NovelToon NovelToon
Duda Pemuas Hasrat

Duda Pemuas Hasrat

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Duda / Playboy / Cerai
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Pena Lullaby

Arlan Pramudya adalah seorang arsitek sukses yang hidupnya terukur seperti penggaris siku. Baginya, ketidakteraturan adalah musuh. Sejak kehilangan istrinya tiga tahun lalu, Arlan mengunci diri dalam rutinitas kerja yang kaku dan peran sebagai ayah tunggal yang terlalu protektif bagi putrinya, Mika (6 tahun). Rumah mereka megah, namun terasa dingin dan sunyi—sebuah monumen kesedihan yang tak kunjung usai.

Masalah muncul ketika Mika, yang mewarisi sifat keras kepala ayahnya, menolak semua guru privat yang didatangkan Arlan. Hingga akhirnya, muncul Ghea Anindita, mahasiswi pendidikan yang datang dengan tawa renyah, sepatu kets kotor, dan metode belajar yang jauh dari kata "formal".

Awalnya, Arlan skeptis. Ghea terlalu berisik dan sering melanggar batas-batas "profesional" yang ia tetapkan. Namun, Ghea adalah satu-satunya orang yang berhasil meruntuhkan tembok pertahanan Mika. Perlahan, kehadiran Ghea tidak hanya mengisi kekosongan di meja belajar Mika

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Lullaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Membuka Kartu Dimeja

Sinar matahari sore menembus jendela besar di ruang kerja Arlan, menciptakan bayangan panjang di atas meja kayu jati yang dipenuhi tumpukan dokumen. Arlan tampak tegang; dasinya sudah dilonggarkan, dan jemarinya memijat pelipis dengan ritme yang menunjukkan kelelahan yang sangat besar.

Ketukan lembut di pintu memecah kesunyian. Sebelum Arlan sempat merespons, Ghea melangkah masuk dengan langkah yang tenang namun pasti. Di tangannya, ia membawa sebuah map berwarna biru—bukan sekadar berisi dokumen konsultasi biasa, melainkan hasil penyelidikannya semalam.

Arlan menatap, matanya yang awalnya tampak suram seketika terlihat sedikit bersinar saat melihat Ghea. "Ghea. . . aku baru mau menghubungimu. Situasi dengan Shinta semakin—"

"Aku sudah tahu, Mas," potong Ghea lembut. Ia meletakkan map tersebut di atas meja Arlan, di atas dokumen Golden Synergy. "Dia menghubungiku tadi pagi. Dia menawarkan 'jalan keluar' yang berbahaya. "

Arlan terkejut, rahangnya mengencang. "Dia berani mengganggumu secara pribadi? "

"Dia berusaha, tetapi dia gagal," jawab Ghea. Ia duduk di kursi di depan meja Arlan, menatap pria itu dengan tatapan yang tajam namun menenangkan. "Mas, kita tidak punya banyak waktu. Shinta mengancam akan memunculkan isu pencucian uang dalam proyek ini. Dan aku sudah menemukan celahnya. "

Ghea membuka map biru itu dan menyodorkan sebuah lembar analisis arus kas. Jari telunjuknya menunjuk ke satu nama perusahaan. PT. Global Inti Material.

Perusahaan ini muncul di tahap awal melalui memo internal yang ditandatangani Shinta dua minggu sebelum perceraian kalian diumumkan. Aliran dananya mencurigakan—harga material yang mereka tawarkan 40% lebih tinggi dari harga pasar, dan sisa kelebihannya mengalir ke rekening di luar negeri.

Shinta sedang berusaha melakukan sabotase pada dirinya sendiri. Ia sengaja menyisipkan 'uang haram' melalui vendor ini agar saat proyek ini berhasil, dia bisa memainkan taktiknya dan menghancurkanmu serta seluruh reputasi Golden Synergy.

Arlan terdiam, matanya menyusuri angka-angka yang ditunjukkan Ghea. Penyesalan terpancar jelas di wajahnya karena telah membiarkan Shinta mengurus aspek tersebut di masa lalu. "Aku terlalu mempercayainya saat itu. . . aku berpikir dia melakukannya demi masa depan Mika. "

Ghea berdiri dari kursinya, mengelilingi meja, dan meletakkan tangannya di bahu Arlan. Sentuhan ini memberi semangat instan bagi pria yang sedang tertekan itu.

