NovelToon NovelToon
Frekuensi Kematian

Frekuensi Kematian

Status: tamat
Genre:Action / Teen School/College / Tamat
Popularitas:120
Nilai: 5
Nama Author: Lovey Dovey

Di SMA Nambu, kelas 3-B adalah kelas paling viral-bukan karena prestasi, tapi karena jumlah problem child-nya. Malam itu, hukuman belajar tambahan untuk 30 siswa mereka berubah jadi mimpi buruk hidup-hari saat invasi makhluk asing berawal di sekolah mereka. Makhluk-makhluk fotofobia yang mengerikan, terluka oleh cahaya terang tapi memangsanya seperti ngengat, menjadikan sekolah sebagai arena berburu. Dipimpin oleh ketua kelas yang panik dan wakilnya yang berusaha tegar, mereka harus bertahan dengan satu aturan: JANGAN MENYALA.


Apakah mereka berhasil melawan makluk itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovey Dovey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Oasis

Satu per satu, lampu kecil di dalam gerbong dimatikan. Mereka kembali disergap kegelapan, kali ini di dalam sebuah tabung logam yang menjadi tempat perlindungan sekaligus potensi peti mati mereka.

Di luar, mereka masih mendengar suara makhluk itu. Gesekan di sepanjang badan kereta. Ketukan di atap. Lengkingan frustrasi. Tapi tidak ada lagi hantaman. Dia sedang memeriksa, mencari celah.

Di dalam kegelapan gerbong, tiga puluh siswa kelas 3-B duduk, terduduk, atau berbaring di lantai. Napas mereka tersengal-sengal. Mulut mereka terasa kering. Mata mereka terbuka lebar dalam gelap, menatap ke arah gorden yang menjadi satu-satunya penghalang tipis antara mereka dan kematian.

Mereka telah mencapai tujuan. Tapi tujuan itu adalah kuburan. Dan sekarang, mereka terperangkap di dalam kereta, dengan salah satu pemburu di luar, menunggu mereka membuat kesalahan-sedikit cahaya, satu teriakan, satu ketukan-yang akan memecahkan kaca dan membawa akhir bagi mereka semua.

Perjalanan panjang mereka berakhir di sini, di stasiun bawah tanah yang seharusnya menjadi penyelamat, tetapi justru menjadi sangkar mereka berikutnya.

Kegelapan di dalam gerbong kereta itu berbeda. Lebih pekat, lebih sesak, dan dipenuhi oleh suara-suaranya sendiri yang membuatnya terasa hidup-atau lebih tepatnya, sekarat. Suasana di dalam bukanlah keheningan tegang seperti di kelas atau parkiran, melainkan histeria yang diredam. Sebuah simfoni keputusasaan yang dimainkan dalam nada minor.

Chenle duduk meringkuk di sudut, wajahnya terkubur di antara lutut, bahunya naik turun tak terkendali. Isakannya yang tertahan terdengar seperti desahan angin yang sekarat. Di sebelahnya, Ningning tidak lagi menangis dengan suara, tetapi air matanya mengalir deras dan sunyi, membasahi jaketnya yang sudah kotor. Dia hanya menatap kosong ke lantai.

Sunkyung gemetar tak henti-hentinya, seperti orang yang kedinginan ekstrem. Tangannya mencengkeram lengan kursu plastik hingga keputihan. Mulutnya komat-kamit berdoa atau mungkin memanggil ibunya, tanpa suara.

Dari suatu tempat di gerbong, terdengar suara "huuuk... huk..." yang tercekik. Itu Juun, yang mencoba menelan tangisnya tapi gagal. Suara itu diikuti oleh erangan pendek dari A-na, yang kepalanya sedang ia pegang erat-erat seolah ingin menghancurkan tengkoraknya sendiri.

Bahkan yang biasanya tegar seperti Jimin, kini duduk bersandar di dinding gerbong dengan mata terpejam rapat, tetapi alisnya berkerut dan bibirnya bergetar. Yeri memeluk Mark erat-erat, dan kali ini Mark tidak mencoba bersikap santai. Dia memeluk balik, wajahnya terlihat hancur di bayangan. Koeun duduk sendiri, jauh dari mereka, memandangi kegelapan dengan ekspresi kosong-semua rasa cemburu dan drama remaja telah lenyap, digantikan oleh kehampaan yang lebih dalam dari ketakutan.

