluar dari kamar mandi dengan wajah yang pucat pasi, namun matanya berkaca-kaca. Ia tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis. Ia hamil, sebuah anugerah yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan bagi setiap wanita. Namun, ia hamil di luar ikatan pernikahan yang resmi. Ia hamil dengan seorang pria yang identitas masa lalunya masih menjadi misteri, seorang pria yang selalu menghindar setiap kali Laras bertanya tentang keluarganya.
Rendra pulang saat matahari mulai tenggelam. Ia membawa sedikit buah tangan hasil dari kerjanya di sawah. Saat ia melihat Laras duduk termenung di atas dipan, Rendra segera mendekat dengan penuh perhatian.
"Ada apa, Laras? Kamu sakit?" tanyanya lembut, tangannya menyentuh bahu Laras dengan gerakan yang penuh kasih.
Laras menarik napas panjang, lalu perlahan ia menyandarkan kepalanya di dada Rendra. Ia merasa ini adalah saat yang tepat untuk jujur. Jika mereka sudah memiliki seorang anak, maka ikatan mereka tidak akan bisa diputus lagi. Rendra akan benar-benar terikat dengannya selamanya.
"Rendra... aku... aku mengandung," bisik Laras dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Rendra tertegun. Detak jantungnya seakan melompat dari tempatnya. Ia terdiam cukup lama, membiarkan kalimat itu meresap ke dalam pikirannya yang kini dipenuhi oleh kecemasan dan sekaligus rasa kepemilikan yang membuncah. Ia perlahan merangkul Laras, mencium keningnya dengan penuh kelembutan yang dalam.
"Kita akan memiliki anak," gumam Rendra, suaranya terdengar serak.
Penulis melihat bagaimana berita itu membawa dampak yang begitu dahsyat bagi keduanya. Rendra, yang selama ini lari dari kenyataan, kini merasa terikat oleh sebuah "tali" baru yang lebih kuat dari borgol penjara mana pun. Ia tidak bisa lagi bersembunyi. Dengan adanya janin berusia dua bulan di rahim Laras, Rendra telah benar-benar menutup pintu untuk kembali ke masa lalunya di Sukorejo. Ia bukan lagi sekadar pelarian, ia telah menjadi "kepala keluarga" dalam drama yang ia karang sendiri.
Laras, di sisi lain, merasa yakin bahwa anak ini adalah jaminan. Ia percaya bahwa Rendra tidak akan pernah meninggalkannya sekarang. Ia merasa anak ini adalah pengganti dari kehilangan-kehilangan yang ia alami sebelumnya—pengganti untuk suaminya yang meninggal, pengganti untuk ibunya yang tiada. Ia merasa telah memiliki kembali dunianya yang sempat hancur.
Namun, di balik kegembiraan yang mereka tunjukkan, ada awan gelap yang diam-diam menyelimuti rumah itu. Mereka tidak menyadari bahwa setiap kebahagiaan yang dibangun di atas fondasi pengkhianatan akan selalu menuntut harga yang sangat mahal. Rendra tidak sadar bahwa dengan hadirnya anak ini, ia telah memberikan "senjata" bagi takdir untuk menghancurkan hidupnya lebih telak lagi.
Malam itu, di bawah keremangan lampu minyak, mereka bertiga—Rendra, Laras, dan Satria—duduk melingkar. Rendra menatap perut Laras yang masih rata dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kebanggaan seorang ayah di sana, namun di sudut hatinya yang terdalam, ada bayangan seorang wanita bernama Yuni dan seorang bayi perempuan bernama Arum yang kini seolah sedang menatapnya dari kejauhan dengan tatapan yang menghujam.
Rendra telah benar-benar menyeberangi sungai. Ia tidak mungkin lagi berbalik arah. Ia memutuskan untuk terus melangkah, meski ia tahu bahwa jalan di depannya mungkin akan dipenuhi oleh duri yang jauh lebih tajam. Bagi Rendra, Laras adalah masa kini, dan janin yang ada di rahimnya adalah janin masa depan. Masa lalu di Sukorejo hanyalah sebuah mimpi buruk yang harus ia kubur dalam-dalam, bahkan jika harus menguburnya dengan kebohongan-kebohongan baru yang lebih besar.
Penulis tahu bahwa kebenaran adalah cahaya yang tidak bisa dipadamkan oleh apa pun. Dan kehamilan Laras, yang seharusnya menjadi kabar sukacita, hanyalah babak baru dari pengkhianatan yang akan segera menemukan waktunya untuk terungkap. Rendra telah memilih, Laras telah menerima, dan takdir hanya tinggal menghitung hari sampai saatnya kebenaran itu datang mengetuk pintu mereka dengan cara yang paling tidak terduga.