NovelToon NovelToon
CINTA KEDUA DI BALIK HIJAB.

CINTA KEDUA DI BALIK HIJAB.

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Komedi / Romantis
Popularitas:11.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Setelah lima tahun berjuang tanpa hasil, Ardiah akhirnya menyerah pada desakan keluarga suaminya. Ia meminta Ferdi menceraikannya demi memenuhi keinginan ibunya untuk menikah lagi.

Dengan hati hancur, mereka pun berpisah. Namun dari rasa sakit itu, Ardiah bangkit dengan penampilan baru, memakai hijab dan kembali bekerja sebagai desainer interior di sebuah perusahaan besar.

Di sana, ia bertemu Haikal Akram, CEO muda yang dulu sering mengganggunya saat kuliah. Awalnya Ardiah tak suka padanya, tapi seiring waktu, sikap Haikal berubah menjadi lebih dewasa dan penuh perhatian.

Sementara itu, Ferdi mulai menyadari kesalahannya setelah melihat Ardiah tumbuh menjadi wanita kuat dan mandiri.

Apakah cinta pertama bisa kembali? Atau justru Ardiah akan menemukan kebahagiaan sejati bersama Haikal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERNIKAHAN SUCI.

"Diah, Ikal belum ada kabar, sayang? Ini sudah waktunya makan malam," tanya Astuti saat waktunya makan malam.

Ardiah tersentak kecil, lalu buru-buru menyembunyikan kecemasannya. "Belum ada Mah. Biar Diah coba telepon sekarang, ya."

Ardiah mengambil ponselnya, lalu mencari kontak nama suaminya. Setelah menekan tombol panggil, tak lama sambungan pun terhubung. Dan belum sempat Ardiah bertanya, suara bariton Haikal yang terdengar begitu renyah sudah mendahuluinya.

"Ada apa, Sayang? Tumben sekali telepon duluan. Kangen, ya, sama suamimu yang tampan ini?" goda Haikal di seberang telepon.

Deg!

Jantung Ardiah mendadak berdegup dua kali lebih kencang. Suntikan kata 'Sayang' yang diucapkan Haikal dengan begitu luwes tanpa beban sukses membuat oksigen di sekitar Ardiah terasa menipis. Wajahnya menghangat.

"Siapa juga yang kangen kamu," jawab Ardiah ketus namun terdengar manis karena nadanya yang rendah. "Ini Mama yang bertanya. Kamu di mana? Mama sudah menyiapkan makan malam."

Astuti yang gemas melihat interaksi menantunya langsung mendekatkan wajahnya ke arah ponsel Ardiah yang sengaja di speaker. "Iya, Nak! Mama sudah masak makanan kesukaan kamu ini. Kapan kamu pulang, Kal?"

"Eh, ada Mama. Maaf ya, Mah, Kak Diah. Malam ini Ikal tidak bisa ikut makan malam di rumah. Ikal sedang menghadiri perjamuan makan malam karena diundang oleh kolega bisnis penting di luar kota." balas Haikal

Haikal menjeda kalimatnya sejenak, terdengar suara langkah menjauh dari keramaian. "Oh iya, Papa juga ikut hadir di sini kok, Mah. Tadi Papa yang minta Ikal mendampingi. Jadi jangan khawatir, ya."

"Ya sudah kalau begitu, jangan pulang terlalu larut, Kal," pesan Astuti sebelum Ardiah menutup sambungan teleponnya

Pada akhirnya, makan malam itu hanya mereka berdua saja. Setelah menghabiskan makanan, Ardiah dan Astuti sempat menghabiskan waktu dengan mengobrol santai di ruang keluarga, membicarakan banyak hal seputar masa kecil Haikal yang jahil. Hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.

"Sudah malam, Diah. Kamu pasti lelah, jadi sebaiknya kamu istirahat duluan gih," tutur Astuti lembut sembari mengusap bahu menantunya.

"Baik, Mah. Mama juga selamat istirahat," jawab Ardiah patuh.

Ardiah melangkah perlahan memasuki kamar pengantin mereka. Keadaan kamar begitu sunyi, tiba-tiba mata Ardiah mengarah ke sudut kamar.

Sofa panjang beludru abu-abu yang semalam menjadi tempat Haikal terjungkal kini telah lenyap tanpa bekas. Sebagai gantinya, menyisakan satu buah sofa kecil tunggal berbentuk lingkaran yang bahkan tidak akan cukup diduduki oleh separuh badan besar Haikal dan sebuah meja hias kecil.

Ardiah menepuk jidatnya sendiri, seketika ia teringat aduan Haikal pada ibunya tadi pagi. Berarti malam ini... kami akan tidur di atas satu ranjang yang sama lagi dong? batin Ardiah mulai panik.

