Kematian misterius yang ada di rumah ujung membuat siapa saja akan ketakutan, bahkan puncak nya para warga sama sekali tidak kenal dengan penghuni rumah tersebut.
satu keluarga di bantai dan mayat mereka membusuk di dalam rumah tersebut, warga menguburkan secara layak namun seram nya rumah itu membuat siapa saja yang lewat akan ketakutan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Tatto mawar dan pisau
Meski mereka baru saja menemukan mayat yang mengambang di dalam sungai itu, namun warga tidak seberapa heboh karena mengira itu hanya orang gila biasa yang kebetulan tercebur masuk ke dalam sungai, meski Arka juga merasakan sesuatu dari ayat tersebut namun dia tidak membicarakan hal itu terhadap orang lain karena mengira itu semua hanya prasangka biasa.
Para warga yang harus menguburkan mayat tersebut karena orang gila itu tidak memiliki keluarga di desa ini, dengan keadaan tubuh yang sudah mengembang karena mungkin terlalu lama di dalam air itu, maka banyak warga yang harus turun tangan karena keadaan tubuh Dia sangat berat sekali.
Kebetulan juga hari ini Purnama sedang tidak ada di rumah sehingga dia sama sekali tidak mengetahui bahwa ada penemuan mayat di sungai milik mereka bersama saat ini, dirinya sedang pergi ke kota untuk mengecek beberapa pekerjaan yang ada di sana bersama dengan Arya juga sehingga mereka berdua jelas tidak mengetahui apa yang telah terjadi.
Oleh sebab itu Arka memilih untuk bungkam saja terlebih dahulu karena dia tidak ingin membicarakan hal tersebut bersama dengan Nolan, bukan karena Arka tidak menyukai Nolan tapi karena terkadang cara berpikir Nolan sangat berbeda sehingga Arka memilih untuk diam saja dan tidak membicarakan hal tersebut kepada ular bungsu itu.
Padahal ada rasa curiga di dalam hati karena sebagai orang yang memiliki kemampuan gaib, jelas dia merasakan energi yang berbeda dari arwah tersebut sehingga Arka merasa ini ada yang tidak beres juga, tapi apa mau dikata karena tidak ada lawan bicara maka Arka memilih untuk bungkam terlebih dahulu.
Mereka juga langsung menguburkan mayat tersebut tanpa ada pertimbangan lagi karena keadaan juga sudah semakin mendesak, dibiarkan terlalu lama maka nanti akan menimbulkan aroma yang tidak sedap dari mayat tersebut sehingga lebih baik bila segera dikubur saja, toh tidak ada lagi yang harus ditunggu sehingga lebih baik mereka mengambil langkah cepat.
"Kasihan juga dia karena meninggal dalam air ya." Digo membuka suara.
"Kau merasakan sesuatu atau tidak pada mayat itu?" Arka menatap sang sahabat.
"Enggak kok, emang kenapa dia?" Digo menggeleng karena dia memang tidak merasakan ada yang aneh.
"Oh Ya sudah bila kau tidak merasakan sesuatu pada mayat itu." ujar Arka tanpa ingin bercerita.
"Dia kan cuma mayat orang gila biasa jadi mana mungkin ada yang aneh dari dia." ucap Digo kembali.
"Apa ini? kenapa hanya aku yang merasakan energi berbeda dari mayat itu!" Arka jadi bingung sendiri dengan perasaan dia sekarang.
"Kau mungkin saja terlalu kepikiran karena dia meninggal di dalam air, ini kali ya karena dulu pernah ada hantu air jadi kau masih terbayang." tebak Digo.
"Ah kau yang terlalu jauh dan mana ada aku kepikiran ke sana!" sergah Arka yang tidak terima.
"Ya kan siapa tahu saja kau masih kepikiran dengan hal itu sehingga sekarang mengira dia dimakan hantu air." ucap Digo kembali.
