NovelToon NovelToon
Samsara Sembilan Naga

Samsara Sembilan Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Lin Chen dulunya adalah jenius nomor satu di Kota Awan Merah. Namun, pada usia 12 tahun, Meridiannya dihancurkan oleh musuh misterius, membuatnya menjadi "Sampah" yang tidak bisa mengumpulkan Qi. Dihina oleh klannya dan tunangannya dibatalkan, Lin Chen jatuh ke titik terendah. Suatu malam, darahnya secara tidak sengaja membangunkan sebuah relik kuno peninggalan ibunya: Sisik Naga Primordial. Relik ini tidak hanya memulihkan meridiannya, tetapi juga memberinya Teknik Kultivasi terlarang: Seni Pemakan Surga Sembilan Naga. Dimulailah perjalanan Lin Chen dari kota kecil yang terpencil menuju puncak semesta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Enam Bulan Penempaan dan Tamu Tak Diundang

​Waktu di dunia kultivasi mengalir bagaikan pasir yang lolos dari sela-sela jari. Tidak terasa, enam bulan telah berlalu sejak Lin Chen menginjakkan kakinya di Puncak Pedang Patah.

​Selama setengah tahun itu, musim berganti. Salju tebal sempat menutupi pegunungan Sekte Pedang Awan Surgawi, lalu mencair digantikan oleh bunga musim semi. Namun, di Puncak Pedang Patah, tidak ada yang berubah. Tempat itu tetap tandus, disapu oleh badai angin yang mengandung Niat Pedang purba yang tak pernah berhenti melolong siang dan malam.

​Di depan tugu batu yang terbelah, duduk sesosok manusia yang tampak seolah telah menyatu dengan alam.

​Pakaian abu-abunya telah lama hancur menjadi kain perca yang tertiup angin. Rambut gondrongnya dibiarkan tergerai liar, tertutup lapisan tipis debu dan embun beku. Jika bukan karena dadanya yang naik turun dengan ritme yang sangat lambat—satu tarikan napas setiap setengah jam—orang akan mengira ia hanyalah sebuah patung batu mati.

​Sret! Sret!

​Angin pedang yang mematikan terus menerjang tubuhnya tanpa henti. Namun, keajaiban terjadi. Angin tajam yang dulu mampu menggores kulit Lin Chen, kini sekadar bergesekan dengan kulitnya, menghasilkan suara dentingan logam tumpul dan percikan api kecil sebelum akhirnya hancur berkeping-keping.

​Kulit Lin Chen kini memancarkan kilau perunggu yang dalam, dihiasi oleh urat-urat samar berwarna emas.

​Di dalam Dantiannya, perubahan yang terjadi jauh lebih mengguncang dunia.

​Gas Qi Emas yang dulu memenuhi pusaran Taiji kini telah sepenuhnya lenyap. Sebagai gantinya, di dasar Dantian itu, menggenang sebuah kolam kecil yang berisi seratus tetes cairan kental berwarna emas murni. Qi Cair Emas.

​"Seratus tetes Qi Cair Emas..." gumam Mo Xuan di dalam lautan kesadaran, nadanya dipenuhi rasa takjub yang tak disembunyikan. "Bocah, kau belum menginjak Ranah Inti Emas, tapi jumlah energi cair di dalam tubuhmu saat ini bahkan lebih banyak dari kultivator Inti Emas Tahap Awal! Ketahanan fisikmu... kau praktis telah mengubah tubuhmu menjadi senjata spiritual tingkat Bumi!"

​Kelopak mata Lin Chen sedikit bergetar. Perlahan, ia membuka matanya.

​Tidak ada kilatan cahaya yang membutakan atau ledakan aura yang merusak. Matanya hanya segelap malam purba, sangat tenang, namun di kedalaman pupilnya, berputar ilusi bayangan pedang yang tak terhitung jumlahnya.

