NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Bukan Untuku

Pernikahan Yang Bukan Untuku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Lunaria Wulandari terpaksa menggantikan kakaknya yang kabur di hari pernikahan. Demi menyelamatkan nama keluarga, ia harus menikah dengan Alex Lucas Dimitri—pria dingin dan penuh rahasia yang sejak awal tidak pernah menginginkan dirinya.

Awalnya Luna hanya dianggap pengganti. Namun semakin lama bersama, hubungan mereka berubah menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan. Sayangnya, saat hati mulai saling menerima, masa lalu datang menghancurkan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 Tamu yang Tidak Diundang

Pagi itu rumah keluarga Dimitri jauh lebih ramai dari biasanya.

Bukan karena ada acara keluarga.

Bukan juga karena Kakek Dimitri sedang mengadakan pertemuan penting.

Penyebabnya hanya satu.

Ryan.

Pria itu datang sejak pukul sembilan pagi dengan wajah penuh rasa penasaran.

"Aku mau lihat hasil honeymoon."

Alex yang baru turun tangga langsung menghela napas panjang.

"Kamu nggak punya kerjaan?"

"Punya."

"Terus?"

"Aku bosan."

Alex benar-benar ingin mengusir sahabatnya itu.

Namun Ryan sudah lebih dulu duduk santai di ruang keluarga sambil menikmati kopi yang dibuat pelayan.

Luna yang melihat kejadian itu hanya bisa menahan tawa.

"Selamat pagi, Luna."

"Pagi, Ryan."

Ryan langsung menyipitkan mata.

Lalu bergantian melihat Luna dan Alex.

"Aneh."

"Apa lagi?"

tanya Alex.

"Kalian beda."

Alex langsung mengambil koran.

"Nggak."

Ryan menunjuk mereka berdua.

"Nah itu."

"Nah apa?"

"Dulu kalian kayak orang yang dipaksa duduk satu kelompok."

Luna tertawa kecil.

Ryan melanjutkan.

"Sekarang kayak pasangan beneran."

Alex hampir tersedak kopinya.

Sedangkan Luna langsung salah tingkah.

Ryan terlihat sangat puas.

"Aku benar kan?"

"Kamu terlalu banyak bicara."

jawab Alex datar.

---

Siang harinya Alex harus pergi ke kantor untuk rapat mendadak.

Awalnya Luna berniat ikut.

Namun Alex menyuruhnya tetap di rumah.

"Istirahat."

"Aku nggak capek."

"Tetap istirahat."

Luna akhirnya menyerah.

Setelah Alex pergi, ia memutuskan membaca buku di taman belakang.

Suasananya tenang.

Angin berhembus pelan.

Bunga-bunga di rumah kaca milik mendiang ibu Alex terlihat bermekaran dengan indah.

Sampai suara mobil terdengar dari halaman depan.

Luna tidak terlalu memperhatikannya.

Awalnya.

Namun beberapa menit kemudian salah satu pelayan berlari menghampirinya.

"Nyonya Luna."

Luna mengangkat kepala.

"Ada apa?"

"Ada tamu."

"Siapa?"

Pelayan itu terlihat ragu.

Lalu menjawab pelan.

"Nona Michelle."

Senyum Luna langsung menghilang.

---

Di ruang tamu.

Michelle duduk dengan anggun sambil memegang secangkir teh.

Penampilannya masih sama seperti terakhir kali mereka bertemu.

Cantik.

Elegan.

Dan percaya diri.

Begitu melihat Luna masuk, wanita itu langsung berdiri.

"Halo."

"Halo."

Luna berusaha tetap sopan.

Meski dalam hati sebenarnya ia bingung.

Kenapa Michelle datang lagi?

"Aku mengganggu?"

tanya Michelle.

"Sedikit."

jawab Luna jujur.

Michelle tertawa kecil.

"Aku suka kejujuranmu."

Namun Luna tidak tertawa.

---

"Ada perlu apa?"

tanya Luna akhirnya.

Michelle terdiam sesaat.

Lalu menghela napas.

"Aku ingin bicara."

"Tentang Alex?"

Michelle mengangguk.

Dan entah kenapa, Luna langsung merasa tidak nyaman.

---

"Aku tahu aku nggak punya hak."

kata Michelle pelan.

"Tapi aku hanya ingin menjelaskan sesuatu."

Luna memilih diam.

