Zivanna gadis 24 tahun yang sudah lulus kedokteran, praktek di rumah sakit besar menjadi Dokter muda. Menjadi seorang Dokter tidaklah mudah meski sudah berusaha keras. Zivanna mengalami kesulitan dan bahkan segala usahanya selalu tidak pernah terlihat.
Zivanna selalu menjadi bulan-bulanan orang-orang yang bertugas di rumah sakit, dianggap sepele bahkan dia Dokter yang lulus karena uang. Zivanna kerap kali dimarahi senior di depan banyak orang.
Dibalik semua itu tidak ada yang tahu bahwa dirinya adalah putri dari pemilik rumah sakit terbesar di Jakarta tempatnya bertugas.
Bukan hanya itu statusnya sebagai istri tersembunyi yang tidak ada mengetahui bahwa dia adalah istri Dokter senior yang bersikap dingin selama di rumah sakit kepadanya.
Pernikahan Zivanna dengan Dokter Pradikta penuh cerita dalam keterpaksaan pernikahan itu terjadi. Lalu bagaimana keduanya menghadapi pernikahan mereka dengan dunia pekerjaan dan juga rumah tangga mereka.
Jangan lupa untuk terus membaca....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14 Posisi Yang Sulit.
Nayla bersama dengan Dikta akhirnya makan siang bersama, Nayla merupakan gadis ceria yang banyak cerita, sejak tadi mulutnya tidak berhenti berbicara sembari mengunyah makanan dan Dikta hanya mendengarkan saja.
Zivanna ternyata tidak sengaja lewat, menghentikan langkahnya ketika sekitar beberapa meter melihat Nayla bersama dengan Dikta tampak makan dengan santai.
"Aku seperti bersandiwara di depan Nayla, seperti tidak terjadi apapun diantara kami dan padahal ada hal besar yang terjadi diantara kami, entahlah apa yang terjadi jika pada akhirnya Nayla mengetahui, bahwa ada hubungan yang dekat antara aku dan Dikta, aku juga tidak tahu bagaimana jadinya nanti," batin Kiara dengan menghela nafas.
"Tetapi apa itu kesalahanku? Kenapa dia setuju menikah dengan guru sementara dia memiliki kekasih," batin Zivanna.
"Zivanna!" Zivanna kaget dan siapa sangka Nayla menyadari keberadaannya.
"Ayo sini!" ajak Nayla dengan melambaikan tangannya. Zivanna menggelengkan kepala tidak berniat untuk menghampiri pasangan yang romantis itu.
Sementara Dikta berekspresi dingin melihat Zivanna.
"Payah!" bukan Nayla namanya jika tidak menghampiri temannya itu dan langsung menarik tangan Zivanna.
"Kamu kenapa susah sekali untuk diajak. Ayo!" ajak Nayla.
"Tidak Nayla, aku masih harus mengerjakan sesuatu," Zivanna masih berusaha untuk menolak.
"Apa yang kamu kerjakan. Hah! tidak ada hal yang harus kamu kerjakan. Ayo cepat!" Nayla menarik paksa tangan temannya itu dan akhirnya membuat Zivanna mau tidak mau harus mengikut.
"Kamu, ya benar-benar susah sekali untuk di ajak, Zivanna ayo makan bersamaku dan juga Dikta. Aku membawa makan siang yang banyak. Jadi kita bisa menikmati bersama-sama dan ini juga merupakan makanan kesukaan kamu," ucap Nayla benar-benar sangat semangat mengajak temannya itu.
"Tidak Nayla, kalian saja yang makan siang. Aku tidak selera untuk makan dan lagi pula aku tidak ingin mengganggu kalian berdua," ucap Zivanna.
Dikta langsung melihat serius ke arahnya, perkataan Zivanna sesungguhnya hanyalah sebuah sindiran untuk dirinya Karena bagaimana Dikta seharusnya mengerti batasannya karena dia sudah menikah, tetapi Nayla tidak boleh disalahkan dalam hal itu karena Nayla tidak tahu apa-apa.
"Isss, kamu ini ya, seperti sama siapa saja berbicara seperti itu. Kita ini saling mengenal sejak kecil dan selalu bersama bertiga, jadi sebaiknya sekarang kita makan bersama. Kamu jangan banyak tingkah!" Nayla tetap memaksa temannya untuk duduk dan mau tidak mau akhirnya Zivanna mengikut saja.
Nayla menyiapkan makanan untuk Zivanna, eh tapi tiba-tiba saja Zivanna kembali berdiri membuat Dikta dan Nayla kebingungan.
"Ada apa Zivanna?" tanya Nayla
"Kalian makan berdua saja, aku tidak enak dilihat orang-orang yang ada di rumah sakit, lihatlah banyak orang berkeliaran dan aku tidak ingin orang-orang membicarakanku. Kalian makan bersama lah!" ucap Zivanna ternyata tetap tidak ingin bergabung dan ketika ingin pergi tiba-tiba saja Nayla menahan tangannya.
