.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Si Jenius Gila Kerja, Penyusupan Malam, dan Pengganggu Tidur yang Cantik
Dunia kultivasi mengenal dua jenis manusia: mereka yang mengejar keabadian dengan darah dan air mata, dan Ji Huang yang menganggap keabadian hanyalah sarana untuk memperpanjang waktu tidur siang. Namun, di Sayap Barat Akademi Kekaisaran, ada jenis manusia ketiga yang paling dihindari Ji Huang—tipe manusia gila kerja yang menganggap tidur adalah pengkhianatan terhadap kultivasi.
Mu Ning’er adalah definisi hidup dari kategori ketiga tersebut.
Di usianya yang baru menginjak sembilan belas tahun, dia sudah menduduki posisi sebagai Instruktur Muda sekaligus Ketua Aula Pembuat Formasi (Array Master) Sayap Barat. Dengan kultivasi Tingkat Pengumpulan Qi Lapis ke-8 Puncak, Mu Ning’er adalah aset berharga akademi. Ciri khasnya adalah rambut hitam panjang yang selalu diikat kuncir kuda tinggi, sepasang mata bulat yang memancarkan kecerdasan tajam, dan kantung mata tipis yang menjadi bukti bahwa dia rutin mengonsumsi Pil Penahan Tidur tingkat rendah demi meneliti cetak biru formasi selama dua puluh empat jam penuh. Bagi Ning’er, waktu yang dihabiskan di atas kasur adalah tanda dari kemunduran mental.
Dini hari itu, ruang kerja Mu Ning’er dipenuhi oleh dokumen pemantauan energi. Alisnya yang anggun bertaut rapat saat menatap grafik fluktuasi Qi Sayap Barat kemarin siang.
"Ada lonjakan energi 'pembalikan Qi' yang sangat aneh di area Paviliun No. 01," gumamnya, mengetukkan pena bulu ayam ke meja kerja dengan ritme cepat. "Sistem formasi utama tidak mencatat adanya pertarungan teknik, tapi Jimat Resonansi milik Ye Chen hancur total di titik itu. Apakah penghuni baru dari klan Huang itu menyembunyikan artefak ilegal? Atau faksi luar sedang menyelundupkan senjata pelumpuh jiwa?"
Rasa penasarannya sebagai seorang jenius formasi yang perfeksionis tidak bisa dibendung. Alih-alih menunggu pagi hari untuk melakukan interogasi resmi yang berbelit-belit dengan birokrasi akademi, Mu Ning’er memutuskan untuk bertindak langsung malam itu juga.
Tengah malam tiba. Suasana di sekitar Hutan Bambu Ungu sunyi senyap, hanya menyisakan desir angin malam yang dingin.
Sebuah bayangan ramping bergerak lincah di antara batang-batang bambu. Mu Ning’er mengenakan jubah khusus yang dilapisi Formasi Kamuflase Siluman Kucing—sebuah jubah tingkat tinggi ciptaannya yang mampu menyamarkan hawa keberadaan, suara langkah kaki, hingga detak jantung dari deteksi kultivator Tingkat Fondasi sekalipun.
Dengan kemampuannya, dia berhasil melewati gerbang kayu paviliun tanpa memicu sistem peringatan dasar. Dia menyelinap masuk melalui celah jendela samping yang sengaja dibuka Ji Huang untuk sirkulasi udara malam.
"Mari kita lihat rahasia apa yang disembunyikan oleh murid jalur khusus ini," bisik Mu Ning’er dalam hati, matanya berbinar penuh antisipasi. Dia membayangkan akan menemukan sebuah laboratorium rahasia, tumpukan gulungan teknik terlarang, atau mungkin formasi kuno yang memancarkan aura kegelapan.
Namun, pemandangan yang menyambutnya di dalam kamar utama justru membuat otak jeniusnya mengalami kemacetan fungsional.
