NovelToon NovelToon
Kupu-Kupu Di Kota Batu

Kupu-Kupu Di Kota Batu

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Enemy to Lovers / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:76
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

Keadaan berubah ketika Nowi memergoki kekasihnya berselingkuh tepat di atas ranjang mereka sendiri. Baru saat itulah ia menyadari bahwa seluruh kenyamanan yang selama ini dinikmatinya tak lagi miliknya. Padahal sebelumnya Nowi memiliki segalanya. Karier cemerlang, kehidupan berkecukupan, dan pasangan yang berparas tampan.

Kini, semuanya telah sirna. Tak ada lagi tempat tinggal, tak ada lagi sumber penghasilan, dan satu-satunya jalan keluar yang tersisa adalah menjual rumah warisan orang tuanya di kota Batu. Tempat yang sangat dibencinya, sarat akan kenangan pahit, serta menyimpan satu rahasia besar yang telah ia kubur dalam-dalam sejak masa remaja.

Kehancuran hidupnya itu pun memaksanya kembali menghadapi masa lalu yang telah ia tinggalkan sepuluh tahun silam, serta satu-satunya pria yang mencintainya sepenuh hati, sekaligus sosok yang paling menderita karenanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Interview

Ucapan itu langsung menusuk hati terdalamnya. Ia tidak mau berakhir sama seperti ibunya, namun tubuhnya seketika membeku di tempat. Oktavian segera mendekat, mencengkeram wajah Nowi, lalu menciumnya secara paksa dan kasar.

Tangannya menahan wajah Nowi sangat erat sambil memaksa masuk, membuat Nowi merasa sangat jijik. Aroma kopi basi bercampur bau tubuhnya menimbulkan rasa mual yang selama ini ditahan, hingga naik ke tenggorokan.

Suara tidak enak keluar dari mulut Nowi, membuat Oktavian buru-buru melepaskan wajahnya karena takut dimuntahi.

Nowi memanfaatkan kesempatan itu. Ia menjatuhkan tasnya, mencengkeram bahu Oktavian, lalu mengangkat lutut setinggi-tingginya.

Bukkkkkk.

Tepat di selangkangan, sekuat tenaga yang ia miliki. Rasanya aneh namun memuaskan, padahal ia sadar hal ini salah. Sejujurnya, ia sudah lama ingin melakukan tindakan itu.

Wajah Oktavian langsung berubah karena kesakitan.

“Anjing! Nowi, jalang!” pekiknya.

Ia melepaskan cengkeramannya dan jatuh terguling di lantai sambil memegangi bagian velirnya yang sakit. Nowi mundur dengan cepat menjauh darinya.

“Ini belum selesai!” teriak Oktavian di sela-sela erangan kesakitan, wajahnya merah padam.

...***...

Begitu sampai di mobil, Nowi melempar semua barang ke kursi penumpang lalu menjatuhkan dirinya ke kursi kemudi.

“Sialan, ke neraka aja kamu!” teriaknya sendirian.

Dadanya masih naik turun cepat.

“Ini nggak bakal hancurin aku,” gumamnya berulang kali. “Kamu kuat, Nowi, kamu bisa hadepin apa aja.”

Tangan Nowi sedikit gemetar saat mengambil ponsel untuk mengabari Agnia.

^^^Nowi: aku udah keluar, semuanya selesai.^^^

Agnia: Gimana ceritanya? Aman nggak?

^^^Nowi: Dia maksa nyium, terus aku tendang selangkangannya. Puas banget rasanya.^^^

Agnia: ANJIR. kamu keren banget! Harusnya aku lihat langsung.

^^^Nowi: aku cuma senang semuanya kelar. Nanti ngobrol lagi ya.^^^

Nowi butuh waktu beberapa menit untuk menenangkan napas dan pikirannya. Baru kali ini ia melihat Oktavian bersikap seagresif, sekeras, dan sepenuntut itu. Apakah selama ini ia terlalu buta hingga tidak melihat sifat aslinya?

Ia menyalakan mesin mobil, melaju cepat keluar dari area parkir, lalu menuju tempat Agnia. Ponselnya berdering berkali-kali sepanjang perjalanan namun ia tidak mau mengangkatnya.

Sesampainya di sana, Nowi duduk di sofa lalu memeluk bantal erat-erat. Ia mengecek pesan yang masuk. Satu pesan manis dari Agnia yang menyatakan rasa sayangnya, enam pesan dari Oktavian, dan satu pesan dari ibu Oktavian.

Ia membuka pesan dari Oktavian terlebih dahulu.

Oktavian: Ini belum selesai. kamu milik aku, kamu nggak boleh pergi, aku nggak bakal ngizinin.

Oktavian: Semua yang aku lakuin biar kamu makin terikat sama aku. Pikir deh, mana mungkin kamu bisa tinggal bareng aku secepat itu kalau bukan karena aku?

Perut Nowi langsung terasa mual. Apakah ada hubungannya dengan peristiwa dulu saat ia diusir dari tempat tinggalnya?

Oktavian: kamu boleh bebas malam ini, tapi besok aku tunggu kamu pulang. kamu nggak punya siapa-siapa, nggak ada tempat pergi, kamu butuh aku. Jangan coba-coba bikin aku marah lagi, nanti kamu sendiri yang rugi.

