Theodore, sang Kakak, memberikan tantangan kepada Celestine untuk mencari calon suamimu sendiri dalam satu bulan, atau dia yang akan memilihkan.
Celestine setuju.
Baginya, pangeran-pangeran di ibu kota terlalu "lembut" karena dia ingin seseorang yang bau mesiu, darah, dan sihir kuat. Dia berangkat sebagai utusan diplomasi ke Kekaisaran Heavenorth, wilayah yang dikenal paling keras.
Demi menemukan pria impian yang memenuhi standar kejam namun ajaib nya, Putri Celestine melakukan perjalanan ke perbatasan Kekaisaran yang paling berbahaya, hanya untuk menemukan bahwa pria yang ia cari adalah seorang monster di medan perang dan penyihir dingin yang menjaga gerbang kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 2: Pahlawan zirah besi
Pintu kayu oak raksasa itu tertutup dengan dentuman berat yang menggema di seluruh ruangan luas tersebut. Suara itu seolah memutus dunia luar yang penuh badai salju dengan atmosfer di dalam ruang kerja Marquess de La’ Mortine yang terasa mencekam secara berbeda.
Ruangan ini tidak memiliki kemewahan yang biasa Celestine temukan di istana kakaknya. Di sini tidak ada lukisan cat minyak yang menampilkan wajah para leluhur yang tersenyum ramah. Dindingnya hanya dihiasi oleh peta taktis wilayah perbatasan yang penuh dengan coretan tinta merah serta jajaran senjata yang tampak telah meminum banyak nyawa.
Di balik sebuah meja kerja kayu yang sangat besar, duduklah sang Marquess.
Pria itu tampak seperti versi George yang beberapa puluh tahun lebih tua. Wajahnya keras dengan gurat-gurat kelelahan yang permanen, dan sebuah bekas luka panjang melintang dari dahi hingga pipi kirinya. Matanya yang tajam langsung tertuju pada Celestine, menilai setiap jengkal penampilan sang putri yang tampak sangat asing di tempat yang kasar ini.
"Suatu kehormatan seorang Putri dari kerajaan seberang datang di wilayah Kekaisaran, Yang mulia Celestine Jour’ Vallery," suara sang Marquess berat dan serak. "Yang mulia Putra Mahkota Theodore menulis dalam suratnya bahwa adiknya adalah seorang wanita yang penuh tekad, tetapi melihatmu berdiri di sini dengan gaun yang harganya setara dengan biaya makan pasukanku selama satu tahun, aku mulai meragukan penilaian calon raja kalian."
Celestine tidak menundukkan kepala. Ia justru melangkah maju dengan dagu yang tetap terangkat tinggi. Meskipun sebelah kakinya masih terasa sedikit kaku karena hawa dingin yang sempat menyentuh kulitnya, ia mempertahankan keanggunan yang sempurna. Ia merasakan kehadiran George di belakangnya, berdiri seperti bayangan yang siap menerkam kapan saja.
"Hormat saya kepada Marquess de La’ Mortine," balas Celestine dengan nada bicara yang jernih dan tenang. "Pakaian saya mungkin memang tampak mewah bagi Anda, namun di Kerajaan Valley, kami diajarkan bahwa penampilan adalah bentuk penghormatan pertama bagi tuan rumah. Jika Anda lebih menyukai saya memakai zirah besi yang berkarat, mungkin saya bisa mempertimbangkannya di kunjungan berikutnya."
Marquess terdiam sejenak sebelum akhirnya tawa singkat yang kering keluar dari tenggorokannya. Ia memberikan kode dengan tangannya agar Celestine duduk di kursi kayu di depan mejanya. George sementara itu memilih untuk tetap berdiri di sudut ruangan yang gelap, bersandar pada pilar batu sambil menyilangkan tangan di depan dada. Matanya tidak pernah lepas dari Celestine, seolah sedang mengantisipasi kapan sang putri akan menyerah pada tekanan di ruangan itu.
