NovelToon NovelToon
Kelopak Bunga Dan Duri Jiwa

Kelopak Bunga Dan Duri Jiwa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mafia / Transmigrasi
Popularitas:31
Nilai: 5
Nama Author: kawaichanopi

🌹 Kelopak Bunga dan Duri Jiwa

Shen Yue, dokter psikologi tegas berusia 25 tahun, berpindah jiwa ke tubuh Su Xinyi, gadis penjaga toko bunga yang hidup menderita di bawah kekejaman kerabatnya. Takdir mempertemukannya dengan Xiao Chen, penguasa mafia kejam yang menyimpan rahasia: ia mengidap gangguan kepribadian ganda—berubah dari sosok dingin mematikan menjadi pemuda ceria yang memuja bunga.

Di tengah bahaya, intrik musuh, dan tingkah laku Xiao Chen yang sering kali konyol, Shen Yue berusaha menyeimbangkan jiwa orang yang dicintainya. Di antara kelopak bunga indah dan duri tajam, tumbuhlah cinta gelap antara penyembuh jiwa dan pria yang terbelah hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kawaichanopi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aroma Bahaya Yang Menggoda

Langkah kaki Shen Yue melangkah mantap melewati halaman depan yang dipenuhi tanaman liar dan bunga-bunga yang tumbuh tak terawat. Di belakangnya, pintu rumah utama ditutup dengan kasar, disusul suara teriakan dan pertengkaran antara Paman Lin De, Bibi Wang Cui, dan putri mereka. Shen Yue tersenyum tipis. Biarkan saja mereka berteriak sepuas hati. Selama ia memegang kendali atas toko bunga ini dan surat-surat kepemilikan yang sudah diam-diam ia pindahkan ke tempat aman semalam, mereka tidak akan berani berbuat kekerasan fisik lagi. Setidaknya untuk saat ini.

Shen Yue berhenti di depan bangunan kecil di sisi paling pinggir tanah pekarangan itu. Bangunan kayu yang ukurannya separuh dari rumah utama, cat kayunya sudah memudar dan banyak bagian yang lapuk dimakan usia. Namun, begitu ia membuka pintu kayu yang berderit panjang itu, aroma khas langsung menyambut hidungnya—campuran wangi mawar, melati, krisan, dan sedikit aroma tanah basah.

Ini adalah Toko Bunga Su. Warisan satu-satunya yang ditinggalkan orang tua kandung Su Xinyi, dan satu-satunya alasan keluarga jahat itu masih memelihara Xinyi sampai sekarang.

Shen Yue masuk ke dalam, jari-jarinya menyentuh kelopak mawar merah yang agak layu di dekat jendela. Dari ingatan yang ia warisi, ia tahu betul bagaimana cara merawat bunga-bunga ini. Tangan Xinyi yang dulu kasar penuh kapalan adalah bukti kerja kerasnya selama sepuluh tahun merawat tempat ini sendirian.

"Tenanglah, Xinyi," bisik Shen Yue pelan sambil menata kembali pot-pot bunga yang letaknya berantakan. "Tempat ini tidak akan lagi menjadi beban bagimu. Aku akan membuat toko kecil ini menjadi tempat yang paling dikenal, paling dicari, dan paling dihormati di seluruh Kota Tiancheng."

Dengan keahlian dan pola pikir seorang psikolog serta manajer cerdas dari dunia modern, Shen Yue mulai bekerja. Ia tidak hanya menata bunga berdasarkan jenis dan warnanya, tapi mengaturnya menjadi kelompok-kelompok khusus. Ada sudut bunga untuk doa, ada sudut untuk pernyataan cinta, ada pula sudut bunga obat yang bisa menenangkan hati. Ia bahkan membuat tanda-tanda tulisan tangan sendiri yang menjelaskan makna tersembunyi di balik setiap tangkai bunga.

Waktu berlalu dengan cepat. Matahari sudah berada tepat di atas kepala, sinarnya masuk lewat celah-celah jendela kertas, menerangi debu yang menari indah di udara. Suara bising pasar di luar sana terdengar samar, menandakan kota ini sedang hidup dan sibuk.

Shen Yue baru saja selesai merangkai buket bunga bakung putih dan teratai biru. Ia mengusap keringat di keningnya, napasnya sedikit terengah. Tubuh Su Xinyi memang sangat lemah dan kurang gizi, jauh berbeda dengan tubuh aslinya yang terlatih. Ia harus berhati-hati dan mulai mengatur pola makan serta kesehatan tubuh ini pelan-pelan.

