NovelToon NovelToon
Sistem: Suplai Tak Terbatas

Sistem: Suplai Tak Terbatas

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Hari Kiamat / Sistem
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Wan Chen tidak ingin menyelamatkan dunia.

Ia hanya ingin kaya.

Untungnya, saat berada di ambang kematian, ia memperoleh Sistem dengan kemampuan Duplikasi dan Penyimpanan Dimensional.

Dan di dunia yang kekurangan segalanya, tidak ada kemampuan yang lebih menakutkan dari itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 - Memutus Tali Masa Lalu

Pintu baja berderit serak saat ditutup kembali.

Hawa basah dari lumut koridor langsung menempel di kulit Wan Chen. Ia menyeret langkahnya menuruni anak tangga beton yang retak.

Tujuannya sudah terkalibrasi lurus. Kios penyuplai medis di sudut terdalam pasar gelap.

Pasar itu berbau tumpukan logam karat dan sisa darah kering. Manusia-manusia berwajah tirus menjajakan barang rongsokan di atas terpal plastik kotor.

Langkah Wan Chen berhenti di depan sebuah tenda reyot. Aroma obat antiseptik murahan langsung menyengat rongga hidungnya.

Si penjaga kios sedang bersandar santai. Mulutnya mengunyah batang akar kering. Matanya melirik malas ke arah pelanggannya.

"Salep luka, perban bersih, dan cairan antiseptik kelas dua," ucap Wan Chen. Suaranya serak, minim intonasi. "Cepat."

Orang tua itu mendengus. Tangannya mengais tumpukan kotak kusam di bawah lipatan meja kayunya.

"Lima belas koin. Tunai. Jangan bawa nama kelompok untuk kasbon."

Wan Chen merogoh saku jaket bututnya. Tangan kirinya sengaja dimasukkan dalam-dalam.

Sebenarnya sakunya bolong. Ia sekadar membuka panel Penyimpanan Dimensional di sudut pikirannya.

Lembaran koin fisik sisa transaksinya kemarin berpindah mulus dari dimensi hampa langsung ke telapak tangannya. Sangat presisi. Tidak ada sedikit pun sisa cahaya yang bocor.

Uang kertas lecek itu dihempaskan ke atas meja seng. Ia menyambar bungkusan medisnya dan berlalu pergi begitu saja.

Lorong buntu berbau pesing menjadi ruang operasinya pagi ini. Wan Chen menyandarkan punggung ke dinding bata berlumut.

Sisa pakaiannya dibuka pelan. Luka sayat di bahu kirinya masih terlihat kacau.

Daging kemerahan mengintip dari sela pembekuan darah paksa hasil protokol sistem. Penyembuhan buatan yang sangat rapuh.

Tutup botol antiseptik ditarik dengan giginya. Cairan berbau menyengat itu diguyur langsung tanpa ada aba-aba.

"Ukh..."

Napas Wan Chen tertahan di ujung tenggorokan. Rahangnya mengatup sangat keras.

Otot lehernya menegang menahan perih yang menggigit sampai ke sumsum tulang. Perih ini gila. Seperti ada paku panas yang ditusukkan berulang kali ke bawah lapisan kulitnya.

Ia mengambil lembaran perban kusam. Menggulungnya paksa melingkari bahu dan bagian dadanya. Menarik simpulnya kuat-kuat menggunakan gigitan gigi dan satu tangannya yang masih bebas.

Rasa sakit yang merambat ini adalah alarm yang sangat bagus. Pengingat gratis soal insiden memuakkan kemarin.

Wajah mantan rekan satu timnya berkelebat sebentar di memori. Wajah-wajah panik yang sengaja menendangnya jatuh ke arah kematian.

'Umpan murahan,' batin Wan Chen.

Dada kerempengnya naik turun mencari pasokan udara segar. Emosi marahnya mereda dengan sangat cepat.

Marah tidak akan menghasilkan koin utuh. Mengamuk dan menuntut balas dendam hanya membakar kalori berharganya secara sia-sia.

Mulai hitungan detik ini, ia bergerak sendiri. Sepenuhnya mandiri. Pemain tunggal.

Kalkulasi logis berdengung nyaring di kepalanya. Jika ia berburu sendirian, seratus persen hasil jarahan monster masuk ke dompetnya.

Tidak ada sistem pembagian hasil yang merugikan. Tidak ada keharusan mengawasi punggung sendiri dari tusukan kawan.

Risiko mati dirobek monster memang berlipat ganda. Namun, potensi panennya jauh melampaui kerugian itu.

Tubuhnya kini terasa jauh lebih terikat akibat tekanan balutan perban, tetapi staminanya sama sekali tidak anjlok.

Langkah sepatunya kembali memecah genangan air berlumpur di gang tersebut. Ia harus segera menuntaskan belanjanya sebelum matahari meninggi.

Kios perlengkapan hunter lapis bawah berlokasi tepat di pinggiran pasar. Meja kayunya penuh dengan tumpukan senjata tajam berkarat dan alat pertahanan sisa pakai.

Pemilik kios, pria bertubuh gempal, sedang sibuk membersihkan laras senapan bengkok. Ia mendongak begitu bayangan Wan Chen menutupi barang dagangannya.

"Butuh alat potong daging atau sekop gali kuburanmu sendiri?" sambut pedagang itu. Sudut bibirnya menyeringai mengejek.

"Tiga pisau taktis lurus," balas Wan Chen tenang. Jari telunjuknya menunjuk tumpukan bilah logam di sudut rak. "Ransum padat kalori sepuluh bungkus. Satu set alat pembongkar bangkai."

