"Sepuluh tahun tanpanya adalah sunyi yang menyiksa. Tapi kepulangannya adalah badai yang tak terduga."
Dulu, Alea hanyalah gadis kecil yang menangis tersedu-sedu saat Uncle Bima—sahabat termuda ayahnya—memilih pergi ke luar negeri. Janji untuk memberi kabar ternyata menjadi kebohongan besar selama satu dekade penuh.
Kini, di usia 18 tahun, Alea bukan lagi "burung kecil" yang lemah. Namun, tepat saat ia akan memulai lembaran baru di bangku kuliah, pria yang pernah menghancurkan hatinya itu kembali muncul. Bima kembali bukan sebagai paman yang lembut, melainkan sosok pria dewasa yang posesif, penuh teka-teki, dan gemar melontarkan godaan yang membuat jantung Alea berpacu tidak keruan.
Terpaut usia 15 tahun, Bima tahu ia seharusnya menjaga jarak. Namun, melihat Alea yang kini begitu memesona, "paman" nakal ini tidak ingin lagi sekadar menjadi sahabat ayahnya.
"Sst, little bird... kau sudah cukup bersinar. Sekarang, waktunya pulang ke sangkarmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10. Manipulasi Rasa
Hari-hari berikutnya berlalu dengan kedamaian yang terasa asing sekaligus memabukkan bagi Alea. Rumah yang tadinya terasa seperti medan perang, kini berubah menjadi tempat yang penuh dengan perhatian-perhatian kecil yang manis. Bima benar-benar melakukan transformasi yang luar biasa. Ia seolah menanggalkan jubah predatornya dan kembali mengenakan topeng pria budiman yang selama ini dirindukan Alea.
Pagi itu, Alea terbangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Saat ia turun ke ruang makan, ia tidak mendapati sosok Bima yang menatapnya dengan lapar. Sebagai gantinya, ia menemukan sebuah buket bunga lili putih kecil, bunga favorit ibunya yang sangat sulit ditemukan di musim ini, tergeletak cantik di atas meja makan. Di sampingnya, tersaji sarapan sehat kesukaannya dan sebuah kartu ucapan dengan tulisan tangan yang tegas namun rapi:
"Selamat atas hari pertamamu masuk kelas, little bird. Terbanglah setinggi yang kau mau hari ini. - B"
Alea menyentuh kelopak bunga lili itu dengan ujung jarinya. Ada rasa hangat yang perlahan merayap di dadanya, menggeser sedikit demi sedikit rasa benci yang ia agungkan beberapa hari lalu. Tak ada kontak fisik yang lancang, tak ada bisikan intim yang mengancam. Bima benar-benar memberikan ruang yang Alea minta, namun ia memastikan kehadirannya tetap terasa melalui kasih sayang yang tulus.
Di kampus, Alea merasa benar-benar merdeka. Sesuai janji Bima di depan ayahnya, pria itu tidak lagi mengawasi Alea secara terang-terangan. Ia bebas berjalan di koridor, mengobrol dengan teman-teman baru, dan duduk di taman tanpa merasa ada sepasang mata yang mengintai dari balik kaca SUV hitam.
Namun, ironisnya, kebebasan ini justru membuat Alea merasa ada sesuatu yang hilang. Berkali-kali ia memeriksa ponselnya, berharap ada pesan dari Bima, meskipun hanya sekadar bertanya apakah ia sudah makan. Kontras antara intimidasi Bima yang gila dan sikap manisnya saat ini membuat pikiran Alea berputar-putar dalam kebingungan.
"Alea, kau melamun lagi?"
Suara Revan memecah lamunan Alea. Mereka sedang duduk di bangku taman kampus yang rimbun setelah kelas arsitektur berakhir. Revan menatapnya dengan dahi berkerut, tangannya menggenggam kaleng minuman dingin yang mulai berembun.
Alea tersentak, lalu memberikan senyum tipis. "Ah, tidak. Aku hanya sedikit lelah dengan tugas studio tadi."