"Kau punya keberanian, itu benar," ujar Marquess lagi. "Tetapi keberanian di perbatasan ini sering kali menjadi sinonim untuk kebodohan. Putraku baru saja melaporkan bahwa kau hampir menjadi santapan makhluk bayangan di koridor kastil ku sendiri. Bagaimana kau bisa menjadi utusan diplomatik jika kau bahkan tidak bisa mendeteksi bahaya yang ada di atas kepalamu?"
Celestine melirik ke arah George melalui sudut matanya. Pria itu tetap diam, wajahnya tertutup bayangan, namun Celestine tahu pria itu sedang mendengarkan dengan saksama.
"Justru karena itulah saya di sini," sahut Celestine dengan mantap. "Valley adalah kerajaan yang makmur dengan seni dan pengetahuan, tetapi kami butuh perlindungan dari kekuatan yang nyata. Saya datang untuk memastikan bahwa aliansi kita bukan hanya sekadar tanda tangan di atas kertas. Saya ingin melihat dengan mata kepala saya sendiri, kekuatan seperti apa yang menjaga perbatasan Kekaisaran Heavenorth. Kekuatan yang dimiliki oleh keluarga La’ Mortine."
Pandangan Celestine beralih ke arah pedang raksasa yang tertanam di dalam balok es di sudut ruangan. Es itu tidak mencair sedikit pun meskipun ada perapian yang menyala di dekatnya. Ia bisa merasakan energi yang berdenyut dari sana, sebuah kekuatan magis yang murni dan berbahaya.
"Itu adalah pedang milik leluhur kami," suara George tiba-tiba memecah keheningan dari sudut ruangan. Ia melangkah maju sedikit hingga cahaya obor menerangi separuh wajahnya yang rupawan namun dingin.
"Hanya mereka yang memiliki aliran sihir es murni yang bisa menyentuhnya tanpa membeku menjadi patung selamanya. Keajaiban yang kau cari-cari itu, Putri, datang dengan harga yang sangat mahal. Setiap kali kami menggunakan sihir, sebagian dari suhu tubuh kami hilang. Kami hidup dalam kedinginan abadi agar orang-orang seperti kau bisa tidur dengan hangat di Valley."
Celestine merasa dadanya sedikit sesak mendengar penjelasan itu ada nada kemarahan sekaligus kebanggaan dalam suara George. Ia mulai memahami mengapa pria ini begitu keras dan dingin. George bukan hanya seorang pejuang, ia adalah martir bagi keamanan yang selama ini Celestine nikmati tanpa pernah ia pertanyakan.
"Kalau begitu, tunjukkan padaku lebih banyak lagi," tantang Celestine sambil berdiri dari kursinya. "Jangan hanya menyembunyikan kekuatan itu di balik dinding kastil. Theodore membebaskanku untuk memilih calon suamiku, dan aku telah menetapkan kriteria yang sangat spesifik. Pria yang bisa membuatku merasa aman sekaligus gemetar di saat yang bersamaan."
Marquess dan George saling bertukar pandang. Suasana di ruangan itu menjadi sangat berat. Marquess kemudian bangkit dari kursinya, tangannya yang kasar memukul permukaan meja kayu.
"Jika kau memang mencari pria seperti itu, maka kau harus membuktikan bahwa kau layak bersanding dengannya," ujar Marquess. "Malam ini adalah malam perjamuan penyambutan untukmu. Tetapi di keluarga La’ Mortine, perjamuan bukan hanya tentang makan malam yang tenang. George, bawa Putri Celestine ke Aula Perjamuan Utara. Siapkan ujian tradisional untuk tamu kita."
George mengangguk pelan. Ia mendekati Celestine dan membukakan pintu untuknya. "Ikuti aku, Putri. Dan kali ini, pastikan sepatumu terikat dengan kencang. Kau tidak akan menyukai apa yang akan kau lihat di aula perjamuan."
Sepanjang perjalanan menuju Aula Perjamuan Utara, Celestine tidak berhenti bertanya-tanya dalam hati. Ia telah sering menghadiri jamuan makan malam dengan para bangsawan yang membosankan, di mana musik harpa dimainkan dan anggur terbaik dituangkan. Namun, ia merasa Heavenorth akan memberikan sesuatu yang jauh lebih liar.
