NovelToon NovelToon
Dua Wajah Cakrawala

Dua Wajah Cakrawala

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

SMA Cakrawala Bangsa mempunyai Dua Wajah yang berbeda. Di satu sisi, ada **Adrian**, sang Ketua OSIS "Paripurna" yang cerdas, berwibawa, dan menjadi standar kesempurnaan bagi setiap gadis di sekolah. Di sisi lain, ada **Askara**, si *troublemaker* penuh pesona yang tangguh di lapangan basket dan tak terkalahkan dalam karate. Namun, ketenangan sekolah terusik saat kedua idola ini mulai berputar di orbit yang sama: **Aruna**. Aruna hanyalah siswi sains yang cantik dan kalem, yang lebih suka tenggelam dalam dunianya sendiri daripada menjadi pusat perhatian. Ia tidak pernah menyangka bahwa hidupnya yang tenang akan mendadak riuh karena kejaran dua kutub yang bertolak belakang. Mengapa pangeran sekolah dan sang jagoan liar tiba-tiba mendekati gadis yang selama ini memilih untuk tidak dikenal? Di antara kepastian yang ditawarkan Adrian dan tantangan yang dibawa Askara, hati siapakah yang akhirnya akan Aruna pilih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumor dan Paradoks

Pagi di SMA Cakrawala Bangsa selalu dimulai dengan dua hal: aroma masakan kantin yang menggugah selera dan bisikan gosip yang memenuhi koridor.

Di tengah kebisingan itu, Aruna berjalan dengan tenang. Tingginya 164 cm, dengan rambut hitam panjang yang dibiarkan tergerai indah, kontras dengan kulitnya yang putih bersih. Aruna adalah tipe siswi sains yang jarang bicara jika tidak perlu, namun kecantikannya yang kalem seringkali menjadi pusat gravitasi di mana pun ia berada.

"Na! Aruna! Tungguin!"

Aruna menghentikan langkahnya, menoleh perlahan sambil tersenyum tipis. Tiga sahabatnya mendekat dengan energi yang sangat berbeda.

Ada Sasha, si "radio rusak" yang tidak bisa diam dan selalu tahu gosip terbaru dalam hitungan detik. Lalu ada Lulu, yang sama kalemnya dengan Aruna, biasanya hanya menyimak sambil membetulkan letak kacamatanya. Dan yang terakhir, Jelita, si atlet taekwondo sekolah yang selalu tampak siap menonjok siapa pun yang berani mengganggu ketenangan mereka.

"Kalian denger nggak sih?" Sasha memulai dengan nada menggebu-gebu sambil merangkul Aruna. "Si Askara—eh maksud gue, si Aska atau Kara atau apalah itu namanya—katanya baru aja bikin masalah lagi di tempat karate kemarin sore. Dia hampir bikin pingsan lawannya!"

Aruna mengernyit kecil. "Askara? Siapa itu?"

"Ya ampun, Aruna! Lo hidup di laboratorium kimia doang ya selama ini?" Sasha memutar bola matanya gemas. "Askara itu anak kelas sebelah, anak basket yang seragamnya nggak pernah dikancing. Dia itu... pokoknya definisi troublemaker. Ganteng sih, maskulin banget, tinggi 180-an, tapi amit-amit kelakuannya kayak preman pasar!"

"Gue denger dia juga sering bolos pelajaran terakhir cuma buat tidur di gudang belakang," tambah Lulu dengan nada datar namun informatif.

Jelita mendengus sambil mengepalkan tangannya. "Kalau dia berani cari gara-gara sama kita, biar gue yang urus. Gue paling benci cowok berantakan yang merasa jagoan cuma karena bisa karate."

Aruna hanya mendengarkan sambil terus berjalan. Baginya, sosok bernama Askara itu terdengar seperti anomali yang harus ia hindari. Ia lebih suka dunia yang teratur, seperti rumus fisika atau deret matematika yang pasti.

"Aruna!"

Suara bariton yang lembut itu memutus obrolan mereka. Adrian berdiri di depan pintu perpustakaan, tampak sempurna dengan postur 180 cm yang tegak. Seragamnya sangat rapi, auranya memancarkan kecerdasan dan keramahan.

Sebagai Ketua OSIS sekaligus rekan Aruna di olimpiade sains, Adrian adalah satu-satunya cowok yang benar-benar dipercaya Aruna.

"Eh, Kak Adrian," sapa Aruna lembut, membuat ketiga temannya langsung memasang wajah "godain".

"Jangan lupa ya, sore ini kita bahas materi tambahan untuk seleksi provinsi," ujar Adrian dengan tatapan teduh yang membuat Sasha di belakang Aruna hampir menjerit tanpa suara. "Mau aku jemput di kelas nanti?"

"Eh, nggak usah Kak, aku bisa langsung ke perpus," jawab Aruna sopan.

Adrian tersenyum, tipe senyum yang terlihat sangat tulus namun entah mengapa tidak pernah mencapai matanya secara penuh. "Baiklah, sampai nanti ya."

Setelah Adrian pergi, Sasha langsung heboh. "Tuh kan! Bedanya langit dan bumi! Kak Adrian itu pangeran, sedangkan Askara itu... entah apa namanya, mungkin monster koridor."

Namun, di balik gedung sekolah yang megah itu, di sebuah sudut sempit dekat parkiran motor, seorang cowok dengan tas selempang hitam yang kusam sedang duduk bersandar di tembok.

Askara—atau Aska—menguap lebar, matanya yang tajam tampak sangat letih.

Aska tidak peduli dengan reputasi "monster" yang disematkan padanya. Baginya, sekolah hanyalah tempat istirahat sementara sebelum ia harus kembali bertarung dengan realita kehidupan yang kasar

1
Eti Alifa
bacanya merinding thor....nano2 jg.
Alex
😭😭😭😭
nyesek didada rasanya
Alex
bawangnya terlalu banyak thor😭😭
lanjut thor
minttea_: hehehe, siappp tetep terus dukung author dan baca ceritanya ya😍
total 1 replies
Eti Alifa
bagus bngt ceritanya, sumpah authornya jenius.
👍🏻
minttea_: wow, makasih banyak kak💐✨
total 1 replies
Eti Alifa
asli ceritanya bagus banget👍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!