Jaemin berjalan pelan di lorong gelap, kakinya menabrak tas dan kaki yanglain.

"Tenang," bisiknya, tapi suaranya sendiri parau. "Kita aman selama di sini. Pintu terkunci. Gorden tertutup."

"Amankah?" suara Renjun menyeletup dari kegelapan, penuh sarkasme yang pahit.

"Atau kita cuma lagi nunda jam makan siangnya monster itu di luar?"

Haechan, yang biasanya akan melontarkan lelucon, kali ini diam. Dia hanya duduk dengan kaki ditekuk, kepalanya menoleh ke arah pintu gerbong, seolah-olah bisa menembus gorden dan melihat makhluk itu masih berkeliaran.

Wonbin terduduk di dekat pintu penghubung, tangannya masih memegang erat gagang pintu yang sudah ia kunci. Rasa bersalah karena daun kering tadi telah berubah menjadi sebuah ketakuan yang membeku. Dia merasa setiap napasnya terlalu keras.

Tiba-tiba, dari atap kereta, terdengar suara geseran panjang-seperti cakar yang menggaruk logam.

SCREEEEEEEE--

Semua orang langsung membeku. Tangisan berhenti. Napas tertahan. Chenle menahan isaknya dengan tangan.

Suara itu berjalan pelan di atas atap, dari ujung gerbong ke ujung lainnya. Lalu, hening.

Beberapa detik berlalu, yang terasa seperti abadi.

Kemudian, ketukan. Tok. Tok. Tok. Di jendela, tepat di balik gorden di dekat tempat duduk Shotaro.

Shotaro menjerit kecil dan menjauh, menyusup ke bawah kursi.

"Jangan ada yang bersuara," desis Jaemin, hampir tidak terdengar. "Dia lagi nyoba. Dia lagi cari tahu."

Ketukan itu berhenti. Mereka mendengar suara kepakan sayap yang perlahan menjauh, lalu... lenyap.

Namun, tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang berani berasumsi makhluk itu benar-benar pergi. Mereka tetap terdiam, terpaku di posisi masing-masing, menjadi patung-patung yang hidup dalam museum ketakutan mereka sendiri.

Di dalam kereta api yang menjadi peti mati berjalan ini, mereka bukan lagi siswa SMA. Mereka adalah sekumpulan jiwa-jiwa yang terluka, terkoyak antara harapan yang telah mati di stasiun ini, dan insting primitif untuk tetap bernapas selama satu detik lagi. Setiap detik adalah pencapaian. Setiap menit adalah anugerah. Dan mereka semua tahu, kegelapan yang melindungi mereka juga perlahan-lahan menggerogoti sisa-sisa kewarasan mereka.

Cahaya redup yang menyelinap dari celah gorden perlahan memudar, berubah dari abu-abu menjadi hitam pekat. Malam tiba. Dan dengan malam, datanglah kenyataan yang tak terbantahkan: mereka terperangkap di dalam kereta ini. Tidak ada yang berani membuka pintu, apalagi mencoba menyalakan mesin kereta yang mereka sama sekali tidak tahu cara mengoperasikannya.

"Kita... kita harus menginap di sini," kata Jimin, suaranya lelah namun tegas di dalam gelap.

"Tapi... persediaan kita," bisik Yeri, membuka tasnya dengan hati-hati. Cahaya layar HP-nya yang nyaris mati menyinari isi tas sejenak sebelum ia cepat mematikannya.

"Air cuma tinggal tiga botol kecil. Biskuit mungkin untuk satu kali makan ringan buat kita semua. Itu pun kalau dibagi tiga puluh."

Angka itu menggantung di udara seperti vonis. Tiga botol air. Untuk tiga puluh orang. Untuk satu malam, dan besok yang tidak pasti.

"Kita harus atur jatah," suara Jaemin terdengar dari ujung gerbong. "Satu teguk air per orang, cuma buat yang benar-benar haus. Makanan... mungkin nanti kalau ada yang lemas."

