NovelToon NovelToon
Luka, Dendam, Dan Cinta Yang Tak Direncanakan

Luka, Dendam, Dan Cinta Yang Tak Direncanakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Adrianne Hana kehilangan ayahnya akibat kesalahan operasi yang ditutupi keluarganya sendiri. Alih-alih mendapat keadilan, ia dan ibunya justru disalahkan, membuat hubungan Hana dengan keluarga Soediro dipenuhi kebencian—terlebih karena ia memilih jalan hidup berbeda sebagai aktris dan pengusaha.

Dipaksa menghadiri perjodohan dengan Reiga Reishard, Hana berencana menggagalkannya. Namun, pertemuan mereka justru menghadirkan hal tak terduga yang perlahan mengikat dua hati dengan prinsip bertolak belakang—antara luka, penolakan, dan kemungkinan cinta yang tak pernah direncanakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LDCYTD

Lana terduduk dengan wajah muram di bawah pohon. Sengaja menjauh dari teman satu kelasnya yang sudah duduk bersama di atas karpet yang digelar bu guru. Hari ini ada acara makan bersama. Mami-nya lupa. Sampai Lana lah yang harus menanggung akibatnya. Tidak membawa bekal. Ini bukan yang pertama kalinya Mami-nya lupa. Sampai-sampai Lana sengaja membawa kotak bekal kosong agar tidak ditertawai Alex, teman sekelas yang suka meledek orang lain. Kedua mata Lana sudah berkaca. Bibirnya merengut sedih. Ia hanya memandang penuh rasa iri kearah teman-temannya yang tengah tertawa. Yang selalu membawa bekal hasil kreasi Mama-mamanya.

"Lan," panggilan Hana membuat Lana mendongak.

Itu Hana. Sepupunya yang lahir hanya beda hari. Lana hari rabu dan Hana hari kamis. Hana tersenyum begitu manis. Hana memang selalu ceria dan periang. Siapapun yang melihat Hana, maka dia akan meyakini bahwa hidup Hana pasti sangat menyenangkan. Ya. Hidup Hana memang selalu menyenangkan.

"Sana. Jangan deketin aku!" ketus Lana.

Lana tidak pernah ramah dengan Hana. Tapi, Hana tidak peduli. Hana paling jago berbuat seenaknya. Kali ini pun sekalipun Lana sudah ketus, Hana malah berjongkok di depan Lana. Dari tas bekalnya, Hana meraih kotak bekal bergambar kelinci. Semua anggota keluarga Soediro tahu, kalau Hana adalah penggila apapun berbau kelinci. Begitupun Lana yang sudah hafal betul siapa Hana.

"Nih. Ibu tadi buat banyak. Aku minta supaya dibikinin yang isinya crabstick, timun, dan salmon.

Sausnya yang kesukaan kamu loh. Merk DEFG kan?"

Hana sibuk bicara sendiri seraya membuka kotak bekalnya. Hana menunjukkan isinya.

Potongan sushi yang menggiurkan. Terlebih Lana sudah tahu skill memasak Tante Sara yang memang di atas rata-rata itu.

"Kotak bekal kamu mana?" tanya Hana.

"Nggak usah, Han. Aku nggak butuh!" ketus Lana.

Apa Hana peduli?

Tentu tidak. Hana sekali lagi berbuat seenaknya. Ia meraih kotak bekal yang ada dalam pangkuan Lana.

"Hana! Nggak sopan!" seru Lana emosi.

Tapi Hana mengacuhkannya. Ia sibuk memindahkan potongan sushi yang memang dibuat khusus untuk Lana.

"Apa sih, Han!? Berhenti nggak! Jangan sok ba.."

Hana sudah mengulurkan kotak bekal milik Lana kembali. Dengan senyum lebar yang membuat mata Lana berkaca. Sepupunya ini, sekalipun selalu menerima sikap dingin dan arogan darinya, Hana tetap baik pada Lana.

"Dimakan ya, Lan. Tenang aja. Yang aku bawa bukan sushi kok. Jadi si nyebelin Alex nggak akan tahu. This is our secret," ucap Hana masih cengar-cengir lalu kabur menuju kerumunan.

Meninggalkan Lana yang kini tengah memandangi sushi pemberian Hana. Bibir Lana tersenyum tipis.