Saat ia sedang beristirahat sejenak di kursi kayu tua di balik meja kasar, suasana di luar tiba-tiba berubah.

Suara riuh rendah orang-orang di jalanan perlahan menghilang. Digantikan oleh keheningan yang aneh dan menyesakkan. Udara hangat yang sempat masuk lewat pintu terbuka, tiba-tiba berubah menjadi dingin, sedingin es yang baru saja diambil dari gunung tertinggi.

Shen Yue mengangkat kepalanya, alisnya berkerut sedikit karena penasaran. Ia bangkit berdiri dan melangkah ke depan jendela kayu, mengintip keluar lewat celah kecil.

Di jalan berdebu di depan tokonya, sebuah kereta kuda berwarna hitam pekat sedang berhenti megah. Kereta itu dihiasi ukiran naga berwarna emas yang berkilau indah, ditarik oleh dua ekor kuda hitam besar yang berotot dan terlatih. Namun, yang membuat bulu kuduk meremang bukanlah keretanya, melainkan aura yang terpancar dari sana.

Di kiri dan kanan kereta, berdiri empat orang berpakaian seragam hitam ketat, wajah mereka tertutup sebagian kain, tangan mereka berada di gagang pedang yang terselip di pinggang. Tatapan mata mereka tajam dan kosong, seolah mereka sudah membunuh ribuan nyawa dan siap membunuh ribuan lagi jika diperintah.

Warga yang kebetulan lewat di jalan itu menundukkan kepala setinggi-tingginya, berjalan memutar menjauh, bahkan ada yang masuk ke rumah tetangga hanya untuk menghindar. Tidak ada yang berani bersuara, tidak ada yang berani menatap langsung.

Shen Yue tahu siapa pemilik kereta itu. Nama itu bergema keras di ingatan Xinyi, nama yang membuat siapa saja gemetar ketakutan hanya dengan mendengarnya: Xiao Chen.

Penguasa dunia gelap Kota Tiancheng. Orang yang kekuasaannya berada di bawah Kaisar saja, namun kekejamannya melebihi semua pejabat di istana digabungkan. Konon, orang ini adalah iblis yang berjalan di bumi. Tidak ada hukum yang mengikatnya, tidak ada musuh yang bisa mengalahkannya. Dan... orang yang dikabarkan memiliki rahasia paling mengerikan: gangguan jiwa yang dianggap kutukan dewa.

Pintu kereta terbuka perlahan.

Sepatu bot kulit berwarna hitam pekat dengan hiasan perak melangkah turun ke tanah. Lalu, muncullah sosok tubuh tinggi menjulang yang membuat dunia seolah menjadi semakin gelap.

Xiao Chen berdiri tegak di jalanan.

Pria itu berusia sekitar dua puluh sembilan tahun. Wajahnya begitu tampan hingga sulit dijelaskan dengan kata-kata, namun keindahan itu bercampur dengan rasa takut yang murni. Kulitnya putih pucat seperti porselen dingin, kontras dengan rambut hitam panjangnya yang diikat sederhana ke belakang. Alisnya tegas, hidungnya mancung, dan bibirnya tipis yang selalu tertutup rapat seolah tidak pernah tahu apa itu senyum. Namun, bagian paling menakjubkan sekaligus mengerikan adalah matanya. Mata yang berwarna hitam pekat, dalam dan kosong, seolah ada jurang tanpa dasar di balik tatapan itu, jurang yang penuh dengan darah dan mayat musuh-musuhnya.

Ia mengenakan jubah panjang berwarna hitam dengan sulaman benang emas membentuk pola awan kuno. Di lehernya tergantung sebuah liontin perak berbentuk bunga teratai yang sudah agak kusam, satu-satunya barang yang terlihat biasa saja di tubuhnya yang penuh kemewahan.

Xiao Chen mengangkat kepalanya perlahan, menatap lurus ke depan—tepat ke arah toko bunga kecil milik Shen Yue.

Jantung Shen Yue berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena rasa penasaran profesional seorang dokter yang baru saja melihat pasien paling legendaris di hadapannya. Ia bisa merasakan gelombang emosi yang rumit dan bertabrakan di dalam tubuh pria itu, meski secara fisik Xiao Chen berdiri diam seperti patung.