​Selama enam bulan ini, ia membiarkan angin pedang menyiksanya siang dan malam bukan sekadar untuk melatih fisik, melainkan untuk menyerap Niat Pedang dari tugu batu tersebut. Niat Pedang Gila itu ia gabungkan dengan insting membunuhnya yang buas dari Seni Pemakan Surga Sembilan Naga dan teknik Langkah Bayangan Iblis, melahirkan sesuatu yang sepenuhnya miliknya sendiri.

​Niat Pembantaian Bayangan.

​"Enam bulan..." Lin Chen bergumam. Suaranya sedikit serak karena lama tidak digunakan. Ia menghembuskan udara keruh dari mulutnya, yang melesat keluar seperti jarum kasat mata, menembus batu karang sejauh sepuluh meter.

​Kultivasinya masih tertahan di Ranah Pengumpulan Qi Bintang 8 Tahap Puncak. Namun, jika Gu Tianying bangkit kembali dan berhadapan dengannya sekarang, Lin Chen tidak perlu menggunakan teknik apa pun. Cukup dengan satu embusan napas yang dilapisi Niat Pembantaian, ia bisa menghancurkan jantung pemuda perak itu.

​BOOOOOM!

​Tiba-tiba, Puncak Pedang Patah berguncang hebat. Formasi pelindung cahaya yang melingkupi puncak tersebut berkedip-kedip redup, seolah baru saja dihantam oleh palu raksasa dari luar.

​Lin Chen mengangkat alisnya. Di Pelataran Dalam, menyerang formasi puncak murid lain adalah tindakan provokasi yang sangat serius, setara dengan deklarasi perang.

​"Sepertinya masa tenagmu sudah habis, bocah," kekeh Mo Xuan.

​Lin Chen berdiri perlahan. Tulang-tulangnya berbunyi krak-krak renyah bagai letupan kacang yang dipanggang. Ia mengeluarkan satu set jubah hitam bersih dari cincin penyimpanannya dan mengenakannya.

​"Mari kita lihat anjing siapa yang lepas dari rantainya."

​Di luar formasi pelindung, tepat di ujung jembatan pelangi, berkumpul lima orang pemuda berseragam Murid Dalam. Di dada mereka, tersemat lambang naga emas yang melingkari pedang—lambang Faksi Naga Sejati, faksi terkuat di Pelataran Dalam yang dipimpin oleh Chu Kuangren.

​Pemimpin kelompok itu adalah seorang pemuda bertubuh kekar dengan rambut merah menyala. Namanya Lei Dong, peringkat ke-45 di Peringkat Surgawi. Kultivasinya telah mencapai Setengah Langkah Inti Emas, dengan pondasi yang jauh lebih padat dari Gu Tianying.

​Di tangan Lei Dong, terdapat sebuah palu godam besar yang memancarkan kilatan petir. Baru saja ia menggunakan palu itu untuk menghantam formasi pelindung Puncak Pedang Patah.

​"Kakak Senior Lei, apakah Lin Chen benar-benar ada di dalam? Tempat ini sudah seperti kuburan selama setengah tahun. Jangan-jangan dia sudah mati terpotong angin pedang," ujar salah satu pengikutnya sambil tertawa sinis.

​Lei Dong mendengus sombong. "Mati atau hidup, puncak ini sekarang dibutuhkan oleh Asosiasi Naga Sejati. Angin pedang di dalam sana sangat cocok untuk menguji boneka tempur baru milik Kakak Senior Chu. Selain itu..."

​Lei Dong menyipitkan matanya. "...Kakak Senior Chu juga secara khusus menyebutkan nama bocah ini. Anak bau kencur yang berani menyinggung calon istri Kakak Senior Chu harus disingkirkan sebelum ia mengotori pemandangan di Turnamen Sekte bulan depan."

​WUSSH.

​Tepat saat Lei Dong mengangkat palunya untuk melancarkan hantaman kedua, tirai formasi cahaya di depannya tiba-tiba terbelah menjadi dua.

​Kelima murid Faksi Naga Sejati tersentak mundur dan bersiaga.

