NovelToon NovelToon
"CINTA DALAM KODE KESEMPATAN : KETIKA TAKDIR MENULIS ULANG KISAH KITA"

"CINTA DALAM KODE KESEMPATAN : KETIKA TAKDIR MENULIS ULANG KISAH KITA"

Status: tamat
Genre:Penyelamat / Romansa Fantasi / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:52
Nilai: 5
Nama Author: Gretha

Di Medan tahun 2026, Rania Putri pendiri startup yang membantu UMKM dengan teknologi data terpaksa bekerja sama dengan perusahaan besar dari Jakarta yang dipimpin oleh Reza Aditya, mantan kekasihnya yang menghilang tanpa kabar sepuluh tahun lalu.

Pada awalnya, mereka hanya fokus pada pengembangan aplikasi "UMKM Connect", namun menemukan kode aneh dalam sistem yang menyimpan jejak masa lalunya. Saat menyelidiki asal usul kode tersebut, mereka mengungkap rahasia mengejutkan, perpisahan mereka dulu adalah rencana jahat dari Doni Pratama, mantan sahabat Rania yang mengambil alih bisnis keluarga dia.

Di tengah penyelidikan yang penuh kejadian lucu dan tantangan bisnis, rasa cinta lama mereka kembali muncul. Setelah berhasil membongkar kejahatan Doni dan mendapatkan dukungan pemerintah, mereka tidak hanya menyelesaikan proyek aplikasi yang bermanfaat bagi jutaan UMKM, tapi juga menemukan kesempatan kedua untuk cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 : SAMAR SEBAGAI PETUGAS KEBERSIHAN

Matahari sudah mulai menunjukkan diri di ufuk timur ketika Rania dan Reza berkumpul di depan sebuah gedung bertingkat tiga yang tampak terabaikan di pinggiran kota Medan. Gedung yang dulunya menjadi kantor pusat Prima Teknologi kini hanya berfungsi sebagai gudang kosong yang dikelola oleh perusahaan pemilik tanah yang berbeda. Tujuan mereka hari ini adalah untuk mencari lebih banyak dokumentasi dan arsip penting yang mungkin masih tersimpan di dalamnya – namun masuk ke dalam gedung tersebut tidaklah sesederhana yang mereka bayangkan.

“Kamu yakin ini adalah cara yang paling baik, Reza?” tanya Rania dengan suara sedikit cemas sambil melihat ke arah kostum petugas kebersihan yang mereka kenakan – baju kuning cerah dengan tulisan “JASA KEBERSIHAN MANDIRI” dan sabuk kerja yang penuh dengan alat pembersih palsu.

Reza menyesuaikan masker kain yang menutupi sebagian wajahnya dan tersenyum dengan percaya diri. “Sudah tidak ada pilihan lain, Rania. Manajemen gedung tidak mau memberikan izin untuk masuk karena mereka bilang gedung ini sudah tidak aktif dan berpotensi berbahaya. Tapi kita tahu pasti ada arsip penting di dalamnya yang bisa membantu kita melengkapi sejarah Prima Teknologi.”

Mereka telah merencanakan ini selama seminggu – menyamar sebagai tim kebersihan yang didatangkan untuk membersihkan bagian gedung yang belum terurus selama bertahun-tahun. Rania membawa keranjang besar berisi alat pembersih palsu dan sebuah ember kosong, sementara Reza membawa tongkat penyapu dan ember berisi air yang hanya sebagian penuh agar tidak terlalu berat untuk dibawa.

“Baiklah, kita lakukan saja ini,” ucap Rania dengan mengambil napas dalam-dalam. “Semoga saja tidak ada yang curiga dengan kita.”

Mereka berjalan dengan langkah yang sengaja dibuat lambat dan rileks menuju pintu masuk gedung. Di sana berdiri seorang penjaga keamanan bernama Pak Slamet yang sedang membaca koran sambil menikmati kopi paginya. Dia melihat mereka dengan ekspresi yang sedikit heran ketika mereka mendekat.

“Eh, kalian dari mana?” tanya Pak Slamet dengan suara yang masih penuh kantuk. “Saya tidak tahu ada jadwal pembersihan hari ini.”