Ardiah mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan logikanya yang mulai berjalan liar. "Ah, sudahlah. Apa hakku melarang dia tidur di ranjangnya sendiri? Lagipula ini adalah kamar miliknya, dan rumah keluarganya. Aku tidak boleh egois."

Menenangkan pikirannya, Ardiah, memutuskan untuk langsung naik ke atas kasur. Karena rasa lelah yang menumpuk, Ia pun langsung terlelap di balik selimut tebal.

Satu jam kemudian, pintu kamar terbuka dengan sangat pelan. Ternyata Haikal telah kembali. Tatapannya jatuh pada sosok yang sedang meringkuk di atas ranjang. Haikal berjalan mendekat dengan langkah tanpa suara, lalu berdiri di tepi tempat tidur, mengamati wajah damai istrinya yang sedang tertidur lelap.

Detik itu juga, napas Haikal sempat tertahan. Malam ini, Ardiah tidur tanpa mengenakan hijabnya. Rambut hitam pekatnya yang panjang, halus, dan bergelombang tampak terurai indah di atas bantal putih, membingkai wajah cantiknya dengan begitu sempurna.

Haikal perlahan merebahkan tubuhnya di sisi kasur yang kosong. Ia memiringkan badannya menghadap Ardiah. Dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak mengusik tidur sang istri, Haikal mendekatkan wajahnya, menghirup aroma harum sampo herbal yang menguar dari rambut hitam tersebut, lalu mengecupnya lamat-lamat.

"Sudah lama sekali aku tidak melihat rambut hitam indahnya ini secara langsung," batin Haikal dipenuhi rasa buncah. "Apakah ini tandanya Diah sudah mulai mau menerima keberadaanku sebagai suaminya, hingga ia tidak lagi membatasi dirinya di dalam kamar ini?

Senyum bahagia terukir di bibir Haikal. Dengan perlahan, ia mengulurkan lengan kokohnya, menyelipkannya di bawah leher Ardiah dan menarik tubuhnya ke dalam pelukannya. Haikal mengecup singkat dahi Ardiah dengan penuh kelembutan sebelum akhirnya memejamkan mata.

Keesokan harinya, saat menjelang waktu subuh, Ardiah tersentak dari tidurnya. Kesadarannya perlahan terkumpul, namun indra perabanya merasakan sesuatu yang berbeda. Ada sebuah dada bidang yang hangat dan kokoh yang menjadi bantalannya, serta sepasang lengan kuat yang melingkar posesif di sekeliling pinggangnya.

Ardiah terkejut saat menyadari dirinya berada penuh di dalam pelukan erat Haikal. Namun, ada satu hal aneh yang ia rasakan jauh di dalam lubuk hatinya. Ia sama sekali tidak merasa marah ataupun risih. Sebaliknya, rasa hangat dan aman yang menjalar dari tubuh Haikal justru membuatnya merasa begitu nyaman.

Ardiah buru-buru menggelengkan, Lalu Ia melepaskan pelukan Haikal dengan perlahan agar pria itu tidak terbangun, lalu segera bangkit menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil air wudhu.

Beberapa menit kemudian, Ardiah keluar dengan wajah yang segar. Ia mendekati sisi tempat tidur untuk membangunkan suaminya yang masih mendengkur halus. "Haikal... Haikal, bangun. Sudah menjelang subuh," panggilnya sambil menggoyangkan bahu Haikal.

Namun, bak anak kecil yang enggan beranjak dari tempat tidur, Haikal hanya menggeram rendah tanpa membuka matanya. "Hmm... Sayang, aku masih mengantuk sekali. Sebentar lagi, ya? Lima menit lagi," rengeknya dengan suara serak khas bangun tidur, malah menarik selimutnya lagi.

Ardiah langsung berkacak pinggang, memasang wajah galak. "Tidak ada sebentar-sebentaran! Ini sudah waktunya sholat subuh. Cepat bangun, Haikal, atau kuambilkan air, kusiram wajahmu sekarang!"

Haikal membuka matanya dengan terpaksa, menatap Ardiah dengan wajah cemberut. "Iih, galak amat sih, Kak. Biasanya tuh, di TV, seorang istri membangunkan suaminya dengan lemah lembut, apalagi kita ini kan masih pengantin baru."

Ardiah mendengus pelan, menatap suaminya dengan dahi berkerut. "Itu kalau untuk pasangan suami istri yang sungguhan. Kalau kita kan hanya sebatas suami istri kontrak yang terikat perjanjiaan. Jadi, jangan pernah bermimpi minta dibangunkan dengan cara seperti itu."

Mendengar kata 'kontrak' keluar dari bibir Ardiah, ekspresi jenaka di wajah Haikal mendadak hilang. Gurat wajahnya berubah menjadi sangat serius. Ia mendudukkan dirinya di atas kasur, menatap lekat netra mata Ardiah.

