NovelToon NovelToon
MILIARDER JALUR DEWA BALAS DENDAM SANG PEWARIS NAGA

MILIARDER JALUR DEWA BALAS DENDAM SANG PEWARIS NAGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Selama tiga tahun menjadi menantu yang numpang hidup, Arya Permana dianggap tak lebih dari sampah. Ia dihina oleh ibu mertuanya, dipandang rendah oleh saingan bisnis istrinya, dan menjadi bahan tertawaan seisi kota Metropolitan. Arya diam dan menanggung semua penghinaan itu demi melindungi wanita yang dicintainya.
​Namun, kesabarannya memiliki batas. Ketika keluarganya didorong ke ambang kehancuran, setetes darah Arya tanpa sengaja jatuh ke atas cincin usang warisan mendiang ibunya.
​Ding! [Sistem Naga Leluhur Berhasil Diaktifkan!]
​Dalam semalam, takdirnya berbalik 180 derajat. Tabir masa lalunya terbongkar; Arya ternyata bukan anak yatim piatu miskin, melainkan pewaris tunggal dari keluarga konglomerat paling berkuasa di dunia yang sedang disembunyikan.
​Berbekal kartu hitam dengan saldo triliunan dolar, keterampilan medis tingkat dewa yang bisa menghidupkan orang mati, dan teknik kultivasi kuno pembelah langit, Arya mulai menunjukkan taring aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Hukum Rimba Kunlun dan Padamnya Api Biru

​Udara di dimensi Kunlun terasa sangat kental, seolah mereka sedang bernapas di dalam lautan merkuri. Gravitasi tiga kali lipat bumi normal membuat setiap gerakan tubuh manusia biasa membutuhkan tenaga yang luar biasa besar.

​Raksasa setinggi tiga meter berbalut zirah tulang itu tertawa menggelegar. Tawanya menggetarkan daun-daun perak di hutan sekitarnya. Di tangannya, tombak yang seluruhnya terbuat dari nyala api biru berderak liar, memancarkan suhu panas yang bisa melelehkan baja seketika.

​"Menarik!" seru raksasa penjaga dari Sekte Api Suci itu. Di balik topeng besinya, matanya berkilat penuh kekejaman. "Biasanya, manusia fana yang tidak sengaja tersedot ke retakan spasial akan langsung mati terhimpit gravitasi atau meledak karena tidak mampu menampung kepadatan Qi di sini. Tapi kau... kau bisa berdiri tegak. Tubuhmu pasti telah melalui penyucian tingkat tinggi. Darahmu akan menjadi material alkimia yang sempurna!"

​Elena, yang masih berlutut sambil menahan beban gravitasi, memaksakan diri mendongak. "Tuan... hati-hati. Api biru itu bukan api biasa. Itu adalah Qi Yang murni yang sangat destruktif!"

​Arya tetap berdiri santai dengan kedua tangan di saku jaketnya. Matanya yang tajam memindai struktur energi sang raksasa.

​[Ding! Mode Analisis Diaktifkan.]

[Target: Penjaga Perbatasan Sekte Api Suci.]

[Kultivasi: Ranah Pembentuk Fondasi (Tahap Akhir).]

[Anomali: Target memiliki ukuran fisik yang tidak normal akibat mutasi dari penyerapan paksa Qi elemen api, mengorbankan kelincahan demi kekuatan destruktif mentah.]

​"Mengorbankan mobilitas untuk serangan frontal," Arya menganalisis dengan nada datar, seolah sedang menilai barang rongsokan. "Taktik yang hanya berguna untuk menakuti serangga."

​Ucapan Arya yang tenang namun merendahkan itu langsung memicu amarah sang penjaga. Di Kunlun, manusia fana dari dimensi bumi dianggap sebagai kasta terendah, tak lebih dari ternak spiritual. Dihina oleh seekor 'ternak' adalah aib yang tak bisa dimaafkan.

​"Sombong! Terbakarlah menjadi abu!"

​Raksasa itu mengayunkan lengannya yang sebesar batang pohon. Tombak api biru itu melesat membelah udara dengan kecepatan supersonik, meninggalkan jejak hangus di udara kosong. Panasnya langsung membuat oksigen di sekitar Arya menguap.