Reza segera mengambil inisiatif dengan suara yang sengaja dibuat kasar dan sopan. “Assalamualaikum Pak! Kami dari Jasa Kebersihan Mandiri, dikirim khusus untuk membersihkan lantai tiga gedung ini. Kantor pusat menyuruh kami datang hari ini karena ada rencana untuk memanfaatkan kembali ruangan tersebut.”

Pak Slamet mengerutkan kening dan mulai mencari sesuatu di mejanya. “Tapi tidak ada pemberitahuan tentang ini di buku jadwal saya lho.”

Sementara itu, Rania dengan cepat berpura-pura memeriksa surat tugas palsu yang ada di dalam tasnya. “Ah Pak, mungkin karena ini adalah perintah mendadak dari atasan Anda. Lihat saja surat tugas ini sudah ditandatangani oleh Bapak Manajer Operasional.” Dia memberikan selembar kertas yang sebenarnya hanya berisi catatan belanjaan mingguan nya, namun Pak Slamet tidak melihatnya dengan jelas karena cahaya pagi yang masih redup.

Setelah beberapa saat berpikir dan melihat kostum mereka yang tampak resmi, Pak Slamet akhirnya mengangguk dan membuka pintu gerbang. “Baiklah, silakan masuk saja. Tapi hati-hati ya, banyak bagian gedung yang sudah tidak layak digunakan lagi. Jangan terlalu jauh ke dalam ya!”

“Terima kasih banyak Pak!” ucap Rania dan Reza bersamaan dengan senyum yang tertutupi oleh masker mereka. Mereka berjalan masuk dengan hati-hati, mencoba tidak menunjukkan bahwa mereka merasa sangat gugup.

Setelah memasuki gedung, mereka langsung merasakan suasana yang sangat berbeda dari kantor modern yang mereka kenal sekarang. Udara dingin dan lembap memenuhi ruangan, dengan sepakan debu yang menutupi hampir semua permukaan. Lampu-lampu hanya sebagian yang masih menyala, dan suara angin yang masuk melalui jendela rusak memberikan nuansa yang sedikit menyeramkan namun juga penuh dengan misteri.

“Kita harus cepat mencari ruangan server dan ruang arsip yang pernah digunakan oleh Prima Teknologi,” bisik Reza sambil melihat ke arah peta gedung yang mereka dapatkan dari Pak Budi. “Menurut informasi Pak Budi, ruangan tersebut berada di ujung kanan lantai tiga.”

Mereka mulai berjalan menuju arah lift, namun segera menemukan bahwa lift sudah tidak berfungsi lagi. “Kita harus naik tangga saja,” ucap Rania dengan sedikit mengeluh sambil melihat tangga yang panjang dan penuh dengan debu. “Semoga saja tidak ada yang melihat kita dari atas.”

Saat mereka mulai naik tangga, mereka mendengar suara langkah kaki yang datang dari arah atas. Rania dan Reza saling melihat dengan ekspresi panik, lalu dengan cepat berpura-pura membersihkan pagar tangga dengan alat pembersih mereka.

“Eh, apa kalian sedang membersihkan tangga?” tanya seorang pria muda yang membawa kotak kecil dan tampak seperti sedang memeriksa sesuatu di gedung tersebut.

Reza dengan cepat berpura-pura tersandung dan menjawab dengan suara yang sengaja dibuat tidak jelas. “Ya Pak, kami sedang membersihkan seluruh bagian gedung sesuai perintah atasan. Mohon maaf jika mengganggu kerja Anda.”

Pria muda hanya mengangguk dan melanjutkan perjalanannya ke bawah tanpa terlalu curiga. Setelah dia pergi, mereka segera melanjutkan perjalanan naik tangga dengan langkah yang lebih cepat.

“Aduh, hampir saja ketahuan!” bisik Rania dengan napas yang sedikit terengah-engah. “Kita harus lebih hati-hati dari sekarang.”

Setelah mencapai lantai tiga, mereka langsung mencari ruangan yang mereka tuju. Namun, koridor yang panjang dan penuh dengan pintu yang hampir sama membuat mereka sedikit tersesat. Mereka berpura-pura membersihkan setiap pintu yang mereka lewati agar tidak mencurigakan.

“Saya rasa ini adalah ruangan yang kita cari!” bisik Reza dengan penuh kegembiraan ketika menemukan sebuah pintu dengan tulisan yang sudah mulai memudar: “RUANG SERVER & ARSIP PRIMA TEKNOLOGI DIGITAL”. Namun, pintu tersebut terkunci dengan kunci gembok besar yang terlihat sangat kokoh.

