Di dunia tempat takdir manusia tercatat dalam sebuah Arsip, seorang pemuda terbangun tanpa data apa pun tentang dirinya.
Saat rahasia dunia mulai terbuka, ia menjadi satu-satunya orang yang tidak seharusnya ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 — Cakrawala Tanpa Batas
Archive Zero
Bab 13 — Cakrawala Tanpa Batas
Angin yang berhembus melewati gerbang kota Elarion terasa berbeda. Tidak lagi kaku, tidak lagi kering, dan tidak lagi membawa bau logam serta debu buatan. Angin ini lembap, segar, dan membawa aroma rumput, tanah basah, serta keharuman bunga liar — aroma yang selama seribu tahun hanya ada di dalam cerita dongeng.
Ren, Kai, dan Anya berdiri di atas benteng tertinggi kota, tempat di mana dulu dinding beton tebal dan kubah langit-langit buatan menutup pandangan mereka. Kini, penghalang itu runtuh sebagian, menyisakan celah luas yang membiarkan mereka melihat ke luar, menatap hamparan dunia yang selama ini tersembunyi dari pandangan siapa pun.
Pemandangan di luar sana begitu memukau hingga membuat mereka bertiga terpaku diam cukup lama.
Di bawah sana, kota Elarion yang dulu tertata rapi dan dingin kini tampak hidup dan berwarna. Penduduk mulai bergerak keluar dari zona-zona tertutup, mendirikan tenda-tenda darurat di area terbuka, menanam benih-benih yang ditemukan di gudang tua, dan tertawa lepas di bawah sinar matahari yang bersinar hangat. Di kejauhan, aliran sungai besar yang dulunya dikeringkan sistem kini mengalir deras kembali, airnya berkilauan keemasan membelah dataran luas.
Namun, yang paling menarik perhatian adalah apa yang ada di balik dataran itu.
Pegunungan berjejer di cakrawala, menjulang tinggi dengan puncak-puncak yang berwarna hijau pekat dan kelabu batu, tertutup awan tipis yang berarak perlahan. Di antara celah pegunungan itu, kabut tipis berkilau, seolah menyembunyikan lembah-lembah tersembunyi, hutan lebat, atau mungkin reruntuhan peradaban lain yang tertinggal dari zaman dahulu kala.
"Dunia ini..." Kai berbisik pelan, matanya berkilat-kilat penuh kekaguman dan rasa ingin tahu yang meluap-luap. Ia mengeluarkan peta tua yang ia temukan di ruangan Elara, peta yang jauh lebih lengkap dan akurat dibandingkan peta standar kota Elarion. Ia membentangkannya di atas tembok batu yang rata.
"Lihatlah ini," kata Kai sambil menunjuk garis-garis berliku yang menandakan pegunungan dan sungai. "Elarion hanyalah satu titik kecil di sini. Lihat... di utara ada dataran luas yang tertulis 'Tanah Hijau', di selatan ada garis biru besar yang mungkin adalah lautan, dan di timur... ada tanda lingkaran merah. Sama persis dengan simbol mata yang kita temukan di ruangan inti dan di ruang Elara."
Ren mencondongkan badan, menatap tanda lingkaran merah itu lekat-lekat. Jantungnya berdebar lagi, rasa penasaran yang dulu mendorongnya keluar dari zona nyaman kembali bangkit, bahkan lebih kuat dari sebelumnya.
"Tempat itu... apa kira-kira ada di sana?" tanya Ren, lebih kepada dirinya sendiri.
Anya, yang sejak tadi diam menatap ke arah timur dengan tatapan tajam, perlahan berbicara.
"Dalam catatan sejarah lisan Kawasan Bayang, ada cerita tentang 'Pusat Dunia'. Tempat di mana energi pertama kali muncul, tempat di mana perang besar seribu tahun lalu dimulai dan berakhir. Konon, di sanalah para Pengamat — kelompok yang disebut Elara — memiliki markas utama mereka."
