NovelToon NovelToon
Nero Vano

Nero Vano

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Crazy Rich/Konglomerat / Teen
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

Di buang ke Desa Kenangan, tempat Oma-nya menghabiskan sisa umur. Nero Vano Christian malah tidak sengaja bertemu dengan seorang gadis manis bernama Ainun Salsabila Adiakara. Gadis yang awalnya hanya sekedar mengusik hati.. Lalu menjadi alasan untuk Nero mulai mengenal Tuhan.

Ikuti kisahnya~

Happy Reading ><

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 31: TAUBAT

Jakarta Selatan, pukul 21.00 WIB.

Nero menghentikan taksinya tepat di depan gerbang besi tinggi milik keluarganya. Dari balik kaca mobil, ia melihat mansion megah yang dulu ia sebut rumah itu masih sama. Lampu taman menyala redup, pohon-pohon palem bergoyang pelan, dan dua satpam keluarga yang setia berjaga.

Namun, semuanya terasa berbeda.

Jantungnya berdegup lebih kencang daripada saat ia melintasi gurun Hadramaut sendirian. Keringat dingin membasahi telapak tangannya. Bukan karena takut. Tapi karena rindu yang selama setahun ia pendam.

"Ikdam bilang, 'Pulanglah sebagai pribadi yang baru,'" gumamnya.

Nero merapikan kemeja linen putihnya. Kemeja kesukaan Omanya. Ia menarik napas panjang, membayangkan wajah Papa yang dingin dan Mama yang mudah marah. Tapi entah mengapa, kali ini ia tidak merasa gentar.

Dia membayar taksi, melangkah keluar, dan membuka gerak-gerak besar.

Tok.. tok.. tok.

Pintu jati besar itu terbuka perlahan.

Dan di balik pintu, berdiri kedua orang tuanya.

Nero mengerjapkan mata. Tidak ada teriakan. Tidak ada pertanyaan tajam. Yang ada hanyalah senyum. Senyum yang sudah lama tidak ia lihat. Senyum yang dulu hanya muncul saat ia masih kecil dan berhasil naik kelas.

“Anakku…”

Mamanya langsung menghambur ke depan. Tangannya yang dulu dingin dan kaku, sekarang hangat dan gemetar saat memeluk Nero erat. Isak tangis sang Mama pecah di pundak kanannya.

“Muhammad Nero… Muhammad Nero… anak Mama pulang…”

Nero membeku.

Muhammad?

Mamanya menyebut nama "Muhammad".

Saat Nero mendongak, matanya menangkap sesuatu yang mustahil di ruang tamu. Sebuah kaligrafi besar bertuliskan Ayatul Kursi terpajang megah di dinding utama. Dinding yang dulu penuh dengan lukisan abstrak mahal koleksi Papa. Karpet sutranya berganti sajadah sederhana. Bahkan, di sudut ruangan, Nero bisa melihat mukena dan sarung tergantung rapi.

“Pa… Ma… ini?” Nero terbata. Air matanya mulai mengalir.

Papa tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam hidup Nero, Papanya, melangkah maju dan menepuk bahunya. Bukan dengan kaku, tapi dengan penuh kebanggaan.

“Oma Thalita yang memulai semuanya, Ro.”

“Oma?”

“Iya. Penjelasan Oma tentang perubahanmu di desa. Tentang ketenangan matamu di video call. Tentang surat-suratmu dari Yaman…” Papa berhenti sejenak, menelan ludah. “Semua itu menyentuh kami. Kami sadar, kalau anak kami bisa menemukan rumah di sana, kenapa kami tidak?”

Nero menahan napas.

“Kami sudah mualaf enam bulan lalu, Nak,” sambung mama sambil mengusap air matanya sendiri. “Tapi Oma minta kami merahasiakannya sampai kamu pulang. Katanya, biar jadi kejutan terindah buat cucu kesayangannya.”

Dunia Nero serasa jungkir balik secara positif.

