NovelToon NovelToon
AKSARA DI BALIK TATTO

AKSARA DI BALIK TATTO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: WA_19019

Di mata Arum, Angkasa Wardana tampak seram badan tinggi besar, bertato ukiran Jawa di lengan kanan, dan berwibawa. Namun, di balik penampilan itu, tersimpan suara lembut dan tutur kata halus. Pertemuan tak sengaja si penulis novel dengan pengusaha sukses itu, perlahan mengungkap makna mendalam di balik setiap goresan tinta dan tato yang menghiasi lengan lelaki itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RENCANA BULAN MADU & CINTA YANG TUMBUH DIAM-DIAM

Hari-hari berlalu begitu tenang .Setiap pagi, Angkasa bangun lebih awal untuk shalat Subuh, kadang berangkat ke masjid bersama Pak Bimo, kadang menunggu Arum bangun agar bisa beribadah berjamaah berdua di rumah.

Arum pun semakin mahir menjalankan perannya sebagai istri; setiap pagi tidak pernah lupa menyiapkan susu hangat dan roti tawar kesukaan suaminya, sebelum kemudian membantu Bu Saras menyiapkan sarapan berat untuk seluruh keluarga.

Rumah Pak Bimo yang biasanya tenang, kini terasa makin hidup dan hangat dengan kehadiran Angkasa. Semua orang tahu betul, Angkasa bukan lagi pemuda yang dulu datang dengan tangan kosong.

Berkat kerja keras, kecerdasan, ketekunannya dan berusaha selama bertahun-tahun, kini Angkasa sudah menjadi pemuda yang sukses, mapan, dan punya segalanya. Dia sudah punya tabungan yang lebih dari cukup, aset yang terjamin, dan masa depan yang cerah.

Meski sudah sukses dan punya kemampuan lebih, Angkasa tetap rendah hati, sopan, dan sangat menyayangi keluarga istrinya. Dia sering membantu Pak Bimo mengurus keperluan rumah atau kebun, bukan karena harus, tapi karena rasa kasih sayang.

Sore itu, setelah semua pekerjaan selesai, Angkasa dan Arum duduk bersandar di bangku panjang di beranda belakang rumah. Tempat itu agak sepi, jauh dari keramaian, hanya dihiasi suara jangkrik yang mulai bersahutan dan angin sore yang sejuk menerpa wajah mereka.

Arum duduk menyandarkan kepalanya di bahu suaminya, sementara tangan Angkasa mengusap lembut lengan istrinya, tatapannya teduh dan penuh wibawa.

"Mas..." panggil Arum pelan, memecah keheningan yang manis itu.

"Ya, Sayang? Ada apa?" jawab Angkasa lembut, mencium ubun-ubun istrinya dengan kasih sayang.

Arum mengangkat wajahnya, menatap mata Angkasa. "Kita kan sudah sah, sudah jadi suami istri beneran. Aku dengar dari Ibu dan Bapak, biasanya pengantin baru itu pergi berdua, jalan-jalan jauh sebentar. Bulan madu, kan namanya? Mas ada rencana mau ajak aku ke mana gak? Aku penasaran, Mas yang udah punya segalanya ini, kira-kira bakal ajak aku jalan-jalan ke mana ya?"

Angkasa tersenyum lebar, matanya berbinar percaya diri. Hal ini sudah lama dia persiapkan, jauh sebelum mereka menikah. Selama bertahun-tahun bekerja keras dan mengumpulkan rezeki halal, salah satu tujuan utamanya memang ini: memberikan yang terbaik untuk Arum, istrinya yang paling berharga.

"Kamu ngomong gitu seolah-olah aku gak punya rencana matang ya, Sayang?" goda Angkasa sambil tersenyum yakin.

"Dari dulu, bahkan saat kita masih berjauhan dan aku masih berjuang keras di luar sana, aku udah punya daftar tempat yang pengen banget aku kunjungin bareng kamu. Aku pengen ajak kamu ke tempat yang sejuk, pemandangannya indah, udaranya bersih, dan yang paling penting... tenang, cuma ada kita berdua. Aku kepikiran ke daerah pegunungan dulu, ke resort atau vila yang bagus di tengah kebun teh. Di sana pemandangannya luas, udaranya segar, kita bisa istirahat total, jalan-jalan santai, dan nikmatin waktu berdua sepuasnya tanpa gangguan siapa pun. Gimana? Kamu suka gak kalau ke sana?"

Mata Arum langsung berbinar cerah, wajahnya memancarkan kegembiraan. "Wah, ke pegunungan? Ke tempat yang sejuk dan indah gitu? Aku suka banget, Mas! Aku dari dulu emang suka tempat yang adem dan pemandangannya hijau. Pasti rasanya damai banget ya di sana..."