Michelle menatap ke luar jendela.

"Aku memang meninggalkan Alex dulu."

Tatapannya terlihat sedih.

"Dan itu kesalahan terbesar dalam hidupku."

Luna tidak menjawab.

Karena ia tidak tahu harus berkata apa.

---

"Aku pikir waktu itu aku membuat keputusan yang benar."

lanjut Michelle.

"Tapi ternyata tidak."

Luna menggenggam tangannya sendiri.

"Aku kehilangan seseorang yang benar-benar mencintaiku."

Ruangan menjadi hening.

Beberapa detik berlalu.

Sampai akhirnya Luna berkata pelan.

"Tapi sekarang semuanya sudah terlambat."

Michelle tersenyum pahit.

"Aku tahu."

---

Untuk pertama kalinya, Luna merasa kasihan pada wanita itu.

Karena di matanya, Michelle terlihat seperti seseorang yang hidup dalam penyesalan.

Namun itu tidak mengubah apa pun.

Alex sudah menjadi suaminya.

Dan masa lalu tetaplah masa lalu.

"Aku nggak datang untuk merebut Alex."

ucap Michelle tiba-tiba.

Luna mengernyit.

"Lalu?"

"Aku cuma ingin memastikan satu hal."

Michelle menatapnya.

"Dia bahagia?"

Pertanyaan itu membuat Luna terdiam.

---

Bahagia.

Kalau ditanya beberapa bulan lalu, Luna mungkin tidak bisa menjawab.

Tapi sekarang?

Ia tahu jawabannya.

"Iya."

ucap Luna pelan.

Michelle tersenyum.

Kali ini senyumnya terlihat tulus.

"Syukurlah."

Ada sedikit air mata di sudut matanya.

Namun wanita itu segera menghapusnya.

"Luna."

"Hm?"

"Terima kasih."

Luna terkejut.

"Untuk apa?"

"Karena sudah ada di hidupnya."

---

Tak lama kemudian Michelle pamit.

Saat mobil wanita itu meninggalkan halaman rumah, Luna masih berdiri di depan pintu.

Memikirkan percakapan mereka.

Entah kenapa hatinya terasa aneh.

Bukan cemburu.

Bukan marah.

Lebih seperti lega.

Karena akhirnya ia tahu satu hal.

Michelle benar-benar sudah menjadi masa lalu.

---

Malam harinya Alex pulang lebih cepat.

Begitu masuk ke rumah, ia langsung menemukan Luna sedang duduk di ruang keluarga.

"Kamu kenapa?"

tanya Alex.

Luna mengangkat kepala.

"Hari ini Michelle datang."

Alex langsung berhenti berjalan.

"Apa?"

Luna menceritakan semuanya.

Tanpa ada yang ditutupi.

Dan semakin lama Alex mendengarkan, semakin dalam kerutan di dahinya.

---

"Dia bilang apa?"

tanya Alex setelah Luna selesai bercerita.

"Dia cuma ingin tahu kamu bahagia atau nggak."

Alex terdiam.

Cukup lama.

Lalu menghela napas.

"Aneh."

"Apa?"

"Aku nggak marah."

Luna tersenyum kecil.

"Mungkin karena semuanya memang sudah selesai."

Alex memandang Luna.

Lalu perlahan mengangguk.

Mungkin benar.

Karena saat mendengar nama Michelle sekarang, ia tidak lagi merasakan apa-apa.

Yang ada di pikirannya justru wanita yang duduk di depannya saat ini.

---

"Terus kamu jawab apa?"

tanya Alex.

Luna tersenyum.

"Aku bilang kamu bahagia."

Alex mengangkat alis.

"Kamu yakin?"

Luna mengangguk.

"Sangat yakin."

Pria itu terdiam.

Lalu tanpa sadar tersenyum kecil.

Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya...

Ia memang merasa bahagia.

Dan alasan kebahagiaan itu sedang duduk tepat di depannya.

Tanpa mereka sadari, sebuah babak baru dalam kehidupan mereka perlahan dimulai.

Namun jauh di luar sana, seseorang yang pernah menghilang dari hidup mereka mulai kembali memperhatikan.

Seseorang yang memiliki hubungan darah dengan Luna.

Dan kedatangannya bisa mengubah banyak hal.

1
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat ✍️☺👈
wulaniii
gais like dan beri gift dungs biar semangat 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!