Revan tidak tampak percaya. Ia meletakkan minumannya dan menatap Alea dengan saksama. "Kau tampak berbeda beberapa hari ini, Alea. Lebih tenang, tapi matamu seolah sedang mencari sesuatu. Pria itu... si Bima... apa dia masih melakukan hal-hal gila padamu di rumah?"
Alea menggeleng pelan, kali ini senyumnya terasa lebih nyata. "Tidak, Van. Malah sebaliknya. Uncle Bima benar-benar berubah. Dia sangat manis belakangan ini. Dia memberiku kebebasan penuh, membiarkanku membawa mobil sendiri, bahkan dia membelikanku bunga lili pagi ini."
Wajah Revan mendadak berubah serius. Ia tidak merasa senang mendengar berita itu. Baginya, perubahan mendadak Bima adalah alarm bahaya. "Alea, dengarkan aku. Pria seperti dia tidak berubah begitu saja dalam semalam. Kau ingat betapa brutalnya dia kemarin? Itu adalah sifat aslinya. Perubahan ini... aku takut ini hanya taktik baru untuk membuatmu lengah."
Alea mendengus, merasa sedikit terusik karena Revan terus-menerus memojokkan Bima. "Kau terlalu berprasangka buruk, Revan. Dia sahabat Daddy. Mungkin dia hanya benar-benar menyadari kesalahannya. Dia bahkan meminta maaf dengan cara yang sangat... gentle."
"Atau mungkin dia sedang menjebakmu ke dalam lubang yang lebih dalam," gumam Revan lirih, namun Alea memilih untuk memalingkan wajah, mengabaikan peringatan itu. Baginya, Revan hanya tidak mengenal sisi lembut Bima yang pernah ia rasakan sepuluh tahun lalu.
Sore harinya, saat Alea pulang ke rumah, suasana sedang sepi. Baskara pergi ke kantor pusat sejak siang. Namun, saat melewati lorong lantai satu, ia melihat pintu ruang kerja Bima sedikit terbuka. Cahaya lampu meja yang kekuningan berpendar keluar dari celah pintu.
Alea melangkah mendekat dengan sangat pelan, rasa penasaran mengalahkan logikanya yang memperingatkan untuk menjauh. Ia mengintip ke dalam.
Di sana, ia melihat Bima sedang tertidur di kursi kerjanya yang besar. Kepala pria itu tersandar ke belakang, kacamata bacanya masih bertengger miring di hidungnya. Di depannya, tumpukan dokumen bisnis berserakan, dan sebuah cangkir kopi yang sudah dingin berdiri di sudut meja. Bima tampak sangat lelah,.gurat-gurat keletihan di wajahnya terlihat jelas. Dalam tidurnya, ekspresi keras dan dominan itu melunak, menyisakan wajah pria yang tampak rapuh.
Alea masuk ke dalam ruangan itu dengan langkah seringan kapas. Ia berdiri di samping kursi Bima, menatap wajah pria itu dari jarak yang sangat dekat. Kelebatan memori masa kecil kembali menyerbu pikirannya; saat Bima menjaganya ketika ia sakit, saat Bima membantunya mengerjakan tugas sekolah, dan saat Bima berjanji akan selalu kembali.
Tanpa sadar, tangan Alea terulur. Ia ingin merapikan kacamata Bima yang hampir jatuh. Namun, tepat saat ujung jarinya menyentuh bingkai kacamata itu, mata Bima terbuka secara tiba-tiba.
Alea terperanjat, napasnya tertahan, dan ia hendak menarik tangannya dengan panik. Namun, Bima lebih cepat. Kali ini, pria itu tidak mencengkeram pergelangan tangan Alea dengan kasar. Ia hanya menangkap punggung tangan Alea dengan jemarinya yang hangat dan besar, lalu dengan gerakan yang sangat lembut, ia membawa telapak tangan Alea ke pipinya sendiri.