Ingatan saat mereka berdua berusia 8 tahun yang masih kental dalam ingatan Lana. Hana selalu baik. Selalu ramah. Selalu bersikap seakan hubungan mereka baik-baik saja. Semuanya memburuk, setidaknya begitu menurut Lana. Saat semua manusia di keluarga Soediro mulai membandingkan mereka. Dan tentu, apapun topik perbandingannya, Hana akan selalu keluar sebagai pemenang. Lana hanya akan selalu bertengger di nomor dua. Tempatnya pecundang yang tak pernah dianggap. Sejak itu Lana membenci Hana atas apa yang tak pernah diperbuat sepupunya itu.

Hubungan mereka semakin buruk.

Betapa bersyukurnya Lana saat Hana memutuskan tidak menjadi dokter. Sontak dunia mereka tertukar. Lana selalu dielukan. Menjadi kesayangan dan kebanggaan. Topik utama di setiap pertemuan keluarga selama 9 tahun ini. Lana yang tidak pernah merasakan berdiri di bawah lampu sorot kini merasakannya dan mencintainya. Apapun akan dilakukannya untuk terus berada di posisi puncak ini. Lana merasa ini adalah momennya. Kekalahan bertubi Hana darinya. Tentu yang terbaik dari segala yang terbaik adalah Arnold. Hana begitu bucin dengan Arnold. Siapapun bisa melihatnya. Termasuk Arnold. Sayangnya, Arnold sudah menyerahkan hatinya untuk Lana. Sebuah kemenangan mutlak Lana atas Hana. Belum pernah terasa semanis ini. Semua sempurna sampai Lana mendengar kalimat ultimatum Reiga yang sungguh mengoyak hati dan kepercayaan dirinya.

Sekali lagi...

Hana mengalahkannya. Telak. Pada apa yang begitu diidamkannya. Yang begitu diinginkannya.

Lelaki bernama Reiga Rahardian Reishard.

*

"Ngapain malam-malam duduk di pinggir kolam begini?" tanya Sara seraya menghampiri Hana yang sedang duduk di pinggir kolam renang.

Hana menoleh. Mereka jadi duduk bersama berdampingan.

"Han, cobain resep bomboloni isi cream cheese Ibu yang baru deh," semangat Sara yang memang membawa sepiring bomboloni.

Hana terpekur melihat bomboloni. Malah jadi ingat Reiga. Ekspresi Hana dipahami dengan mudah oleh Sara.

"Ih malah bengong! Ini tuh bomboloni. Bukan Mas Ayang," ledek Sara.

itu. Sulit untuk tidak tersenyum mendengar kalimat

"Mas Ayang?"

Sara terkekeh pelan lalu mengambil satu bomboloni dan memakannya.

"Makanya kalau marah tuh jangan mirip petasan, Han. Meledak nggak bisa berhenti. Anak orang main kena tampar aja. Kasian tahu," celetuk Sara.

Hana mengerutkan kening.

Kok bisa ibunya tahu adegan tamparan itu?

"Tahu dari mana, Bu?" selidik Hana.

Sara nyengir.

"Jadi gini ceritanya, si Sherin. Anak tetangga kita. Anaknya Om Doni sama Tante Mesya. Kenal kan?"

Hana mengangguk.

"Itu anak ngambek terus kabur dari rumah. Kita semua bingung cari Sherin. Om Doni sama Tante Mesya ingat kalau di depan rumah kita ada cctv. Kita lihat deh sama-sama. Eh, Sherin ada, nggak tahunya ngumpet di tanaman Ibu," jawab Sara.

Hana berdehem.

"Terus tahu tamparan itu dari cctv juga?"

Sara mengangguk.

"Maaf ya, Han. Sekarang semua tetangga beneran mikir kalau Reiga calon menantu Ibu," ujar Sara cengengesan.

"Ihhh kok bisa!!" keluh Hana dengan mata mencuat keluar.

"Ya abis gimana? Kalian berantem kayak pasutri baru. Tenang... tenang... semua komentarnya bagus dan aman. Malah mereka tanya kapan undangannya disebar," ujar Sara seakan Reiga memang benar calon menantunya.

Hana mendengus sebal. Semua jadi makin rumit dan njelimet kayak gini. Tapi seperti yang diucap Sam tadi di lapangan tenis, malam ini Reiga pergi makan malam dengan Lana. Sesuai jadwal pertemuan perjodohan yang dibuat Eyang Uti. Pria itu sudah pasti akan memilih Lana. Ah, pilih atau tidak Hana harusnya tidak perlu peduli kan?

"Minta maaf sana," ucap Sara kini dengan suara teduhnya.

Hana menatap ibunya yang kini tersenyum.

"Minta maaf juga belum tentu dimaafin, Bu," ujar Hana.

Sara mendesis.

" Maafin atau enggak sih itu hak-nya Reiga, Han.