“Bagaimana kita membukanya ini?” tanya Rania dengan suara penuh kebingungan. “Kita tidak punya alat untuk memecahkan gembok ini.”

Reza melihat sekeliling dengan cermat, lalu melihat ke arah jendela di ujung koridor yang sudah pecah sebagian. “Ada cara lain masuk ke dalam ruangan,” ucapnya dengan suara penuh petualangan. “Kita bisa masuk melalui jendela yang ada di sisi ruangan tersebut.”

Mereka berjalan dengan hati-hati menuju jendela tersebut, berusaha menghindari berbagai puing-puing yang tersebar di lantai. Ketika sampai di sana, mereka menemukan bahwa jendela memang bisa diakses dari luar koridor, namun mereka harus melewati sebuah ceruk kecil yang penuh dengan tanaman liar yang tumbuh liar.

“Kamu dulu kan suka bermain petualangan saat kuliah,” canda Reza sambil melihat ke arah Rania yang sudah mulai menunjukkan ekspresi tidak senang. “Ini seperti kembali ke masa kuliah kita yang suka mencari petualangan.”

Rania menghela napas dan tersenyum lembut. “Baiklah, tapi janji ya tidak akan ada lagi petualangan seperti ini besok!”

Reza pertama kali masuk ke dalam ceruk tersebut dengan hati-hati, lalu membantu Rania masuk juga. Prosesnya tidak sesederhana yang mereka bayangkan – Rania hampir tersandung pada akar tanaman dan hampir menjatuhkan ember yang dia bawa. Untungnya Reza cepat menangkapnya sebelum ember tersebut jatuh dan membuat suara keras yang bisa menarik perhatian orang lain.

Setelah berhasil masuk ke dalam ruangan, mereka langsung terkejut dengan apa yang mereka lihat. Meskipun penuh dengan debu dan beberapa peralatan yang sudah rusak, sebagian besar peralatan server dan rak arsip masih berada di tempatnya. Rak-rak kayu yang penuh dengan berkas dokumen dan buku catatan masih berdiri kokoh, seolah menunggu untuk ditemukan kembali.

“Wow… ini benar-benar apa yang kita cari!” ucap Rania dengan suara penuh kagum sambil mulai melihat-lihat berkas-berkas dokumen yang tersimpan di rak. “Ada begitu banyak informasi penting di sini yang bisa membantu kita melengkapi sejarah Prima Teknologi.”

Mereka mulai bekerja dengan cepat namun hati-hati, mengumpulkan berkas-berkas dokumen penting dan memasukkannya ke dalam tas yang mereka bawa. Rania menemukan sebuah buku catatan besar yang berisi catatan harian dari pendiri Prima Teknologi, Pak Budi Santoso, sedangkan Reza menemukan beberapa hard disk eksternal yang mungkin masih menyimpan data penting dari masa lalu.

“Saya tidak bisa percaya bahwa semua ini masih ada di sini,” bisik Reza dengan penuh kekaguman. “Seolah mereka hanya pergi kemarin saja dan meninggalkan semua ini untuk kita temukan.”

Sementara mereka sibuk mengumpulkan dokumen, mereka tiba-tiba mendengar suara pintu ruangan yang mulai terbuka. Rania dan Reza saling melihat dengan ekspresi panik, lalu dengan cepat berpura-pura membersihkan rak-rak dokumen dengan kain pembersih yang mereka bawa.

“Eh, apa kalian sedang membersihkan ruangan ini?” tanya suara seorang wanita yang tampak sebagai karyawan dari perusahaan pemilik gedung. “Saya tidak tahu ada jadwal pembersihan untuk ruangan penting ini.”

Rania dengan cepat berpura-pura tersandung dan menjawab dengan suara yang sengaja dibuat tidak jelas. “Ya Bu, kami dari jasa kebersihan. Kami sedang membersihkan semua ruangan sesuai perintah atasan. Mohon maaf jika kami salah masuk ruangan.”

Wanita tersebut mulai melihat sekeliling ruangan dengan ekspresi yang semakin curiga. “Tapi ruangan ini seharusnya terkunci dan tidak boleh dimasuki oleh siapapun kecuali staf khusus. Dan mengapa kalian membawa tas yang besar untuk menyimpan alat pembersih?”

