Apa yang menyebabkan seseorang Putra Kedua sang Raja menjadi sang Kultivator yang paling hebat?
____
So Guys! ini kisahlah kisah Qinar sang Kultivator kita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neon Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20
Mendaki kembali ke puncak Gunung Sandaran setelah pertarungan di lereng bawah terasa berbeda. Tubuhku tidak lagi merasa lelah; setiap serat ototku seolah terisi oleh tenaga murni yang meluap-luap. Namun, Ki Kusumo tidak membawaku kembali ke gubuk tua kami. Beliau terus melangkah mendaki, melewati batas vegetasi pohon-pohon pinus, menuju wilayah yang selalu tertutup salju abadi dan kabut yang membeku.
"Ki, kita mau ke mana? Ini bukan jalan ke gubuk," tanyaku, mataku yang kini memiliki penglihatan Sukma Rembulan menembus kabut putih dengan mudah.
"Gubuk itu sudah tidak aman, Qinar. Jika Pasukan Bayangan sudah sampai ke lereng, mereka akan segera menyisir seluruh bagian tengah gunung," Ki Kusumo berhenti di depan sebuah celah sempit di balik bongkahan es raksasa. "Ada tempat yang lebih tinggi. Tempat yang bahkan para pembunuh bayaran pun tidak berani menginjakkan kaki."
"Puncak tertinggi?" aku menelan ludah.
"Ya. Puncak Mahkota. Tapi ada satu masalah kecil," Ki Kusumo menyeringai, sebuah senyum yang selalu membuatku merasa akan ada hal buruk terjadi. "Tempat itu sudah punya pemilik. Dan dia tidak suka tamu, apalagi bocah bau kencur sepertimu."
GROOOAAARRRR!
Sebuah raungan yang begitu dahsyat menggetarkan dinding es di sekitar kami. Suaranya bukan seperti suara hewan biasa; ada getaran Qi yang sangat kuat di dalam gelombang suaranya hingga membuat salju di pundakku rontok seketika.
Deg-deg, deg-deg, deg-deg...
Jantungku berpacu. Indera sensorikku menangkap sebuah detak jantung yang raksasa. Lambat, berat, dan sangat dominan. Lokasinya tepat di balik kabut tebal di depan kami.
"Itu dia. Beruang Hitam Inti Salju," bisik Ki Kusumo. Beliau mundur beberapa langkah, lalu dengan santainya duduk di atas bongkahan es. "Dia adalah penjaga puncak ini selama ratusan tahun. Kekuatannya setara dengan Kultivator Level 3 puncak, tapi dengan pertahanan fisik yang sepuluh kali lebih keras dari batu granit yang kau belah kemarin."
"Kau mau aku melawannya?!" teriakku.
"Bukan melawan, Qinar. Kau harus mendapatkan izinnya untuk lewat. Kalau kau tidak bisa melewatinya, kau akan mati membeku di lereng ini karena Pasukan Bayangan pasti sedang mengepung jalan bawah."
Kabut di depan kami mendadak tersibak oleh embusan napas panas yang mengeluarkan uap tebal. Dari balik putihnya salju, muncullah sosok monster yang sesungguhnya.
Tingginya hampir empat meter jika berdiri. Bulunya hitam legam, kontras dengan salju di sekitarnya, namun di sepanjang punggungnya terdapat kristal-kristal es yang tumbuh permanen. Matanya berwarna biru es, menatapku dengan kecerdasan yang mengerikan—ini bukan sekadar binatang buas, ini adalah Binatang Spiritual.
Dugh! Dugh! Dugh!
Beruang itu melangkah maju. Setiap pijakannya membuat tanah bergetar. Dia berhenti tepat tiga meter di depanku, menundukkan kepalanya yang sebesar meja makan, lalu mengendus udara.
"Dia mencium bau darah Pasukan Bayangan di jubahmu, Qinar. Bagi dia, kau adalah pembawa sial yang membawa bau manusia kotor ke wilayah sucinya," teriak Ki Kusumo dari kejauhan.
Beruang itu mendengus marah. Tiba-tiba, dia mengangkat cakar depannya yang sebesar perisai perang.
Wusss!
Kecepatannya tidak masuk akal untuk ukuran tubuh sebesar itu. Aku refleks melompat ke belakang, menggunakan teknik "Menangkap Angin".
BOOM!
Cakarnya menghantam tanah es tepat di tempatku berdiri tadi, menciptakan kawah sedalam satu meter dan menerbangkan bongkahan es sebesar kepala manusia ke segala arah.
"Cepat sekali!" gumamku.
Aku segera memanggil Qi petirku. Percikan listrik perak mulai menari di sekujur tubuhku. Mataku yang berpendar perak mengunci setiap gerakannya. Aku melihat aliran energi di dalam tubuh beruang itu; jantungnya adalah pusat dari energi es yang sangat padat.
GROOAR!
Dia menyerang lagi, kali ini dengan serangkaian sabetan cakar yang beruntun. Sret! Sret! Sret! Aku meliuk-liuk di antara serangan itu, hanya berjarak beberapa inci dari kematian. Angin yang dihasilkan oleh tebasan cakarnya saja sudah cukup untuk mengiris jubah rami yang kukenakan hingga robek-robek.
