Judul: RAMALAN CINTA YANG TERKUNCI
Sub-judul: Takdir bukan untuk diubah, tapi untuk dijalani.
~~~~~~ ~~~~~~~ ~~~~~~~~
Langit malam yang gelap dengan bulan berwarna merah darah (Gerhana). Di kejauhan, siluet kota tua dengan arsitektur menara yang tinggi dan misterius.
▪︎Objek Utama:
- Di tengah, terdapat sebuah gembok antik yang besar dan berkarat, namun terbuat dari emas murni yang berkilau samar.
- Gembok itu terbelah dua, dan dari celah di antara keduanya memancarkan cahaya yang sangat terang, perpaduan antara warna Perak (Elara) dan Merah Gelap (Kael).
- Sebuah kunci tua melayang di udara, tepat di atas gembok, seolah baru saja membukanya atau hendak menguncinya.
.
.
.
.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jasmine Oke, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Terbang Menuju Bintang dan Hati Sang Naga
"Siap?" tanya Kael sambil menggenggam erat tangan Elara.
"Siap," jawab Elara dengan mata berbinar penuh semangat.
Mereka berdiri di balkon tertinggi Menara Pengamat. Di bawah mereka, Ratu Lyra dan penduduk Zephyria menatap dengan napas tertahan.
Kael dan Elara melompat maju ke dalam kehampaan. Namun mereka tidak jatuh. Sebaliknya, kaki mereka seolah menginjak udara padat. Dengan kekuatan gabungan Cahaya dan Kegelapan, mereka menciptakan jalannya sendiri di angkasa.
WUSH!
Mereka melesat naik dengan kecepatan tinggi, meninggalkan pulau-pulau terapung di bawah mereka. Angin kencang menerpa wajah mereka, namun mereka tidak merasakan dingin atau sesak. Tubuh mereka dilindungi oleh perisai energi yang sempurna.
Semakin tinggi mereka terbang, semakin jelas pemandangan alam semesta yang menakjubkan. Bintang-bintang tidak lagi terlihat seperti titik kecil, melainkan bola api raksasa yang bersinar dengan berbagai warna.
Dan di sana, di perbatasan dunia Zephyria, sosok itu terlihat jelas.
Itu benar-benar seekor naga, namun ukurannya luar biasa besar—sebesar sebuah planet kecil. Tubuhnya terbuat dari materi gelap yang berputar-putar, matanya dua lubang hitam pekat yang memancarkan rasa lapar yang tak terpuaskan. Ekornya yang panjang menyapu langit, memakan setiap cahaya yang tersentuh olehnya.
"Dianya dia!" seru Elara.
Naga Lubang Hitam itu menyadari kedatangan mereka. Ia mengangkat kepalanya raksasa itu, dan mengeluarkan suara gemuruh yang bukan suara biasa, melainkan getaran ruang dan waktu yang membuat kepala siapa pun terasa pusing mendengarnya.
GRRRROOOOAAAAARRR!!!
Naga itu menembakkan semburan energi hisap yang kuat, mencoba menarik mereka masuk ke dalam mulutnya.
"Awas!" teriak Kael.
Kael langsung memutar tubuhnya, menciptakan pusaran angin terbalik untuk menahan daya hisap itu. "Elara, kau yang bicara padanya! Aku akan menahan agar dia tidak menyerang duluan!"
"Baik!"
Elara maju ke depan, terbang melayang tepat di hadapan wajah raksasa naga itu. Walaupun ukurannya kontras sekali—Elara kecil seperti semut dibanding naga itu—namun aura yang dipancarkan Elara justru lebih murni dan kuat.
"Dengarkan aku, Naga yang Agung!" suara Elara diperkuat dengan sihir, bergema langsung ke dalam pikiran makhluk itu. "Kau tidak perlu memakan bintang-bintang ini! Ini adalah rumah bagi makhluk-makhluk hidup! Jika kau memakannya, kau akan menghancurkan kehidupan yang tidak bersalah!"
Naga itu berhenti sejenak. Matanya yang kosong itu menatap Elara.
'Lapar...... lapar...... gelap...... sendirian...'
Suara pikiran itu terdengar sangat menyedihkan dan primitif. Naga itu tidak bermaksud jahat. Ia hanya merasa sangat lapar karena tidak tahu di mana lagi mencari makanan, dan ia merasa kesepian karena semua makhluk lain lari ketakutan menjauhinya.
Hati Elara luluh. Ia mengerti sekarang. Makhluk ini hanyalah anak kecil yang tersesat dan kelaparan di tengah lautan luas.
"Aku tahu kau lapar," kata Elara lembut, melunakkan suaranya. "Dan aku tahu kau kesepian. Tapi caramu ini salah. Mari aku berikan sesuatu yang jauh lebih enak dan mengenyangkan daripada bintang-bintang itu."
