Di siang hari, Renata adalah seorang gadis biasa yang bekerja sebagai pustakawati polos berkacamata tebal. Namun, saat malam tiba dan lampu kota Jakarta mulai menyala, ia berubah menjadi "Papillon" (Kupu-Kupu)—gadis hostess paling misterius dan mahal di Kupu-Kupu Bar, sebuah kelab malam eksklusif rahasia para konglomerat.
Renata tidak mencari uang demi kemewahan. Ia menjebak dirinya di dunia malam demi mengungkap misteri kematian kakak perempuannya yang tewas mengenaskan setelah melayani seorang pria berkuasa dari Dirgantara Group.
Rencananya berjalan mulus hingga malam itu tiba. Adrian Dirgantara, CEO dingin dan pewaris tunggal Dirgantara Group, masuk ke bar dan langsung memilih Papillon. Adrian tidak mencari hiburan, melainkan seorang "istri sewaan" untuk memenuhi wasiat kakeknya demi mempertahankan takhta perusahaan.
Satu kesepakatan di bawah lampu remang-remang bar mengubah segalanya. Renata melangkah masuk ke sarang musuh sebagai istri Adrian, sementara Adrian tidak pernah t
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zenaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Era Baru Dirgantara Group
Fajar menyingsing di ufuk timur kota Jakarta, memancarkan semburat cahaya keemasan yang menembus kaca besar kamar utama penthouse. Sinar hangat itu perlahan mengusir sisa-sisa keheningan malam yang intens, menyinari dua pasang pakaian yang masih tergeletak berserakan di atas lantai marmer di dekat kaki ranjang.
Renata terbangun dengan perlahan, merasakan hangatnya sinar matahari menerpa wajahnya. Kulitnya langsung bersentuhan dengan kelembutan selimut sutra yang membungkus tubuh polosnya. Ketika ia mencoba menggeser tubuhnya sedikit, rasa pegal dan sensasi hangat sisa pergulatan panas semalam langsung merayap di sepanjang tulang belakangnya, membuat pipinya seketika merona merah akibat kilasan memori yang memabukkan itu kembali berputar di kepalanya.
Sebuah lengan yang kokoh dan berotot melingkar di pinggang rampingnya, menarik tubuh Renata kembali merapat tanpa jarak ke dalam dada bidang yang hangat. Adrian sudah terbangun lebih dulu. Pria itu menyandarkan dagunya di bahu Renata yang terbuka, menghirup aroma wangi rambut cokelat istrinya yang berantakan dengan mata yang memancarkan kepuasan yang absolut.
"Selamat pagi, Nyonya Dirgantara," suara bariton Adrian terdengar sangat rendah dan parau khas orang yang baru bangun tidur, menggetarkan dada Renata.
Renata menoleh sedikit, mendapati wajah suaminya yang sangat dekat. Guratan lelah dan memar kecil akibat perkelahian dengan Victor semalam masih ada di rahang tegas Adrian, namun matanya kini dipenuhi dengan kelembutan yang sangat dalam.
"Selamat pagi, Tuan CEO," balas Renata dengan suara yang masih agak serak. Ia mengulurkan tangannya, mengusap lembut memar di rahang Adrian. "Apakah bahumu masih terasa sakit?"
Adrian menangkap jemari mungil Renata, mengecup telapak tangannya dengan mesra. "Rasa sakitnya sudah hilang, menguap bersama dengan malam luar biasa yang kamu berikan semalam."
Renata mencubit pelan dada bidang Adrian, menyembunyikan wajahnya yang semakin memanas di ceruk leher sang suami. Adrian terkekeh rendah, mempererat pelukannya sebelum akhirnya mendudukkan tubuhnya di ranjang, membiarkan selimut merosot dan mengekspos bentuk tubuhnya yang atletis dengan beberapa goresan luka pertempuran.
"Hari ini adalah hari pertama kita memimpin Dirgantara Group dengan bersih, Renata," ujar Adrian, tatapan matanya mendadak berubah menjadi serius dan berwibawa. "Victor Wijaya sudah resmi diserahkan ke divisi kejahatan internasional subuh tadi. Pengaruh buruk paman Bram dan Arsen di dalam dewan direksi sudah lumpuh total. Ini adalah waktu kita untuk membangun kembali reputasi perusahaan."
