"lumpur hitam akan selama nya hitam meski telah di rendam dengan emas dan berlian" celetuk nyonya Sin sinis saat melihat Orjioh keluar dari mobil mewah keluaran terbaru berwarna hitam, seketika senyumnya hilang dan moodnya pun berubah. ia tidak menyangka bahwa ternyata gadis yang ingin di kenalkan Jonathan kepadanya adalah Orjioh, teman sekolah Jonathan ketika mereka masih tinggal di kampung dulu, yang menurut nyonya Sin tidak selevel dengan keluarga nya yang seorang pengusaha dan juga memiliki sebuah restoran mewah yang dilengkapi dengan penginapan kelas atasnya sekaligus. "benar" sambung In su setuju dengan kakaknya padahal tadinya dia sempat sedikit senang karena ternyata keponakan dekat dengan orang berpengaruh, pikir in su saat mobil yang dikendarai oleh Orjioh berhenti dibelakang mobil Jonathan, ia bahkan sudah sempat berangan-angan untuk menjilat, namun semua itu sirna ketika ia melihat Orjioh keluar dari mobil itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lina Kotto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
cinta semusim 1
Setelah beberapa hari mendung akhirnya sore ini hari pun terlihat cerah, cahaya kuning sedikit oren mulai memancar dari balik awan. Burung-burung yang beberapa hari ini bersembunyi kini mulai bermunculan, suara kicau nya terdengar begitu riang gembira, melompat kesana kemarin mencari makan, terlihat begitu sibuk begitu pula dengan manusia disekitarnya.
Bahkan nyonya Sin juga terlihat tidak ingin melewatkan sore hari yang indah ini begitu saja, dari dalam restoran mewah miliknya dia sudah terlihat begitu heboh mengajak semua anggota keluarganya untuk pindah dan duduk diluar menikmati matahari sore, dengan temani beberapa hidangan mewah, sembari menunggu putranya yang bernama Jonathan kembali.
Hari ini ia berencana untuk menjodohkan Jonathan dengan Shela yang tak lain adalah keponakannya sendiri. "tante, kenapa Jonathan lama sekali?" keluh shela bergelayut manja pada tangan nyonya Sin, "sebentar lagi Jonathan pasti datang." jawab nyonya Sin di iringi dengan senyum lembut yang semakin mengembang karena perkataannya benar.
"nah lihat!" seru nyonya Sin lagi dengan melihat kearah mobil berwarna biru tua miliknya yang dipakai oleh Jonathan, bahkan matanya mulai berbinar begitu melihat mobil mewah berwarna hitam yang mengikuti mobil Jonathan dan berhenti disebelah mobil Jonathan, saat itu dia sedikit bangga karena putranya memiliki kenalan dari kalangan atas.
Karena biasanya dari sekian banyak pelanggan yang singgah ataupun menginap di Resort miliknya, hanya pengusaha besar dan orang dari kalangan atas lah yang mengendarai mobil mewah seperti itu, apa lagi mobil itu hanya diproduksi tiga saja di negara mereka. Bahkan salah satu pemilik mobil itu adalah pengusaha muda ternama, yang bernama Oh pil sun atau lebih sering di panggil dengan sebutan Presdir direktur oh pil sun, pewaris Oh&Group perusahaan terbesar kedua setelah MA&Group, perusahaan yang sama-sama bergerak di bidang perhotelan dan pusat perbelanjaan, yang juga adalah pelanggan setia di resort nya.
Namun rasa bangga dan binar dimatanya seketika redup dan berganti dengan senyum kecut, saat ia melihat siapa yang keluar dari mobil mewah itu. "lumpur hitam akan tetap hitam meski telah di rendam dengan emas dan berlian!" tutur nyonya Sin sinis dan sedikit mendengus, ia sangat tidak suka melihat perempuan yang keluar dari mobil itu, ditambah lagi Jonathan juga terlihat begitu dengan perempuan itu.
Perempuan itu bernama Or ji oh, usianya dua puluh delapan tahun sama dengan Jonathan hanya beda tiga bulan saja, selain itu dia juga teman sekolah Jonathan ketika di sekolah menengah akhir, dan kebetulan juga mendapatkan biaya siswa untuk melanjutkan pendidikan keluar negeri. Saat itu keluarga Sin masih tinggal di desa dan keluarga Sin termasuk orang yang paling kaya disana.
"benar kakak." sambung In su adik kandung nyonya Sin yang duduk disebelah nyonya Sin setuju, sembari menyeruput teh melati miliki nya dengan gerakan anggun khas orang terpandang, ia juga mengenal Or ji oh dan sudah beberapa kali bertemu dengan nya ketika di desa dulu.
"jaman sekarang asalkan cantik semua barang mewah bisa didapatkan dengan mudah, cukup sedikit kecupan dan pelukan, maka pria tua kaya raya pasti akan memberikan apa pun yang diinginkan!" sela Sin yun seperti sangat tahu tanpa berpaling dari kuku-kuku tangannya yang baru saja dicat, sejak tadi ia terus saja meniup kuku-kuku itu.
Mengenai cantik! Apa yang dikatakan Sin yun itu memang tidak salah, perempuan yang bernama Or ji oh itu memang sangat cantik, selain itu dia juga memiliki body yang sangat bagus seperti model. Bahkan sejak turun dari mobil tadi ada beberapa laki-laki yang terus memperhatikannya dari kejauhan.
Seluruh keluarga Sin memang tidak menyukai Or ji oh, bahkan raut tidak suka terlihat sangat jelas terpampang di wajah mereka, bagi mereka Or ji oh tidak selevel dengan mereka, bahkan Shella yang tadinya tidak sabaran ingin segera bertemu dengan Jonathan kini mulai bad mood dan terus membelakang.
