NovelToon NovelToon
Masa Depan Menantimu

Masa Depan Menantimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Anak Genius
Popularitas:171
Nilai: 5
Nama Author: sat*dya

seseorang yang ingin mengubah hidup nya dan ia bekerja keras demi itu semua

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sat*dya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

sistem penilaian AI

Pagi pertama Alya di Akademi Zenith dimulai dengan suara lembut alarm digital dari gelang akademinya.

“Selamat pagi, Alya Rahman. Waktu menunjukkan pukul 06.00. Jadwal pertama Anda dimulai pukul 07.00.”

Alya membuka mata perlahan.

Beberapa detik ia hanya berbaring sambil menatap langit-langit kamar asrama yang bercahaya redup. Semua masih terasa seperti mimpi.

Kemarin ia masih berada di rumah kecil sektor timur.

Sekarang ia berada di sekolah paling bergengsi di Neo Jakarta.

Namun rasa kagumnya langsung bercampur gelisah ketika mengingat kejadian semalam.

Pesan misterius.

Ucapan Reno.

Peringatan tentang Lorong Barat.

Alya duduk perlahan di tempat tidur sambil menarik napas panjang.

“Aku harus tenang…”

Ia bangkit lalu membuka tirai jendela besar kamarnya.

Pemandangan pagi Akademi Zenith langsung terlihat jelas.

Matahari terbit memantulkan cahaya keemasan di antara gedung-gedung kaca. Drone patroli bergerak perlahan di udara, sementara para siswa mulai berjalan menuju gedung utama.

Tempat itu tampak damai.

Sulit dipercaya bahwa sesuatu terasa salah di balik semua kemewahan ini.

Gelang digital Alya kembali berbunyi.

Jadwal hari ini:

07.00 – Orientasi Sistem AI

09.00 – Simulasi Kemampuan Dasar

12.00 – Istirahat

13.00 – Penilaian Akademik Awal

Alya membaca jadwal itu sambil menghela napas kecil.

“Hari pertama langsung ujian…”

Ia segera bersiap mengenakan seragam akademi.

Setelah selesai, Alya keluar kamar dan menuju aula makan.

Suasana aula sangat ramai.

Ratusan siswa duduk sambil berbicara tentang pelajaran, teknologi, bahkan proyek ilmiah yang terdengar rumit.

Alya mengambil sarapan sederhana lalu mencari tempat duduk.

“Alya!”

Hana melambaikan tangan dari sudut ruangan.

Alya langsung tersenyum lega dan menghampirinya.

“Kamu kelihatan gugup,” kata Hana sambil meminum jus sintetisnya.

“Aku memang gugup.”

“Hari pertama semua orang begitu.”

Alya duduk pelan.

“Simulasi kemampuan dasar itu seperti apa?”

Hana mengangkat bahu.

“Katanya sistem AI akademi akan menilai kemampuan kita secara langsung.”

“Secara langsung?”

“Iya. Semua data otak, refleks, logika, bahkan emosi kita akan dianalisis.”

Alya hampir tersedak minumannya.

“Itu terdengar menyeramkan.”

“Selamat datang di Zenith.”

Mereka tertawa kecil.

Namun jauh di dalam hati, Alya semakin tegang.

Ia berasal dari sekolah biasa di sektor timur.

Bagaimana jika kemampuannya ternyata jauh di bawah siswa lain?

Bagaimana jika semua orang sadar ia tidak pantas berada di sini?

Pukul tujuh tepat, seluruh siswa baru diarahkan menuju Gedung Orion Hall.

Bangunan itu sangat besar dengan dinding hitam mengilap dan pintu otomatis raksasa.

Begitu Alya masuk, matanya langsung membesar.

Ruangan di dalamnya dipenuhi kapsul transparan berbentuk tabung berdiri. Jumlahnya ratusan.

Lampu biru menyala di setiap kapsul.

“Ini tempat simulasi?” bisik Alya.

Hana mengangguk.

“Aku mulai takut.”

Di bagian depan ruangan, seorang wanita berseragam hitam berdiri sambil membawa tablet hologram.

“Selamat datang,” katanya tegas. “Saya Profesor Elena, pengawas sistem penilaian AI Akademi Zenith.”

Suasana langsung hening.

“Sistem akademi akan mengevaluasi kemampuan dasar kalian.”

Layar besar menyala menampilkan grafik otak dan data digital.

“Penilaian meliputi kecerdasan logika, kecepatan berpikir, stabilitas emosi, kemampuan adaptasi, dan potensi masa depan.”

Alya menelan ludah.

Potensi masa depan?

Bagaimana mesin bisa menilai masa depan seseorang?

“Tidak ada nilai sempurna di Zenith,” lanjut Elena. “Namun sistem akan menentukan posisi awal kalian.”

Beberapa siswa tampak percaya diri.

Sebagian lain mulai panik.

“Silakan masuk ke kapsul masing-masing.”

Lampu ruangan berubah putih terang.