Saat mereka tiba di depan aula, bau darah yang samar kembali tercium, bercampur dengan aroma daging panggang dan rempah-rempah yang tajam. Ketika pintu dibuka, Celestine terpana. Ruangan itu tidak memiliki meja panjang yang rapi. Di tengah ruangan, terdapat sebuah arena berpasir yang dikelilingi oleh meja-meja para ksatria dan petinggi militer perbatasan. Di sana, dua orang prajurit sedang berduel dengan pedang tumpul sementara yang lain bersorak sambil minum dari gelas besar.
"Di sini, kami makan sambil menonton kematian atau kemenangan," kata George sambil menarik sebuah kursi di meja utama yang paling dekat dengan arena. "Duduklah, Putri. Dan nikmati hidangannya."
Pelayan datang membawa piring berisi daging rusa hutan yang masih mengepulkan asap. Namun, yang menarik perhatian Celestine adalah sebuah belati kecil yang diletakkan di samping piringnya. Belati itu memiliki ukiran yang sama dengan milik George yang baru saja menyelamatkan nyawanya.
"Untuk apa ini?" tanya Celestine.
"Di jamuan kami, setiap tamu harus memotong makanannya sendiri," jawab George sambil duduk di sampingnya. Ia mengambil belati miliknya sendiri dan dengan gerakan yang sangat cepat serta presisi, ia memotong daging di piringnya seolah itu adalah latihan pedang. "Dan jika tiba-tiba ada serangan dari mahluk yang menyelinap, belati itu adalah satu-satunya pelayan yang akan melindungi mu."
Celestine menatap belati itu, lalu menatap George. Ia meraih belati tersebut, jemarinya yang halus merasakan dinginnya besi. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Putri Celestine Jour’ Vallery tidak menunggu dilayani. Ia mencoba menusuk daging itu, meskipun tangannya sedikit gemetar karena tidak terbiasa.
Tiba-tiba, suara sorakan di aula berhenti. Seorang ksatria bertubuh raksasa masuk ke tengah arena. Ia mengenakan baju zirah berat dan membawa sebuah kapak besar yang tampak sangat mengerikan. Ksatria itu berlutut di depan meja utama, namun matanya menatap tajam ke arah Celestine dengan tatapan meremehkan.
"Tuan Muda George," suara ksatria itu menggelegar. "Saya dengar kita kedatangan bunga indah dari Valley. Apakah benar ia datang ke sini untuk mencari suami? Jika benar, izinkan saya menunjukkan kekuatan pria Heavenorth yang sebenarnya. Saya menantang siapa pun yang ingin membuktikan diri di depan Putri ini."
George melirik ke arah Celestine dengan senyum tipis yang tampak sangat provokatif. "Bagaimana, Putri? Apakah ksatria ini memenuhi kriteria pria gagah yang kau impikan? Dia bisa memenggal sepuluh orang sekaligus dengan satu ayunan kapaknya."
Celestine menatap ksatria raksasa itu, lalu kembali menatap George. Ia meletakkan belatinya dengan denting kecil yang terdengar jelas di tengah kesunyian aula.
"Dia memiliki otot yang besar, itu benar," sahut Celestine dengan nada meremehkan yang disengaja. "Tetapi aku tidak melihat keajaiban dalam gerakannya. Hanya kekerasan yang kasar. Pria yang kucari harus memiliki seni dalam pembantaiannya. Dia harus bisa menari di antara pedang dan sihir."
Ksatria itu tampak tersinggung, namun George justru tertawa rendah. Suara tawa itu terdengar sangat maskulin dan berbahaya. George kemudian berdiri dari kursinya, melepaskan jubah hitamnya hingga hanya menyisakan kemeja kulit ketat yang menonjolkan bentuk tubuhnya yang atletis.
"Kalau begitu, biarkan aku memberikanmu pertunjukan yang layak, Putri," ujar George.
Ia melompat dari meja utama langsung menuju tengah arena tanpa menggunakan tangga. Gerakannya begitu ringan seolah ia tidak memiliki berat badan. Saat kakinya menyentuh pasir arena, suhu di dalam aula mendadak turun drastis. Es mulai merambat di permukaan pasir, membentuk pola-pola kristal yang indah namun mematikan di bawah kaki George.
