NovelToon NovelToon
JODOH, YANG DIJODOHKAN

JODOH, YANG DIJODOHKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anna ceriya

Selama lebih dari tiga dekade, persahabatan antara Keluarga Lenoir dan Hadinata telah menjadi tonggak dalam kehidupan kedua keluarga. Dari berbagi suka duka hingga merencanakan masa depan bersama, ikatan mereka semakin mengakar dalam setiap aspek kehidupan. Untuk memperkokoh hubungan yang sudah terjalin erat itu, kedua kepala keluarga memutuskan untuk mengikatkan anak-anak mereka melalui perjodohan—suatu langkah yang dianggap akan menyatukan kedua keluarga menjadi satu kesatuan yang lebih kuat.

Aslan Noah Lenoir 28 tahun Pewaris Lenoir Group Dari Paris dan Alana Hadinata 20 tahun berdarah Campuran dari sang ibu ( Helena dubois ) terpaksa harus menjalani rencana perjodohan yang tidak mereka inginkan, gaya hidup mereka yang berbeda sering kali membuat Alana merasa terjebak dalam permainan Aslan yang vulgar dan penuh tantangan.
____

Bisakah dua hati yang terpaksa bertemu menemukan kedekatan yang tulus?
Ataukah perjodohan ini hanya akan menjadi beban dan merusak persahabatan keluarga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna ceriya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33.

 

Pintu kamar hotel tertutup perlahan di belakang mereka, dan suara kunci yang berputar terdengar jelas di ruangan yang sunyi itu. Suara itu seolah menjadi tanda bahwa dunia luar sudah terpisah, dan kini hanya ada mereka berdua di ruang yang luas namun tiba-tiba terasa begitu sempit bagi Alana.

Kamar itu sangat mewah, dengan perabotan bergaya klasik modern dan pencahayaan yang lembut. Namun, bagi Alana, kemewahan itu justru terasa seperti dinding yang perlahan menutup. Jantungnya berdegup kencang, jauh lebih kencang daripada saat ia berdiri di depan banyak orang tadi. Ingatan-ingatan lama tentang bagaimana Aslan bisa begitu mendominasi, tentang situasi-situasi di mana ia merasa tidak memiliki kendali muncul kembali secara tiba-tiba. Ia merasa seolah-olah ia baru saja melangkah masuk ke dalam sebuah jaring, dan meskipun orang yang memegang ujung jaring itu adalah orang yang ia cintai, ketakutan untuk terjebak, untuk kehilangan kebebasan dan batas dirinya sendiri, masih menghantui pikirannya.

Alana berdiri kaku di dekat pintu, tangannya masih menggenggam tas kecilnya erat-erat, seolah itu adalah satu-satunya pelindung yang ia miliki. Matanya mengikuti setiap gerakan Aslan, waspada. Ia melihat Aslan meletakkan kunci dan dompetnya di atas meja, lalu menoleh ke arahnya dengan senyum yang biasa ia tampilkan tenang dan hangat. Namun kali ini, senyum itu justru membuat Alana semakin tegang. Ia bertanya-tanya, apakah di balik senyum itu ada harapan atau rencana lain yang tidak ia ketahui? Apakah janji Aslan tadi hanya kata-kata manis untuk membuatnya mau masuk?

Aslan memang segera menyadari perubahan pada gadis itu. Ia melihat cara Alana menahan napas sejenak saat ia berjalan mendekat, melihat bagaimana bahu gadis itu menegang, dan tatapan mata yang penuh keraguan meskipun berusaha disembunyikan. Aslan berhenti melangkah, tidak memaksakan jarak untuk semakin dekat. Senyumnya melembut, kali ini bukan senyum percaya diri yang ia tunjukkan di depan teman-temannya, melainkan senyum yang penuh pengertian, seolah ia bisa membaca setiap riak ketakutan yang berputar di kepala Alana.

"Aku bisa melihatnya, Sayang," ucap Aslan pelan, suaranya rendah dan tidak mendesak. Ia bahkan sengaja mundur selangkah kecil untuk memberikan ruang lebih bagi Alana, menunjukkan bahwa ia tidak berniat mengepungnya. "Kau masih takut. Kau merasa seolah-olah aku memancing mu masuk ke sini dan akan mengubah segalanya begitu pintu tertutup, bukan begitu?"