Pada saat yang sama, Reza secara tidak sengaja menjatuhkan salah satu hard disk yang dia pegang. Suara benturan keras yang dihasilkan membuat wanita tersebut semakin curiga. “Hei, apa yang sebenarnya kalian lakukan di sini?” tanyanya dengan suara yang semakin keras.

Rania dan Reza tahu bahwa mereka tidak bisa lagi menyembunyikan kebenaran. Mereka segera melepas masker mereka dan menunjukkan identitas sebenarnya. “Maafkan kami Bu,” ucap Rania dengan suara penuh permintaan maaf. “Kami bukan petugas kebersihan. Kami dari proyek UMKM Connect dan sedang mencari dokumentasi sejarah Prima Teknologi yang pernah berkantor di sini.”

Wanita tersebut terkejut melihat wajah mereka, lalu setelah beberapa saat berpikir, dia mulai tersenyum. “Tunggu dulu… apakah kalian adalah Rania dan Reza yang sering muncul di berita karena membantu usaha kecil di Medan?”

Rania dan Reza mengangguk dengan rasa heran. “Ya Bu, kami memang dari UMKM Connect. Tapi bagaimana Anda bisa mengenali kami?”

Wanita tersebut tertawa lembut dan memperkenalkan diri sebagai Bu Lina, mantan karyawan Prima Teknologi yang sekarang bekerja sebagai manajer administrasi di perusahaan pemilik gedung ini. “Saya bekerja di Prima Teknologi selama lima tahun sebelum perusahaan bubar,” cerita dia dengan suara penuh kenangan. “Saya selalu mengikuti perkembangan apa yang terjadi dengan hasil karya kita, dan saya sangat senang mengetahui bahwa ada orang yang masih peduli dengan apa yang kita bangun dulu.”

Mereka semua duduk bersama di ruangan tersebut, mulai berbagi cerita tentang Prima Teknologi dan bagaimana mereka semua terhubung dengan perusahaan tersebut. Bu Lina memberitahu mereka bahwa dia sebenarnya sudah lama tahu bahwa ada arsip penting di ruangan ini dan selalu berusaha menjaganya agar tidak hilang atau rusak.

“Saya selalu merasa bahwa karya kita di Prima Teknologi tidak boleh terlupakan,” ucap Bu Lina dengan suara penuh emosi. “Ketika perusahaan bubar, saya memastikan bahwa semua dokumen penting disimpan dengan baik di sini. Saya hanya menunggu saat yang tepat untuk memberikan semuanya pada orang yang benar.”

Dia kemudian membuka sebuah lemari besi yang terkunci di sudut ruangan dan mengambil sebuah kotak kayu besar yang penuh dengan berkas dokumen, foto-foto, dan beberapa perangkat elektronik penting dari masa lalu. “Ini adalah semua yang tersisa dari Prima Teknologi,” ucapnya dengan suara penuh bangga. “Semua dokumentasi lengkap tentang proyek-proyek yang pernah kita kerjakan, termasuk kerja sama dengan usaha keluarga kamu, Rania.”

Rania dan Reza merasa sangat bersyukur mendengarnya. Mereka tidak hanya menemukan arsip penting yang mereka cari, tapi juga bertemu dengan seseorang yang benar-benar memahami nilai dari apa yang mereka lakukan.

“Kami ingin mengundang Anda untuk bergabung dengan tim kami di UMKM Connect, Bu Lina,” ucap Reza dengan penuh semangat. “Keahlian dan pengetahuan Anda tentang sejarah Prima Teknologi akan sangat berharga bagi kita.”

Bu Lina mengangguk dengan senyum lebar. “Saya akan sangat senang bisa bergabung dengan Anda semua. Ini adalah kesempatan yang saya tunggu-tunggu untuk melanjutkan apa yang kita mulai dulu di Prima Teknologi.”

Sebelum mereka pergi, Bu Lina membantu mereka mengemas semua dokumen dan peralatan penting yang akan mereka bawa pulang. Mereka juga mengambil beberapa foto dari ruangan tersebut sebagai kenang-kenangan dan dokumentasi sejarah.

Ketika mereka keluar dari gedung, Pak Slamet yang menjadi penjaga keamanan langsung datang mendekat dengan ekspresi yang penuh khawatir. “Maafkan saya Pak Bu, tapi saya tidak tahu bahwa mereka adalah orang penting yang sedang mencari dokumentasi sejarah!” ucapnya dengan suara penuh permintaan maaf.