Tidak ada formasi terlarang. Tidak ada ritual rahasia. Di atas ranjang Giok Es Spiritual yang memancarkan hawa dingin premium seharga ribuan batu spiritual, seorang pemuda sedang berbaring telentang dengan posisi yang sangat santai. Pemuda itu mengenakan pakaian tidur longgar, wajah fanya tampak begitu damai, dan tubuhnya dibungkus oleh selimut kain kasar bermotif bebek miring berwarna kuning norak yang sama sekali tidak selaras dengan kemewahan kamar VIP. Terdengar suara dengkuran halus dan teratur yang memenuhi ruangan.
Mu Ning’er melongo di tempat. "Dia... benar-benar hanya sedang tidur? Di tengah malam yang berharga untuk menyerap energi bulan, dia tidur seperti orang fana?!"
Merasa tidak puas, Mu Ning’er melangkah mendekati ranjang Giok Es untuk memeriksa apakah ada fluktuasi energi tersembunyi di bawah bantal Ji Huang. Namun, tepat saat kakinya melangkah ke dalam radius dua meter dari ranjang, atmosfer di dalam kamar mendadak berubah secara drastis.
Ji Huang tidak terbangun. Matanya tetap terpejam rapat. Namun, Niat Pedang Pasif yang mengalir di dalam sumsum tulangnya secara otomatis bereaksi terhadap keberadaan orang asing yang membawa niat menyelidik. Sederhananya, itu adalah sistem perlindungan alami yang dikembangkan Ji Huang selama ribuan tahun agar ritual tidurnya tidak pernah terganggu oleh hal-hal kecil—seperti nyamuk, debu, atau instruktur muda yang menyelinap.
Wush.
Mu Ning’er merasakan tekanan gravitasi mikro yang teramat padat mendadak mengunci kedua pergelangan kakinya. Rasanya seolah-olah sepasang rantai besi tak kasat mata seberat seribu kati mencengkeram kakinya ke lantai giok. Formasi kamuflase di jubahnya seketika pecah seperti kaca yang dihantam palu.
"Apa-apaan ini?!" Mu Ning’er membelalakkan mata. Dia mencoba mengalirkan Qi Lapis ke-8 miliknya untuk melepaskan diri, namun setiap kali energinya melonjak, tekanan tak kasat mata itu justru menyerap dan menetralisirnya dengan efisiensi yang mengerikan. Dia terjebak, berdiri kaku seperti patung pajangan tepat di samping ranjang Ji Huang, sementara target penyelidikannya masih terus mendengkur halus tanpa beban.
Tiga jam berlalu dalam siksaan keheningan. Sinar matahari subuh yang hangat mulai menerobos masuk melalui celah tirai bambu, menyinari wajah Mu Ning’er yang kini sudah merah padam karena perpaduan antara kelelahan, rasa kesal, dan rasa malu yang luar biasa. Dia telah berdiri kaku di posisi yang sama sepanjang malam.
Hoaaam...
Ji Huang menggeliat pelan, menarik napas panjang, lalu membuka matanya secara perlahan. Hal pertama yang tertangkap oleh pandangannya adalah sosok gadis cantik berkuncir kuda yang sedang menatapnya dengan pandangan membunuh dari jarak satu meter.
Ji Huang berkedip dua kali. Wajah lempengnya tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Dia hanya mengusap matanya, lalu menoleh ke arah jendela.
"Nona," ucap Ji Huang dengan suara serak khas orang baru bangun tidur. "Tolong bergeser sekitar dua langkah ke kanan. Kamu menghalangi sinar matahari subuh yang hangat. Itu merusak estetika bangun pagiku."
"Kamu...!" Mu Ning’er rasanya ingin meledak di tempat. "Lepaskan formasi pengikat ini sekarang juga, dasar murid malas!"
Ji Huang menguap sekali lagi, mengibaskan ujung selimut bebeknya dengan santai. Bersamaan dengan gerakan itu, cengkeraman tak kasat mata di kaki Mu Ning’er seketika lenyap tanpa bekas. Ning’er yang tidak siap langsung terhuyung mundur, hampir saja menabrak meja teh jika dia tidak memiliki refleks kultivator yang baik.
