NovelToon NovelToon
PEWARIS NAGA EMAS

PEWARIS NAGA EMAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: suryadharma

Di sebuah kabupaten kecil di provinsi Jawa Barat, di Negara Nusantara, Arkan Wijaya baru saja lulus SMA, namun saat pulang dia mendapati rumahnya kosong, kedua orang tuanya tidak ada, dia mencari kesana kemari namun tidak ada kabar tentang mereka, hanya menemukan secarik kertas bertuliskan "Arkan kamu sudah dewasa, carilah jalanmu sendiri, kami tidak bisa terus menjagamu, dan ada kewajiban yang harus kami lakukan, suatu saat nanti mungkin kamu akan mengerti, maafkan kami Arkan." Dan di samping kertas itu ada cincin emas berbentuk kepala dan permata kecil berkilau di kedua matanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suryadharma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 Gerbang Salak yang Tersembunyi

Motor sport Arkan meluncur cepat di jalan pegunungan yang berkelok. Angin malam menusuk kulit, tapi tubuhnya yang sudah mencapai Qi Condensation Tingkat 3 hampir tidak merasakan dingin. Sela memeluk pinggangnya erat dari belakang, helmnya menyentuh punggung Arkan. Bau sabun strawberry dari rambut gadis itu bercampur aroma hutan basah.

“Kita sudah dekat,” kata Arkan tanpa menoleh. “Aku merasakan energi aneh di depan.”

Mereka berhenti di sebuah tikungan gelap dekat kaki Gunung Salak. Tidak ada lampu jalan, hanya cahaya bulan yang tembus kabut tipis. Arkan mematikan mesin dan menurunkan Sela. Gadis itu menggenggam tangannya, wajah polosnya waspada tapi tegas.

“Menurut ayah, ada pintu masuk tersembunyi di sekitar sini,” bisik Sela. “Orang biasa tidak bisa melihatnya.”

Arkan mengaktifkan Penglihatan Jiwa. Matanya berkilau merah keemasan sebentar. Di antara pepohonan lebat, ia melihat kabut tipis yang sebenarnya adalah Formasi Penyembunyi tingkat rendah. Ada celah kecil di antara dua batu besar.

“Di sini.”

Ia menarik Sela masuk. Begitu melewati kabut, dunia berubah. Udara menjadi lebih kental dengan Qi. Pohon-pohon lebih tinggi, daunnya mengkilap samar. Di kejauhan terlihat lampu-lampu kuning dari sebuah kota kecil tersembunyi di lembah.

“Selamat datang di Pasar Gelap Salak,” gumam Arkan.

Mereka menyembunyikan motor di balik batu dan berjalan menyusuri jalan setapak. Tak lama kemudian, keramaian terdengar. Pasar malam kultivator terbuka lebar. Pedagang menjajakan ramuan, batu Qi, senjata spiritual tingkat rendah, bahkan budak kontrak. Bau obat herbal dan daging panggang bercampur.

Arkan memegang pinggang Sela protektif. Aura dominannya membuat orang-orang di sekitar secara otomatis memberi jalan.

“Jangan jauh dariku,” bisiknya di telinga Sela.

Mereka berjalan menyusuri kios. Arkan membeli peta sederhana dan beberapa batu Qi rendah dengan uang yang diberikan Juanda. Saat melewati sebuah kios pil, seorang pria tua bermata sipit memanggil mereka.

“Anak muda, mau pil? Atau… mencari informasi tentang Naga Hitam?”

Arkan berhenti. “Berapa harganya?”

“Sepuluh batu Qi untuk satu nama,” jawab pria tua itu sambil tersenyum licik.

Arkan melemparkan sepuluh batu. Pria itu langsung bicara cepat.

“Naga Hitam punya markas di Gua Hitam, tiga jam perjalanan ke utara. Mereka kuat. Pemimpinnya sudah Core Formation awal. Tapi ada kabar mereka sedang lemah karena pertikaian internal.”

Arkan mengingat informasi itu baik-baik. Mereka melanjutkan perjalanan. Di tengah pasar, keributan pecah. Seorang pemuda berpakaian mewah sedang memukuli seorang gadis penjual ramuan karena dianggap curang.

“Berani sekali kamu menipu aku, rendahan!” teriak pemuda itu sambil menendang.

Arkan mengerutkan kening. Sifat penyayang dan tegasnya muncul. Ia melangkah maju.

“Cukup.”

Suara Arkan rendah tapi penuh tekanan Jiwa Naga. Pemuda itu menoleh, marah. “Siapa kau? Mau ikut campur?”

Tanpa banyak kata, Arkan bergerak. Naga Step membuat tubuhnya seperti bayangan. Satu tinju ringan mendarat di perut pemuda itu. Lawan terbang mundur dan menabrak kios, pingsan seketika. Kerumunan terdiam.

Sela tersenyum bangga di belakangnya.

Seorang pria berjubah abu-abu mendekat. “Teman, kau kuat. Tapi pemuda tadi anak dari Klan Batu Emas. Mereka tidak suka dihina.”

“Biarkan saja,” jawab Arkan dingin. “Kalau mereka datang, aku terima.”

Mereka meninggalkan pasar dan melanjutkan perjalanan ke utara menggunakan jalan setapak gelap. Di tengah hutan, Arkan mengajari Sela cara bertarung sederhana. Gadis itu cepat belajar. Dengan bantuan pil dan benih Qi dari Arkan, ia sudah mencapai tingkat Qi Gathering awal.

