NovelToon NovelToon
DIAMNYA MENJAHIT LUKA YANG PERNAH MEREKA ROBEK

DIAMNYA MENJAHIT LUKA YANG PERNAH MEREKA ROBEK

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:574
Nilai: 5
Nama Author: Rienza27

SINOPSIS

Gretta Alesia Nobara, 18 tahun, pindah ke SMA Binara 2 untuk melarikan diri dari trauma perundungan di sekolah lama. Ia mengubah penampilannya agar lebih percaya diri dan bertekad memulai hidup baru dengan fokus pada pelajaran.
.
Gian Leminzo cowok pemalas di kelas bahkan sering tidur saat guru menerangkan, di snagat tampan dan di sukai banyak cewe tapi dia selalu menghiraukan cewek-cewek yang mendekatinya.

Namun pertemuan Gretta dengan Gian menjadi sebuah hal yang tidak terduga di antara keduanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 PERTEMUAN DINGIN

Pintu minimarket terbuka pelan, memecah kesunyian malam yang mulai merayap. Gian melangkah masuk, membiarkan pintu kaca itu tertutup rapat di belakangnya, seolah memutus dunia luar yang bising. Lampu neon putih yang menyorot terang dari langit-langit memantulkan bayangan tajam di setiap sudut rak. Tanpa membuang waktu, pemuda itu mengambil keranjang belanja berwarna merah dan berjalan dengan langkah tak bersuara menuju barisan paling belakang—zona pendingin di mana udara terasa jauh lebih menusuk tulang.

Tatapannya datar, sedatar raut wajahnya yang seakan dipahat dari es. Ia berdiri di depan deretan lemari pendingin, mengamati potongan daging ayam segar yang terbungkus rapi di balik kaca berembun. Tangannya meraih salah satu bungkusan. Setelah merasa cukup, ia berbalik menuju rak bumbu. Ia juga menyempatkan diri mengambil beberapa bungkus mi instan sebagai persediaan darurat. Suasana minimarket saat itu tidak terlalu ramai, hanya diisi oleh dengung mesin pendingin yang bersuara seperti irama.

Namun, tanpa Gian sadari, ia sedang diamati.

Di sudut lain, tepat di depan etalase minuman dingin, berdiri dua gadis berseragam dari sekolah elit, sepertinya salah satu siswi SMA Nuasa. Salah satu dari mereka, Shasa, baru saja meraih botol jus jeruk dengan tangan kanannya. Namun, saat ia menoleh ke arah temannya, ia menyadari sesuatu yang aneh.

"Hei, Ema... kenapa kau bengong seperti itu?" pekik Shasa pelan, menyenggol bahu temannya. Pandangannya mengikuti arah mata Ema yang terpaku tak berkedip.

"Eh... apa, Shasa?" sahut Ema lambat, suaranya terdengar seperti orang yang baru saja tersadar dari hipnotis.

"Kau dari tadi melihat ke arah cowok itu, ya?" tanya Shasa dengan kening berkerut, merasa bingung melihat temannya.

Ema tidak langsung menjawab. Sudut bibirnya perlahan melengkung ke atas, membentuk senyuman tipis yang penuh dengan sebuah ketertarikan. "Iya... entah kenapa, aku tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya. Lihatlah rahangnya yang tegas, gaya rambutnya yang sedikit berantakan namun sempurna, dan cara dia bergerak mengambil barang... auranya begitu gelap, tapi sangat memikat."

Shasa menelan ludah. "Wah, apa kamu menyukainya? Kalau begitu, kenapa kamu tidak maju dan berkenalan saja dengannya? Kau kan Ema, tidak ada yang berani menolakmu."

Seringai di wajah Ema semakin lebar. "Ide yang sangat bagus."

Dengan langkah anggun dan penuh percaya diri, Ema berjalan meninggalkan Shasa. Ketukan ujung sepatunya di lantai linoleum bergema pelan. Ema merapatkan seragamnya, memastikan penampilannya sempurna. Ia mendekati Gian yang kini tengah memilah sosis dan telur di depan rak pendingin lainnya. Udara di lorong itu entah mengapa terasa lebih berat dan mencekam seiring langkah Ema yang semakin dekat.