Pria itu melangkah masuk ke dalam toko bunga. Langkahnya berat dan berirama, membuat lantai kayu tua itu berderit tak berdaya. Aroma yang menguar dari tubuhnya adalah campuran wangi dupa mahal, besi tajam, dan bau samar darah yang belum hilang sepenuhnya—aroma pembunuh yang sejati.

Para pengawal berhenti di ambang pintu, menutup jalan keluar, memastikan tidak ada siapa pun yang boleh masuk atau keluar.

Xiao Chen berhenti tepat di tengah ruangan kecil itu. Tingginya membuatnya terlihat seperti raksasa di antara pot-pot bunga. Ia menatap sekeliling dengan tatapan yang dingin dan menilai.

"Berantakan," suaranya terdengar rendah, berat, dan parau. Itu adalah suara Xiao Yi, kepribadian utamanya yang kejam dan dingin.

Shen Yue tidak mundur selangkah pun. Ia berjalan tenang dari balik meja kasarnya, berdiri berhadapan dengan pria paling berbahaya di kota ini. Ia mendongakkan kepalanya, menatap lurus ke manik mata hitam yang menusuk itu.

"Selamat datang, Tuan Xiao. Toko ini memang kecil dan sederhana, tapi bunga-bunganya tumbuh dengan sehat dan jujur. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Shen Yue dengan nada suara tenang, sopan, namun sama sekali tidak gemetar.

Keheningan melanda ruangan itu. Angin seolah berhenti berhembus.

Xiao Yi menyipitkan matanya. Tidak ada orang yang berani menatap matanya lebih dari tiga detik tanpa pingsan atau gemetar hebat. Gadis kecil kurus dan pucat ini... bukan saja menatapnya, tapi bicaranya tenang seolah sedang menyapa tetangga sebelah rumah.

Ia melangkah maju satu langkah, jarak di antara mereka kini tinggal satu jengkal. Aura pembunuhnya meletus hebat, menekan udara di sekitar hingga terasa berat.

"Aku butuh bunga putih. Banyak," ucap Xiao Yi pelan, tangannya yang besar dan kasar terangkat, jari-jarinya mengusap kelopak bunga mawar putih di dekatnya dengan gerakan yang seharusnya lembut, namun terasa mengancam. "Semakin putih, semakin bagus. Aku benci warna lain. Warna merah... warna merah itu menjijikkan. Mengingatkanku pada hal-hal kotor."

Shen Yue memperhatikan gerak-geriknya dengan teliti. Oh, ia paham betul apa yang sedang terjadi. Ketakutan akan darah, ketidaksukaan pada kekacauan, keinginan akan kemurnian... ciri-ciri Xiao Yi sangat jelas tergambar.

Shen Yue tersenyum tipis, senyum yang membuat Xiao Yi tertegun sesaat.

"Tuan Xiao, bunga putih melambangkan kemurnian, kesucian, dan duka cita," jawab Shen Yue pelan namun tegas. "Tapi izinkan saya memberi saran... jika Anda ingin menutupi aroma darah atau rasa kotor yang Anda rasakan... bunga putih saja tidak cukup. Wanginya terlalu lembut, mudah hilang. Bunga merah seperti mawar atau bunga delima... wanginya lebih tajam, lebih kuat, dan mampu menutupi segala bau busuk dunia ini. Meski warnanya sama dengan darah."

"Kau berani mengajariku?!" Xiao Yi mencengkeram bahu Shen Yue dengan kasar, mengangkat tubuh mungil itu sedikit mengambang di udara. Matanya memerah menatap tajam, amarahnya meluap. "Kau tahu siapa aku? Aku bisa meremukkan tulang-tulangmu ini lebih mudah daripada mematahkan tangkai bunga ini!"

Rasa sakit menjalar dari bahu Shen Yue, napasnya tersendat, tapi ia tidak memejamkan mata. Ia tetap menatap tepat ke dalam mata Xiao Yi, menembus kegelapan itu.

"Saya tahu siapa Anda, Tuan Xiao," bisik Shen Yue, suaranya sedikit tercekat namun masih tegas. "Anda adalah orang yang paling kuat di kota ini, tapi... Anda juga orang yang paling kesakitan di dunia ini. Anda tidak marah karena saya salah bicara. Anda marah karena saya benar. Anda takut pada warna merah, padahal Anda sendiri yang sering membuat dunia ini berwarna merah."

Xiao Yi tertegun. Cengkeramannya melemah perlahan.

Kata-kata itu... menusuk tepat ke jantung hatinya. Tidak ada yang pernah berani mengatakan hal seperti itu. Semua orang hanya memuji, takut, atau membenci. Tidak ada yang pernah melihatnya sebagai manusia yang sedang kesakitan.