Tapi kewajiban kamu ya minta maaf. Ayah dan Ibu selalu mengajarkan dan mencontohkan kamu, kalau salah, ya akui salah dengan berani, lalu minta maaf," tegas Sara.

Ya, Hana juga sangat ingat itu.

Dia hanya terlalu malu hati untuk meminta maaf Reiga atas tuduhan tak berdasar yang satu jam lalu berhasil dibuktikan Juni bahwa tuduhannya memang salah seratus persen.

"Han, pihak mangemen kasih info sama gue.

Spatch! minta maaf atas perbuatan Beno Setiawan. Dia yang motret lu sama Reiga diam-diam baik di Singapore maupun di rumah. Spatch! juga berharap kita nggak memperpanjang ini dan lu bisa melepas mereka. Gosip yang gue dengar sih, kalau sampai lu nggak memberi maaf, Reiga bakal tuntut Spatch! bahkan yang lebih menyeramkannya, cowok lu itu..

Eh bukan ya, lupa, maaf, si Reiga bakal hancurin Spatch! sampai tutup alias bangkrut. Seram nggak tuh!?"

Sekuat itu Reiga. Sepeduli itu Reiga. Dan Hana malah menampar dan mencacinya.

"Hana terlalu malu, Bu."

"Pantes."

"Kalau jadi Reiga, Ibu bakal maafin Hana nggak?"

"Enggak."

Hana menyipitkan mata sambil merengut.

"Kenapa?"

"Sakit hati."

"Sangat memotivasi ya, Bu."

Sara tertawa. Hana cemberut.

"Ibu, punya trik dan tips sih biar kita bisa langsung dimaafin," ujar Sara.

"Apa, Bu?" Hana ingin tahu.

"Peluk terus minta maaf deh! Gimana? Mantap kan tips dari ibu?" ucap Sara jahil.

Hana tertawa masam.

"Ngajarin anaknya nggak bener ya Ibu Sara Camilla ini!" gerutu Hana.

Sara malah tergelak tawa.

"Yang tadi itu persentase keberhasilnya baru 50%. Kamu mau tahu nggak yang persentase-nya 85%?" pancing Sara.

"Bilang maaf terus sosor orangnya kan!?" tebak Hana.

Sara memasang wajah kaget dan kagum. "Kok tahu!?"

"Ihh, apaan sih, bu!" Hana geleng-geleng kepala dengan komedi yang diberi ibunya.

Sara menghentikan tawanya lalu merangkul Hana.

"Tulis is hati kamu dalam sebuah pesan. Rasa bersalah dan menyesal kamu yang begitu tulus. Reiga pasti maafin. Mas Ayang kamu itu hatinya baik dan lembut. I know him," ucap Sara yakin.

"Namanya Reiga. Bukan Mas Ayang," ujar Hana jengah sendiri mendengar panggilan Sara untuk Reiga.

Sara hanya tersenyum lebar.

"Ingat ini ya, Han," ucap Sara mendadak serius.

"Apa, Bu?"

Sara menatap sayang Hana sambil mengelus pipi kiri Hana lembut.

"Ayah-Ibu nggak pernah mengajarkan kamu untuk jadi pengecut yang tidak berani mengakui kesalahan. Juga tidak pernah mencontohkan kamu untuk tidak tahu caranya membalas budi," ucap Sara.

Ya.

Hana tahu itu.

"Jadi semalu apapun. Kamu wajib minta maaf sama Reiga. He deserves it. Pakai hug and kisses pasti langsung dimaafin."

"Buuuu," gemas Hana dengan mata menyipit.

Sara tertawa pelan.

"Ini serius Ibu mau tanya, Reiga nggak ada kesempatan gitu untuk menggeser si Arnold?" tanya Sara serius.

"Apa sih, Bu? Kok tiba-tiba bahas ini?"

"Ya penasaran aja, Han," jawab Sara jujur.

Hana memandangi wajah menunggu jawaban milik Ibunya. Ada wajah tersenyum tipis Reiga yang muncul tiba-tiba dalam pantulannya. Ah, hatinya mulai menginginkan pria itu.

"Reiga itu pantas untuk mendapatkan yang lebih dari sekedar gantiin posisi orang lain, Bu," ucap Hana.

"Setuju," sahut Sara. "Then give him a chance, Han," ucap Sara.

Hana berdecak seraya menatap lurus ke depan.

"Nggak Ibu, nggak Sam, kalian tuh berkata seakan Reiga suka sama Hana. We never know his mind, rite?" gumam Hana.

"I know he likes you," yakin Sara.

"Dari?"