Reza tertawa lembut dan menjawab: “Tidak apa-apa Pak Slamet. Anda hanya melakukan tugas Anda dengan baik. Bahkan karena Anda, kami merasa harus lebih kreatif dalam mencari cara masuk ke dalam gedung ini.”

Mereka semua tertawa riang mendengarnya. Pak Slamet kemudian meminta maaf lagi dan bahkan menawarkan untuk membantu mengangkut kotak-kotak dokumen ke mobil mereka.

Pada perjalanan pulang, mereka merasa sangat bersyukur dengan apa yang mereka dapatkan hari ini. Tidak hanya menemukan arsip penting yang akan membantu mereka melengkapi sejarah proyek UMKM Connect, tapi juga menemukan anggota baru tim yang memiliki pengetahuan dan pengalaman berharga tentang Prima Teknologi.

“Kamu tahu tidak Rania,” ucap Reza dengan suara penuh rasa syukur saat mereka sedang dalam perjalanan pulang. “Meskipun awalnya kita harus menyamar sebagai petugas kebersihan dan mengalami berbagai kejadian lucu, semuanya berakhir dengan sangat baik. Seolah ada kekuatan yang membimbing kita untuk menemukan apa yang kita butuhkan.”

Rania tersenyum dan menjawab: “Ya Reza. Semua yang terjadi hari ini adalah bukti bahwa ketika kita melakukan sesuatu dengan niat yang benar, alam semesta akan selalu membantu kita menemukan cara untuk mencapainya.”

Ketika mereka sampai di kantor UMKM Connect, seluruh tim sudah menunggu dengan penuh antusiasme. Mereka semua sangat senang melihat banyaknya dokumen dan artefak sejarah yang berhasil mereka dapatkan, serta sangat gembira mendengar bahwa Bu Lina akan bergabung dengan tim mereka.

Mereka semua berkumpul di ruang rapat, mulai menyortir dan mengklasifikasikan dokumen-dokumen penting yang baru saja mereka dapatkan. Setiap berkas dokumen yang mereka temukan memberikan informasi berharga tentang sejarah Prima Teknologi dan bagaimana mereka bekerja untuk membantu usaha kecil di masa lalu.

“Sekarang kita memiliki semua yang kita butuhkan untuk melengkapi sejarah proyek kita,” ucap Rania dengan suara penuh semangat saat berdiri di depan tim. “Dengan bantuan Bu Lina dan semua dokumen yang kita miliki sekarang, kita bisa membuat proyek UMKM Connect menjadi lebih baik dan membawa manfaat bagi lebih banyak orang.”

Semua orang memberikan tepukan riang mendengarnya. Mereka tahu bahwa perjalanan mereka masih panjang, namun dengan semua yang mereka miliki sekarang – mulai dari tim yang solid hingga dokumentasi sejarah yang lengkap – mereka merasa bahwa tidak ada yang tidak bisa mereka capai.

Di malam hari, Rania dan Reza duduk bersama di ruang tamu kantor, melihat foto-foto lama dari Prima Teknologi yang mereka temukan hari ini. Mereka tertawa mengingat kejadian lucu yang mereka alami saat menyamar sebagai petugas kebersihan – mulai dari hampir ketahuan oleh penjaga keamanan hingga tersesat di koridor gedung yang penuh dengan misteri.

“Kita tidak akan pernah melupakan hari ini kan?” tanya Rania dengan senyum lucu.

Reza tersenyum dan menjawab: “Tidak mungkin kita melupakannya, Rania. Ini akan menjadi cerita yang selalu kita ceritakan kepada generasi mendatang tentang bagaimana kita harus bersedia melakukan hal-hal yang tidak biasa untuk mencapai tujuan yang benar.”

Mereka melihat ke arah jendela kantor yang menghadap ke kota Medan yang semakin ramai dengan lampu-lampu malam. Mereka tahu bahwa semua yang mereka lakukan sekarang adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar – sebuah perjuangan untuk membantu usaha kecil berkembang dan membawa perubahan positif bagi masyarakat. Dan meskipun mereka harus melalui berbagai kejadian lucu dan petualangan untuk mencapainya, mereka tahu bahwa setiap langkah yang mereka ambil adalah langkah yang benar menuju masa depan yang lebih baik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!