"Jangan dekat-dekat cowok lain, Cebol. Kau itu tanggung jawabku!"
Bagi Anvaya Dinakara, Narev Elvaro adalah tetangga raksasa setinggi 192 cm yang paling menyebalkan. Narev selalu mengawasi Vaya, melarangnya berteman dengan pria lain dengan alasan "menjaga titipan orang tua".
Namun, satu insiden di malam kelulusan melempar mereka sepuluh tahun ke masa depan. Vaya terbangun bukan di kamarnya, melainkan di pelukan Narev dewasa yang sangat memujanya. Lebih gila lagi, ada seorang bayi cantik bernama Miciella Aracelli yang memanggil mereka "Mama" dan "Papa".
Terjebak dalam pernikahan masa depan yang manis, mampukah mereka kembali ke masa lalu saat status mereka masih "musuh bebuyutan"? Atau justru Narev akan melakukan segala cara agar masa depan itu menjadi nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Bisikan dari Hati Kecil
[POV: Vaya]
Setelah kejadian di mobil yang mengerikan itu, aku mengurung diri di kamar selama berjam-jam. Dasi Narev yang tadi mengikat tanganku kini tergeletak di lantai, saksi bisu kemarahan raksasa itu. Namun, bukannya merencanakan pelarian seperti yang disarankan Rian, aku justru merasa... hampa.
Aku menatap draf perceraian itu, lalu merobeknya menjadi serpihan kecil. Jika Vaya dewasa ingin pergi, itu urusannya. Tapi Vaya yang sekarang—Vaya yang ingatannya masih 18 tahun—merasa ada sesuatu yang salah.
Aku melangkah keluar kamar, mencari satu-satunya alasan kenapa aku masih bertahan di sini: Miciella.
Aku menemukannya di ruang bermain, sedang duduk sendirian memeluk boneka kelinci. Begitu dia melihatku, matanya yang bulat langsung berbinar bahagia. Dia berdiri dengan kaki kecilnya yang gempal dan berlari ke arahku.
"Mama! Mama uyang! (Mama pulang!)" Mici memeluk kakiku erat-alih-alih takut padaku karena kejadian tadi, dia justru menyambutku dengan cinta yang paling murni.
Aku berlutut, mensejajarkan tinggiku dengannya. Saat menatap mata Mici yang jernih, rasa bersalah yang luar biasa menghantam dadaku seperti godam. Aku teringat laporan Narev yang bilang aku membenci kehamilanku, aku tidak mau mengurusnya. Bagaimana bisa aku menyakiti makhluk sekecil dan seindah ini?
"Maafkan Mama, Mici... Maafkan Mama," bisikku lirih. Air mataku mengalir deras tanpa bisa kubendung.
Mici terdiam. Tangan mungilnya yang lembut terangkat, menghapus air mata di pipiku dengan sangat hati-hati. Dia lalu mencium kelopak mataku yang basah.
"Ma... ma dak bowe edih... (Mama nggak boleh sedih)," ocehnya dengan suara cadel yang menenangkan.
Tiba-tiba, telingaku berdenging pelan. Suasana di sekitarku seolah melambat. Aku masih menatap Mici, tapi anehnya, aku mendengar suara lain. Suaranya mirip Mici, tapi terdengar sangat lancar, jernih, dan dewasa secara emosional. Suara itu tidak keluar dari mulutnya, tapi seperti bergema langsung di dalam kepalaku.
“Mama... Apa aku membuat Mama menangis?”
Aku tersentak, menoleh ke sekeliling. Tidak ada siapa-siapa selain kami.
“Jangan pergi-pergi lagi, Mama. Mici suka ada Mama di rumah. Mici janji akan jadi anak baik supaya Mama nggak marah lagi sama Papa...”
Jantungku berdegup kencang. Apakah itu suara hati Mici? Apakah ini bagian dari "keajaiban" yang membawaku ke sini? Suara itu begitu penuh kerinduan dan ketakutan akan ditinggalkan.
"Mici... kamu bicara apa tadi?" tanyaku dengan suara bergetar.
Mici hanya memiringkan kepalanya, tersenyum lebar, dan mencium pipiku lagi. "Mama... main! Ayo main!"
Aku menarik Mici ke dalam pelukanku, mendekapnya sangat erat. Hatiku hancur berkeping-keping. Selama ini, Mici pasti merasakan penolakan dariku. Dia pasti tumbuh dengan rasa takut bahwa mamanya tidak menginginkannya.
"Mama nggak akan pergi, Mici. Mama janji," bisikku teguh. "Mama akan di sini. Mama akan belajar jadi Mama yang baik buat kamu, dan istri yang baik buat Papa."
Aku tidak peduli lagi dengan apa yang dikatakan Rian. Jika Narev adalah seorang monster karena ingin mempertahankan keluarga ini, maka aku akan menjadi monster yang sama bersamanya. Aku tidak akan membiarkan suara kecil di hatiku—suara Mici—menangis karena kesepian lagi.
...****************...
[POV: Narev] Di balik pintu...
Aku berdiri di balik celah pintu yang sedikit terbuka, niatku untuk masuk dan kembali bersikap dingin seketika sirna. Aku melihat Vaya menangis sambil memeluk Mici. Aku melihat caranyanya mencium puncak kepala Mici dengan penuh kasih sayang—sesuatu yang hampir tidak pernah kulihat selama tahun-tahun pernikahan kami yang dingin.
Tanganku yang tadinya terkepal, perlahan melonggar. Mataku terasa panas.
Apakah ini benar-benar kamu, Vaya? Ataukah ini hanya mimpi indah sebelum kamu kembali menghancurkanku?
Apapun itu, melihatnya memeluk Mici seperti itu membuatku ingin berlutut dan memohon agar waktu berhenti di sini saja. Jika ini adalah sandiwara, aku mohon, jangan pernah akhiri sandiwara ini.
G konsisten sma omongannya si vaya
ko pendek kali babnya panjangin dikit dong kaaaa