Arum bermimpi sejenak, membayangkan keindahan tempat itu, lalu kembali menatap suaminya dengan senyum malu-malu, meski ia tahu Angkasa sudah mampu segalanya.

"Tapi Mas... tempat-tempat indah kayak gitu kan biasanya biayanya lumayan ya? Kita baru mulai hidup berumah tangga, walau pun Mas sudah mapan, tapi aku tetap pengen kita bijak mengatur keuangan. gak apa-apa kok kalau gak yang mewah, yang penting sama Mas."

Angkasa tertawa kecil, gemas melihat istrinya yang tetap sederhana dan bijak meski tahu suaminya sudah sukses. Dia menggenggam tangan Arum lebih erat, tatapannya lembut namun tegas dan meyakinkan.

"Sayang... dengerin aku ya. Selama ini aku kerja keras, aku banting tulang, aku bangun usaha dan tabungan, semuanya itu tujuannya cuma satu: biar kalau aku sudah punya istri, aku bisa kasih dia hidup yang nyaman, bahagia, dan gak perlu mikirin hal-hal yang berat. Kamu itu harta paling berharga aku, jadi wajar kalau aku kasih yang terbaik buat kamu. Uang itu aku cari memang buat dipakai, buat kebahagiaan kita berdua. Jangan khawatir soal biaya ya? Semuanya sudah aku siapkan lengkap, sudah aku atur rapi jauh-jauh hari,"

"Nanti kita menginap di tempat yang nyaman, bersih, dan aman buat kamu. Nanti kalau kita sudah pulang, rezeki Insya Allah bakal datang lagi mengalir, karena memuliakan istri itu salah satu kunci berkahnya rezeki. Nanti kalau kamu suka, tahun depan kita ke pantai, ke kota besar, atau bahkan ke luar kota yang lebih jauh lagi. Ke mana pun kamu mau, selama aku mampu, bakal aku penuhi. Kita nikmati waktu indah kita berdua ya?"

Arum terharu mendengar penuturan suaminya yang begitu dewasa, mapan, dan sangat menyayanginya. Ia mengangguk antusias, hatinya penuh rasa bahagia dan rasa aman yang luar biasa.

"Siap, Mas! Aku ikut ke mana aja. Aku percaya sama Mas sepenuhnya. Rasanya aku wanita paling beruntung sedunia, punya suami yang hebat, baik, dan sayang banget sama aku kayak gini. Di mana pun itu, yang penting sama Mas Angkasa, pasti bakal jadi tempat paling indah sedunia," jawab Arum tulus, lalu kembali menyandarkan kepalanya di bahu suaminya, tenang dan damai.

Di tempat yang berbeda, tidak jauh dari sana, tepatnya di halaman rumah Intan, suasana juga sedang dipenuhi getaran bahagia yang sama, namun tersembunyi.

Sejak hari pernikahan Angkasa dan Arum, kedekatan antara Dewa dan Intan semakin terasa nyata. Dewa yang dari dulu memang sudah menaruh hati pada sahabat istri sahabatnya itu, kini makin gencar namun tetap sopan mendekatkan diri. Berbeda dengan Angkasa yang sudah sukses dan mapan, Dewa memang masih berproses, tapi dia pemuda yang rajin, jujur, dan punya masa depan cerah.

Dan Intan, yang selama ini menganggap Dewa hanya sebagai kakak dari sahabatnya atau teman biasa, perlahan tapi pasti mulai merasakan hal yang sama. Rasa nyaman, rasa senang setiap bertemu, rasa berdebar saat Dewa tersenyum atau berbicara padanya... rasa cinta itu kini sudah tumbuh subur di hati keduanya, namun mereka sepakat untuk menyimpannya dulu, belum memberitahukan siapa pun, termasuk Angkasa dan Arum.

Sore itu, Dewa datang ke rumah Intan dengan alasan ingin menitipkan sesuatu untuk Bapak Intan, padahal tujuannya hanya satu: bertemu dengan Intan. Seperti biasa, Bapak dan Ibu Intan menyambut baik kedatangan Dewa, menganggapnya anak baik dan sahabat dekat Angkasa, membiarkan mereka mengobrol di beranda depan rumah.

Dewa duduk di kursi kayu tua di beranda itu, sementara Intan berdiri di dekatnya sambil memegang gelas teh hangat yang baru saja diseduhnya. Angin sore menerpa rambut Intan yang terurai indah, membuat Dewa tak bisa mengalihkan pandangannya. Hatinya berdebar kencang, sama seperti saat ia melihat Arum di mata Angkasa dulu. Ternyata benar kata orang, jatuh cinta itu membuat dunia terasa milik berdua saja.

"Terima kasih ya, Intan. Kamu emang paling perhatian," ucap Dewa pelan, menerima gelas teh itu sambil menatap mata Intan lekat-lekat.