Alana terkejut karena pikirannya terbaca begitu mudah. Ia menggigit bibir bawahnya, tidak menjawab, tapi kebisuan itu sudah menjadi jawaban yang cukup jelas.

"Kau tidak perlu takut," lanjut Aslan, berdiri dengan sikap yang tenang dan tegap, memancarkan kedewasaan yang membuatnya terlihat jauh lebih bijaksana daripada usianya. "Aku tahu batasmu, Alana. Dan lebih dari apa pun, kepercayaanmu adalah hal yang paling berharga bagiku. Aku tidak akan pernah melakukan sesuatu yang bisa merusaknya. Tempat ini hanya sebuah kamar, sebuah atap di atas kepala untukmu beristirahat. Tidak ada aturan lain selain apa yang sudah kita sepakati dan apa yang kau izinkan."

Kata-kata itu terdengar begitu tegas namun lembut, membuat pertahanan Alana sedikit mengendur, meski rasa waspada itu masih bersemayam di sudut hatinya. Ia mengangguk pelan, perlahan berjalan masuk, namun langkahnya masih hati-hati, seolah menginjak di atas permukaan yang belum pasti. "Aku percaya padamu, Aslan. Hanya saja... kadang aku takut dengan situasinya. Aku takut terjebak dalam perasaan di mana aku tidak punya pilihan."

"Aku mengerti," jawab Aslan sambil berjalan ke arah lemari, mengambilkan sebuah selimut tebal dan baju ganti yang lebih santai yang ternyata sudah ia siapkan atau minta disiapkan sebelumnya. Ia meletakkannya di ujung ranjang, jauh dari tempat Alana berdiri, seolah menunjukkan bahwa benda-benda itu hanya untuk kebutuhan, bukan ajakan. "Dan aku berjanji, kau akan selalu punya pilihan. Selalu."

Malam berjalan dengan perlahan. Untuk menghilangkan ketegangan, Aslan mengajak Alana mengobrol tentang hal-hal ringan. Ia bercerita tentang rencana bisnis keluarganya yang tidak terlalu rumit, tentang pemandangan dari jendela kamar yang akan indah saat matahari terbit, bahkan bercerita tentang kenangan masa kecilnya saat bermain di tepi pantai yang sama. Percakapan itu mengalir santai, tanpa tekanan, tanpa topik yang berat atau menuntut keputusan. Aslan selalu tahu kapan harus berbicara dan kapan harus mendengarkan, membiarkan Alana ikut menyela atau hanya sekadar menjadi pendengar. Ia menunjukkan bahwa di samping sosoknya yang tegas dan berwibawa, ia juga bisa menjadi teman bicara yang hangat dan menenangkan.

Perlahan, rasa lelah yang sebenarnya mulai mengalahkan rasa takut Alana. Matanya semakin berat. Melihat itu, Aslan pun berhenti berbicara.

"Ayo, beristirahatlah," katanya lembut.

Aslan berjalan mendekat, namun kali ini Alana tidak mundur. Ia menuntun langkah Alana dengan tangan yang hanya menyentuh lembut di siku gadis itu, tidak memegang erat atau menarik, hanya membimbing. Saat sampai di tepi ranjang yang besar dan empuk itu, Aslan menarik selimut dan membiarkan Alana duduk lalu berbaring. Dengan hati-hati dan penuh perhatian, ia menyelimuti tubuh Alana sampai ke bahu, memastikan gadis itu hangat dan nyaman. Tangannya menyisir rambut Alana ke belakang telinga dengan gerakan yang sangat pelan dan penuh kasih sayang, tanpa ada niat lain selain perhatian.

"Tidurlah yang nyenyak," bisiknya.

Setelah memastikan Alana sudah berbaring dengan nyaman, Aslan pun berbalik. Ia mengambil bantal dan satu selimut lagi, lalu berjalan menuju sofa besar yang terletak di sudut ruangan, cukup jauh dari ranjang. Ia menata tempat tidurnya sendiri di sana, tidak mengeluh sedikitpun, seolah itu adalah hal yang paling wajar di dunia. Tak lama kemudian, lampu utama dipadamkan, hanya menyisakan lampu tidur yang remang-remang. Suara napas mereka berdua yang teratur perlahan memenuhi ruangan, dan akhirnya, tidur pun menyelimuti mereka.

