Di sebuah kafe kecil yang tidak pernah benar-benar sepi, dua dunia yang berbeda perlahan saling bersinggungan.
Clay—dingin, tenang, dan terbiasa menjaga jarak.
Nindi—jujur, tegas, dan tidak suka sesuatu yang menggantung tanpa kepastian.
Mereka tidak pernah merencanakan apa pun. Tidak pernah mencari satu sama lain.
Namun setiap hari yang sama, percakapan yang sederhana, dan kebetulan yang berulang, perlahan mengubah batas antara “sekadar bertemu” menjadi “tidak ingin kehilangan”.
Dan ketika akhirnya mereka memilih untuk saling menggenggam, mereka juga harus belajar satu hal:
bahwa mempertahankan seseorang tidak pernah sesederhana memilihnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fadiez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Ketiganya berjalan keluar dari kafe saat malam mulai benar-benar turun.
Udara terasa lebih dingin dibandingkan sore tadi, dan lampu-lampu jalan memantulkan cahaya kekuningan di trotoar yang sedikit lembap. Jalanan tidak terlalu ramai, hanya sesekali kendaraan lewat dengan suara mesin yang mengisi keheningan.
Maria dan Nindi berjalan beriringan, dengan banyak obrolan ringan dengan senyum kecil. Sementara Clay berjalan sedikit di belakang mereka. Dengan mulut yang tertutup rapat. Hanya sebagai pengamat dari obrolan keduanya.
Namun matanya sesekali mengarah ke Nindi. Tidak mencolok, tidak terang-terangan. Tapi cukup sering untuk menunjukkan satu hal kalau Clay tidak benar-benar santai.
Perjalanan yang hanya sekitar satu kilometer itu terasa cukup singkat. Tanpa banyak sadar, mereka sudah sampai di depan rumah Maria. Rumah sederhana dengan halaman kecil dan lampu teras yang menyala hangat.
Begitu langkah mereka berhenti, Clay tiba-tiba mengulurkan tangan dan menahan Nindi.
“Nanti dulu.”
Nindi menoleh, sedikit heran. Clay tidak langsung menjelaskan. Ia justru mengalihkan pandangan ke Maria.
“Maria, kamu masuk dulu saja,” katanya pelan. “Aku menyusul.”
Maria memandang mereka bergantian. Ada sedikit pertanyaan di matanya, tapi ia tidak mengatakan apa-apa. Seolah memahami bahwa ada sesuatu yang perlu dibicarakan.
“Baiklah,” jawabnya akhirnya. Ia membuka pintu, masuk ke dalam, lalu menutupnya kembali.
Kini tinggal mereka berdua di luar. Suasana tiba-tiba terasa lebih sunyi.
Clay menghela napas pendek. Lalu menatap Nindi dengan serius.
“Aku mau kamu dengar.” Nada suaranya berubah. Tidak santai lagi.
Nindi mengernyit, tapi tidak menyela.
“Nanti kalau kamu bertemu Dion…” lanjut Clay, “jangan tunjukkan rasa kasihan.”
Ia berhenti sejenak, memastikan kata-katanya sampai.
“Jangan bingung. Jangan takut. Jangan terlihat lemah.”
Nindi mengangkat alis.
“Kamu menyuruhku jadi seperti kamu?” tanyanya ringan.
Clay sedikit menyipitkan mata. “Seperti apa maksudmu?”
Nindi langsung menegakkan tubuh, lalu menirukan ekspresi wajah Clay yang datar, dingin, tanpa emosi.
“Seperti ini.” Nindi menunjuk dirinya.
Clay menatapnya beberapa detik. “Kapan aku seperti itu?”
“Setiap hari,” jawab Nindi tanpa ragu. “Datar. Kaku. Dingin. Tanpa ekspresi. Sedikit menyeramkan, kalau jujur.”
Clay mendecak pelan. “Kamu mengada-ada.”
“Kalau tidak percaya, tanya saja orang lain,” balas Nindi cepat. Bahkan ia menirukan cara Clay mendecak, lengkap dengan ekspresi kesalnya.
Clay terdiam sejenak. Tangannya naik ke tengkuk, menggaruk pelan, meski jelas tidak gatal.
Ada jeda singkat.
Lalu, untuk pertama kalinya sejak tadi, sudut bibirnya terangkat sedikit.
“Kalau itu membuatmu puas.” Nada suaranya terdengar pasrah. “Baiklah …”
Nindi tertawa kecil. Suasana yang sempat tegang, mencair perlahan.
“Jadi?” tanya Nindi. “Aku harus pasang wajah ‘Clay mode’ ya?”
“Kurang lebih,” jawab Clay singkat.
“Baiklah, aku akan cobanya. Semoga aku tidak menyebalkan sepertimu."
Nindi berkata sambil mulai melangkah. Tapi langkahnya langsung terhenti saat,
“Tunggu.” Clay memotong. Tanpa aba-aba, ia melepas kemejanya.
Nindi mengernyit. “Eh—kamu mau apa?”
Clay tidak menjawab. Ia melingkarkan kemeja itu ke pinggang Nindi, menutup bagian paha yang terbuka karena rok yang Nindi kenakan.
Gerakannya cepat. Natural. Seolah itu hal yang wajar. Namun bagi Nindi, itu tidak wajar. Ia menatap Clay dengan ekspresi bingung.
