Menjadi janda muda di usia 27 tahun sekaligus Bu RT membuat Jasmine kenyang digosipkan miring oleh warga kompleks, namun ia tidak pernah menyangka bahwa tantangan terbesarnya bukan berasal dari bibir nyinyir ibu-ibu PKK, melainkan dari Aldi—berondong kuliahan nakal sekaligus Ketua Karang Taruna baru yang nekat melempar pesona demi bisa masuk ke dalam hidupnya. Di tengah benturan masa lalu Jasmine yang kelam sebagai single mom dan penolakan keras dari orang tua Aldi, sebuah kepasrahan di malam yang sepi justru menjebak keduanya dalam ketegangan yang tak semestinya terjadi, menyisakan satu pertanyaan besar: mampukah Aldi mengubah obsesi liarnya menjadi sebuah pernikahan nyata, ataukah hubungan terlarang ini justru akan hancur menjadi skandal terbesar di RT 04?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: HAL TAK TERDUGA
Matahari sore merambat turun, membiaskan warna jingga kemerahan di atas langit hari itu. Angin berembus cukup kencang, menerbangkan beberapa daun kering di sepanjang pembatas jalan yang cat hitam-putihnya sudah kering sempurna.
Aldi berjalan sendirian membelah keheningan gang sehabis turun dari angkutan kota. Tas ransel kuliahnya tersampir di pundak kanan, dan kemeja flanel kotak-kotak yang ia kenakan tampak sedikit kusut setelah seharian penuh dihantam jadwal kuliah yang padat. Namun, berbeda dengan penampilannya yang lelah, tatapan mata Aldi justru memancarkan kilat tekad yang sangat tajam dan tidak bisa diganggu gugat.
Langkah kaki tegapnya berhenti tepat di depan pagar rumah nomor 12. Rumah Jasmine tampak tenang. Pintu utamanya sedikit terbuka, membiarkan angin sore masuk ke dalam ruang tamu. Aldi menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan udara sore yang sejuk untuk menenangkan debaran dadanya yang tiba-tiba berpacu di luar kendali. Rencana gila yang ia diskusikan bersama Kenan dan Sendy di ruang tamu semalam kini bukan lagi sekadar wacana anak muda; Aldi siap mengeksekusinya hari ini juga.
Dengan langkah mantap, Aldi membuka slot pagar besi, melangkah melewati deretan pot bunga melati di teras, lalu mengetuk pintu kayu jati itu dengan ketukan yang tegas.
Tok... tok... tok...
"Permisi... Bu Jasmine," panggil Aldi, suaranya terdengar berat dan dalam.
Tidak butuh waktu lama, terdengar langkah kaki mendekat dari arah dalam. Sosok Jasmine muncul di ambang pintu. Sore itu, ia mengenakan setelan kasual berupa kaus berkerah warna salem dan celana kain panjang semata kaki. Rambutnya dicepol asal ke atas, menampilkan leher jenjangnya yang putih bersih. Di tangannya, ia sedang memegang sebuah kain lap.
Melihat siapa yang datang, mata Jasmine seketika berbinar cerah. Sebuah senyuman manis dan tulus langsung terukir di wajah cantiknya yang matang. "Eh, Mas Aldi. Masuk, Mas. Gimana badannya? Sudah benar-benar sembuh? Kemarin sore pas pulang dari sini mukanya masih agak pucat lho."
"Sudah, Bu. Sudah sembuh total berkat bubur dan kompresan dari Ibu kemarin," jawab Aldi, berusaha tersenyum seramah mungkin meski hatinya di dalam sana sedang bergejolak hebat.
"Alhamdulillah kalau begitu. Ayo masuk dulu, duduk di dalam. Kebetulan si Nadeo lagi asyik tidur sore di kamar belakang," ajak Jasmine ramah, memundurkan langkahnya untuk memberi ruang bagi Aldi masuk.
Namun, alih-alih melangkah masuk ke dalam ruang tamu seperti biasanya, Aldi justru tetap bergeming di tempatnya berdiri. Ia berdiri tegak di ambang pintu, menghalangi pendaran cahaya sore yang hendak masuk ke dalam rumah. Tatapan matanya terkunci rapat, menatap langsung ke dalam manik mata Jasmine dengan intensitas yang sangat dalam dan penuh keseriusan seorang pria dewasa.
Jasmine yang menyadari perubahan atmosfer itu seketika menghentikan gerakannya. Ia menatap Aldi dengan dahi berkerut halus, merasa heran dengan sikap kaku sang Ketua Karang Taruna. "Loh... Mas Aldi? Kenapa kok malah berdiri aja di situ? Ada apa?"
Aldi menelan ludahnya yang mendadak terasa sangat kering. Ia mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh, mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa di dalam jiwanya. Tanpa ada basa-basi, tanpa ada pembukaan yang bertele-tele, Aldi langsung melontarkan kalimat sakral yang membuat seluruh dunia di sekitar mereka seolah berhenti berputar detik itu juga.
"Bu Jasmine... mau jadi istri saya ngga?"
Hening.