Elara menoleh sedikit ke belakang. "Kael! Bantulah aku!"
Kael mengerti maksud istrinya. Ia terbang mendekat, dan mereka berdua berdiri berdampingan.
"Satukan energimu, Elara," kata Kael. "Kita berikan dia 'Makanan Para Dewa'."
Mereka menyatukan tangan kanan dan kiri mereka di depan dada. Cahaya putih murni dan kegelapan pekat berputar cepat, menyatu menjadi energi ungu keemasan yang sangat padat namun stabil.
Ini bukan energi untuk menghancurkan, ini adalah energi kehidupan murni yang padat.
"Terimalah ini!" seru mereka berdua.
Mereka mendorong telapak tangan ke depan. Sebuah bola energi sebesar rumah meluncur perlahan menuju mulut naga raksasa itu.
Naga itu mengendus aroma energi itu. Ia bisa merasakan bahwa itu bukan ancaman, melainkan sesuatu yang sangat lezat dan menenangkan. Dengan ragu, ia membuka mulutnya yang luas dan menelan bola energi itu.
GLUP!
Seketika itu juga, tubuh naga itu bergetar hebat. Aura gelap yang mengerikan di sekelilingnya perlahan memudar dan berubah menjadi cahaya yang lebih tenang. Matanya yang tadinya kosong kini terlihat lebih lembut.
Rasa laparnya hilang. Tubuhnya yang tadinya tidak stabil kini menjadi kokoh dan terkontrol.
'Enak...... hangat...... tidak sakit lagi...'
Naga itu menundukkan kepalanya yang sangat besar, menyentuh ujung hidungnya perlahan ke depan Elara, seolah sedang membelai atau memberi hormat pada makhluk kecil yang telah memberinya makan.
"Kau lihat?" senyum Elara lebar. "Dunia ini indah, kan? Tidak perlu dimakan, cukup dipandang saja sudah cukup. Kau bisa hidup berdampingan dengan kami."
'Teman...?' tanya pikiran naga itu.
"Ya, teman," jawab Kael sambil tersenyum. "Kau adalah penjaga terkuat kami mulai sekarang. Tugasku adalah menjaga agar kau tidak kelaparan lagi, dan tugasmu adalah menjaga agar bintang-bintang tetap pada tempatnya."
Naga itu mengeluarkan suara gemuruh rendah yang terdengar seperti tawa atau dengkuran bahagia. Ia mengibaskan ekornya, dan ajaibnya, bintang-bintang yang tadinya hilang atau bergeser, perlahan kembali ke posisi semula, bersinar lebih terang dari sebelumnya.
Naga itu berputar di orbitnya, kini menjadi satelit alami terindah dan terkuat yang melindungi dunia Zephyria.
Kael dan Elara terbang turun kembali ke menara. Saat mereka mendarat, Ratu Lyra dan semua orang langsung berlutut dengan penuh hormat. Langit di atas mereka kini sudah kembali normal. Bintang-bintang berkedip tertata rapi, memberikan panduan dan harapan kembali bagi seluruh penduduk.
"Kalian... benar-benar dewa yang turun ke bumi," bisik Ratu Lyra takjub. "Kalian tidak hanya menyelamatkan kami, kalian juga menjinakkan monster terbesar di alam semesta ini."
"Dia bukan monster," kata Elara sambil menunjuk ke langit di mana siluet naga itu terlihat jelas melintas di antara bintang. "Dia teman kita sekarang."
Malam itu, perayaan terbesar diadakan di seluruh pulau. Musik tiup bergema merdu, dan semua orang menari di bawah cahaya bintang yang telah kembali bersinar terang.
Namun, masa tinggal mereka di Zephyria pun harus berakhir. Panggilan dari dunia lain kembali terasa.
"Kita harus pergi lagi," kata Kael sambil memandang cakrawala. "Ada dunia lain yang menunggu."
"Ya," jawab Elara. "Tapi kali ini... kita tidak sendirian."
Elara melambaikan tangan ke langit. SUUUUUUSSSSH!
Naga raksasa itu turun sebatas awan, sayapnya yang besar meneduhi seluruh kota. Ia menunduk, membiarkan Kael dan Elara naik ke atas punggungnya yang keras namun kokoh.
"Wah! Kita akan naik naga?!" seru Elara kegirangan.
"Ya," Kael tertawa. "Kenapa harus berjalan kaki atau pakai portal kalau kita punya kendaraan sekeren ini?"
Mereka duduk di atas punggung naga yang kokoh itu. Naga itu menderu kencang, lalu melesat menembus lapisan langit, menuju dimensi baru, menuju petualangan baru yang lebih menakjubkan.
(Bersambung ke Bab 31...)