George mencabut pedang hitamnya. Cahaya biru mulai berpendar dari tubuhnya, menciptakan aura magis yang membuat rambut Celestine sedikit berdiri karena listrik statis yang terpancar. Di saat itu, Celestine menyadari bahwa ia tidak salah pilih. Pria di depannya ini adalah perwujudan dari semua fantasi gelap yang pernah ia tulis dalam pikirannya.
"Serang aku dengan seluruh kekuatanmu, Boris," perintah George kepada ksatria raksasa itu. "Tuan Putri ingin melihat sebuah keajaiban malam ini."
Duel itu dimulai dengan ledakan kekuatan yang mengguncang seluruh aula. Celestine duduk terpaku di kursinya, matanya melebar, menyaksikan George bergerak seperti kilat biru di antara ayunan kapak raksasa yang mematikan. Ini bukan lagi sekadar makan malam. Ini adalah awal dari obsesi yang akan membakar seluruh hidupnya.
Ksatria raksasa bernama Boris itu meraung, mengayunkan kapak besarnya dengan kekuatan yang sanggup menghancurkan pilar batu. Angin dari tebasan itu bahkan terasa sampai ke wajah Celestine, membuat helai rambut emasnya tertiup ke belakang. Namun George tidak bergeming. Ia berdiri dengan tenang, membiarkan kapak itu turun tepat ke arah kepalanya.
Tepat sebelum mata kapak menyentuh rambut George, terdengar denting nyaring yang memekakkan telinga. George tidak menangkis dengan kekuatan otot, melainkan dengan satu jari yang diselimuti kristal es transparan yang sangat keras. Kapak raksasa itu terhenti total, tertahan oleh lapisan es tipis yang keluar dari ujung jemari sang Tuan Muda.
Seluruh aula terdiam. Para ksatria yang tadinya bersorak kini menahan napas. Celestine tanpa sadar mencengkeram pinggiran meja kayu, matanya terpaku pada fenomena yang ada di depannya. Ini bukan sekadar pertahanan; ini adalah penghinaan terhadap kekuatan fisik mentah.
"Hanya itu?" tanya George dengan nada datar.
Suaranya sangat tenang, seolah ia sedang menanyakan cuaca. Detik berikutnya, George mengayunkan pedang hitamnya dalam gerakan melingkar yang indah. Cahaya biru melesat keluar dari bilah pedang, menciptakan serpihan es yang tajam seperti ribuan pisau kecil yang terbang mengelilingi Boris.
Sang ksatria raksasa mencoba menghalau, namun sihir George terlalu cepat. Es itu membekukan sendi-sendi baju zirah Boris, mengunci gerakannya hingga ia berdiri kaku seperti patung di tengah arena.
George melangkah mendekat, menempelkan ujung pedangnya yang dingin di leher Boris yang berkeringat. "Kekuatan tanpa kendali sihir hanyalah beban yang berat, Boris. Di perbatasan, kau akan mati sebelum sempat mengayunkan kapak mu."
George menarik pedangnya, dan seketika itu juga seluruh es yang mengunci tubuh Boris hancur menjadi debu salju yang berkilauan di bawah cahaya obor. Sang ksatria terengah-engah, berlutut sebagai tanda kekalahan, sementara George berbalik ke arah meja utama, menatap langsung ke arah Celestine.
George melompat kembali ke atas panggung utama, mendarat dengan suara yang hampir tak terdengar tepat di depan kursi Celestine. Ia mengambil gelas anggur milik sang putri yang masih penuh, meminumnya sedikit, lalu meletakkannya kembali dengan senyum miring yang provokatif.
"Bagaimana, Tuan Putri? Apakah keajaiban ini cukup untuk memenuhi standar tinggi milikmu?"
Celestine menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang menggila. "Sangat mengesankan, George. Namun, aku ingin tahu, apakah kau bisa melakukan hal yang lebih besar dari sekadar membekukan satu ksatria sombong? Theodore bilang kau bisa memanggil badai yang sanggup mengubur seluruh pasukan."