​Dari balik kabut formasi, sosok Lin Chen berjalan keluar dengan tangan disilangkan di belakang punggung. Jubah hitamnya menari-nari tertiup angin gunung. Wajahnya begitu tenang, tanpa emosi, layaknya air danau beku. Tidak ada fluktuasi Qi yang memancar darinya. Ia tampak sepenuhnya seperti orang biasa.

​"Merusak pintu orang lain tampaknya menjadi hobi yang cukup populer di sekte ini," suara Lin Chen mengalir datar, namun anehnya, suara itu terdengar jelas di telinga Lei Dong meskipun teredam deru angin.

​"Kau Lin Chen?" Lei Dong membusungkan dada, memancarkan aura Setengah Langkah Inti Emasnya untuk menekan pemuda di depannya. "Bagus kalau kau masih hidup. Dengar baik-baik! Mulai hari ini, Puncak Pedang Patah diambil alih oleh Faksi Naga Sejati. Kemasi barang-barangmu dan enyahlah dari sini. Jika kau berlutut dan bersujud tiga kali padaku, aku mungkin berbaik hati merujukmu ke puncak sampah di lembah utara."

​Lin Chen bahkan tidak berkedip menghadapi tekanan Qi Lei Dong. Matanya beralih menatap palu godam di tangan Lei Dong, lalu beralih ke wajah keempat pengikutnya.

​"Faksi Naga Sejati... Chu Kuangren," Lin Chen bergumam ringan. "Aku sudah berdiam diri selama enam bulan untuk menghindari hama. Sayangnya, hama selalu punya cara untuk mencari bau darah."

​"Beraninya kau menyebut kami hama! Kakak Senior Lei, biarkan aku memotong lidahnya!" teriak salah satu pengikut yang berada di Ranah Bintang 9. Ia menghunus pedangnya dan menerjang maju ke arah Lin Chen dengan kecepatan tinggi.

​Ujung pedang murid itu menyala dengan cahaya Qi yang ganas, mengincar langsung tenggorokan Lin Chen.

​Namun, Lin Chen tidak bergerak. Ia tidak mengambil kuda-kuda, tidak mencabut senjata, bahkan tidak mengangkat tangannya. Ia hanya menatap murid yang sedang menerjang itu.

​Satu tatapan.

​JLEB.

​Murid yang sedang melayang di udara itu tiba-tiba membeku. Mata murid itu membelalak ngeri, menatap ke arah dadanya sendiri. Entah bagaimana, tanpa ada sentuhan fisik atau kilatan energi yang kasat mata, udara di sekitar Lin Chen seolah memadat menjadi pedang tak terlihat.

​Pedang angin kasat mata itu menembus lurus jantung murid tersebut, merobek organ vitalnya, lalu meledak keluar dari punggungnya membawa semburan darah segar.

​Bruk.

​Murid Bintang 9 itu jatuh menghantam jembatan pelangi, mati seketika sebelum pedangnya sempat menyentuh jarak satu meter dari Lin Chen.

​Keheningan mutlak mencekik ujung jembatan. Tiga pengikut lainnya mundur dengan langkah gemetar, wajah mereka pucat pasi seputih kertas.

​"N-Niat Pedang?! Kau menguasai Niat Pedang tanpa wujud?!" Suara Lei Dong bergetar, arogansinya menguap tak bersisa.

​Memadatkan Qi menjadi senjata adalah hal biasa di Pengumpulan Qi. Tapi memanipulasi hukum alam hanya dengan tatapan mata dan kehendak membunuh untuk bermanifestasi menjadi tebasan pedang... itu adalah domain eksklusif bagi para master di Ranah Inti Emas Tahap Akhir atau bahkan lebih tinggi!

​"Kau menyuruhku bersujud dan mengosongkan puncak ini?" Lin Chen mulai melangkah pelan mendekati Lei Dong. Setiap langkah kakinya membuat jembatan cahaya pelangi itu bergetar hebat, seolah tak sanggup menahan beban dari satu tetes Qi Cair Emas yang Lin Chen putar di Dantiannya.

