Seorang pria miskin harus menelan pahitnya dikhianati dan ditinggalkan kekasihnya di saat yang sama. Sempat hancur dan hampir menyerah, dia akhirnya memilih bangkit demi membalas semuanya. Sampai suatu hari, dia menemukan liontin misterius warisan keluarga yang mulai mengubah hidupnya. Dengan cara yang tak biasa, dia perlahan membalikkan nasib lewat hubungan dengan para janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StarBlues, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
Suasana di dalam ruangan VIP itu masih menyisakan sisa-sisa ketegangan sebelum akhirnya pintu terbuka kembali. Kali ini, bukan petugas keamanan, melainkan pria penanggung jawab lokalisasi itu yang masuk. Wajahnya yang tadi keras kini tampak layu, tubuhnya sedikit membungkuk dengan gestur penuh permohonan maaf.
“Maafkan kelalaian kami, Tuan Juan,” ucapnya dengan nada suara yang bergetar rendah. “Dua wanita tadi benar-benar sudah melampaui batas. Seharusnya keamanan VIP tidak sebocor itu. Saya pribadi yang akan menjamin kenyamanan Anda mulai detik ini.”
Juan tidak menoleh. Ia hanya menatap pantulan cahaya lampu di dalam gelas wine-nya. “Aku tidak butuh permintaan maaf di atas kertas,” sahut Juan dingin. “Tapi jika tempat ini masih membiarkan lalat-lalat murahan mengganggu tamu, maka reputasi tempat ini tidak lebih baik dari tempat sampah.”
Pria itu mengangguk cepat, peluh dingin tampak di pelipisnya. “Saya mengerti, Tuan. Sebagai bentuk penebusan, saya akan menghadirkan yang terbaik yang kami miliki. Anda hanya perlu menyebutkan kriteria wanita yang Anda inginkan.”
Juan mematikan rokoknya, menekan puntungnya ke dalam asbak kristal hingga mati total. “Aku tidak butuh kompensasi gratis. Aku ingin wanita terbaik yang kalian sembunyikan di sini. Berapa tarifnya?”
Pria itu berdehem, mencoba mengembalikan profesionalismenya. “Untuk kelas Atas, tarifnya sepuluh juta rupiah untuk satu malam, Tuan.”
Juan mengetukkan jarinya ke meja, menciptakan irama yang menekan. “Itu yang paling hebat?”
Pria itu ragu. Matanya melirik ke arah pintu, seolah ada rahasia besar di balik dinding beton itu.
“Katakan saja yang sejujurnya. Jangan membuatku membuang waktu,” desak Juan, matanya kini berkilat tajam, efek dari kekuatan batin yang mulai bangkit.
Akhirnya, pria itu menghela napas pasrah. “Sebenarnya, kami memiliki satu tingkat di atas segalanya, Tuan. Kelas VVIP. Namun... harganya sangat fantastis. Biasanya hanya kalangan pejabat atau pengusaha kelas kakap yang berani menyentuh level ini.”
Juan mengangkat alis. “Lalu kenapa baru sekarang kamu menyebutkannya?”
Pria itu menunduk malu. “Jujur saja, Tuan... pengalaman saya di lapangan menunjukkan bahwa tamu yang datang dengan penampilan... sederhana, biasanya hanya berniat bersenang-senang tanpa mengeluarkan modal besar. Jadi saya... memilih menawarkan kelas yang saya pikir masuk akal bagi Anda.”
Juan menyeringai tipis. Sebuah seringai yang meremehkan kenaifan pria di depannya. “Jadi, karena aku tidak memakai jam tangan berlapis emas, kamu pikir aku tidak mampu membeli seluruh malam di tempat ini?”
“T-tidak begitu, Tuan! Saya hanya salah menilai!”
“Sudahlah. Berapa harganya?”
Pria itu menelan ludah, suaranya hampir hilang saat menyebutkan angka itu. “Dua puluh lima juta rupiah. Untuk satu malam.”
Ia menatap Juan, menunggu reaksi kaget atau penolakan. Bagi orang biasa, angka itu bisa menghidupi keluarga selama setahun. Namun, Juan hanya mengeluarkan ponselnya, mengusap layarnya beberapa kali, dan sebuah bunyi klinting notifikasi masuk terdengar dari tablet sang penanggung jawab.
Juan menunjukkan bukti transfer itu. Dua puluh lima juta rupiah meluncur tanpa hambatan.
“Cek itu. Sekarang, panggilkan dia. Aku ingin tahu apa yang membuat seorang wanita dihargai seharga mobil bekas dalam satu malam.”
Pria penanggung jawab itu mematung. Matanya memicing memastikan angka nol yang berderet di layar. Begitu sadar itu nyata, sikapnya berubah drastis—ia membungkuk hampir sembilan puluh derajat. “B-baik, Tuan! Segera! Mohon tunggu sebentar!”
Sepuluh menit kemudian, pintu itu terbuka kembali. Namun kali ini, tidak ada suara kaki yang berisik. Yang terdengar hanyalah langkah anggun yang seolah menari di atas lantai.