Dia pergi ke Yaman untuk mencari cahaya. Dia mengira akan pulang ke rumah yang gelap dan dingin. Tapi saat ia kembali, cahaya itu ternyata sudah lebih dulu menerangi seluruh keluarganya.

Nero jatuh berlutut. Tangannya meraih tangan Papa dan mamanya, lalu menciumnya berkali-kali.

“Oma juga, Pa? Oma juga mualaf?”

“Iya. Oma bahkan sudah mulai pakai kerudung kalau ke pengajian,” ucap mama sambil tertawa kecil. “Bulan depan kita semua bakal ke desa. Syukuran bareng Pak Malik dan Ikdam. Oma yang minta.”

Nero terisak.

Dalam isaknya, ia berbisik pelan, "Alhamdulillah…"

.

.

.

Pukul 04.15 WIB, keesokan paginya.

Parkiran masjid dekat tongkrongan Senopati yang biasanya sepi subuh-subuh.. Mendadak penuh dengan motor sport dan moge. Lampu-lampu menyala, knalpot sesekali menggeram pelan, seolah malu karena tidak biasa datang ke masjid.

Robby, Kevin, Dika, dan sekitar sepuluh anak motor lainnya berdiri kaku di depan area wudhu. Wajah-wajah yang biasanya garang dan penuh tato itu sekarang tampak bingung setengah mati.

“Ro, ini mulainya dari mana? Tangan dulu apa niat dulu? Gue lupa!” bisik Robby panik. Tangannya sudah menggulung lengan kaos sampai bahu, siap-siap cuci tangan sampai siku.

Nero menahan tawa.

“Wudhu, Rob. Bukan mau donor darah. Santai aja.”

“Wudhu… wudhu… oke oke,” Robby mengangguk-angguk, tapi matanya tetap liar melihat keran-keran yang mengintimidasi.

Kevin, yang saking semangatnya, langsung menyalakan keran terlalu kencang.

Ssssssssss!! BRAK!

Airnya nyemplung deras, nyemprot ke muka Dika yang sedang sibuk melepas jam tangan di sebelahnya.

“WOOOOY!” teriak Dika kesal. “Gue mau wudhu, bukan mau steam motor! Mata gue kemasukan air, tolol!”

“Sori, sori!” Kevin nyengir kuda. “Gue kira keran ini kayak gas motor, sob. Harus ditarik dikit baru keluar. Gue tarik dalem-dalem kek gini ternyata ledak.”

Seluruh anak motor tertawa. Nero geleng-geleng kepala.

“Oke, oke, pada tenang. Awas aja nanti kalian wudhu pake oli, gue tendang satu-satu.”

Nero akhirnya turun tangan. Satu per satu, ia membimbing mereka.

“Kumur-kumur dulu. Basuh muka pelan-pelan. Rasain airnya lagi ngerontokkan dosa kalian di jalanan.”

Saat mereka mulai membasuh kaki, suasana berangsur hening. Kevin tiba-tiba diam. Robby menunduk lebih lama dari yang seharusnya.

Dan saat mereka masuk ke dalam masjid, keheningan itu berubah menjadi haru.

Robby. Badannya penuh tato naga dan tengkorak, tampak gemetar saat mencoba memakai sarung pinjaman dari masjid. Sarung kotak-kotak cokelat itu melintir-lintir karena ia tidak terbiasa.

“Ro, ini sarung gue kok pendek banget di depan tapi nyeret di belakang? Kalau gue sujud nanti kebuka, gimana? Gue nggak bawa stelan dalem, anjir,” bisik Robby dengan keringat dingin.

Nero nyaris tertawa keras, tapi ia tahan. Dengan sabar, ia membetulkan lilitan sarung Robby.

“Kayak gini, Rob. Ikatannya samping. Jangan kayak mau gulat.”

“Oh… oh… iya iya, paham paham. Gue kira sarung kayak jaket, ada ritsletingnya.”

Kevin yang di belakangnya sudah hampir jatuh karena kakinya terpeleset sajadah.

“Udah pada berdiri yang bener!” bisik Nero.

Lalu iqamah berkumandang.