Tepat ketika Gian berbalik dengan sekotak telur di tangannya, Ema langsung mengulurkan tangan kanannya, memblokir jalan pemuda itu.

"Hai, apa aku bisa berkenalan denganmu?" sapa Ema. Suaranya diatur sedemikian rupa agar terdengar manis dan menggoda, diiringi senyuman yang selama ini selalu berhasil menundukkan siapa saja.

Namun, respons yang ia dapatkan jauh dari ekspektasi.

Gian menghentikan langkahnya. Pemuda itu tidak melihat ke arah tangan Ema yang terulur. Gian menoleh ke kanan dan ke kiri sejenak dengan gerakan lambat, sebelum akhirnya menatap lurus ke arah Ema.

Detik itu juga, napas Ema tercekat.

Mata Gian menatapnya. Bukan tatapan terkejut, bukan pula tatapan tertarik. Itu adalah tatapan kosong, sedingin dasar lautan yang tidak pernah tersentuh cahaya matahari. Ada intensitas yang begitu mengerikan di balik sepasang mata kelam itu, seolah Gian sedang menatap sebuah benda mati yang menghalangi jalannya, bukan seorang manusia.

Kenapa tatapan cowok ini begitu dingin? Astaga... rasanya seakan-akan dia ingin membunuhku di tempat ini juga, batin Ema. Jantungnya tiba-tiba berdebar kencang.

Meskipun tangannya mulai terasa dingin dan gemetar, ego Ema terlalu besar untuk mundur. Ia menelan ludah dan memaksakan suaranya keluar. "Halo? Apa kita bisa berkenalan?"

Gian memiringkan kepalanya sedikit. "Apa kau memanggilku?" Suaranya berat. Ia memutar bola matanya, sebuah isyarat kemalasan yang sangat nyata, seolah kehadiran Ema hanyalah seekor nyamuk yang mengganggu ketenangannya.

"Iya, aku memanggilmu. Apa kita bisa berkenalan?" Ema memaksakan senyum ramahnya untuk bertahan, meski keringat dingin mulai merembes di tengkuknya akibat tekanan dari tatapan Gian.

"Maaf. Aku sibuk."

Hanya tiga kata. Tajam, menusuk, dan final. Gian langsung melangkah melewati Ema begitu saja, bahunya bahkan nyaris tidak menyentuh gadis itu. Ia berjalan menuju kasir dengan langkah tenang, meninggalkan Ema yang mematung di tengah lorong.

Kurang ajar. baru kali ini ada cowok yang berani menolakku?! batin Ema menjerit. Rasa takutnya dalam sekejap tergantikan oleh amarah yang mendidih. Wajahnya memerah karena penghinaan. Dengan langkah yang kini dihentakkan penuh emosi, ia menyusul Gian menuju meja kasir.

Kondisi kasir sedang sepi. Gian meletakkan barang-barangnya ke atas meja. Petugas kasir, seorang pemuda yang terlihat kelelahan, mulai memindai barcode barang belanjaan tersebut.

Beep. Beep.

Tepat ketika Gian hendak mengeluarkan ponselnya untuk membayar. Ema langsung menyodorkan kartu ATM nya pada kasir.

"Tidak usah repot-repot. Biar aku saja yang membayar semua belanjaanmu," ucap Ema dengan suara yang ditinggikan, memastikan kasir dan beberapa pelanggan di kejauhan bisa mendengarnya. Ia tersenyum menantang, berharap dominasinya kali ini akan membuat cowok itu bertekuk lutut.

Gian menghentikan gerakannya. Selama beberapa detik yang terasa sangat panjang dan menegangkan, tidak ada yang bersuara. Hanya dengungan mesin kasir yang mengisi kekosongan udara. Gian perlahan menoleh. Tatapannya kini bukan lagi sekadar dingin, melainkan diselimuti oleh aura gelap yang mengancam.