Seorang wanita masuk, dan seketika udara di ruangan itu terasa berubah menjadi lebih berkelas. Ia mengenakan gaun sutra hitam yang sangat minimalis namun mematikan. Potongan dadanya yang rendah memperlihatkan dua gundukan bukit kembar yang ranum, putih bersih, dan terlihat sangat kencang, seolah menantang siapa pun untuk menyentuhnya. Gaun itu membalut pinggangnya yang ramping dan bokong yang montok aduhai, membentuk siluet jam pasir yang sempurna.
Juan sempat tertegun. Wajah itu... ia tidak asing. Wajah yang sering menghiasi sampul majalah, iklan produk kecantikan kelas atas, bahkan sesekali muncul di berita hiburan televisi sebagai public figure yang tengah naik daun. Nurita. Nama itu langsung terlintas di kepala Juan.
Aura Nurita begitu tenang. Wangi parfum oud yang elegan menyebar, menyingkirkan bau alkohol murahan.
Pria penanggung jawab baru saja hendak membuka mulut, namun Juan memotongnya. “Aku sudah tahu siapa dia. Kamu boleh keluar.”
Nurita tersenyum tipis. Sebuah senyuman yang penuh rahasia dan percaya diri. “Kamu Juan, ya? Kabarmu sudah menyebar di belakang. Seorang pria misterius yang tidak segan mengeluarkan puluhan juta demi sebuah malam.”
Suaranya halus, berkelas, tidak ada sedikit pun nada meremehkan meskipun Juan berpakaian sederhana.
“Silakan duduk, Nurita,” ucap Juan sembari menuangkan wine ke gelas kosong.
Nurita duduk di sofa seberang Juan. Ia menjaga jarak dengan elegan, tidak seperti pelacur murahan yang langsung menempel. Gesturnya menunjukkan bahwa ia adalah "barang mahal" yang harus dinikmati dengan sabar.
“Aku dengar teman-temanmu sedang bersenang-senang dengan gadis kelas atas?” tanya Nurita sembari menerima gelas wine dari Juan.
“Setidaknya mereka tidak perlu ribut soal foto lagi,” jawab Juan datar.
Nurita terkekeh pelan, menyingkap leher jenjangnya yang mulus. “Tempat ini memang keras, Juan. Orang menilai dari apa yang menempel di tubuhmu. Kalau kau terlihat biasa, mereka akan menginjakmu sedalam mungkin. Tapi uang... uang adalah bahasa universal yang membuat mereka bertekuk lutut.”
“Kamu berbeda dari mereka,” puji Juan tiba-tiba.
Nurita menyesap wine-nya sedikit, membiarkan cairan merah itu membasahi bibirnya yang ranum. “Aku hanya profesional, Juan. Tubuhku boleh disewa, tapi harga diriku tidak harus ikut kotor.”
Mereka berbicara panjang. Tentang pahitnya hidup, tentang dunia yang memandang manusia hanya sebagai komoditas, dan tentang rahasia-rahasia di balik gemerlapnya dunia hiburan. Topik yang tidak mungkin dibicarakan dengan wanita yang hanya menjual lubang.
Satu botol wine tandas. Botol kedua menyusul.
Wajah Juan mulai menghangat, sementara Nurita tetap tenang, namun matanya mulai memancarkan kilat yang berbeda. Semakin malam, aura elegan itu perlahan mulai terkikis oleh hawa panas yang merambat dari alkohol dan ketertarikan satu sama lain.
Nurita berdiri perlahan, membiarkan gaun sutranya bergeser sedikit, memperlihatkan paha putihnya yang mulus. “Sekarang aku tahu kenapa kamu membayar semahal itu, Juan. Kamu bukan mencari sekadar pelepasan, tapi pengakuan.”
Juan menatap mata Nurita. Di dalam kepalanya, bayangan luka lama tentang pengkhianatan Laras dan gairah gila Tante Hena bertarung. Awalnya ia ingin tetap pada prinsipnya, hanya ingin ditemani berbicara. Namun, melihat lekuk tubuh Nurita yang begitu menggoda di bawah temaram lampu VIP, pertahanannya mulai runtuh.
Hasrat purba sebagai pria yang baru saja memiliki segalanya mulai meledak.
“Aku menyewamu bukan hanya untuk bicara, Nurita,” bisik Juan dengan suara yang kini menjadi berat dan serak.
Nurita mengerjap, lalu sebuah senyuman nakal yang sangat menggoda terbit di bibirnya. “Kalau begitu, jangan biarkan waktu dan uangmu terbuang sia-sia, Tuan Besar.”
Juan bangkit dan dalam satu gerakan cepat, ia menarik pinggang ramping Nurita ke dalam pelukannya. Tubuh mereka menempel erat, Juan bisa merasakan payudara Nurita yang kenyal menekan dadanya dengan sempurna.
“Aku menginginkannya,” desis Juan tepat di telinga Nurita.
Nurita tidak menolak. Justru ia mengalungkan lengannya ke leher Juan, membiarkan jari-jarinya bermain di rambut Juan. Ia menarik wajah Juan, mendekatkannya, dan mulai mencumbu bibir Juan dengan lumatan yang penuh pengalaman, panas, dan menuntut.
Malam yang tenang di ruang VIP itu seketika berubah menjadi medan pergulatan penuh gairah antara seorang pria yang baru menemukan kekuatannya dan seorang dewi malam yang siap melayaninya hingga pagi.