Arka membuang muka Karena dia sudah malas untuk menjelaskan kepada Digo tentang firasat dia ini, Arka bukan merasakan ada sosok yang memakan di dalam air tapi entah kenapa dia juga bingung untuk menjelaskan perasaan yang muncul saat ini, andai saja purnama ada maka dia tidak perlu menjelaskan kepada orang yang tidak memahami.
"Tapi orang gila ini ternyata memiliki tato di badan dia ya." Joko mendekati Arka.
"Tato?" Arka dan Digo menoleh secara berbarengan.
"Ya, saat mengangkat tadi aku tidak sengaja melihat pada bagian punggung ada tato bunga mawar berwarna merah lengkap dengan pisau kecil." Joko menjelaskan apa yang dia lihat.
"Mungkin saat masih menjadi orang waras Dia adalah orang yang cukup gaul." tebak Digo.
Arka berjongkok di atas tanah karena dia menggambar sesuatu di tanah itu menggunakan kayu, hanya ingin memastikan saja apa yang dikatakan oleh Joko itu apakah sama seperti yang sudah dia ketahui, sebab tadi Arka memang tidak melihat tentang tato yang Joko katakan di punggung orang gila tersebut. karena Arka sedang bingung, bingung dengan perasaan sendiri yang terasa begitu aneh dan mendadak saja.
"Kau menggambar apa mendadak seperti itu?" Digo juga penasaran dengan anak ular ini.
"Apa gambar mawar dan pisau itu seperti ini?" Arka bertanya kepada Joko.
Joko segera ikut berjongkok untuk mengamati apakah itu memang mawar seperti yang ada di punggung orang gila tadi, setelah dia mengamati dengan seksama maka Joko segera mengangguk karena itu memang tato yang ada di punggung orang gila tersebut, dia agak penasaran kenapa Arka bisa langsung paham padahal dia mengatakan tidak melihat.
"Apa tato itu memiliki arti?" Joko bertanya kepada Arka dengan serius.
"Nanti malam sebaiknya kau tidur di rumah aku saja." Arka berkata serius kepada Joko.
"Ar! kau jangan membuat aku takut seperti ini, apa yang sebenarnya sudah terjadi?" Joko mulai kumat ketakutan.
"Turuti raja yang aku minta sekarang, kau datang saja ke rumahku nanti malam biar kita tidur bersama." Arka berkata serius.
"Ar, apa ini memang masalah yang sangat serius?" Digo juga mulai penasaran.
"Aku belum tahu pasti tapi aku pernah melihat tato bunga mawar ini di kitab milik Mama." jawab Arka.
"Oh asli, kalau sudah ada di dalam kita Purnama maka itu bukan tato biasa." Joko juga mulai panik setelah mendengar hal itu.
"Waduh, sepertinya ini serius dan kita harus membicarakan kepada mama muda!" Digo juga agak kaget dan mereka akan mengurus tentang masalah itu.
"Aku masih belum tahu secara pasti tapi lebih baik untuk menghindari maka kita harus berkumpul malam ini." Arka menatap Joko.
Joko mengangguk setuju karena dia juga tidak keberatan bila harus tinggal di rumah Arka nanti malam, toh dia juga masih bujangan sehingga tidak masalah bila untuk tidur ke sana dan kemari di rumah teman, ini semua demi keselamatan dan bila nanti ada masalah maka dia harus meminta tolong kepada Arka juga.
"Jangan sampai Maghrib ya." pesan Arka sebelum meninggalkan area perkuburan.
"Gila, ini mau tidak mau aku pasti akan berurusan dengan setan lagi." keluh Joko dengan nada sedih.
"Jangan takut seperti itu karena Arka pasti akan menolong dirimu." Digo berusaha untuk menenangkan.
Joko mengangguk paham karena apa yang dikatakan oleh Digo itu memang benar, Arka pasti akan menolong dirinya sebisa mungkin bila nanti terjadi masalah yang tidak mereka inginkan, oleh sebab itu lebih baik diam saja terlebih dahulu saat ini agar tidak muncul masalah lain yang jauh lebih serius lagi.
Selamat pagi sayaaaaaaang.
terus nasib Rani gimana thor
tapi biarlah mereka dapat hadiah