 

*********

Sinar matahari pagi mulai menembus tirai tebal, menciptakan garis-garis cahaya keemasan yang menari di lantai dan perabotan kamar. Udara di dalam kamar terasa sejuk namun nyaman. Alana terbangun lebih dulu, atau lebih tepatnya, kesadaran perlahan kembali padanya.

Ia tidak langsung bergerak. Ia berbaring diam, matanya menyelinap membuka sedikit, menatap ke arah sofa di sudut ruangan. Di sana, Aslan tertidur pulas.

Pagi hari mengubah tampilan pria itu. Tanpa jas rapi dan ekspresi waspada yang selalu ia kenakan saat berhadapan dengan orang lain, wajahnya terlihat lebih muda namun tetap memancarkan ketampanan yang alami. Alisnya yang tebal, garis rahang yang tegas, dan rambut coklat keemasan yang sedikit berantakan karena tidur justru membuatnya terlihat tampak lebih tampan dan mempesona. Alana memperhatikan wajah itu dengan hati yang campur aduk masih ada sisa ketakutan dari semalam, namun di sisi lain, ia juga merasa hangat melihat betapa tenangnya pria itu saat tidur, seolah semua beban dunia sudah ia letakkan di luar pintu kamar ini. Ia menyadari betapa besarnya usaha Aslan untuk menahan diri dan menghormatinya semalam, dan kesadaran itu membuat rasa waspada di hatinya perlahan mencair.

Tanpa Alana sadari, ia menatap cukup lama hingga tiba-tiba, kelopak mata Aslan bergerak. Pria itu perlahan membuka matanya, kesadarannya kembali dengan cepat seperti kebiasaan yang sudah terlatih.

Panik karena ketahuan sedang mengintip, Alana segera memejamkan matanya rapat-rapat. Ia menahan napas, berusaha bernapas teratur seolah ia masih tertidur lelap. Jantungnya berdegup lagi, kali ini karena rasa malu dan gugup. Ia mendengar suara pergerakan kain—Aslan pasti sudah bangun dan bergerak.

Langkah kaki terdengar mendekat, pelan dan hati-hati agar tidak berisik. Alana bisa merasakan kehadiran Aslan berdiri di samping ranjang. Ia menahan diri sekuat tenaga untuk tetap tidak bergerak, berharap sandiwaranya berhasil.

Namun, Aslan mengenalnya terlalu baik. Ia bisa melihat sedikit gerakan di ujung jari Alana, atau cara dada gadis itu naik turun yang sedikit tidak teratur. Aslan tersenyum dalam hati. Ia membungkuk perlahan, mendekatkan wajahnya ke wajah Alana.

Dan kemudian, Alana merasakannya sebuah sentuhan lembut, hangat, dan ringan mendarat di keningnya. Ciuman itu sangat lembut, sebentar saja, seperti sekadar hembusan angin, namun cukup untuk membuat seluruh tubuh Alana menegang dan wajahnya memanas seketika.

Aslan tidak langsung menjauh. Ia berbisik tepat di dekat telinga Alana dengan suara serak khas orang baru bangun tidur yang terdengar sangat memikat, "Kalau masih pura-pura tidur, kau bisa melewatkan sarapan yang sudah aku pesan, Sayang."

Alana pun tidak bisa menahannya lagi. Ia membuka mata dengan wajah yang sudah merah padam, menatap Aslan yang kini menatapnya dengan senyum kemenangan dan tatapan penuh kasih sayang.

"Kau... kau tahu aku sudah bangun?" tanya Alana pelan, suaranya sedikit bergetar, masih terkejut dengan ciuman tadi yang begitu tak terduga meskipun penuh kelembutan.

"Aku tahu segalanya tentangmu," jawab Aslan sambil tertawa pelan, lalu duduk di tepi ranjang, tetap menjaga jarak yang sopan. "Terutama saat kau sedang berusaha menyembunyikan sesuatu. Selamat pagi, Alana."

----------------

1
Mia Camelia
lanjut thor👍
Anna ceriya: terimakasih atas support nya kaka🙏💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!