Pesan lainnya isinya hampir sama, penuh ancaman, kata-kata posesif, dan manipulasi. Semua itu menggambarkan betapa buruknya hidupnya seandainya ia tidak mengetahui sifat asli Oktavian lebih awal. Bagaimana bisa ia melewatkan begitu banyak tanda redflag?

Kemudian ia membuka pesan dari ibu Oktavian. Ia memang menyadari hubungan itu akan memengaruhi posisinya di restoran, namun tidak pernah menyangka semuanya berakhir secepat dan seburuk ini.

Sherly: Nowi, kami kecewa hubunganmu dengan Oktavian berakhir, tapi kami mengerti alasannya dan mendukung keputusan Oktavian. Akibat tindakanmu, kami tidak lagi percaya padamu dan menganggapmu tidak cocok bekerja di restoran kami. Mulai hari ini, pekerjaanmu resmi dihentikan.

Luar biasa. Sekarang ia memiliki mantan pacar yang berperilaku tidak wajar, tidak memiliki tempat tinggal, dan kehilangan pekerjaan.

...***...

Di Kota Batu ....

Seminggu penuh dihabiskan Vito untuk menghadiri rapat dan menyelesaikan berbagai permasalahan. Saat hari Jumat tiba, Vito merasa sangat membutuhkan pelampiasan. Ia membuka ponsel dan masuk ke dalam grup percakapan yang berisi nama-nama saudaranya.

^^^Vito: Butuh buang energi. Ke Gym malam ini?^^^

Zaki: Selalu siap kalahin kamu, tolol. Jam tujuh?

Rowan: Ikut.

Jaylon: Tau nggak ada cara lain yang jauh lebih seru buat buang energi?

Astrid: Jangan dengerin Jaylon sama gaya sok jantan dia. Vito, pukul aja sesuatu. Jangan jadi kayak dia.

Vito tidak menghiraukan pesan-pesan itu dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Ia merasa senang karena semua orang setuju untuk berkumpul nanti malam. Setelah itu, ia kembali memusatkan perhatian pada pekerjaan dan memeriksa surel hingga rapat pertamanya hari itu dimulai.

“Halo, Pak Anggoro? Saya ada jadwal wawancara sama Bapak. Nama saya Yessica, dikirim dari bagian HRD,” kata perempuan itu sambil mengulurkan tangannya.

Vito menyambut jabatan tangan itu dan mempersilakannya masuk. Foto Yessica yang dilihatnya di internet tidak mencerminkan penampilan aslinya. Perempuan itu cantik, memiliki rambut bergelombang rapi yang panjangnya sampai bahu, berdiri dengan penuh percaya diri, dan sama sekali tidak terlihat gugup.

“Silakan duduk, Yessica.”

“Baik.”

“Langsung saja ya. Kualifikasimu lebih dari cukup untuk posisi ini. Pendidikan dan pengalamanmu sangat sesuai dengan apa yang kami cari.”

“Makasih. Senang bisa dipertimbangkan.”

“Pertanyaan pertama, kenapa pindah dari Bali ke sini?”

Yessica tersenyum tipis, lalu mulai bercerita dengan penuturan yang jelas.

“Orang tua saya asli sini. Ayah saya anggota militer, sehingga saya sering berpindah tempat tinggal semasa kecil. Setelah Ayah pensiun, kami menetap di Bali sampai saya lulus perguruan tinggi. Sebelumnya, kami juga pernah tinggal di Wonosobo dan Bandung, dan di situlah saya menyadari bahwa saya sangat menyukai cuaca dingin. Oleh karena itu, saya ingin tinggal di tempat ini. Akhirnya, saya pindah bulan lalu dan kini tinggal bersama kakek serta nenek saya. Maaf, jawabannya agak panjang ya.”

“Gak apa-apa, di sini santai kok. Selamat datang di kota Batu. Aku sendiri gak bisa bayangin tinggal di tempat lain, semoga kamu juga betah tinggal di sini dalam waktu yang lama.”

Vito kemudian kembali membahas urusan pekerjaan dengan cara yang lugas.

“Posisi ini baru dibentuk di perusahaan. Tugasnya meliputi merencanakan, melaksanakan, dan mengawasi penyelenggaraan acara serta kunjungan ke tempat penyulingan milik kami. Kamu akan sering bekerja sama dengan Zaki, wakil direktur perusahaan, dan terkadang juga bertemu dengan duta merek kami.”

“Saya paham. Sesuai dengan yang tercantum dalam riwayat hidup saya, saya lulusan manajemen perhotelan dan memiliki sertifikat manajemen proyek. Jujur, posisi yang sistemnya sudah tertata rapi memang terlihat lebih aman, namun saya lebih menyukai tantangan. Saya sangat tertarik dengan kesempatan kerja yang ditawarkan ini.”

“Wow ... Jawaban yang ingin aku dengar. Portofoliomu sudah berbicara banyak mengenai kemampuanmu.”

Tiba-tiba pintu ruangan terbuka lebar dan Zaki masuk dengan seenaknya saja.

“Vito, sialan! Telepon kamu selalu masuk pesan suara terus!”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!