Renata ikut mendudukkan dirinya, menarik selimut untuk menutupi dadanya, kembali bertransformasi menjadi sosok wanita analis yang cerdas. "Aku sudah merapikan draf rekonstruksi keuangan divisi pengadaan barang yang sempat dikorup oleh Arsen. Begitu kita tiba di kantor, kita bisa langsung melakukan holding rapat dengan para kepala divisi yang baru untuk mengembalikan stabilitas saham."
Adrian menatap istrinya dengan binar mata yang penuh rasa bangga. Wanita yang berada di ranjangnya ini bukan sekadar pendamping hidup yang menawan, melainkan rekan sekutu terbaik yang pernah dikirimkan takdir ke dalam hidupnya.
"Kalau begitu, mari kita mandi dan bersiap, Istriku. Dunia bisnis di luar sana sudah menunggu kepulangan sepasang penguasa baru mereka," bisik Adrian, mendaratkan satu kecupan dalam yang manis di bibir Renata sebelum beranjak dari ranjang.
Pukul sembilan pagi, sebuah mobil Rolls-Royce hitam mengkilap berhenti tepat di depan lobi utama gedung pencakar langit Dirgantara Group. Begitu pintu mobil dibuka oleh petugas keamanan, Adrian Dirgantara melangkah keluar dengan penampilan yang sangat sempurna—setelan jas desainer tiga bagian berwarna abu-abu gelap, rambut yang disisir rapi ke belakang, dan langkah kaki yang memancarkan aura dominasi yang mutlak.
Di sebelah kirinya, Renata berjalan berdampingan dengan memadukan keanggunan seorang istri CEO dan ketegasan wanita karier tingkat tinggi. Ia mengenakan setelan blazer putih gading yang pas di tubuh, celana panjang formal senada, serta sepatu hak tinggi yang mengetuk lantai marmer lobi dengan irama yang mantap. Kacamata tipis berbingkai transparan kembali bertengger di hidung mancungnya, menambah kesan genius dan berwibawa.
Seluruh karyawan yang memenuhi lobi lurus menunduk hormat dengan tingkat kedisiplinan yang jauh lebih tinggi dari biasanya. Bisik-bisik darurat yang dulu bernada merendahkan kini telah lenyap total, digantikan oleh rasa segan dan kagum yang luar biasa. Berita tentang bagaimana Renata membantu Adrian membongkar sindikat internasional Victor Wijaya dan korupsi internal dalam waktu singkat telah menyebar ke seluruh korporasi. Mereka tahu, wanita di sebelah Adrian saat ini adalah sang otak keuangan yang sangat berbahaya jika dijadikan musuh.
Lift khusus CEO membawa mereka langsung menuju lantai 50. Begitu pintu lift terbuka, Baskara sudah berdiri menyambut dengan tumpukan berkas baru di tangannya, wajahnya tampak segar dan penuh semangat.
"Selamat pagi, Tuan Besar Adrian, Nyonya Renata," sapa Baskara dengan hormat yang amat dalam. "Ruang rapat utama sudah disiapkan. Seluruh jajaran dewan komisaris dan kepala divisi baru yang telah kita saring ketat sudah hadir dan menunggu arahan dari Anda berdua."
Adrian mengangguk pendek. "Bagus. Baskara, jadwalkan juga konferensi pers internasional pada pukul satu siang nanti. Kita akan mengumumkan pemulihan total aset perusahaan dan kerja sama baru kita dengan Apex Capital Singapura."
"Laksanakan, Tuan."
Adrian menoleh ke arah Renata, mengulurkan tangan kanannya dengan telapak terbuka. "Apakah kamu siap memulainya, Nyonya Dirgantara?"
Renata menyambut uluran tangan hangat suaminya, menautkan jemari mereka dengan sangat erat. Keberanian dan keteguhan terpancar dari senyumannya. "Sangat siap, Tuan Adrian. Mari kita tunjukkan pada mereka bagaimana era baru Dirgantara Group berjalan."
Mereka berdua melangkah bersama, membuka pintu ganda ruang rapat utama dengan penuh kemegahan, siap menduduki takhta tertinggi yang kini telah resmi menjadi milik mereka seutuhnya secara mutlak dan bersih dari noda masa lalu.
Like & subscribe novelnya supaya author semangat update ya♥️