​Namun, Arya tidak mundur. Ia bahkan tidak menggunakan Perisai Cermin Naga seperti saat melawan Sang Bayangan.

​Di bumi, Arya mungkin harus sedikit berhati-hati agar energi serangannya tidak menghancurkan struktur kota. Tapi di Kunlun, di mana alamnya jauh lebih kokoh, ia akhirnya bisa melepaskan rantai yang mengekang kekuatannya.

​Tepat ketika tombak api biru itu berjarak setengah meter dari wajahnya, Arya mengeluarkan tangan kanannya dari saku dan mendaratkan sebuah pukulan lurus ke depan. Tidak ada teknik yang rumit. Hanya pukulan fisik murni yang diinfus dengan Qi Ranah Pembentuk Fondasi miliknya yang sangat padat.

​BUMMMMM!

​Tinju Arya berbenturan langsung dengan ujung tombak api biru tersebut. Ledakan energi yang dihasilkan menyapu bebatuan vulkanik di tebing itu, menciptakan kawah sedalam dua meter.

​Namun, pemandangan berikutnya membuat raksasa Sekte Api Suci itu membeku.

​Tombak kebanggaannya tidak menembus tinju Arya. Sebaliknya, dari titik benturan itu, api biru tersebut hancur berkeping-keping, pecah menjadi percikan api kecil yang padam sebelum menyentuh tanah. Tinju Arya menembus pusaran api itu tanpa luka bakar sedikit pun; kulitnya memancarkan pendaran putih kebiruan yang kokoh tak tertembus.

​"M-Mustahil!" raksasa itu mundur selangkah, suaranya bergetar di balik topeng besi. "Api Suci milikku bisa membakar Dantian kultivator biasa! Kepadatan Qi macam apa yang kau miliki?!"

​"Kepadatan yang tidak bisa kau capai dengan bermalas-malasan menyerap energi kotor alam," jawab Arya dingin.

​Tanpa memberi musuhnya kesempatan untuk pulih dari syok, Arya melesat maju. Di bawah pengaruh gravitasi tiga kali lipat, kecepatan Arya seharusnya berkurang drastis. Namun, dengan Fisik Petarung yang telah direvolusi oleh Sistem, gravitasi ini terasa seperti beban latihan ringan.

​Hanya dalam sekejap mata, Arya meninggalkan bayangan sisa (afterimage) dan muncul tepat di bawah raksasa tersebut.

​"Mati!" Raksasa itu panik dan mencoba meninju Arya dengan kedua tangannya yang berlapis zirah tulang.

​Arya menghindar ke samping dengan gerakan rotasi yang sangat efisien, lalu jarinya yang telah dilapisi Qi murni meluncur ke atas, menusuk celah kecil di antara zirah tulang raksasa itu, tepat di bawah ketiaknya—titik meridian Jiquan.

​CRAT!

​"ARGHHHHH!"

​Raksasa itu melolong kesakitan. Serangan Arya bukan sekadar tusukan fisik, melainkan suntikan Qi pembalik yang langsung mengacaukan aliran energi elemen api di dalam tubuh musuhnya. Qi api biru milik raksasa itu kini memberontak, membakar meridiannya sendiri dari dalam.

​Pria raksasa itu jatuh berlutut hingga tanah bergetar hebat. Ia merobek topeng besinya karena kepanasan, memperlihatkan wajah yang melepuh merah dan urat-urat hitam yang menonjol mengerikan.

​Arya berdiri di hadapannya, menatap ke bawah dengan pandangan tanpa belas kasihan.

​"Sebagai penduduk lokal, informasimu lebih berharga daripada nyawamu," ucap Arya datar. "Kuil Kegelapan. Di mana letak markas utama mereka di ranah ini?"

​Mendengar nama 'Kuil Kegelapan', mata raksasa itu membelalak penuh teror, seolah nama itu lebih menakutkan daripada kematian yang sedang membakarnya dari dalam.

​"K-Kuil... Kegelapan? Kau mencari mereka?" Raksasa itu terbatuk darah yang mendidih. "Hahaha! Orang gila! Kau pikir kau kuat? Di hadapan Para Tetua Kuil Kegelapan, kau hanya debu! Mereka berada di Puncak Darah... di pusat domain terdalam! Kau tidak akan pernah bisa ke sa—"

​Arya tidak membiarkannya menyelesaikan kalimat klise itu. Ia mengangkat kakinya dan mendaratkan tendangan memutar tepat ke pelipis sang raksasa.