Intan menunduk malu, pipinya memerah indah. "Sama-sama, Mas Dewa... Mas Dewa sering banget ke sini akhir-akhir ini. Ada aja alasan ya?" jawabnya sedikit menggoda, tapi suaranya terdengar manis dan tidak berniat mengejek.

Dewa tertawa kecil, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Iya,Sebenernya... aku cuma pengen ketemu kamu aja. Rasanya kalau sehari gak lihat kamu, kayak ada yang kurang gitu hari ini."

Intan terdiam, wajahnya makin merah merona. Dia berani mengangkat wajahnya kembali, menatap Dewa yang kini menatapnya dengan tatapan sangat serius dan tulus, tatapan yang berbeda dari tatapan seorang teman biasa.

"Mas Dewa... beneran ngomong gitu?" tanya Intan pelan, suaranya hampir tak terdengar.

Dewa mengangguk mantap, meletakkan gelas tehnya ke meja, lalu memberanikan diri meraih tangan Intan yang tergantung di sisi tubuhnya. Sentuhan itu membuat jantung Intan berdegup kencang sekali, dan dia tidak menarik tangannya pergi.

"Intan... aku gak mau bohong sama diri sendiri, dan aku nggak mau bohong sama kamu. Aku udah lama nyimpen rasa ini. Dulu pas Angkasa sama Arum lagi banyak masalah, aku sering banget ke rumah Arum, sering banget ketemu kamu. Dari situ aku mulai ngerasa ada yang beda. Kamu baik, kamu rajin, kamu cantik, dan kamu selalu ada buat sahabat kamu. Aku kagum sama kamu, lama-lama rasa kagum itu berubah jadi rasa cinta. Sekarang Angkasa sama Arum udah bahagia, udah bersatu... aku juga pengen ngejar kebahagiaan aku. Dan kebahagiaan itu... ada di depan mata aku sekarang, ada di tangan aku ini."

Intan terharu, matanya berkaca-kaca mendengar pengakuan jujur itu. Ia meremas tangan Dewa yang memegang tangannya erat namun lembut.

"Aku juga, Mas Dewa... Aku juga ngerasa hal yang sama. Dulu aku cuma anggap Mas Dewa teman, sahabatnya Mas Angkasa. Tapi akhir-akhir ini... setiap Mas Dewa datang, aku seneng banget. Kalau Mas Dewa nggak datang, aku nungguin. Aku nggak tau namanya apa, tapi ternyata itu rasa cinta ya? Aku juga sayang sama Mas Dewa..."

Wajah Dewa langsung bersinar cerah, bahagia sekali mendengar jawaban itu. Tanpa ragu lagi, ia menarik tangan Intan pelan, mendekat, dan tersenyum sangat manis.

"Jadi... kita sekarang pacaran ya, Intan? Kita sama-sama ngerasain hal yang sama. Alhamdulillah... rasanya lega banget, bahagia banget rasanya."

Intan mengangguk malu-malu, tersenyum bahagia. "Iya, Mas... Tapi Mas... kita simpan dulu ya? Mas Angkasa sama Arum kan lagi baru nikah, lagi bahagia banget. Aku takut kalau kita kasih tau sekarang, mereka malah jadi repot atau malah jadi bahas kita terus. Biar mereka nikmatin kebahagiaan mereka dulu ya? Nanti kalau udah pas waktunya, kita kasih tau mereka."

Dewa setuju sepenuhnya, mengusap punggung tangan Intan dengan lembut. "Setuju banget. Kamu emang paling pengertian. Biar rahasia kita dulu ya? Cuma kita berdua sama Tuhan yang tau. Nanti pas waktunya tiba, kita kasih tau mereka. Aku yakin banget, Angkasa sama Arum pasti bakal seneng banget denger kabar ini. Mereka pasti bakal dukung kita, sama kayak kita dukung mereka dulu."

Sore itu, di beranda rumah Intan, dua hati kini sudah bersatu dalam rasa cinta yang sama. Mereka berdua duduk berdampingan, menikmati kebersamaan mereka yang manis dan diam-diam, tanpa tahu bahwa di rumah sebelah, sahabat mereka sedang merencanakan perjalanan indah dengan penuh kesiapan dan kemapanan, dan tidak menyangka bahwa takdir sedang menyiapkan kisah bahagia yang sama indahnya untuk mereka berdua.

1
Achmad
sudah tamat kah
Wulandari Ayuningtyas: belum masih berlanjut
total 1 replies
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat✍️☕😍
Wulandari Ayuningtyas: iya bener banget....semangat juga buat kk y
total 1 replies
Achmad
menarik sekali Thor ceritanya
Wulandari Ayuningtyas: wah terimakasih
total 1 replies
Achmad
semangat Thor
Achmad
semangat sehat
Achmad
semangat Thor
Achmad
saya suka Thor lanjut semangat
Wulandari Ayuningtyas: ok semangattt😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!