Alis pedagang itu sedikit naik. Sangat jarang ada gelandangan distrik luar yang memborong perlengkapan bertahan hidup selengkap ini.

"Itu deretan barang bagus. Tiga ratus koin penuh. Jangan coba-coba menipu mataku."

Wan Chen kembali mengulangi trik saku rahasianya. Menguras habis sisa modal terakhir dari dalam Penyimpanan Dimensional.

Lembaran uang lusuh itu ditaruh pelan ke atas permukaan meja yang kasar.

Pria gempal itu menghitungnya dengan kecepatan tangan yang sangat terlatih. Tersenyum sinis, lalu menggeser seluruh barang pesanan ke arah dada Wan Chen.

Tangan Wan Chen meraba ransel kanvas butut yang dibawanya sedari tadi. Ia membukanya perlahan. Posisinya sengaja dirancang menutupi arah pandangan si pedagang.

Satu per satu balok ransum padat dan gagang pisau itu ia masukkan ke dalam rongga tas.

'Masuk.'

Barang-barang itu tidak pernah menyentuh dasar kain ranselnya. Semuanya langsung terhapus. Raib ditelan ruang proyeksi tak terbatas di dalam benaknya.

Tidak ada debu tertinggal. Tidak ada penambahan bobot fisik pada tas di punggungnya.

Kamuflase paling sempurna di tengah sarang pencuri.

Wan Chen sengaja menatap tajam penjual yang terus memperhatikan gerak tangannya. Mata-mata pasar gelap selalu mengincar hunter yang terlihat membawa muatan penuh.

Tetapi ransel Wan Chen terlihat layu. Kelihatan sangat kempes seolah tidak ada barang berharga di sana.

"Kau cuma mau pamer tas jelek padaku?" sindir penjual itu, nada bicaranya sedikit kebingungan.

Wan Chen menarik rapat ritsleting tasnya.

"Hanya memastikan ritsletingnya masih jalan," jawabnya sangat datar.

Ia memutar badannya segera. Berjalan santai menjauhi kerumunan padat yang bau apak beringas.

Semua modal logistiknya kini bersembunyi aman di dimensi statis absolut. Makanannya tidak akan pernah membusuk, bilah pisaunya tidak akan bertambah tumpul oleh kelembapan udara. Beban punggungnya sama dengan nol.

Tembok beton batas kota menjulang masif di ujung koridor jalan utama.

Benteng kusam ini memisahkan distrik kumuh manusia dari tanah tak bertuan yang dipenuhi radiasi anomali.

Suara bising langsung menyerang membran telinganya. Kerumunan hunter amatir berkumpul riuh di sekitar gerbang baja yang berkarat parah.

"Kekurangan satu garda depan! Bagi hasil tiga puluh persen mutlak!" teriak seorang pria berwajah tirus.

"Butuh kurir pembawa barang! Kami jamin jalur pulang aman!" sahut suara serak lain dari arah kiri barisan.

Langkah Wan Chen tidak melambat sedetik pun. Pandangan matanya lurus ke arah celah gerbang yang terbuka sebagian.

Seorang wanita dengan bekas luka bakar di leher tiba-tiba mencegat jalurnya. Telapak tangannya menjulur berniat menahan pundak Wan Chen.

"Hei, orang penyakitan. Kau terlihat butuh perlindungan regu. Kami butuh tum... maksudku, penjelajah rute depan."

Wan Chen menepis tangan kotor itu dengan sangat kasar.

"Minggir," desisnya rendah.

Suaranya sama sekali tidak tinggi, tapi cukup dingin untuk membuat nyali wanita itu menciut selangkah ke belakang.

Tidak ada orang yang peduli lagi saat Wan Chen mulai melewati batas garis aman kota. Terlalu banyak mayat mati setiap harinya untuk sekadar menjadi tontonan.

Angin liar membawa serpihan debu kering menabrak kulit wajahnya.

Reruntuhan bangunan pencakar langit di kejauhan tampak seperti deretan gigi busuk raksasa yang menembus cakrawala suram.

Sektor Tiga Belas ada di depan sana. Lahan perburuan tempat bangkai monster bernilai koin tumpah ruah.

Jemari kanannya tanpa sadar sedikit menekuk. Tubuh biologisnya sudah terpaut erat pada ritme mesin pembunuh.

Waktunya memeras keringat di ladang uang sendirian.

1
Yui
Karya ini sangat luar biasa, setelah baca novel ini aku jadi sedikit mengingat kenanganku yang telah lama menghilang, terimakasih Author 🔥🔥🔥🔥🔥
Ironside: /Toasted/
total 1 replies
Ironside
Ada error /Sweat/, biarlah, nanti di fix Editor
Gege
dan Wang Chen pun jualan obat...🤣😄
HiaTus
/Rose/
Wakana
wow sangat menarik & unik 👀
Ironside: Terima kasih telah membaca, semoga betah /Smile/
total 1 replies
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
‎ ‎ ‎Basah Mas... Sampe Banjir
ada insectnya gak kak?
‎ ‎ ‎Basah Mas... Sampe Banjir: yah, kecewa kak.
total 2 replies
The Ironheart
darkfantasy ini kak☺️
Ironside: /Slight/
total 1 replies
Ironside
Pliss... Like, Subscribe dan Upvote jika kalian menyukai karya ini /Determined/.
Ironside: Mr. Willheim /Scare/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!