"Satu teguk? Itu gak ada gunanya!" protes A-na, tapi suaranya sudah tidak lagi melengking. Hanya penuh kelelahan dan kepasrahan.

"Mending satu teguk daripada gak sama sekali," balas Minjeong.

"Kita harus tahan sampe besok pagi. Besok... besok kita pikirin lagi."

"Mikir apa? Pilihan kita cuma dua: dimakan Klepek-Klepek atau jadi mumi kelaparan di kereta!" sergap Hina, logis tapi nyebelin.

"Klepek-Klepek?" tanya Shotaro, bingung.

"Iya, nama yang Haechan kasih ke mereka," jelas Stella.

Haechan, yang dari tadi diam, tiba-tiba nyengir di gelap. "Nah, kan! Gue bilang juga nama itu pas! Klepek-Klepek! Sekarang pada pake juga!" suaranya kedengaran bangga, meski situasinya lagi kacau.

"Emang bener sih, nyebut 'Klepek-Klepek' lebih gampang daripada 'makhluk aneh bersayap yang punya titik-titik biru'," aku Jeno, bikin beberapa orang nyengir kecut.

"Ya udah, Klepek-Klepek ya Klepek-Klepek," kata Mark, nyelesaiin debat. "Yang penting sekarang, kita bagi air."

Proses bagi air jadi ritual aneh. Botol berjalan dari tangan ke tangan dalam gelap. Setiap orang cuma numpang basahin bibir.

"Nyesek banget sih cuma segini," gumam Chenle sambil nelen air matanya sendiri.

"Syukurin masih ada, Le," bisik Ningning di sebelahnya, suaranya serak.

Setelah urusan air selesai, suasana jadi lebih tenang, tapi lebih muram. Dingin mulai nyusup dari lantai kereta.

"Gue kedinginan," bisik Sunkyung gemetar.

"Sini, jaket gue," kata Minjeong, naroh jaket di pundak Sunkyung.

"Gue juga dingin, tapi gue gak mau ngerepotin," gumam Jisung.

"Diem lo, sini numpang," Carmen narik Jisung deket-deket, bagi-bagi panas tubuh.

Haechan masih aja ga bisa diam. "Untung ya kita ada di kereta. Bayangin kalo kita masih di parkiran, Klepek-Klepek itu bisa masuk lewat ventilasi."

"Haechan, lo bisa ga sih diem sebentar? Lagi serius nih," tegur Sohee.

"Ini gue lagi serius! Gue lagi bersyukur kita punya benteng anti-Klepek-Klepek!" bales Haechan.

Obrolan kecil mulai nyebar di kegelapan.

"Gue laper," rengek Juun.

"Sama. Tapi mending laper daripada jadi snack Klepek-Klepek," jawab Yeon, nyoba ngedihin.

"Betul. Snack-nya mahal soalnya, bayarnya nyawa," timpal Haechan lagi, bikin beberapa orang ketawa kecil getir.

Gosip-gosip receh mulai muncul, jadi pelarian dari rasa takut dan lapar.

"Gue yakin Klepek-Klepek tu sebenernya alien yang kesasar," omong Giselle.

"Bukan, eksperimen pemerintah yang bocor kalik," bantah Wonbin.

"Mana ada eksperimen pemerintah secanggih itu. Itu mah beneran alien. Klepek-Klepek dari planet Klepekonia," celetuk Haechan lagi, bikin Anton yang pendiam sampe ketawa dikit.

Di tengah obrolan receh itu, ketakutan masih ada. Setiap kali ada suara gesekan dari luar, mereka langsung diam. Tapi seenggaknya, dengan nyebut nama "Klepek-Klepek", musuh mereka jadi kayak punya persona-tetap menyeramkan, tapi sedikit lebih... bisa diajak bercanda. Dalam kondisi kayak gini, candaan pahit Haechan adalah obat penahan rasa takut yang lumayan manjur.

Malam semakin larut. Mereka pada akhirnya tidur-atau setidaknya, memejamkan mata-dengan perut keroncongan, badan dingin, tapi dengan sedikit kehangatan karena masih ada teman yang bisa diajak ngobrol, dan musuh yang sekarang punya nama konyol: Klepek-Klepek. Nama yang akan terus mereka sebut, karena dalam dunia yang sudah kacau ini, sedikit kelucuan adalah barang mewah yang harus mereka pertahankan mati-matian.