Bima memejamkan mata sejenak, menggosokkan wajahnya ke telapak tangan Alea yang halus. Ia tampak seperti seekor predator yang sedang menjinakkan diri di hadapan satu-satunya orang yang ia percayai.
"Kau sudah pulang, little bird?" bisik Bima, suaranya serak dan berat khas orang yang baru terbangun dari tidur yang tidak nyenyak.
"Sudah... aku hanya tidak ingin kacamatamu jatuh," sahut Alea gugup. Jantungnya berdegup kencang, namun kali ini bukan karena ketakutan yang mencekam. Ada rasa hangat yang asing menjalar dari telapak tangannya menuju ke seluruh pembuluh darahnya.
Bima mendongak, menatap Alea dengan mata yang sayu namun penuh pemujaan. Ia tidak melepaskan tangan Alea. "Terima kasih, Alea. Kau selalu menjadi satu-satunya alasan kenapa aku ingin kembali ke rumah ini setiap harinya."
Bima berdiri perlahan dari kursinya, postur tubuhnya kembali menjulang namun ia menjaga jarak yang sangat sopan. Ia memegang kedua tangan Alea, lalu menunduk. Ia mengecup dahi Alea dengan sangat lama, sebuah ciuman yang terasa seperti sebuah pengabdian daripada nafsu.
"Maafkan aku jika aku membuatmu takut di awal kepulanganku," gumam Bima tepat di depan wajah Alea, napas hangatnya yang beraroma kopi menerpa kulit Alea.
"Aku hanya terlalu merindukanmu selama sepuluh tahun ini. Aku kehilangan kendali saat melihatmu sudah tumbuh menjadi wanita yang begitu memukau. Beri aku waktu untuk belajar mencintaimu dengan cara yang benar, ya?"
Alea tidak sanggup berkata-kata. Peringatan Revan tentang "jebakan" sempat terlintas sejenak, namun saat menatap mata Bima yang tampak berkaca-kaca karena penyesalan, pertahanan Alea runtuh.
Ia merindukan sosok pelindung, dan pria di hadapannya ini sedang menawarkan diri untuk menjadi pelindung itu kembali.
"Ayo makan malam. Aku sudah memesankan makanan dari restoran favoritmu yang dulu sering kita kunjungi," ajak Bima sembari menggandeng tangan Alea dengan santai menuju ruang makan.
Malam itu, meja makan tidak lagi terasa seperti medan pertempuran. Mereka banyak mengobrol dan tertawa.
Bima menceritakan kejadian-kejadian konyol saat ia harus beradaptasi dengan budaya di Singapura, dan Alea bercerita tentang ambisinya ingin merancang bangunan yang ramah lingkungan.
Keintiman yang terbangun di antara mereka malam itu terasa alami, bukan karena paksaan. Alea sendiri yang memilih untuk membuka pintu hatinya sedikit demi sedikit.
Bima memperhatikan Alea yang sedang tertawa lepas, dan di balik senyum manisnya, pria itu merasakan kepuasan yang luar biasa. Strateginya berjalan mulus.
Alea tidak sadar bahwa dengan memberikan "kebebasan" dan "kelembutan", Bima sebenarnya sedang menjahit jaring yang lebih halus dan lebih kuat. Sebuah jaring yang membuat Alea tidak bisa lagi membedakan mana kasih sayang yang tulus dan mana kepemilikan yang obsesif.
"Kau sangat cantik saat tertawa begini, Alea. Tolong jangan biarkan pria lain melihat senyum ini ya." puji Bima lembut sembari mengusap sudut bibir Alea yang sudah sembuh total dengan ibu jarinya, kali ini dengan sentuhan yang sangat ringan.
Alea hanya tersipu, menganggap kata-kata itu sebagai bentuk rasa sayang seorang "Paman" yang protektif, tanpa menyadari bahwa itu adalah klaim terselubung yang mulai mengunci dunianya kembali dalam kendali Bima. Bima telah berhasil membuat Alea masuk ke dalam sangkarnya kembali, kali ini dengan sukarela.