"Hah? Emangnya kalau suami istri kontrak, berarti status kita bukan suami istri sungguhan gitu?" tanya Haikal dengan nada merendah, tidak ada lagi kesan bercanda di sana.

Ardiah terdiam, sedikit terkejut dengan perubahan atmosfer pria di depannya.

Haikal menghela napas pendek, dengan mata yang begitu dalam menembus manik mata Ardiaa. "Kak Diah, perlu Kakak tahu. Seorang laki-laki, kalau dia sudah mengucapkan kalimat ijab qobul di depan wali dan mengucapkan nama seorang wanita, maka pernikahan itu secara hukum agama dan syariat dinyatakan sah. Itu artinya, detik itu kita sudah menjadi suami istri yang sungguhan, Sayang. Tidak ada istilah kontrak dalam pandangan Allah."

Haikal menjeda kalimatnya, memperbaiki posisi duduknya. "Kata 'nikah' itu, mau diucapkan secara bercanda atau main-main sekalipun, kalau syarat dan saksinya terpenuhi, hukumnya tetap sah dan mengikat. Itu sesuai dengan sabda Rasulullah dalam sebuah hadits."

Haikal kemudian melafalkan maknanya dengan begitu fasih dan tenang. "Ada tiga perkara yang kesungguhannya dianggap sungguh-sungguh dan senda guraunya juga dianggap sungguh-sungguh: Nikah, Talak, dan Rujuk." Hadits Riwayat Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah.

"Jadi, tolong jangan pernah menganggap hubungan suci ini hanya sebatas permainan kontrak lagi, Kak," pungkas Haikal lembut namun sarat akan penekanan yang tegas.

Ardiah seketika terpaku di tempatnya berdiri. Lidahnya mendadak kelu, tidak mampu membantah ucapan suaminya. Ada rasa hangat sekaligus takjub yang menyeruak di dalam dadanya. Ia tidak pernah menyangka bahwa di balik tabiat Haikal yang biasanya tengil, manja, dan menyebalkan, pria yang lebih muda darinya itu ternyata memiliki pemahaman dan fondasi ilmu agama yang begitu kokoh serta menghormati kesucian sebuah pernikahan. Kematangan sikap Haikal dalam urusan ini sukses membuat pandangan Ardiah terhadap suaminya mulai berubah.

1
Lia siti marlia
nah kan kelimpungan jadinya 🤭maka kalau mau apa apa di obrolin dulu ...ngasih kejutan yang mengancan kesejahteraan rumah tangga kamu kal kal🤭🤭🤭
Eliermswati
smngat kal smga bs mndpt maaf dr istri mu dan bs segera d bwa plng😂😂smngt thor up nya
Nana Biella
semangat kal
Wardah Saiful
baguus critanya
Lia siti marlia
benar kamu mamah mu ikal kamu terlalu terburu buru 🥺🥺🥺ternyata aku swlah menilaimu kamu terlalu gegabah ikal ...sekara terima akibat nya diah petgi kamu harus bertanggung jawab atas kecerobohan mu 🥺🥺😭😭
Suren
ini mantap Diah suami mu ini
Alim
mantap
Jaya Fandi
suami yg luar biasa,,jgn disia" kn Diah,,
Mira Hastati
bagus
Lia siti marlia
nah itu baru suami bijak 😍😍mantap kal kamu hebat menerima kekurangan dengan cara memperbaiki💪💪💪
Rima R P
aku baru nemu novel mu ka selama ini penggemar noveltoon langsung suka sama karya yg ceo bujang lapuk.. kenapa ga di lanjutin ka padahal cerita nya bagus banget please ka lanjutin aja aku yakin banyak yg suka ko kalo udah tau dan baca🥺
Hikari_민윤기
di tunggu crezy upnya..
udah tak kasih kopi buat temen begadang...
sunaryati jarum
Nah,kan hati Diah mulai leleh,jadi perjanjian kontrak nanti dijadikan abu saja,Nak Ikal
sunaryati jarum
Buat Diah lupa niatnya untuk pisah darimu.Buat Diah terikat kuat di dalam hatinya hanya kamu.
Lia siti marlia
pandangan tentang suami mulai berubah entar entar mulai ada benih beni cinta dong diah😍😍😍😍
Suren
gercep Haikal..jgn biar kan Diah sampai minta cerai. buat dia hanyut dlm keromantisan yg kamu buat..good jobb👍
Lia siti marlia
sedikit sedikit yah ikal menggoda perasaan ardiah terus dikit dikit kecup kening entar kecup yang lainnn🤭🤭🤭🤣🤣🤣
Jaya Fandi
ya ampuunn biang kerok ,,
Lia siti marlia
kalau orang kaya beneran sayang nya sayang bangetttttt cintanya cinta bangettttt gak kaya OKB 🤣🤣🤣
Lia siti marlia
hais siapa lagi tub yang manggil jangan jangan c ferdi lagi🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!