Wajah pria itu berubah drastis dalam sekejap.

Kilatan amarah di matanya menghilang begitu saja, digantikan oleh cahaya cerah dan penuh rasa ingin tahu. Kerutan di keningnya hilang, bibirnya yang kaku kini melengkung naik membentuk senyum lebar yang cerah—terlalu cerah untuk wajah yang sedingin itu. Cengkeraman kasar di bahu Shen Yue berubah menjadi sentuhan lembut dan hati-hati, seolah ia sedang memegang barang paling rapuh di dunia.

"Hah! Kau lucu sekali, Nona Kecil!"

Suara itu... berbeda. Lebih tinggi, lebih santai, dan penuh semangat. Ini adalah Xiao Lei.

Xiao Lei melepaskan bahu Shen Yue, lalu melompat mundur selangkah dengan lincah, matanya berbinar-binar menatap sekeliling toko bunga seolah baru saja menemukan harta karun. Ia sama sekali tidak terlihat seperti penguasa mengerikan yang tadi, melainkan pemuda berjiwa muda yang ceria dan sedikit konyol.

"Wah! Bunganya indah sekali! Baunya harum, segar, tidak ada bau menjijikkan sama sekali!" seru Xiao Lei riang, lalu ia menundukkan badannya, menatap wajah Shen Yue dari jarak sangat dekat, membuat Shen Yue sedikit terkejut. "Dan kau... kau cantik sekali! Matamu tajam tapi indah. Hebat! Biasanya orang pingsan kalau melihat Xiao Yi marah, tapi kau malah mengomelinya! Kau gadis pertama yang berani begitu!"

Xiao Lei tertawa terbahak-bahak, suaranya bergema di ruangan kecil itu. Ia meraih setangkai bunga melati putih yang ada di meja, lalu dengan santai menyelipkannya ke samping telinga Shen Yue.

"Pas sekali! Kau lebih cocok dengan bunga ini daripada dia yang dingin itu. Hai, hai, siapa namamu, Nona Bunga? Aku Xiao Lei! Ingat ya, nama aku Xiao Lei, bukan Xiao Yi yang menyebalkan itu!"

Di ambang pintu, A-Ming—asisten setia yang diam sejak tadi—hanya bisa menutup matanya pasrah, sambil menahan senyum tipis yang hampir keluar. Sudah biasa ia melihat perubahan drastis tuannya, tapi melihat Xiao Lei bersikap ramah dan genit pada seorang gadis biasa... ini baru pertama kali terjadi.

Shen Yue menghela napas panjang, merasakan rasa sakit di bahunya perlahan mereda. Ia menatap sosok di depannya ini dengan pandangan seorang dokter yang menemukan kasus menarik seumur hidupnya.

Jadi, beginilah rasanya berhadapan langsung dengan gangguan kepribadian ganda tingkat lanjut. Satu tubuh, dua jiwa yang sangat berbeda, dan ada jiwa ketiga yang tersembunyi jauh di dalam sana.

Shen Yue menyentuh tangkai melati di telinganya, lalu tersenyum tulus.

"Nama saya Shen Yue... atau Su Xinyi. Panggil saja Yue. Senang berkenalan denganmu, Xiao Lei. Dan juga denganmu, Tuan Xiao Yi yang sedang mendengarkan di dalam sana."

Xiao Lei mengerjap kaget, lalu tertawa semakin keras hingga ia hampir berguling-guling di lantai.

"Kau benar-benar menarik, Yue! Sangat menarik! Mulai hari ini, aku akan sering ke sini ya! Tempat ini wanginya enak, dan kau... kau enak diajak bicara!"

Di sudut ruangan, bayangan Xiao Yi samar-samar masih terasa marah dan ingin membunuh, tapi dikalahkan sepenuhnya oleh kegembiraan Xiao Lei.

Shen Yue menatap ke luar jendela, melihat awan yang berarak pelan di langit biru. Ia tahu, sejak pertemuan hari ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Di hadapannya kini bukan sekadar mafia kejam yang berbahaya, melainkan dua jiwa yang terluka dan rumit, yang entah mengapa, nasibnya kini terikat rapat dengan nasibnya sendiri di dunia asing ini.

Dan di antara kelopak bunga yang indah dan duri-duri tajam yang mengancam, kisah cinta, bahaya, dan penyembuhan jiwa baru saja dimulai.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!