“Lain kali,” kata Clay tenang, “kalau ke tempat seperti ini, pakai yang lebih panjang.”
Nada suaranya tidak keras. Tidak menghakimi. Tapi jelas. Ada sesuatu di dalamnya.
Nindi tidak langsung menjawab.
“Oh… iya,” ucapnya akhirnya pelan. Anehnya, ia tidak menolak. Tidak melepas kemeja itu.
“Dan satu lagi,” lanjut Clay, kembali serius, “kalau Dion mulai aneh, jaga jarak.”
Nindi mengangguk. “Oke.”
Clay menatapnya sebentar. Seolah memastikan. Lalu ia mengulurkan tangan. Nindi menatap tangan itu.
“Sekarang apa lagi?”
“Supaya lebih aman.” Jawabannya singkat.
Nindi ragu. Beberapa detik. Namun akhirnya, ia meletakkan tangannya di tangan Clay. Genggaman itu terasa hangat. Dan tanpa sadar, Nindi tidak menariknya kembali.
Mereka berjalan menuju teras. Di sana, seorang pemuda terlihat duduk santai, fokus pada layar ponselnya.
“Dion.”
Suara Clay membuat pemuda itu langsung menoleh.
Matanya membesar.
“Clay?”
Ia berdiri cepat. Namun dalam hitungan detik, pandangannya berpindah. Ke Nindi. Dan berhenti di sana. Lama. Terlalu lama.
Tatapan itu membuat Nindi tidak nyaman. Ia merasakannya. Cara Dion melihatnya sungguh tidak biasa. Seolah sedang menilai. Mengukur. Mengamati terlalu dalam.
Clay langsung bergerak. Ia melangkah sedikit ke depan, menarik Nindi lebih dekat ke sisinya.
“Dia pacarku.”
Kalimat itu keluar begitu saja. Datar. Tegas. Nindi langsung menoleh ke arahnya.
Apa?
Namun Clay tidak memberi waktu untuk reaksi.
“Masalah?”
Tatapannya beralih ke Dion. Dingin.
Dion tersentak.
“Oh—tidak… tidak…”
Ia langsung menunduk. “Cantik sekali… maaf, aku tidak bermaksud…”
Nada suaranya berubah. Dari percaya diri, jadi gugup.
Clay tetap diam. Namun tatapannya tidak berubah.
“Jaga matamu.” Suaranya rendah. Namun cukup untuk membuat Dion menelan ludah.
“Iya! Maaf! Maaf!”
Dion bahkan memukul kepalanya sendiri beberapa kali. Nindi terkejut. Refleks, ekspresinya berubah. Ada rasa tidak nyaman. Sedikit iba. Dan itu langsung disadari Clay. Ia mendekat sedikit.
“Jangan.”
Hanya satu kata. Pelan. Tapi cukup jelas. Nindi langsung menarik kembali ekspresinya.
Datar. Seperti yang tadi diajarkan.
“Maria di mana?” tanya Clay.
“Di dalam…” jawab Dion, masih menunduk.
“Ayo.”
Clay tidak melepaskan tangan Nindi saat mereka masuk.
Begitu masuk ke dalam rumah, suasana langsung terasa berbeda. Hangat. Tenang. Aroma masakan samar mulai tercium dari arah dapur.
Maria muncul dari sana.
“Oh, kalian sudah datang?”
“Iya,” jawab Clay.
Maria menatap mereka berdua.
“Tadi bertemu Dion?”
Nindi melirik Clay sebentar.
“He’em.”
“Aman?” tanya Maria, kali ini dengan nada lebih serius.
“Aman,” jawab Clay singkat. “Dia tidak macam-macam.”
Maria menghela napas lega. “Syukurlah…”
Nindi akhirnya membuka suara. “Dia… sebenarnya kenapa?”
Maria terdiam sejenak. Lalu menjawab pelan.
“Depresi.” Senyumnya tipis. Tidak benar-benar bahagia. “Dan sempat lari ke narkoba.”
Nindi membeku.
“Oh…”
“Sekarang sudah lebih baik,” lanjut Maria. “Secara medis sudah bersih. Tapi pikirannya, belum sepenuhnya stabil.”
Ia menatap Nindi. “Makanya Sonya khawatir.”
Nindi mengangguk pelan. “Wajar…”
“Tenang saja,” Maria mencoba tersenyum. “Selama tidak dipancing, dia tidak akan berbuat apa-apa.”
Clay tidak menanggapi. Namun posisinya yang masih berdiri cukup dekat dengan Nindi cukup menjelaskan. Ia tidak lengah.
“Sudahlah,” kata Maria akhirnya, berusaha mengubah suasana. “Kalian duduk saja dulu.”
Ia menunjuk ruang tengah.
“Nyalakan TV kalau bosan.”
Lalu ia berbalik ke dapur.
“Aku akan memasakkan ramen untuk kalian.”
Nindi mengangguk. Namun sebelum ia benar-benar melangkah menjauh, Nindi sadar. Tangannya Masih berada dalam genggaman Clay. Dan Clay… Belum melepaskannya.
Nindi menoleh. Tatapan mereka bertemu. Untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara. Dan entah kenapa, kali ini, Nindi tidak langsung menarik tangannya.