"Cara dia menatap kamu. Cara dia 'meladeni' kamu dalam perdebatan sengit kurang kerjaan khas Soediro," jawab Sara yang sudah hatam meladeni Denis yang samanya hobi debat dengan Hana.

Dalam hati Hana mengiyakan pendapat Ibu-nya akan kesabaran dan kelembutan Reiga meladeni rasa penasarannya itu.

Sara memperhatikan wajah Hana. "So, he already has something more than a chance," gumam Sara sambil senyum-senyum.

Wajah Hana memerah. Ia tersenyum salah tingkah sampai lesung pipinya terbentuk sempurna.

"Apa sih, Bu!?" sebal Hana dengan senyum.

*

Arnold menghela napas. Sudah 3 jam lagi waktu yang dihabiskannya untuk melamun di dalam ruangannya. Malas pulang ke rumah. Hubungannya dengan Hana yang berubah tidak baik menjadi beban pikiran tersendiri bagi Arnold. Padahal sudah lama ia menyiagakan diri bahwa hal ini pasti terjadi begitu Hana tahu isi hatinya.

"Berita dan foto itu benar, Han?"

Hana yang sedang membaca skrip sendirian di ruang meeting mendongakkan kepala. Setelah semua orang membuatnya muak akan berita pacaran dan foto-fotonya dengan Reiga. Kini Arnold malah sengaja mendatanginya untuk bertanya. Sial sekali hidupnya.

"Are you happy? Bisa bebas deketin Lana kan?

Mumpung dia patah hati," sinis Hana.

Arnold berwajah tak enak.

"Aku minta maaf soal yang kemarin," ucap Arnold tulus.

Yang kemarin dia bilang?

"Nggak usah. Bukan salah kamu, kalau kamu nggak bisa suka sama aku kan?" dingin Hana tidak lagi ingin melihat wajah Arnold.

"Harusnya aku bilang dari a ..."

"Cukup sampai di situ aja, Nold. Nggak usah dibahas lagi. Kamu bisa lihat sendiri kan? Foto-foto itu kayaknya cukup untuk menjelaskan posisi kamu dalam hidup aku sekarang," ucap Hana dingin tanpa kedip. Berusaha membohongi dirinya yang masih begitu menginginkan Arnold.

Arnold menghela napas panjang.

"Okay. Happy reading ya," ucap Arnold lalu keluar dari ruangan. Tangan kanannya terangkat. Seketika mereka jadi canggung. Karena biasanya elusan Arnold pada kepala Hana adalah simbol akhir obrolan mereka. Simbol yang kini harus belajar untuk dihilangkan.

Arnold menghela napas. "I miss you, Han," gumamnya.

TUNG!

Sebuah pesan masuk ke dalam handphone-nya

. Arnold meraihnya. Lalu melihat nama si pengirim pesan. Lana. Kedua matanya mencuat nyaris keluar mendapati pujaan hatinya mengirim pesan.

Sungguh sebuah kejutan istimewa. Arnold buru-buru membukanya.

Lana

Hey, Pak Produser.

Besok bisa lunch bareng?

Bibir Arnold tersenyum lebar. Tidak butuh waktu lama untuknya menjawab pesan ini.

Arnold

Bisa.

Aku jemput ya? Di RS kan?

Lana yang sedang online itu membalasnya.

Lana

Thank you.

Iya. Di RS.

Okay. See you soon, Pak Produser.

Arnold

See you soon, Bu Dokter.

Arnold berbunga hanya karena sebuah pesan.

Lantas ia berdiri dengan penuh semangat. "Waktunya pulang," gumamnya. Ternyata Hana memang hanya pemeran pendukung dalam hidup Arnold. Persis seperti yang dibilang Sara secara satir.

Lana menatap handphone-nya. Entah keputusannya ini benar atau tidak. Ia sudah masa bodo. Prioritasnya sekarang adalah membuat Hana terluka. Sesakit hatinya malam ini.

"Bersiaplah, Han. Lo akan melihat cowok yang lo cintai begitu mencintai gue. Semua yang lo pengen miliki dari Arnold akan jadi milik gue. Itu baru namanya keadilan," ucapnya pelan bagai berbisik.

***

1
𝐀⃝🥀Weny
wiiih... kira² mau ngomongin apa ya🤔apa mau kasih surprise ke Hana ya🤔
𝐀⃝🥀Weny
tumben up dikit thor😁
𝐀⃝🥀Weny
yang perlu dibuang ke tong sampah itu kamu chil😤
𝐀⃝🥀Weny
ohhh.. so sweet banget sih kamu Rei😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!