Kereta tenggelam dalam keheningan yang hanya dipotong oleh napas tidak teratur dan sesekali dengkuran ringan. Hampir semua orang sudah terlelap, kelelahan oleh ketakutan dan keputusasaan. Tapi di tengah barisan kursi dekat jendela tertutup, Minjeong masih duduk tegak, matanya terbuka lebar menatap kegelapan di depannya. Tangannya masih menepuk-nepuk punggung Sunkyung yang sudah tertidur lelap di pangkuannya.

Dari seberang lorong, di kursi yang berseberangan, Jaemin juga belum tidur. Dia mengamati siluet Minjeong yang terlihat kaku dan sendirian di tengah lautan orang yang tidur. Dengan sangat hati-hati, dia mengambil sepotong kecil batu kerikil yang terjebak di sol sepatunya dan melemparkannya pelan ke arah kaki Minjeong.

Tok.

Suara kecil itu membuat Minjeong menoleh. Di kegelapan, dia melihat Jaemin melambaikan tangan, lalu menunjuk ke kursi kosong di sebelahnya. Sebuah undangan.

Minjeong menatapnya sebentar, lalu dengan perlahan melepaskan diri dari pelukan Sunkyung yang sedang tidur. Dia meletakkan jaketnya sebagai bantal pengganti di pangkuan Sunkyung, lalu beringsut pelan melintasi lorong, dan akhirnya duduk di kursi kosong di sebelah Jaemin.

Untuk beberapa saat, mereka hanya duduk dalam diam. Suasana begitu sunyi sehingga mereka bisa mendengar detak jantung satu sama lain.

"Gak bisa tidur?" Jaemin akhirnya membisikkan, suaranya hampir tak terdengar.

Minjeong menggeleng pelan. "Kepala gue berisik banget. banyak pikiran."

"Tentang apa?"

"Semuanya. Klepek-Klepek di luar. Makanan yang hampir habis. Stasiun yang sepi... dan kita yang kayaknya udah gak ada jalan keluar." minjeong berhenti, suaranya semakin kecil.

"Kadang gue mikir... ini kayaknya udah kiamat. kita cuma nunggu giliran."

Jaemin menarik napas dalam-dalam. Kata-kata Minjeong mengungkap ketakutan yang sama yang menggerogoti dirinya. Dunia di luar kereta ini benar-benar seperti sudah berakhir.

"Gue... gue juga mikir gitu," aku Jaemin, suaranya serius.

"Makanya gue mikir mikir, kayaknya gue harus ngomong ini sebelum dunia bener2 kiama deh"

Minjeong menoleh padanya, penasaran. "Apaan?"

Jaemin menelan ludah. Di kegelapan, keberaniannya terasa lebih besar, karena dia tidak harus melihat reaksi langsung di wajah Minjeong.

"Gue suka sama lo, Minjeong. Dari lama. lo kuat, lo peduli, lo nyebelin kadang, tapi lo selalu ada buat yang perlu lo." Kata-katanya keluar berderet, seperti takut akan kehabisan waktu.

"Dan di dunia yang udah kayak gini, udah tamat,... gue gak mau mati tanpa lo tau."

Diam yang menyergap setelah pengakuan itu terasa sangat berat. Minjeong hanya bisa menatapnya, mata membesar, mencoba melihat ekspresi Jaemin dalam remang-remang.

"Jaem..." bisiknya, tak tahu harus berkata apa.

"Gue gak minta lo jawab. Atau gak harus suka gue balik kok. Cuma... gue harus ngomong. Soalnya besok, atau sejam lagi, atau semenit lagi... kita mungkin gak bisa ngomong lagi. Dan itu... itu bakal jadi penyesalan terbesar gue."

Kejujuran Jaemin yang polos dan penuh ketakutan itu menusuk langsung ke jantung Minjeong. Di tengah semua kekacauan ini, ada sesuatu yang begitu manusiawi, begitu rapuh, dan begitu berani.

"Dunia lagi mau kiamat, Jaemin," kata Minjeong akhirnya, suaranya bergetar.

"Kita lagi berusaha bertahan hidup. Perasaan kayak gini... rasanya salah buat dipikirin."

