NovelToon NovelToon
SATU -SATUNYA BUANGA DI TENGAH HUTAN.

SATU -SATUNYA BUANGA DI TENGAH HUTAN.

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Karir / Persahabatan
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: Komiatun Atun

hidup ini seringkali begitu kejam dan Mestrius. ada yang lah dalam kemewahan, ada yang tumbuh dalam hangatan kasih sayang. namun, takdir berkata lain bagiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komiatun Atun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN" BAB 8: AIR MATA TOBAT DAN JANJI SEHID

 

"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN"

BAB 8: AIR MATA TOBAT DAN JANJI SEHIDUP SEMATI

Hati mereka hancur berkeping-keping. Rasa sesal itu begitu besar, menyesakkan dada hingga tak bisa diucapkan dengan kata-kata. Bang Hamza, Bang Arefin, dan Bang Ardiansyah kini sadar, dua tahun lamanya... selamanya dua tahun itu mereka memperlakukan Ria dengan dingin. Mereka mengucilkan adik kandung sendiri.

Malam itu, saat mereka sedang bersujud di atas sajadah yang tipis, air mata mereka tak henti menetes basahi lantai.

"Ya Allah... ampunilah hamba..." isak Bang Hamza dengan tubuh bergetar. "Hamba durhaka pada adik sendiri. Hamza biarkan Komariah hidup sendiri. Di luar rumah dia jadi bahan olok-olok orang, tapi di dalam rumah pun dia dapat tatapan kebencian dari saudara-saudaranya sendiri. Ya Allah, sungguh kejam kami ya Allah..."

Bang Arefin pun menangis sejadi-jadinya. "Kenapa kami bisa sejahat itu? Kami benci dia tanpa alasan yang jelas. Kami buat dia merasa tidak berharga, merasa tidak diinginkan di rumah sendiri. Dua tahun... dua tahun adik kami sakit hati, merasa dibenci keluarganya sendiri. Maafkan kami ya Allah... maafkan kami, Dik Komariah..."

Mereka menyesal, sangat menyesal. Semua kebencian itu muncul karena kekecawaan mereka pada ayah yang pergi meninggalkan keluarga. Mereka salah paham, dan mereka menyalahkan keadaan, padahal Ria yang tak bersalah. Tak hanya ketiga kakaknya, Dimas, Bagas, dan Fajar pun ikut menangis sedih dan menyesal. Mereka masih kecil, tapi mereka mengerti bahwa mereka juga ikut menyakiti hati kakak Ria.

"Kami minta maaf, Kak..." ucap adik Dimas dengan suara terbata sambil menangis. "Dulu Abang Hamza sama Abang Arefin suruh kami benci sama Kakak. Kami ikut-ikutan saja, padahal Kakak tidak pernah jahat apa-apa, adik selalu menyakiti hatimu. Kami lihat Kakak kurus kering, sedih terus, tapi kami diam saja... maafkan kami ya Kak."

"Maafkan Abang juga ya Dimas, Bagas, Fajar..." kata Bang Arefin lembut namun penuh penyesalan. "Abang yang salah. Abang yang ajarkan kalian benci Kakak Ria. Nu semua salah Abang, ayah yang jahat meninggalkan kita, tapi jangan salahkan Kakak Ria."

Mereka semua berkumpul di tengah ruangan yang remang-remang itu. Ria berdiri di sana, menatap satu per satu wajah saudara-saudaranya yang basah oleh air mata.

Bang Hamza melangkah maju, memegang kedua bahu Ria dengan lembut, matanya menatap dalam ke manik adiknya.

"Dik... Komariah... maafkan kami semua ya..." suara Bang Hamza parau. "Maafkan dia tahun ini kami buat hidupmu menderita. Kami janji, mulai detik ini, semuanya akan berubah."

Bang Arefin dan Bang Ardiansyah pun ikut memeluk Ria dari samping kanan dan kiri.

"Kamu itu satu-satunya bunga di tengah hutan keras ini, Ria..." kata Bang Ardiansyah. "Kami para laki-laki ini adalah diri dan akar yang akan melindungimu. Kamu putri satu-satunya, kamu permata kami."

"Kalau ada siapa saja yang berani mengolok-olok, menghina, atau menyakitimu di luar sana..." Bang Arefin berjanji dengan tegas, matanya menyala penuh rasa ingin melindungi. "Biarkan Abang yang akan lindungi kamu dengan nyawa Abang. Sekalipun tidak akan ada yang berani menyakiti bunga kecil kami lagi."

Mendengar semua itu, air mata Ria jatuh lagi, tapi kali ini adalah air mata kebahagiaan yang luar biasa. Rasa sakit selama dua tahun itu seakan terobati seketika oleh kasih sayang yang meluap-luap saat ini.

Ria mengangkat wajahnya ke langit-langit rumah, berbisik dalam hati penuh syukur.

"Terima kasih ya Allah... Engkau kabulkan doa hamba selama ini... terima kasih karena sudah memeluk hamba lewat tangan-tangan mereka. Terima kasih karena hamba tidak sendirian lagi."

"Terima kasih... terima kasih semuanya..." isak Ria di tengah pelukan enam orang yang kini sangat menyayanginya.

Malam itu, ikatan keluarga mereka menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Penyesalan telah berubah menjadi janji setia sehidup semati. Ria bukan lagi anak yang terbuang, melainkan ratu yang dipeluk erat oleh enam ksatria pelindungnya.

 

1
KOMIATUN
"alhamdulillah,.... terimakasih banyak ya kak atas dukungan nya senang banget deh ada yang mampir dan kasih saya semangat, rasanya capek pulang kerja jadi hilang seketika lho, nanti kalau ada waktu luang pasti saya kunjungi profil nya kakak ya. sihat selalu dan sukses terus buat kakak. 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!