Kinan Malika, Gadis berusia 23 tahun yang menempuh pendidikan hukum selama 4 tahun, dan setelah lulus dia melamar pekerjaan sebagai notaris dan ingin menjadi pengacara.
Sayangnya, tidak ada yang percaya dengan kemampuannya. Hingga dia di terima di sebuah perusahaan besar untuk menjadi asisten pribadi seorang bos yang tidak pernah terpikir olehnya.
Baskara Rama Jaya, seorang laki-laki berusia 30 tahun. Bos perusahaan besar yang terkenal dingin dan tidak memiliki belas kasih terhadap karyawannya.
Memiliki trauma masa lalu dan mengindap insomnia akut, menyebabkan dirinya susah tidur ketika malam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Air Mata
Pandangannya teralihkan saat mendengar pembawa acara menguntungkan acara akan segera di mulai bahkan mempelai wanita sudah memasuki tempat acara pemberkatan.
Namun, saat nama laki-laki di sebut dan keluar bersama mempelai wanita membuat dunianya runtuh.
"Bima Ruslan."
Deg!
Jantungnya berdebar kencang, matanya terasa panas tangannya bergetar.
Tes...
Air mata yang sejak tadi mencoba di tahannya akhirnya jatuh juga. Kinan tidak sanggup.
"Kinan?" bisik Bima melihat ada sosok yang di kenalnya berdiri di antara para tamu yang hadir disana.
"Siapa?" tanya istrinya saat mendengar suaminya mengatakan sesuatu.
"Gak apa-apa, sayang." balas bima tersenyum pada istrinya walau saya ini dia juga masih kaget mengetahui Kinan berada di sini.
Baskara yang sejak tadi memperhatikan Kinan dari kejauhan merasa aneh. Kenapa tiba-tiba meninggalkan tempat ini. Bahkan terlihat seperti menangis.
"Permisi, pak. Saya harus mencari asisten saya dulu." pamit Baskara pamitan pada pak Reksa dan rekannya yang lain.
Tujuannya saat ini adalah menemukan Kinan. Dia tidak ingin gadis itu hilang dan membuatnya kesulitan.
"Kemana dia?" gumam Baskara saat penggilan telpon darinya tidak di angkat.
Dia terus mencari Kinan, sampai dia menemukan gadis itu yang sedang berjongkok di tepi kolam renang. Semakin dekat, Baskara mendengar Isak tangis dari gadis itu.
"Kinan?" panggil Baskara mendekat.
Kinan terkejut melihat Baskara datang. Menatap pada laki-laki itu. "Bos?"
"Ada apa? Siapa yang membuat kamu menangis?" tanya Baskara.
Dia memang terkenal jahat dalam bekerja. Tapi tidak ada satu orang pun yang bisa merendahkan karyawannya. Bahkan dia pernah harus membayar denda pinalti untuk Tiara yang hampir saja di lecehkan waktu itu oleh rekan bisnisnya.
Kinan menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin Baskara mengetahuinya. "Katakan siapa yang membuat kamu menangis. Apa mereka yang berada disana?" tanya Baskara lagi.
Dia yakin bahwa terjadi sesuatu disini. "Apa laki-laki itu yang membuat kamu menangis hingga seperti ini?" Baskara semakin yakin.
Jika ini berhubungan dengan masa lalu Kinan. Kalau tidak, mana mungkin dia menangis. Bahkan saat dalam Minggu pertama dia menyiksanya dengan Segudang pekerjaan gadis ini tidak mengeluh. Lalu kenapa di acara pesta seperti ini tiba-tiba menangis sesenggukan. Bahkan di saat banyak makanan manis yang menjadi Favoritnya.
Kinan menatap Baskara, dia tidak bisa mengatakan apa-apa saat ini. Karena air matanya terus saja keluar sejak tadi.
"Berdiri!" titah Baskara.
"Berdiri Kinan..." ucap Baskara dengan suara rendah.
Dia mengulurkan tangannya, dan Kinan menerimanya. "Sekarang hapus air mata kamu!" Baskara memberikan sapu tangan padanya.
"Itu sapu tangan mahal. Jadi air mata kamu tidak sia-sia keluar." ucap Baskara membuat Kinan cemberut.
"Sekarang ayo pergi!" ajak Baskara.
"Kemana?" tanya Kinan dengan suara serak.
"Meminta pertanggungjawaban atas air mata kamu yang tidak seberapa itu!" jawab Baskara pedas.
Kinan menolak. Dia tidak ingin pergi kesana yang akan membuat hatinya semakin sakit.
"Percayakan pada saya. Disana tidak akan ada yang berani menyinggung kamu. Kamu datang bersama Baskara Rama Jaya, Kinan. Kamu bisa memanfaatkan saya jika itu harus. Apalagi pada orang-orang seperti itu. Karena tidak ada satu orang pun yang bisa menyakiti karyawan saya jika itu bersama saya. Ingat itu. Manfaatkan nama besar bos kamu. Bahkan saya siap membayar pinalti jika kamu memukul wajahnya!" ucap Baskara dengan tegas membuat Kinan mengangguk.
Dia berjalan bersama dengan Baskara. Langkahnya semakin berat saat semakin dekat dengan pelaminan, tempat dimana Kedua mempelai berada.
Saat Kinan semakin gugup, sebuah telapak tangan besar menggenggam tangannya dan membuat Kinan semakin yakin saat laki-laki itu melihat ke arahnya dan mereka kembali berjalan.
Bima yang sejak tadi sibuk menerima ucapan terima kasih kaget saat melihat siapa yang datang.
Baskara berdiri tegap di depan Bima dengan kedua tangannya yang di masukan ke dalam saku celana miliknya.
"Kinan, ada yang ingin kamu sampaikan?" tanya Baskara pada Kinan di sampingnya.
Kinan meremas gaun yang di pakainya. "Kinan?" panggil Baskara lagi membuat Kinan memberikan dirinya.
Dia membuka tas yang di tangannya, dan mengeluarkan sebuah cincin yang selalu di bawanya.
"Terima kasih atas 4 tahun yang sudah berakhir begitu saja 4 bulan lalu tanpa penjelasan apapun, dan semoga tidak ada karma apapun yang menghampiri kamu." ucap Kinan membuat Bima tercengang.
Bahkan Chelsea istrinya saja juga kaget. Apa maksudnya ini?
"Sayang, apa ini?" tanya Chelsea tidak percaya.
"Sayang, aku tidak tau. A-aku tidak mengenalnya. Aku juga tidak tau apa yang dia katakan. Maaf, apa kita kenal?" tanya Bima mencoba tenang.
Namun, baru saja dia mengatakan hal itu, tiba-tiba saja sebuah pukulan keras menghantam rahangnya, membuat Bima langsung terjatuh.
Bugh...
"Aghhh..." Bima mengerang kesakitan saat pukulan keras menghantam wajahnya.
Baskara paling benci orang-orang seperti ini. Sungguh, rasanya tidak cukup hanya menghantamnya saja. "Aku benar-benar membenci orang-orang seperti mu ini!" umpat Baskara tersenyum remeh melihat laki-laki yang tersungkur di pelaminan itu.
Kinan terkejut, saat Baskara memukul wajahnya Bima begitu saja, dan menunjukkannya dengan remeh.
"Tulis atas nama Baskara Rama Jaya jika ingin menuntut. Akan ku siapkan pengacara terbaik untuk menghadapi tuntutan mu!" ucap Baskara sebelum pergi membawa Kinan.
Tapi, sebelum itu dia menghentikan Baskara dan berbalik untuk melemparkan cincin tersebut hingga mendarat tepat di dekat kaki Bima.
***