Suasana di ambang pintu rumah itu seketika mendadak senyap total. Embusan angin sore yang tadinya berdesau kencang seolah lenyap berganti kehampaan yang mencekam. Kain lap yang dipegang Jasmine seketika terlepas dari jemarinya, jatuh begitu saja ke atas lantai permadani tanpa suara.
Mata Jasmine melotot sempurna, menatap Aldi dengan tatapan syok yang teramat sangat. Mulutnya sedikit terbuka, dan seluruh tubuh matangnya mendadak kaku membeku seperti patung. Pertanyaan Aldi barusan seperti sebuah hantaman gada besar yang menghancurkan seluruh benteng pertahanan logikanya siang ini.
Selama hampir satu menit penuh, tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari bibir Jasmine. Ia mencoba mencari tanda-tanda kebohongan atau candaan di wajah Aldi, namun yang ia temukan hanyalah sepasang mata yang menatapnya dengan ketulusan yang teramat dalam dan kesiapan yang mutlak.
"M-Mas Aldi..." suara Jasmine akhirnya keluar, namun terdengar sangat lirih, bergetar, dan penuh dengan rasa tidak percaya. "Kamu... kamu ngomong apa tadi? Tolong jangan bercanda soal hal seperti ini, Mas. Ini gak lucu."
Aldi tidak mundur satu senti pun. Ia justru mengambil satu langkah maju, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma wangi tubuh Jasmine kembali merasuk ke indra penciumannya. "Saya gak lagi bercanda, Bu Jasmine. Saya serius. Saya tahu status Ibu yang sebenarnya dari cerita kemarin sore. Saya tahu Ibu masih lajang, dan saya tahu perjuangan Ibu buat Nadeo."
Aldi mengembuskan napasnya yang terasa hangat. "Saya emang masih muda, saya masih kuliah. Tapi saya siap buat ambil tanggung jawab ini. Saya pengen jagain Ibu, pengen jagain Nadeo, dan saya pengen kita bina rumah tangga bersama. Saya mau nikahin Ibu."
Mendengar penegasan yang begitu berani dari pemuda yang usianya jauh di bawahnya, dada Jasmine mendadak bergemuruh hebat. Jantungnya berdegup dengan ritme yang sangat cepat, memompa darah hingga membuat seluruh wajah dan leher putihnya merona merah padam luar biasa. Perasaan syok, haru, bingung, dan getaran manis yang meletup-letup di dalam dadanya bercampur aduk menjadi satu pusaran emosi yang membuatnya kewalahan.
Jasmine memalingkan wajahnya ke arah samping, memegangi dadanya yang naik turun dengan napas yang memburu. Tangannya yang lentik tampak gemetar hebat saat ia mencoba merapikan anak rambutnya yang berantakan. Pikiran dewasanya langsung berputar memikirkan seribu satu konsekuensi, pandangan warga komplek, hingga masa depan Nadeo yang dipertaruhkan.
Setelah mencoba menenangkan badannya yang gemetar selama beberapa saat, Jasmine kembali menatap Aldi. Matanya tampak sedikit berkaca-kaca, memancarkan kedalaman rasa yang sulit diartikan.
"Mas Aldi..." ujar Jasmine, suaranya kini terdengar lebih terkontrol meski masih ada getaran emosi di sana. "Tolong... kasih saya waktu. Keputusan ini terlalu besar, terlalu mendadak buat saya yang selama ini cuma mikirin hidup berdua sama Nadeo. Saya... saya mau pikir-pikir dulu."
Aldi melihat gurat kebingungan dan beban berat di wajah wanita yang ia cintai itu. Alih-alih memaksakan jawaban, Aldi justru tersenyum sangat lembut, sebuah senyuman dewasa yang menenangkan.
"Iya, Bu Jasmine. Saya paham banget. Ambil waktu sebanyak yang Ibu butuhin buat mikir," kata Aldi lembut, memberikan ruang longgar bagi hati Jasmine untuk bernapas. "Saya gak bakal maksa Ibu buat jawab sekarang atau besok. Yang penting, Ibu sudah tahu apa niat dan isi hati saya yang sebenarnya."
Jasmine menatap Aldi dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa terima kasih yang mendalam atas pengertian pemuda itu. "Terima kasih ya, Mas Aldi... Terima kasih sudah menghargai saya sampai sejauh ini."
"Sama-sama, Bu Jasmine. Kalau begitu, saya permisi pulang duluan ya. Biar Ibu bisa istirahat dan mikir dengan tenang," pamit Aldi sopan. Ia membungkukkan badannya sedikit, lalu berbalik arah melangkah keluar dari teras.
Jasmine berdiri diam di ambang pintu, matanya terus melekat menatap punggung tegap Aldi yang berjalan menjauh membelah remang senja kala itu. Setelah pagar rumah tertutup rapat, Jasmine menyandarkan tubuhnya pada daun pintu kayu, memegangi jantungnya yang masih berdegup kencang, sementara sebuah senyuman manis nan getir perlahan terukir di bibirnya, memulai malam-malam panjang penuh perenungan tentang masa depan baru yang ditawarkan oleh sang Ketua Karang Taruna.