Sementara itu Or ji oh terlihat begitu tenang, ia berjalan dengan tegap dan tanpa sedikitpun rasa takut. Sebelum menuju kemarin dia sudah tahu bahwa kedatangannya tidak akan disambut dengan baik. Or ji oh tahu dimata keluarga Jonathan dia adalah orang kelas rendah yang ingin memanjat naik keatas agar setara dengan mereka, tentunya dengan menggunakan Jonathan. Jelas saja itu tidak mungkin dimata mereka.
"Ma, tante, kenalkan ini Or ji oh." Jonathan memperkenalkan Or ji oh pada nyonya Sin dan In su begitu ia dan Or ji oh sampai di bangku yang ditempati oleh keluarga Sin, Senyum bangga terus ngembang diwajahnya, ia sangat yakin keluarganya pasti akan menyukai Or ji oh.
"sore tante" kata perempuan berbaju lengan panjang berwarna putih dengan rok selutut itu sopan, sembari mengulurkan tangan dan tersenyum anggun, sekilas terlihat sederhana namun elegan, jika di perhatikan dia sama sekali tidak terlihat seperti anak dari kalangan orang susah.
"sore" jawab nyonya Sin dingin mengulurkan tangan dan hanya menyentuh ujung jari tangan Or ji oh, lalu dengan cepat menarik nya kembali dan mengelap tangannya dengan tisu basah, seolah baru saja menyentuh sesuatu yang kotor.
Melihat itu Or ji oh sama sekali tidak tersinggung, ia malah hanya tersenyum, senyum yang begitu anggun namun bagi orang dari kalangan atas pasti akan tahu itu balik sebuah senyuman itu ada tersirat sebuah ejekan. Khas dari orang yang berada di tingkat atas namun bertemu dengan kalangan dari tingkat bawah yang begitu sombong.
"tante" lanjut Or ji oh menyapa In su tantenya Jonathan tetap dengan sopan. "hmm" jawab In su dengan senyum sekilas, kemudian menyibukkan diri dengan berbicara bersama Sin yun, "oh iya Sin yun, tante baru ingat kalau tante kemarin baru saja beli cat kuku, warnanya sangat cantik bahkan lebih cantik dari yang kamu pakai itu." celoteh In su begitu bersemangat sembari mengeluarkan cat kuku dari dalam tas tanpa memperdulikan Or ji oh.
"bla, bla, bla dan bla" timpal Sin yun dan keluarga Sin lainnya seperti tidak melihat Or ji oh. Sedangkan Or ji oh! ia tetap tenang, ia tersenyum sedikit dan melihat kearah Jonathan yang terlihat salah tingkah, seperti tidak enak hati padanya. "maaf Or ji oh" kata Jonathan sedikit gugup dan serba salah sembari menarik kursi kebelakang agar Or ji oh dapat duduk dengan mudah, lalu menyentuh bahu Or ji oh pelan.
Ia takut Or ji oh akan marah pada nya, karena dia yang membawa Or ji oh kemari, namun keluarga nya justru memperlakukan Or ji oh dengan tidak baik. "tenang saja" jawab Or ji oh begitu pelan bahkan nyaris tak terdengar, lalu tersenyum sedikit kepada Jonathan seolah tidak masalah, ia bahkan duduk di kursi yang di siapkan oleh Jonathan, yang tepat berada didepan nyonya Sin dan In su, seolah-olah tidak terjadi apa-apa, Ia begitu santai dan terlihat elegan menikmati secangkir teh dihadapan nya tanpa sedikitpun mendengarkan pembicaraan mereka. seperti sudah tahu akan berada di situasi seperti itu.
"huft" Jonathan menarik tangannya dari bahu Or ji oh dengan nafas lega, setelah ia mendengar jawaban dari Or ji oh, lalu kemudian ikut duduk disebelahnya. Jonathan duduk sangat dekat dengan Or ji oh bahkan lengannya nyaris menempel pada lengan Or ji oh, ia sengaja melakukan itu karena ingin lebih dekat lagi dengan Or ji oh.
Namun saat lengannya berhasil menyentuh lengan Or ji oh, bersamaan dengan itu bulu kuduk nya pun mulai berdiri, ia merasa tidak nyaman dan sedikit gelisah, beberapa kali Jonathan terus terlihat melihat kebelakang, kearah gedung bertingkat sepuluh lantai, yaitu Hotel milik keluarga Sin, sejak tadi ia terus merasakan ada empat pasang mata yang sedang mengawasi dari dalam gedung tersebut.
Sementara itu dilantai empat di lokasi yang sama dengan keluarga Sin.
"tuan muda, tuan Sin bertanya apakah anda menyukai hidangan yang di suguhkan oleh restorannya hari ini?" tanya lelaki berjas hitam pada lelaki berbaju kaos biru dengan lengan pendek yang sedang berdiri menghadap jendela kaca didepan nya, pandangannya matanya begitu jauh dan tak pernah lepas memperhatikan keluarga Sin dibawah sana.
Lelaki itu terlihat begitu maskulin, usianya mungkin sekitar tiga puluh dua tahun, sedangkan lelaki yang bertanya itu seperti nya baru berusia dua puluh sembilan tahun.
Entah apa yang di pikirkan lelaki berkaos biru itu, namun beberapa kali dahinya terlihat berkerut seperti tidak suka, lalu normal kembali dan berkerut lagi, hal itu terus terjadi setiap saat Jonathan menyentuh bahu atau pun lengan Or ji oh. "tuan muda?" panggil lelaki berjas hitam itu sembari sedikit mendekat karena yang ditanya tak kunjung memberi jawaban.