"Kamu menggunakan teknik formasi apa semalam? Di mana kamu menyembunyikan mata formasinya?!" Mu Ning’er langsung menginterogasi, mengabaikan fakta bahwa dirinya adalah pihak yang menyusup. Dia menunjuk ke arah ranjang Giok Es dengan ekspresi penuh kemarahan akademis. "Kamu memiliki fasilitas Paviliun No. 01 dan ranjang Giok Es Spiritual terbaik yang bisa mempercepat pemurnian Qi hingga tiga kali lipat! Mengapa kamu hanya menggunakannya untuk tidur?! Kamu tahu berapa banyak murid yang mengantre untuk mendapatkan tempat ini? Perilakumu ini merusak seluruh ekosistem kompetitif di akademi!"
Ji Huang duduk di tepi ranjang, menatap gadis gila kerja itu dengan pandangan malas yang andalan.
"Logika macam apa itu, Nona?" jawab Ji Huang lempeng. "Giok es ini memiliki sifat alami mendinginkan. Sesuatu yang dingin berfungsi untuk menenangkan saraf dan mendinginkan tubuh agar tidur bisa lebih nyenyak. Jika aku memakainya untuk bermeditasi yang memicu perputaran Qi dan memanaskan darah, itu namanya merusak fungsi alami barang. Tindakanku ini justru menghormati fungsi penciptaan giok es ini."
"Itu kesesatan kultivasi!" Mu Ning’er berteriak frustrasi, memegangi kepalanya yang mulai pening karena argumen lempeng Ji Huang yang anehnya terdengar memiliki dasar logika tersendiri. "Kultivasi adalah tentang melawan batas diri, bukan mencari kenyamanan kasur!"
Mu Ning’er menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berantakan. Sebagai seorang Array Master, dia tahu betul bahwa hancurnya jimat Ye Chen kemarin dan kemampuan mengunci dirinya semalam tanpa jimat fisik membuktikan satu hal: pemuda malas di depannya ini adalah seorang "monster" sejati yang menyembunyikan kemampuannya di balik topeng kemalasan.
"Ji Huang," ucap Mu Ning’er dengan nada yang dipaksakan untuk tegas, meskipun wajahnya masih menyisakan rona merah karena kejadian semalam. "Mulai hari ini, aku sebagai Instruktur Muda Sayap Barat akan mengawasimu secara pribadi. Aku tidak akan membiarkan ada murid di bawah pengawasanku yang menyia-nyiakan bakat luar biasa hanya untuk menjadi beban kasur. Aku akan kembali setiap hari sampai kamu mau mengakui dari mana asal teknik energimu!"
Dengan langkah kaki yang dihentakkan keras ke lantai hingga menimbulkan suara berisik, Mu Ning’er berbalik dan keluar dari paviliun dengan sisa-sisa harga diri yang terluka.
Tepat setelah pintu depan tertutup dengan bantingan keras, Xiao Mei masuk dari dapur samping sembari membawa nampan berisi teh hangat dan camilan pagi. Pelayan muda itu menatap pintu yang bergetar, lalu menatap tuannya dengan pandangan bingung.
"Tuan Muda... apakah itu tadi Instruktur Mu dari Aula Formasi? Mengapa dia keluar dari kamar Tuan Muda dengan wajah semerah itu di subuh hari?" tanya Xiao Mei polos.
Ji Huang menghela napas panjang, merebahkan kembali tubuhnya ke atas ranjang Giok Es, dan menarik selimut bebeknya hingga sebatas dada.
"Xiao Mei... tampaknya di tempat baru ini bertambah satu lagi wanita bising yang tidak mengerti esensi dari ketenangan hidup. Jatah tidur siangku di masa depan sepertinya akan menjadi sangat merepotkan."
Ji Huang memejamkan matanya kembali, berusaha mengabaikan gangguan dunia luar demi melanjutkan beberapa menit sisa tidur subuhnya yang berharga.