"Justru karena dunia lagi kiamat," jawab Jaemin, dengan keyakinan tiba-tiba.

"Karena besok gak pasti. kita liat orang mati tadi, banyak yang jadi mangsa. dan selagi gue masih hidup.. Gue gak mau pura-pura lagi. Gue gak mau nunggu sampe 'waktu yang tepat', karena mungkin gak bakal ada lagi waktu yang tepat."

Tangan jaemin bergerak, mencari tangan Minjeong di kegelapan. Ketika menemukannya, yang dingin dan gemetar, dia menggenggamnya. "Ini bukan buat nambah beban lo. Ini cuma... buat ngasih tau lo, kalau di antara semua horor ini, ada sesuatu yang bener. Ada perasaan yang bener. Dan itu worth it buat diperjuangin, bahkan cuma buat diakui."

Minjeong menatap tangan mereka yang tergenggam. Air mata yang sudah lama ditahan akhirnya jatuh, membasahi pipinya yang kotor. Dia tidak menarik tangannya. Sebaliknya, jarinya melingkari jari Jaemin dengan lemah.

"Jaem...Gue... gue juga suka sama lo," minjeong akhirnya mengaku, suaranya hampir tak terdengar. "Dari lama juga. Cuma... gue gak pernah berani. Dan sekarang... semuanya berantakan."

"Tapi perasaan kita nggak," bisik Jaemin, mendekatkan wajahnya. Di kegelapan, dahi mereka hampir bersentuhan. "Itu satu-satunya yang nggak berantakan."

Jarak antara mereka menyusut. Napas mereka kini bercampur, hangat dan terengah-engah. Dunia di luar-kereta, stasiun, Klepek-Klepek, kiamat-seolah menghilang, menyusut hanya menjadi ruang sempit di antara dua bangku plastik ini.

Jaemin mengangkat tangan bebasnya, dengan gerakan lambat penuh tanya, menyentuh pipi Minjeong yang basah. Kulitnya terasa dingin di ujung jarinya. Minjeong menutup matanya, mencondongkan kepalanya sedikit ke sentuhan itu, sebuah persetujuan yang sunyi.

Dan kemudian, dipimpin oleh kelegaan yang luar biasa, oleh keberanian gelap, dan oleh pemahaman bahwa momen seperti ini mungkin tidak akan pernah terulang, Jaemin menutup sisa jarak yang ada.

Dia menciumnya.

Bukan ciuman yang terburu-buru atau penuh gairah liar. Melainkan sesuatu yang pelan, penuh pertanyaan, dan luar biasa lembut. Bibirnya yang kering menyentuh bibir Minjeong dengan hati-hati, sebuah percobaan, sebuah konfirmasi. Rasanya seperti mencium sesuatu yang sangat berharga dan sangat rapuh. Minjeong membeku sejenak, kejutan menyergapnya, tapi kemudian tubuhnya melunak. Dia membalas ciuman itu, gerakannya tidak kaku, penuh dengan pengakuan yang sama. Tangannya yang tidak tergenggam naik, mendarat dengan ringan di lengan Jaemin, berpegangan.

Ketika Jaemin akhirnya menarik diri, hanya beberapa sentimeter, dahi mereka masih saling bersentuhan. Napasnya pendek dan hangat di wajah Minjeong. "Maaf... gue... gue gak bisa nahan-"

"Jangan," Minjeong memotongnya, bisikannya tegas meski gemetar. Tangannya yang memegang lengan Jaemin sedikit mencengkeram. "Jangan minta maaf. Jangan... jangan rusakin ini."

Jaemin mengangguk pelan, dahi mereka bergesekan. "Oke."

Mereka tetap duduk seperti itu untuk sementara waktu, berbagi ruang dan kehangatan, tangan masih bergandengan erat, bahu saling bersentuhan. Belum ada resmi pacaran. Suara Chenle yang mendengkur dari beberapa baris kursi di belakang tiba-tiba terasa sangat nyata, mengingatkan mereka bahwa mereka tidak sendirian. Tapi untuk saat ini, dalam kegelapan yang intim ini, mereka ada di dunia mereka sendiri.

...

1
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
oalah👏👏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!