George mendekatkan wajahnya ke arah Celestine, hingga sang putri bisa merasakan hawa dingin yang memancar dari kulit pria itu. "Jika aku memanggil badai itu di sini, seluruh kastil ini akan terkubur, termasuk kau. Apakah kau siap mati demi sebuah pertunjukan?"
"Jika kematian itu terlihat seindah gerakanmu tadi, mungkin aku tidak akan keberatan," balas Celestine dengan nada yang sama tajamnya.
Ketegangan di antara mereka terputus oleh suara tepuk tangan Marquess de La’ Mortine yang sejak tadi memperhatikan dari kursinya. "Cukup pertunjukannya. George, bawa sang putri ke kamarnya. Besok pagi kita harus mulai membahas urusan diplomatik yang sebenarnya. Perbatasan sedang gelisah, dan aku tidak ingin utusan dari Valley menjadi beban saat perang benar-benar pecah."
George mengangguk singkat. Ia meraih lengan Celestine, membantu sang putri berdiri. "Mari, Putri. Koridor kastil di malam hari jauh lebih berbahaya daripada arena ini."
Mereka berjalan keluar dari aula perjamuan menuju sayap barat kastil yang dikhususkan untuk tamu agung. Di sepanjang koridor yang sunyi, Celestine memperhatikan bayangan George yang memanjang di dinding. Pria ini adalah segalanya yang ia impikan: kuat, mematikan, dan memiliki sentuhan mistis yang tidak bisa dijelaskan dengan logika.
"Kenapa kau memilih untuk tinggal di sini?" tanya Celestine tiba-tiba. "Dengan kekuatanmu, kau bisa menjadi panglima tertinggi di ibu kota Kekaisaran Heavenorth. Kau bisa hidup mewah, dikelilingi pelayan dan kemudahan, bukannya di tempat yang selalu bersalju dan penuh monster ini."
George berhenti di depan sebuah pintu kayu besar dengan ukiran bunga mawar yang tampak membeku. "Karena di ibu kota, keajaiban adalah mainan untuk menghibur bangsawan bodoh. Di sini, keajaiban adalah alat untuk bertahan hidup. Aku lebih suka menjadi iblis di perbatasan daripada menjadi burung dalam sangkar emas di ibu kota."
George membuka pintu kamar tersebut, memperlihatkan ruangan luas dengan perapian besar yang sudah menyala.
"Ini kamarmu. Jangan keluar tanpa pengawalan setelah tengah malam. Dan Putri..." George menggantung kalimatnya, matanya menatap tajam ke arah sepatu hak tinggi Celestine yang tadi sempat tertinggal.
George berjongkok disana, ia mengeratkan tali sepatu itu agar terlihat sempurna. Sedangkan, Celestine tersipu malu melihat tindakan yang bisa membuat orang salah paham.
"...simpan sepatu itu baik-baik. Di tempat ini, kau akan butuh sesuatu yang lebih dari sekadar kristal cantik untuk tetap berdiri tegak."
Celestine masuk ke dalam kamarnya, namun sebelum George menutup pintu, ia berbalik. "George, besok aku ingin kau mengajariku sesuatu. Bukan cara memakai pedang, tapi cara melihat dunia dari sudut pandang seorang penyihir yang hidup di tengah kematian."
George tidak menjawab. Ia hanya memberikan tatapan yang sulit diartikan sebelum menutup pintu dengan rapat. Celestine bersandar di balik pintu, mendengarkan langkah kaki George yang menjauh. Ia berjalan menuju jendela besar yang memperlihatkan pemandangan hutan gelap dan salju yang turun tanpa henti.
Ia menyadari bahwa misinya di sini bukan lagi sekadar urusan diplomatik atau memenuhi tantangan kakaknya. Celestine Jour’ Vallery telah menemukan "keajaiban" yang sesungguhnya, dan ia tidak akan pulang ke Valley sebelum ia berhasil menaklukkan hati sang penyihir es yang sedingin malam di perbatasan itu.
Malam itu, di tengah keheningan kastil La’ Mortine, Celestine tidur dengan sebuah belati kecil di bawah bantalnya— sebuah hadiah pertama dari dunia yang baru saja ia masuki.
Dunia di mana cinta dan kematian berdansa dalam satu irama yang sama.