"Jangan salahkan dirimu. Itu yang dia inginkan," bisik Ghea. "Sekarang, kita memiliki pilihan. Kita bisa memutuskan kontrak mereka secara sepihak sekarang dengan alasan pelanggaran etika, atau kita gunakan data ini untuk melapor ke pusat laporan transaksi keuangan sebelum dia bergerak. "

Arlan menggenggam tangan Ghea yang bertengger di bahunya, menarik napas dalam-dalam. "Kau benar-benar menyelamatkanku lagi, Ghea. Ini bukan hanya tentang proyek ini, tetapi juga harga diriku. "

Di ruang kerja yang kini terasa lebih bersahabat, keduanya mulai menyusun draf laporan. Ghea bukan lagi sekadar konsultan, tetapi juga menjadi mitra strategis yang paling dipercaya Arlan.

"Kita lakukan ini demi Mika," ucap Arlan dengan tegas.

Ghea mengangguk. "Dan demi masa depan yang tidak dapat dia beli dengan uangnya. "

Ghea sangat memahami bahwa menghadapi Shinta dengan satu rencana saja adalah strategi yang berbahaya. Di ruang kerja Arlan yang mulai redup, sementara Arlan fokus pada masalah hukum, Ghea melangkah menuju pantry—lokasi yang ia yakini sering dikunjungi oleh orang-orang yang memiliki informasi penting namun seringkali terabaikan.

Tujuannya adalah Reno, asisten pribadi Shinta yang masih dipertahankan di kantor karena kemampuannya yang luar biasa, meskipun posisi Shinta kini sudah tidak ada. Ghea menyadari bahwa Reno merupakan tipe profesional yang setia pada prinsip, bukan pada orang tertentu, dan dia merasa Reno tertekan secara moral.

Ghea melakukan pendekatan dengan sangat hati-hati. Dia tidak mencoba memojokkan Reno, tetapi membahas masa depan perusahaan dan profesionalisme.

"Reno," sapa Ghea lembut saat pria muda itu sedang bersiap membuat kopi. "Aku tahu bahwa kau sedang menghadapi situasi sulit. Kesetiaanmu pada atasan yang lama adalah hal terpuji, tapi membiarkan kehancuran terjadi di depanmu adalah hal yang berbeda. "

Ghea tidak memberikan ancaman. Ia malah menawarkan perlindungan. Dia meyakinkan Reno bahwa jika masalah hukum muncul akibat tindakan Shinta, Reno juga akan terlibat karena semua dokumen lewat tangan Reno. Ghea berjanji akan memberikan posisi yang aman dan rekomendasi karier di bawah kepemimpinan Arlan jika Reno bersedia menjadi "informan" internal.

Setelah terlihat berkecamuk di dalam batinnya, Reno akhirnya menyerahkan sebuah kunci akses digital kecil kepada Ghea. "Dia ada pertemuan rahasia besok malam di sebuah klub privat di Jakarta Pusat. Dia akan bertemu dengan perwakilan vendor itu. "

Dengan informasi dari Reno, Ghea mulai menyusun rencana cadangan jika jalur hukum resmi (Rencana A) berlangsung terlalu lambat.

Ghea berniat untuk merekam pertemuan Shinta dengan vendor tersebut. Jika ia bisa mendapatkan bukti suara atau video bahwa Shinta secara sengaja menerima kickback dari dana pencucian uang, maka Shinta tidak akan bisa mengancam lagi.

Ghea menyusun draf siaran pers dengan sangat hati-hati. Jika Shinta mulai menyerang melalui media, Ghea akan segera mengubah narasi bahwa Shinta adalah subjek penyelidikan internal perusahaan atas dugaan penggelapan.

Sembari menjalankan rencana ini, Ghea secara diam-diam berkoordinasi dengan penyedia layanan keamanan profesional untuk memantau sekolah Mika tanpa sepengetahuan Arlan, agar Arlan tetap fokus pada urusan bisnis.

Ghea kembali ke mejanya dan mulai mencocokkan data digital yang diberikan oleh Reno. Dia menemukan bahwa Shinta memiliki akun rahasia yang digunakan untuk menampung aliran dana kecil tetapi rutin. Ghea tidak melaporkan hal itu segera; ia menyimpan informasi tersebut sebagai "senjata terakhir" jika Shinta berani menyentuh Mika.

Malam harinya, Ghea berdiri di balkon kantor, memandang lampu-lampu Jakarta yang berkilauan. Di sampingnya, Arlan muncul membawa dua cangkir kopi.

"Kau terlihat sangat serius, Ghea," kata Arlan dengan lembut.

Ghea menyesap kopinya, matanya tetap fokus ke depan. "Dunia bisnis ini lebih gelap dari yang aku bayangkan, Mas. Tapi tak perlu khawatir. Jika Shinta ingin bermain api, aku sudah siap dengan alat pemadamnya. . . atau mungkin, aku akan membiarkannya terbakar oleh apinya sendiri. "

Arlan melihat Ghea dengan perasaan takjub yang semakin mendalam. Ia menyadari bahwa perempuan di sampingnya ini bukan hanya memiliki kehangatan hati, tetapi juga seorang strategist dengan kecerdasan yang tajam seperti pisau cukur.