​"Jangan sombong! Ini adalah wilayah Pelataran Dalam! Kakak Senior Chu Kuangren tidak akan melepaskanmu jika kau berani menyentuhku!" Lei Dong meraung panik, mengangkat palu godamnya tinggi-tinggi. Petir menyambar-nyambar dari palunya. Ia mengerahkan seluruh sisa umur dan Qi-nya dalam satu serangan putus asa.

​Palu Guntur Pemecah Bumi!

​Palu raksasa itu menghantam ke arah kepala Lin Chen, membawa kekuatan yang mampu meratakan sebuah bukit.

​Lin Chen tidak repot-repot menggunakan Langkah Bayangan Iblis. Ia hanya mengangkat tangan kanannya dengan santai, jari telunjuk dan jari tengahnya menyatu.

​Ia menjentikkan jarinya tepat ke arah palu godam yang turun itu.

​Satu jentikan yang dilapisi oleh setetes Qi Cair Emas.

​BOOOOOOOOOOM!

​Suara ledakan yang dihasilkan tidak seperti logam berbenturan, melainkan seperti langit yang runtuh. Palu godam tingkat Bumi yang terbuat dari besi meteor itu hancur berkeping-keping menjadi serbuk perak dalam sekejap mata.

​Gelombang kejut dari jentikan jari Lin Chen tidak berhenti di situ. Energi emas murni itu terus melaju, menghantam lengan Lei Dong.

​"AAAAAAARRGH!"

​Lengan kanan Lei Dong hancur lebur menjadi kabut darah hingga ke pangkal bahu. Tubuh kekarnya terhempas ke belakang seperti dedaunan kering yang disapu badai topan, menabrak ketiga pengikutnya hingga mereka semua terpental puluhan meter dan memuntahkan darah hitam.

​Lei Dong tergeletak di atas jembatan pelangi, kejang-kejang kesakitan sambil memegangi sisa bahunya yang putus. Matanya menatap Lin Chen seolah menatap inkarnasi dari iblis neraka terdalam.

​Monster apa ini?! Gu Tianying di masa puncaknya pun tidak memiliki seperseratus dari kekuatan destruktif yang mengerikan ini! Dan anak ini hanya menggunakan satu jentikan jari!

​Lin Chen berjalan perlahan melewati genangan darah, berhenti tepat di samping tubuh Lei Dong yang menggigil.

​"Bawa mayat anjingmu ini dan kembali ke majikanmu," perintah Lin Chen dengan nada yang sangat, sangat tenang. "Beritahu Chu Kuangren. Jika dia sangat menginginkan Puncak Pedang Patah ini... suruh dia sendiri yang datang untuk berlutut di depanku."

​Lei Dong bahkan tidak berani mengucapkan satu kata ancaman pun. Ia dan ketiga pengikutnya yang terluka parah segera menyeret tubuh rekan mereka yang tewas, merangkak menjauh dengan kecepatan penuh, tak peduli lagi pada harga diri Faksi Naga Sejati.

​Lin Chen berdiri di ujung jembatan, menatap awan tebal yang menyelimuti puncak-puncak sekte. Enam bulan masa tenang telah resmi berakhir. Darah telah tertumpah.

​"Turnamen Sekte Dalam," gumam Lin Chen, mengingat kata-kata Lei Dong. Sudut bibirnya perlahan melengkung ke atas. "Sudah waktunya membersihkan langit sekte ini dari naga-naga palsu."

1
yos helmi
biasanya cerita ng pernah selesai.. putus di tengah jln.. 🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣👍
yos helmi
🤣🤣👍🤣🤣🤣👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🙏🤣👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄👍👍👍👍😄👍😄
yos helmi
💪💪💪💪💪💪🙏🙏🙏🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍🤣🤣🤣🤣🤣💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍l👍l👍l👍l👍l👍l💪💪💪ĺ
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍💪1
yos helmi
👍👍👍👍👍🙏🙏🙏🙏🙏💪💪💪💪
Fiktor
mantap alur cerita nya ngak bertele2👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪
yos helmi
😄😄😄😄🙏🙏🙏👍👍👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!