"Zivanna ada apa dengan kamu dan kenapa tiba-tiba seperti ini dan bukankah biasanya kita juga sering makan bersama, kamu tidak biasanya seperti ini dan untuk orang-orang yang ada di rumah sakit apa urusannya dengan mereka? Apa yang kamu lakukan tidak merugikan mereka," ucap Nayla.
"Nayla kamu tidak tahu bagaimana aku di rumah sakit ini. Aku dan Dokter Dikta di rumah sakit ini bagaikan langit dan bumi. Aku tidak ingin mencari masalah. Jadi kalian makanlah berdua," ucap Zivanna tersenyum getirnya dan kemudian langsung pergi.
"Ada apa dengan Zivanna? Kenapa dia begitu sensitif sekali?" tanya Nayla dengan mengerutkan dahi.
Dikta tidak merespon apapun yang dikatakan Kiara.
*****
"Kamu tidak pulang Zivanna?" tanya Sherina ketika keduanya berjalan dengan bersebelahan di koridor rumah sakit.
"Seperti apa yang aku katakan sebelumnya. Aku ingin belajar di ruangan rahasia, jika belajar di rumah sakit aura rumah sakitnya sangat terasa dan membuatku lebih nyaman daripada harus belajar di rumah," jawab Zivanna.
"Baiklah, terserah kamu saja mau pulang atau tidak. Tetapi karena malam ini aku tidak ada tugas, jadi aku harus pulang," ucap Sherina.
"Baiklah, kalau begitu kamu hati-hati dan sampai bertemu besok pagi," ucap Zivanna membuat Sherina menganggukkan kepala dengan melambaikan tangan pada temannya itu dan kemudian dia langsung pergi
Zivanna menarik nafas panjang dan membuang perlahan ke depan.
"Aku malas bertemu dengannya, aku yakin dia akan membahas kejadian tadi di rumah, setiap hari hanya ada keributan perdebatan, lebih baik di rumah sakit mencari kenyamanan sendiri," ucap Zivanna ternyata menghindari Dikta agar tidak bertemu secara langsung.
Saat baru saja melangkahkan kakinya tiba-tiba harus berpapasan dengan Dokter Rania.
"Kamu akhir-akhir ini rajin sekali di rumah sakit dan bahkan malam-malam masih berada di rumah sakit? Apa ingin mencari perhatian dari Dokter Dikta agar dilihat dan diyakini bahwa kamu benar sungguh-sungguh ingin menjadi Dokter?" tanya Rania terdengar begitu sinis.
"Tidak! Ada dan tidak adanya aku di rumah sakit ini dan apapun yang aku lakukan di luar jadwalku berada di rumah sakit ini bukan untuk orang lain. Saya memiliki urusan sendiri yang tidak harus dijalankan Dokter dan terlebih lagi saya juga tidak mencari perhatian siapapun dan bukan mencari validasi dari siapa-siapa," ucap Zivanna.
"Zivanna, tetapi rumah sakit ini memiliki aturan, semua Dokter memiliki jadwal dan jika tidak ada jadwal jangan mencari perhatian di rumah sakit ini dan sebaiknya pulang ke rumah beristirahat dan menghayal agar bisa menjadi dokter," ucap Riana.
"Jika Dokter menyadari rumah sakit ini memiliki aturan dan seharusnya Dokter menaati peraturan tersebut, jika memiliki tugas malam sebaiknya dilaksanakan bukan menggantikannya dengan Dokter lain," ucap Zivanna memberi sindiran kepada Rania yang dia ketahui yang suka sekali melempar tugasnya kepada rekan kerjanya membuat Rania mengepal tangan.
"Maaf Dokter, Saya permisi dulu! banyak hal yang harus saya kerjakan," ucap Zivanna tidak ingin berlama-lama di tempat tersebut dan membuatnya langsung berlalu dari hadapan Rania.
"Kamu tahu tidak jika ada 8 orang dari universitas kedokteran yang menjadi koas di rumah sakit ini, mungkin saja mereka akan menertawakan kamu karena sudah dapat dipastikan mereka memiliki pengetahuan yang lebih dibandingkan kamu, pengetahuan kamu akan sangat mudah dilomba oleh mereka," ucap Rania mampu membuat Zivanna terhenti.
"Sayang sekali saya menjadi Dokter tidak ada niat untuk mencari persaingan dan apalagi mencari siapa pemenangnya dan siapa yang kalah, saya menjadi Dokter hanya ingin membantu orang lain, karena dokter adalah pekerjaan yang mulia," jawab Zivanna melanjutkan langkahnya membuat Rania semakin kesal dengan tangan terkepal.
Bersambung....