“Apapun yang kamu lakukan, pastikan kamu tetap bersamaku pada akhir nanti,” bisik Arlan.

Ghea hanya tersenyum dengan penuh misteri. “Aku tidak akan pergi ke mana-mana, Mas Arlan. Pertunjukan ini baru mulai. ”

Ketegangan muncul di dalam mobil Arlan yang sedang melaju menuju lokasi rapat bisnis ketika ponsel Ghea bergetar. Sebuah pesan notifikasi muncul—singkat, dingin, dengan nada final. Shinta tampaknya menyadari bahwa Ghea sedang mempersempit ruang geraknya, dan ini adalah usaha terakhirnya untuk bernegosiasi sebelum perang benar-benar dimulai.

Berikut adalah isi pesan dari Shinta:

“Ghea, aku tidak suka mengulang ucapan, tetapi aku akan memberi kamu satu kesempatan terakhir sebelum semuanya menjadi kacau. Aku tahu kamu sedang mencari informasi tentang vendor-vendor lamaku dan mendekati asisten pribadiku. Gerakanmu sangat terlihat.

Berhentilah berpura-pura jadi pahlawan. Arlan tidak akan bisa melindungimu ketika skandal pencucian uang ini meledak di media. Namamu akan ternoda sebagai konsultan yang dianggap terlibat dalam menyembunyikan informasi.

Tawaran aku tidak berubah, Tinggalkan Arlan dan pergi dari Golden Synergy malam ini juga tanpa memberi tahu siapa pun. Sebagai imbalannya, aku akan menghapus semua bukti keterlibatan 'perusahaan material' itu dari catatan yang bisa menyeret nama Arlan. Proyek tersebut akan selamat, Arlan akan aman, dan kamu akan pergi dengan jumlah uang yang besar. Jika kamu setuju, aku akan memastikan Mika tetap di bawah pengawasan Arlan tanpa campur tangan gugatan hak asuh dariku.

Pertimbangkan dengan baik. Jangan biarkan idealisme bodohmu menghancurkan kehidupan pria yang kau cintai dan masa depan anaknya. Kamu punya waktu hingga pukul 10 malam ini. Jika tidak ada respon, aku akan menganggap kamu memilih jalan untuk hancur.

Jangan balas pesan ini. Pergilah, atau siapkan dirimu untuk konsekuensinya. ”

Ghea memandang layar ponselnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Di sampingnya, Arlan yang sedang mengemudi mencuri pandang sekilas.

“Pesan dari siapa? ” tanya Arlan lembut, menyadari perubahan di wajah Ghea.

Ghea mematikan layar ponselnya, menggenggamnya erat, lalu menatap Arlan dengan senyuman tenang namun penuh tekad yang sangat tajam.

“Hanya pengingat dari masa lalu, Mas,” jawab Ghea pelan. “Tapi jangan khawatir. Masa lalu tidak akan pernah bisa mengalahkan masa depan yang sudah kita rencanakan. ”

Di dalam hatinya, Ghea sudah membuat keputusan. Tawaran Shinta bukan lagi sekadar pilihan, melainkan bukti bahwa Shinta sedang terjepit dan ketakutan. Ghea tidak akan meninggalkan tempatnya, justru ia akan melangkah lebih dalam ke dalam pertahanan Shinta.

Ia tidak menghapus pesan tersebut, malah meneruskannya ke kontak rahasia yang terkoneksi dengan tim hukum independen.

Ia mengirimkan kode singkat kepada Reno, asisten pribadi Shinta. “Laksanakan rencana B sekarang. ”

Langkah terakhir Shinta justru menjadi kesempatan bagi Ghea untuk menyelesaikan segalanya.

1
Nia Yusniah
semangat thor,ceita bagus thor,menarik untuk dibaca
Heriyansah: Terimakasih kak
total 1 replies
Rehan Kokoploy
lanjutkan LG tanggung 🙏
Heriyansah: Siap kak, ditunggu ya, terimakasih sudah mau membaca cerita sy 🙏
total 1 replies
Rehan Kokoploy
saya ke lanjutannya cerita ini
Heriyansah: Terimakasih kak
total 1 replies
Rehan Kokoploy
lanjutkan ceritanya seru ya
Heriyansah: Terimakasih kak, bab selanjutnya sedang di riview semoga segera rilis
total 1 replies
Soleh Mekanik
/Smile/
Heriyansah: Masih lanjut kok kak ceritanya, di tunggu ya. Semoga ga kecewa 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!