​KRAK! Tulang leher raksasa itu patah seketika. Tubuhnya yang besar ambruk ke tanah berbatu dengan suara berdebum keras, kehilangan nyawa sebelum tubuhnya sempat terbakar habis oleh energinya sendiri. Pembunuh yang efisien, tanpa keraguan.

​[Ding! Ancaman Diatasi.]

[Mendeteksi Objek Bernilai Tinggi pada mayat target.]

​Sesuai instruksi Sistem, Arya berjongkok dan menggeledah pinggang musuhnya. Ia menemukan sebuah kantong kecil berwarna abu-abu yang terbuat dari kulit binatang buas. Kantong itu memancarkan fluktuasi spasial. Kantong Penyimpanan Dimensi.

​Dengan menggunakan sedikit Qi murni miliknya, Arya menghancurkan segel spiritual lemah pada kantong itu dan membuka isinya. Di dalamnya terdapat puluhan batu berkilau seukuran ibu jari (Batu Spiritual Tingkat Bawah) dan sebuah gulungan perkamen yang terbuat dari daun emas.

​Arya membuka gulungan itu. Itu adalah peta wilayah batas luar Kunlun. Ia dengan cepat menyimpan peta ke dalam ingatannya menggunakan fungsi analisis Sistem.

​Ia kemudian berbalik dan berjalan menghampiri Elena yang masih terduduk di tanah. Bibir wanita itu membiru, dan napasnya sangat pendek. Berada lebih dari lima menit di bawah tekanan gravitasi dan kepadatan Qi Kunlun mulai merusak organ dalam fana-nya.

​Arya mengeluarkan dua bilah jarum perak dari balik jaketnya. Tanpa peringatan, ia menusukkan jarum itu ke titik Baihui (puncak kepala) dan Danzhong (tengah dada) Elena.

​"Argh!" Elena memekik tertahan.

​"Tahan rasa sakitnya. Aku sedang memaksa meridianmu terbuka untuk beradaptasi dengan atmosfer di sini," ucap Arya dingin. Ia mengalirkan benang Qi yang sangat tipis dan lembut melalui jarum tersebut, memandu sirkulasi darah Elena agar selaras dengan tekanan eksternal.

​Beberapa saat kemudian, warna biru di bibir Elena memudar. Ia menarik napas panjang dan merasa tubuhnya tiba-tiba menjadi jauh lebih ringan, meskipun gravitasi kuat masih menekan tulang-tulangnya.

​Elena segera bangkit dan menunduk hormat, matanya berkaca-kaca penuh rasa syukur. "Terima kasih, Tuan. Nyawa saya sekali lagi berhutang pada Anda."

​"Hutangmu hanya terbayar jika kau berguna dalam pertempuran," jawab Arya rasional, mencabut jarumnya dan menyimpannya.

​Ia menatap ke arah utara peta yang baru saja ia ingat. Jauh di balik hutan perak ini, terdapat sebuah kota transit tempat bertemunya para praktisi bela diri lepas dan sekte-sekte pinggiran Kunlun. Namanya Kota Seribu Tebing.

​"Menurut penduduk lokal malang tadi, Kuil Kegelapan berada di pusat domain terdalam. Kita butuh informasi logistik, struktur kekuatan faksi-faksi besar, dan mata uang lokal untuk menembus wilayah mereka," Arya memaparkan strateginya secara metodis.

​Ia melempar sebuah Batu Spiritual Tingkat Bawah ke udara dan menangkapnya kembali.

​"Kita pergi ke Kota Seribu Tebing. Di dunia mana pun, baik dimensi fana maupun ranah kultivasi, tatanan masyarakat selalu digerakkan oleh satu hukum yang sama..."

​Arya menyeringai tajam, matanya memantulkan cahaya dari dua bulan kembar di langit Kunlun. "...yang memegang sumber daya, adalah yang memegang kuasa. Waktunya membangun kerajaan bisnis yang baru."

1
T28J
hadiir 👍
Aisyah Suyuti
menarik
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!