Anya menoleh ke arah Ren, matanya yang kini berwarna cokelat lembut menyala dengan tekad yang sama seperti dulu.
"Elara bilang kota ini hanyalah permulaan. Dia bilang masih banyak rahasia di luar sana. Kalau dia pergi ke suatu tempat... aku yakin dia menuju ke sana. Ke lingkaran merah itu."
Ren menegakkan tubuhnya, menghirup udara segar sedalam-dalamnya hingga memenuhi paru-parunya. Ia merasakan kekuatan di dalam dirinya — bukan lagi kekuatan kunci atau kekuatan sistem, tapi kekuatan alami yang mengalir bebas, sama seperti aliran energi di alam sekitarnya. Ia merasa hidup, terhubung dengan segala sesuatu yang ada di sekelilingnya.
Ia menatap kedua sahabatnya itu bergantian.
"Kalian tahu kan? Dulu, saat aku masih bekerja mengantar barang di distrik bawah, aku selalu bertanya-tanya... apa yang ada di balik tembok tinggi itu? Kenapa kami tidak boleh tahu? Kenapa hidup kami harus dibatasi?"
Ren tersenyum lebar, senyum yang penuh kebebasan dan semangat muda.
"Sekarang penghalangnya sudah runtuh. Tidak ada lagi aturan, tidak ada lagi larangan, dan tidak ada lagi takdir tertulis. Kita bebas pergi ke mana saja. Dan jujur saja... aku tidak bisa diam saja di sini membangun kota baru sementara ada begitu banyak hal yang belum kita ketahui."
Kai langsung menepuk bahu Ren keras-keras, tertawa lebar.
"Kukira kau akan bertanya begitu saja! Aku sudah menyiapkan perbekalan, menyalin semua catatan kuno yang tersisa, dan bahkan menemukan kendaraan tua yang masih berfungsi di gudang bawah tanah. Kendaraan yang bisa bergerak di darat maupun menyeberangi sungai!"
Pemuda itu kemudian menatap ke arah timur, ke arah cakrawala yang tertutup kabut.
"Kalau ada rahasia, kalau ada sejarah, kalau ada keajaiban... aku harus melihatnya sendiri. Aku tidak akan melewatkan kesempatan menjadi orang pertama yang menjelajahi dunia yang baru bangkit ini."
Terakhir, Ren menatap Anya. Gadis itu tersenyum lembut, lalu menggenggam tangan Ren erat-erat.
"Aku sudah mengikuti mu ke ujung dunia dulu saat kita lari dari kejaran Penjaga Arsip, kan?" katanya pelan namun tegas. "Ke mana pun kau pergi, Ren... aku ikut. Dunia ini besar dan menakutkan, tapi selama kita bertiga bersama... aku yakin tidak ada yang mustahil."
Keputusan sudah bulat.
Mereka tidak akan menetap di Elarion, walau penduduk kota membutuhkan bantuan untuk membangun kembali kehidupan. Ada banyak orang bijak, pemimpin, dan warga yang mampu mengurus kota ini. Tugas mereka sudah selesai di sini. Tugas mereka yang baru ada di luar sana, di seberang pegunungan, menembus kabut, menuju tempat di mana sejarah dimulai dan mungkin berakhir lagi.
Siang itu juga, berita tentang keberangkatan mereka menyebar cepat. Penduduk kota berdatangan, membawa makanan, pakaian hangat, senjata sederhana, dan segala bekal yang mereka punya untuk diberikan pada tiga pahlawan yang telah membebaskan mereka.
Elara benar. Nama mereka akan tercatat dalam sejarah, bukan sebagai penguasa atau dewa, tapi sebagai pembawa kebebasan.