Setelah dua jam berjalan, mereka tiba di depan sebuah gua besar yang tertutup kabut hitam tebal.

“Ini tempatnya,” kata Arkan. “Kamu tunggu di luar. Kalau ada bahaya, kabur.”

“Tidak,” tolak Sela tegas. “Kita bersama.”

Arkan menghela napas tapi tersenyum. Ia suka sifat penurut tapi dominan Sela. “Baiklah. Tetap di belakangku.”

Mereka masuk ke gua. Di dalam gelap, tapi Arkan menciptakan bola cahaya Qi emas kecil. Lorong panjang dan bercabang. Bau darah dan anyir tercium.

Tiba-tiba, sepuluh orang berjubah hitam muncul dari bayangan. Mereka semua membawa senjata spiritual.

“Siapa yang berani masuk wilayah Naga Hitam?!” bentak pemimpin mereka.

Arkan tidak buang waktu. Ia langsung menyerang. Sword Qi emas muncul di tangannya. **Naga Muda Mengaum!** Dua orang langsung terpotong bersih. Sela membantu dengan melemparkan energi pelindung dan serangan kecil, memberi Arkan ruang.

Pertarungan berlangsung sengit tapi singkat. Arkan yang sudah lebih kuat mendominasi. Dalam waktu kurang dari lima menit, delapan orang tewas, dua ditangkap hidup-hidup.

Arkan menekan leher salah satu tawanan. “Di mana tawanan kalian simpan? Orang tuaku di mana?”

Tawanan itu ketakutan melihat aura naga di mata Arkan. “Mereka… dipindah ke markas utama di Jakarta tiga hari lalu. Hanya pemimpin yang tahu persis!”

Arkan mematahkan lehernya tanpa ragu. Yang satu lagi dihabisi Sela dengan pisau yang diambil dari mayat musuh.

“Kamu… kejam juga ya,” kata Sela sambil membersihkan pisau.

“Hanya pada musuh,” jawab Arkan sambil mengusap rambutnya. “Kamu baik-baik saja?”

Sela mengangguk. Tubuhnya agak gemetar karena pertarungan pertama, tapi matanya penuh semangat. Arkan menariknya ke pelukan dan menciumnya dalam-dalam untuk menenangkan.

Setelah itu, mereka membakar mayat-mayat dan mengambil barang rampasan: tiga batu Qi menengah, sebuah buku teknik hitam rendah, dan sebuah token identitas Naga Hitam.

Keluar dari gua, langit sudah mulai terang. Arkan berdiri di mulut gua, menatap ufuk timur.

“Orang tuaku di Jakarta. Kita harus ke sana. Tapi sebelum itu, kita perlu lebih kuat.”

Sela bersandar di bahunya. “Aku ikut ke mana pun kamu pergi.”

Mereka kembali ke Pasar Salak untuk istirahat dan membeli perlengkapan. Di sana, kabar tentang “pemuda naga emas” yang menghabisi anak buah Naga Hitam sudah menyebar. Beberapa orang mulai memperhatikan mereka.

Seorang wanita cantik berpakaian merah mendekati Arkan di sebuah kedai teh.

“Pemuda, kau menarik perhatian banyak orang. Sekte Langit Biru tertarik merekrutmu. Mau ikut denganku?”

Arkan tersenyum dingin. “Terima kasih. Tapi aku punya urusan sendiri.”

Wanita itu tidak menyerah. “Hati-hati. Banyak yang iri dengan warisanmu.”

Arkan dan Sela memutuskan untuk tidak lama di Salak. Mereka kembali ke motor dan meluncur menuju Jakarta. Di perjalanan, Arkan merasakan dantiannya semakin stabil. Ia sudah siap terobosan berikutnya.

Malam itu, di sebuah hotel mewah pinggir jalan tol yang dibayar dengan kartu Juanda, Arkan dan Sela berbagi kamar.

Sela mandi duluan. Saat keluar dengan handuk melilit tubuh seksi dan cantiknya, Arkan yang sedang meditasi membuka mata.

“Kamu cantik sekali,” katanya dengan suara serak.

Sela mendekat, wajah polosnya merona. “Aku milikmu, Arkan.”

Arkan berdiri, mengangkat Sela ke ranjang. Malam itu, ikatan mereka semakin dalam. Bukan hanya fisik, tapi juga jiwa. Naga Qi Arkan mengalir ke tubuh Sela saat mereka menyatu, memperkuat gadis itu secara permanen.

Keesokan paginya, mereka tiba di pinggiran Jakarta. Kota besar itu terasa penuh energi gelap dan terang yang bercampur.

Arkan menatap gedung-gedung tinggi.

“Black Viper… aku datang.”

Dan perburuan besar baru saja dimulai.

1
Manusia Ikan 🫪
pembukaan yang menarik/Chuckle/
Nur Mohammad Rahman Arif: makasih kak
total 1 replies
T28J
aku suka 👍
T28J: jangan lupa mampir ketempat syaa juga kak👍
total 2 replies
Tarmin Dono
bagus sih ni,smngat yaa thor nulisnya,,,,💪💪💪💪💪🙏🙏🙏🙏
Nur Mohammad Rahman Arif: makasih kak, siap🙏🏻😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!