Nero maju ke depan menjadi imam. Bukan karena sok suci, tapi karena teman-temannya memohon-mohon.

“Lo aja, Ro! Gue baru kenal yang namanya imam itu dari game sepak bola,” kata Dika polos.

Nero menghela napas, lalu mengangkat tangan.

Allahu Akbar…

Saat suara Nero melantunkan Surah Al-Fatihah dengan fasih. Dengan langgam khas Tarim yang ia pelajari langsung dari gurunya di Yaman. Suasana masjid berubah.

Hening.

Benar-benar hening.

Tidak ada suara knalpot, tidak ada suara tawa. Yang ada hanya lantunan ayat yang mengalir lembut, seakan membawa sesuatu yang lebih dalam dari sekadar suara.

Di shaf belakang, Kevin dan Dika menangis.

Bukan isak biasa. Mereka sesenggukan.

Kevin yang biasa ngebut di jalan tol sambil berteriak-teriak. Kini menunduk dalam-dalam, air matanya menetes ke sajadah. Dika di sampingnya gemetar, berusaha mengikuti gerakan Nero tanpa tahu kapan harus rukuk atau sujud.

“Udah sujud belum? Udah sujud belum?” bisik Kevin panik di sela-sela tangisnya.

“Gue juga nggak tahu, ikutin aja Nero!” jawab Dika terbata.

Mereka komat-kamit minta ampun, tapi tidak tahu bacaan yang benar. Yang mereka tahu hanya satu: hati mereka terasa sangat ringan.

Selesai shalat, semua duduk melingkar di karpet masjid.

Lampu masjid masih temaram. Udara subuh masih dingin.

Tapi hati mereka hangat.

“Gila, Ro…” Kevin menyeka matanya dengan punggung tangan. “Gue ngerasa enteng banget. Kayak habis ganti oli jiwa. Kayak piston-piston di dada gue tadi diketok satu-satu, terus bersih semua.”

Dika mengangguk-angguk.

“Gue nangis tapi nggak tahu kenapa. Padahal nggak ada yang ngejar-ngejar gue, nggak ada yang gebukin gue. Kok bisa nangis gitu, Ro?”

Nero tersenyum. “Itu namanya tobat, Dik. Bukan karena takut, tapi karena rindu. Kalian rindu sama yang bersih.”

Robby yang dari tadi diam, akhirnya buka suara. Tangannya masih memegang ujung sarung dengan waspada.

“Besok lagi ya, Ro? Tapi lo traktir bubur ayamnya jangan lupa. Gue udah laper tingkat dewa nih habis sujud. Lapar ibadah gini ternyata nggak main-main.”

Semua tertawa.

Nero tertawa lepas. Ia merangkul sahabat-sahabatnya. Mereka yang dulu diajaknya balapan liar, yang dulu sama-sama mabuk di pinggir jalan, yang dulu nyaris mati bersama di tikungan maut. Yang bersamanya menikmati party klub dan wanita malam...

“Besok,” kata Nero. “Dan seterusnya. Kita balapan sampai ke surga, oke?”

“Oke, Ro!”

“Gas pol!”

“Tapi surganya yang ada bubur ayamnya, ya?”

Nero menggeleng sambil tersenyum.

Di luar masjid, langit subuh mulai memerah. Suara adzan berkumandang dari kejauhan.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, Nero dan sahabat-sahabatnya tidak buru-buru menyalakan motor.

Mereka hanya duduk.

Menikmati fajar.

Menikmati pulang.

---

"Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain). Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap." — QS. Al-Insyirah: 6-8

1
한스Hans
semangat ya ☕
Thinker Bell ><: yetts, thanks😄👍
total 1 replies
Jeje Bobo
Nama neneknya keren pasti funky bebs
Thinker Bell ><: kan mantan sosialita kota, yang sengaja tinggal di kampung buat ngabisin sisa umur. biasa orang kaya.... 😄
total 1 replies
Jeje Bobo
Turun kasta 🫠 sedihnya untuk cm di novel yh say
Thinker Bell ><: nanti juga balik lagi kok ke kota/Shhh/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!