Di gerbang utama kota, di depan kendaraan tua berbentuk kotak kokoh yang sudah diperbaiki Kai, Ren berhenti sejenak untuk menatap Elarion untuk terakhir kalinya. Ia melihat anak-anak berlari di padang rumput yang mulai tumbuh, melihat orang tua duduk bercengkerama di bawah pohon yang baru ditanam, dan melihat langit biru yang bersih tanpa noda.
Hati Ren penuh rasa syukur. Tempat ini adalah rumahnya, tempat ia lahir dan tumbuh, tempat ia menemukan makna hidupnya. Tapi rumah bukanlah penjara. Rumah adalah tempat yang bisa kau tinggalkan untuk menjelajah, lalu kau rindukan saat kau kembali membawa cerita baru.
"Ayo berangkat!" seru Kai dari kemudi kendaraan, wajahnya berseri-seri penuh semangat. Mesin kendaraan itu menderu halus, tenaganya kini diisi oleh energi murni alam yang tidak lagi dikendalikan sistem.
Ren naik ke samping Kai, sementara Anya duduk di sebelahnya, menatap ke depan dengan pandangan siap berpetualang.
Kendaraan itu bergerak perlahan, meninggalkan gerbang kota Elarion, melewati padang rumput yang luas, dan menuju jalan tanah yang berkelok menjauh ke arah timur, ke arah kabut tipis di celah pegunungan.
Angin bertiup lebih kencang, menerbangkan rambut mereka dan membawa serta suara riuh warga yang mengantar kepergian mereka.
Saat kota Elarion perlahan mengecil di belakang mereka, menjadi siluet kecil di tengah dataran luas, Ren menyandarkan punggungnya dan menatap langit biru yang tak berujung.
"Kau pikir apa yang akan kita temukan di sana?" tanya Ren pada kedua temannya, suaranya terdengar tenang namun penuh antisipasi.
Kai tertawa, membetulkan kacamata di hidungnya.
"Siapa tahu? Mungkin reruntuhan kota kuno yang lebih maju dari Elarion. Mungkin bangsa-bangsa lain yang selamat dari perang besar. Mungkin monster, keajaiban, atau jawaban terakhir yang selama ini kita cari."
Anya menatap ke depan, ke arah jalan yang membelah hutan kecil di kaki gunung.
"Atau mungkin..." jawabnya pelan. "Kita akan menemukan tempat di mana kita benar-benar memahami arti kekuatan ini. Arti mengapa energi ini ada, dan mengapa manusia selalu terikat padanya."
Ren tersenyum. Ia mengangkat tangannya ke udara, membiarkan angin melewati jari-jarinya. Di kejauhan, seekor burung elang terbang tinggi melintasi jalan mereka, menuju arah yang sama.
Misteri Archive Zero telah terkuak. Penjara Elarion telah runtuh. Tapi kisah mereka... kisah tentang tiga sahabat yang berani mengubah takdir... baru saja memasuki babak yang sesungguhnya. Di luar sana, dunia yang luas dan ajaib sedang menunggu untuk ditemukan.
Dan di tempat yang jauh, di balik kabut tebal di timur, di dalam sebuah menara kaca yang tersembunyi di balik gunung berapi yang tidur, sosok-sosok berjubah putih sedang mengamati bola kristal besar di tengah ruangan mereka. Di dalam bola itu, bayangan kendaraan tua yang melaju di jalan tanah terlihat jelas.
Salah satu dari mereka, sosok yang wajahnya sama persis dengan Elara namun jauh lebih muda dan dingin, tersenyum tipis.
"Roda berputar lagi," bisiknya pada rekan-rekannya. "Si anak kunci dan kawan-kawannya akhirnya bergerak ke arah kita. Segala sesuatu berjalan sesuai rencana. Keseimbangan akan teruji kembali. Dan kali ini... apakah mereka akan cukup kuat untuk memegang kebenaran mutlak?"
Di luar sana, petualangan besar melintasi benua telah dimulai.
Bersambung...
jangan lupa berkunjung ke novelku mas judulnya "Ovrien"