"Siapa kamu?" desis Gian, suaranya sangat pelan.

"Kita tidak saling mengenal. Dan untuk apa kau membuang-buang uangmu membayarkan belanjaanku?"

Mata Gian menyipit tajam, menembus tepat ke bola mata Ema. Petugas kasir di depan mereka seketika menelan ludah, tangannya kaku di atas mesin kasir. Udara di sekitar meja itu terasa begitu mencekik.

"Hei! Berani-beraninya kamu berbicara seperti itu pada Ema!" Shasa yang baru saja tiba di belakang Ema langsung angkat bicara, mencoba membela bosnya meski suaranya sedikit bergetar melihat sorot mata Gian. "Asal kamu tahu, ya! Dia itu anak dari pemilik Perusahaan Tao yang menguasa di kota ini!"

Gian sama sekali tidak mengubah ekspresinya. Ia hanya memutar bola matanya malas, muak dengan drama rendahan yang disajikan di hadapannya.

"Terus?" Gian memiringkan kepalanya, suaranya merendah dan mengintimidasi. "Siapa yang peduli soal itu?"

Ema dan Shasa terbelalak.

"Mau dia anak siapa, mau Ayahnya penguasa, itu bukan urusanku," lanjut Gian, memotong setiap harapan Ema.

 "Singkirkan uangmu. Menyingkirlah, dan jangan mengganggu waktuku."

Tanpa menunggu balasan dari gadis yang kini pucat pasi karena amarah dan rasa malu itu, Gian menggeser tangan Ema dari meja dengan kasar. Ia menempelkan ponselnya ke mesin scanner. Bunyi beep tanda pembayaran QRIS berhasil berbunyi nyaring, seolah menjadi palu hakim yang mengakhiri konfrontasi tersebut.

"Kamu... kamu benar-benar berani menolakku?!" pekik Ema dengan suara bergetar, kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya.

Gian tidak menoleh lagi. Mengambil kantong plastiknya, ia berjalan keluar minimarket dengan wajah datar seolah Ema, Shasa hanya pajangan minimarket. Pintu kaca kembali terbuka dan tertutup, menelan sosok Gian ke dalam gelapnya malam.

Di dalam minimarket, Ema menggigit bibir bawahnya hingga nyaris berdarah. Giginya gemeretak menahan amarah yang meledak-ledak. Penolakan mentah-mentah ini adalah tamparan keras bagi egonya yang selama ini dipuja bak dewi.

"Shasa..." desis Ema, matanya menatap tajam ke arah pintu keluar. Napasnya memburu. "Cari tahu segalanya tentang cowok itu. Namanya, di mana dia tinggal, dan di mana dia sekolah. Jangan sampai ada yang terlewat!"

Ia membanting uang ke meja kasir untuk membayar minumannya sendiri, tanpa mempedulikan petugas kasir yang ketakutan.

"B-baik, Bos," jawab Shasa terbata-bata, bergegas mengikuti langkah Ema yang melesat keluar dari minimarket bagai badai yang siap menghancurkan apa pun di jalannya.

Sementara itu, di bawah temaram lampu jalan yang berkedip-kedip, Gian berjalan santai menuju apartemennya. Angin malam yang berhembus dingin menyibak rambutnya. Ia mendecak pelan, rahangnya masih mengeras karena kesal.

Gadis-gadis bodoh yang merepotkan, batinnya dingin. Matanya menatap lurus ke dalam bayang-bayang gang sempit, menyembunyikan rahasia dan sisi gelap yang belum diketahui oleh gadis manapun yang berani bermain-main dengannya.

1
Miska
semangat terus author, ceritamu keren👍
Nora
ceritanya bagus bnget aku suka
Nora
Ceritanya bagus dan menyentuh hati tapi adegan pertama sungguh kejam , semngat terus author aku menunggu kelanjutannya.💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!