"Jangan cuma menghindar, Qinar! Gunakan telapak tanganmu! Cari titik lemahnya!" teriak Ki Kusumo lagi.
Aku melihat sebuah celah. Saat beruang itu mengangkat kedua tangannya untuk menghantam bumi, perutnya terbuka lebar. Aku melesat maju, mengumpulkan seluruh Qi petir ke telapak tangan kananku.
"Hiaaaa!"
Brak!
Telapak tanganku menghantam perut beruang itu. Aku menyalurkan getaran penghancur seperti saat membelah batu. Namun, rasanya seperti memukul tumpukan karet baja yang sangat kenyal. Energi petirku terpental balik, membuat lenganku kesemutan hebat.
Beruang itu bahkan tidak bergeming. Dia justru menatapku dengan tatapan mengejek, lalu dengan satu gerakan cepat, kepalanya menyeruduk dadaku.
Dug!
"Aaakh!"
Aku terpental sejauh sepuluh meter, menabrak dinding es hingga retak. Rasanya seperti ditabrak gunung yang berjalan. Dadaku sesak, dan setetes darah segar mengalir dari sudut bibirku. Kulit Besiku hampir saja pecah menerima serangan itu.
Aku berusaha bangkit, terengah-engah. Beruang itu tidak langsung menyerang lagi. Dia berdiri tegak, mengeluarkan aura dingin yang membuat udara di sekitarku mulai membeku. Kakiku mulai terasa berat karena es mulai merambat naik dari tanah.
"Dia menggunakan manipulasi elemen es..." bisikku.
Aku memejamkan mata sejenak, menenangkan jantungku. Aku ingat kata-kata Ki Kusumo tentang "menjadi bagian dari alam". Beruang ini adalah bagian dari gunung ini. Dia tidak melawan dingin, dia adalah dingin itu sendiri.
Aku menarik napas panjang, bukan untuk memanggil amarah, tapi untuk menyelaraskan frekuensi detak jantungku dengan detak jantung raksasanya yang kudengar lewat "Suara Alam".
Deg... deg... deg...
Aku membuka mataku yang berpendar terang. Kali ini, aku tidak lagi melihatnya sebagai musuh yang harus dihancurkan, tapi sebagai ujian yang harus kupahami.
Aku tidak lagi menggunakan petir yang meledak-ledak. Aku menarik semua energi itu ke dalam, memadatkannya di sumsum emas Level 3-ku. Aku berjalan maju dengan tenang, tanpa posisi bertahan.
Beruang itu tampak bingung. Dia menggeram rendah, bersiap untuk menerjang. Saat dia melompat ke arahku dengan seluruh berat tubuhnya, aku tidak menghindar.
Aku meluncur di bawah perutnya, berputar secepat angin, dan dengan lembut—sangat lembut—aku menyentuhkan jari telunjuk dan tengahku ke titik di belakang telinganya, tempat di mana aliran Qi-nya paling tipis.
Bzzzt.
Aku melepaskan satu denyut listrik frekuensi tinggi yang sangat kecil namun tajam. Bukan untuk melukai, tapi untuk mengacaukan saraf motoriknya sejenak.
Beruang raksasa itu mendarat dengan kikuk, kehilangan keseimbangan, dan jatuh terguling di atas salju. Bugh!
Dia segera bangkit, tampak sangat marah dan bingung. Namun, sebelum dia sempat menyerang lagi, aku berhenti dan membungkuk hormat di depannya. Aku melepaskan seluruh aura permusuhanku, membiarkan tanda merah di tanganku bersinar lembut, memancarkan kehangatan yang kontras dengan dinginnya puncak.
Beruang itu terhenti. Dia menatap tanda merah di tanganku cukup lama. Dia mendekat, mendengus pelan di depan wajahku—bau napasnya seperti pinus tua—lalu perlahan, dia menundukkan kepalanya yang besar dan menyentuhkan keningnya ke keningku.
"Dia... dia menerimaku?" bisikku tak percaya.
"Bagus, Qinar. Kau tidak menggunakan ototmu, tapi kau menggunakan pengakuan," Ki Kusumo berjalan mendekat, tampak puas. "Dia merasakan darahmu. Binatang spiritual jauh lebih peka daripada manusia. Dia tahu siapa kau sebenarnya, jauh sebelum kau mengetahuinya sendiri."
Beruang hitam itu berbalik, lalu mulai berjalan mendaki menuju puncak tertinggi, sesekali menoleh seolah menyuruh kami mengikutinya.
"Ayo," ajak Ki Kusumo. "Mulai hari ini, kau punya pengawal pribadi yang paling ditakuti di Gunung Sandaran. Selamat datang di rumah barumu, Monster Kecil."
Aku tersenyum, mengikuti langkah beruang raksasa itu menembus badai. Delapan tahun usia Qinar, dan hari ini, dia tidak hanya menaklukkan ketakutan batinnya, tapi juga berteman dengan penguasa gunung.