Para siswa mulai berjalan menuju kapsul yang sudah ditentukan.

Alya menemukan nomor miliknya: A-17.

Ia melangkah masuk perlahan.

Pintu kapsul tertutup otomatis di belakangnya.

Suara mesin berdengung lembut.

“Sinkronisasi dimulai,” suara AI terdengar.

Cahaya biru perlahan menyelimuti ruangan kecil itu.

Jantung Alya mulai berdetak lebih cepat.

“Tetap tenang…” bisiknya.

Tiba-tiba layar hologram muncul di depan matanya.

Selamat datang, Alya Rahman.

Tes tahap pertama dimulai.

Sebuah simulasi kota futuristik muncul di sekelilingnya.

Alya tersentak.

Teknologi itu terasa sangat nyata.

Ia seperti benar-benar berdiri di tengah kota digital.

“Analisis logika.”

Suara AI terdengar datar.

Berbagai simbol dan teka-teki muncul di udara dengan cepat.

Alya segera fokus.

Ia memecahkan pola matematika, membaca jalur data, dan menyusun kode sederhana secepat mungkin.

Awalnya ia gugup.

Namun perlahan ia mulai terbiasa.

Semua latihan belajar malam yang selama ini ia lakukan ternyata membantu.

“Analisis tahap pertama selesai.”

Nilai logika: tinggi.

Alya sedikit lega.

Namun simulasi berikutnya jauh lebih sulit.

“Analisis emosional.”

Tiba-tiba kota digital di sekelilingnya berubah gelap.

Suara ledakan terdengar.

Orang-orang berteriak.

Alya melihat simulasi bencana besar.

“Pilih prioritas penyelamatan.”

Tiga pilihan muncul di udara.

Selamatkan keluarga.

Selamatkan pusat data kota.

Selamatkan pemimpin kota.

Alya membeku.

“Ini…?”

Waktu hitung mundur muncul.

10…

9…

Jantung Alya berdetak cepat.

Ia tahu ini hanya simulasi.

Namun semuanya terasa nyata.

5…

4…

Alya menggigit bibir.

Lalu memilih:

Selamatkan keluarga.

Simulasi langsung berubah.

“Keputusan dicatat.”

Alya mengembuskan napas pelan.

Namun tes belum selesai.

Situasi demi situasi terus muncul.

Krisis.

Pengkhianatan.

Pilihan sulit.

Dan setiap keputusan Alya dianalisis oleh sistem AI.

Beberapa kali ia hampir panik.

Tetapi ia terus mencoba bertahan.

Sementara itu, di ruang kontrol atas Orion Hall, puluhan layar hologram menampilkan data seluruh siswa.

Profesor Elena memperhatikan grafik satu per satu.

Namun tiba-tiba salah satu layar berkedip merah.

Subjek A-17 terdeteksi.

Elena mengernyit.

“Alya Rahman?”

Seorang staf mendekat.

“Ada masalah?”

Grafik data Alya bergerak aneh.

Potensi neural meningkat drastis.

Stabilitas emosional tidak stabil.

Sinkronisasi sistem… tidak normal.

Elena terlihat serius.

“Mustahil…”

“Haruskah simulasi dihentikan?”

Elena menggeleng pelan.

“Lanjutkan.”

Di dalam kapsul, Alya mulai merasa pusing.

Cahaya biru di sekelilingnya berubah semakin terang.

Suara AI terdengar terdistorsi.

Analisis memori…

Analisis genetik…

Alya membeku.

“Genetik?”

Tiba-tiba layar di depannya berkedip kacau.

Lalu muncul gambar seseorang.

Seorang pria.

Ayahnya.

Mata Alya langsung membesar.

“Ayah…?”

Gambar itu hanya muncul sepersekian detik sebelum hilang.

Alya mundur panik.

“Kenapa wajah Ayah muncul di sistem ini?!”

Alarm kecil tiba-tiba berbunyi di dalam kapsul.

Sinkronisasi tidak stabil.

Sinkronisasi tidak stabil.

“Apa yang terjadi?!”

Lampu di dalam kapsul berkedip liar.

Lalu—

Brak!

Sistem mendadak mati.

Pintu kapsul terbuka otomatis.

Alya jatuh berlutut ke lantai sambil terengah-engah.

Seluruh ruangan langsung gempar.

Beberapa siswa menoleh kaget.

Profesor Elena berjalan cepat mendekat.

“Apa yang terjadi?” tanya Hana panik sambil berlari menghampiri Alya.

“Aku… aku tidak tahu…”

Kepala Alya masih terasa sakit.

Namun sebelum siapa pun sempat berbicara lagi, Alya merasakan seseorang memperhatikannya.

Ia menoleh perlahan.

Reno berdiri di ujung ruangan.

Tatapannya tajam dan serius.

Dan untuk pertama kalinya, Alya melihat sesuatu yang berbeda di mata dingin pemuda itu.

Ketakutan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!