NovelToon NovelToon
Di Balik Niqab Maryam: Rahasia Pewaris Yang Terbuang

Di Balik Niqab Maryam: Rahasia Pewaris Yang Terbuang

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius / CEO / Tamat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Diusir dan dihinakan akibat video fitnah keji, Aaliyah Humaira, putri seorang kyai besar, terpaksa menanggalkan identitasnya dan bersembunyi di balik niqab dan kode peretas legendaris 'H_Zero'. Namun, takdir pelariannya justru membawanya ke dalam pelukan Zayn Al-Fatih, CEO berdarah dingin penerus klan aristokrat mafia Eropa yang hidupnya dipenuhi ancaman pembunuhan. Saat rahasia triliunan dolar dan masa lalu leluhur mereka saling bertabrakan, Aaliyah dan Zayn harus menyatukan kejeniusan siber dan kekuatan militer untuk melawan sindikat pembunuh bayaran, dewan bangsawan yang rasis, dan konspirasi global. Ini bukan sekadar kisah cinta antara gadis pesantren dan sang Raja Es; ini adalah perang epik di mana iman, kecerdasan, dan peluru menjadi penentu kedaulatan sebuah negara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: KEHANCURAN DI PUNCAK KEMENANGAN

​00:00:01...

​Waktu seolah membeku. Tidak ada suara ledakan yang memekakkan telinga. Tidak ada kilatan api yang merobek dinding gudang. Tidak ada panas yang meleburkan tulang-tulang mereka menjadi debu.

​Yang ada hanyalah keheningan yang sangat pekat, hanya dipecahkan oleh suara desis mesin ventilator Kyai Abdullah dan napas Aaliyah yang memburu brutal.

​Aaliyah membuka matanya perlahan. Dadanya naik turun dengan liar. Di tangannya yang bergetar hebat dan berlumuran darah, terdapat sebuah silinder logam kecil—kapsul detonator.

​Di detik terakhir, otak analitis Aaliyah menolak bermain tebak-tebakan dengan warna kabel. Memotong kabel yang salah akan memicu sirkuit cadangan. Alih-alih memotong kabel, Aaliyah menggunakan seluruh sisa tenaganya untuk menarik paksa kapsul detonator itu keluar dari dalam gumpalan plastisin C4, memisahkan pemicu dari bahan peledak utamanya secara fisik.

​Batin Aaliyah: Ya Allah... hamba masih bernapas. Ayah masih bernapas. Detonator ini... hamba berhasil mencabutnya. Kematian baru saja melewatiku dengan jarak sekecil helai rambut. Alhamdulillah... Alhamdulillah...

​Aaliyah melempar detonator itu jauh-jauh ke sudut gudang. Tubuhnya seketika luruh ke lantai beton. Adrenalin yang sejak tadi menopang kewarasannya mendadak menguap tanpa sisa.

​Sebagai gantinya, rasa sakit dari bahu kirinya yang tertembus peluru datang menghantam layaknya badai. Pandangan Aaliyah mulai kabur. Tepi-tepi penglihatannya menggelap.

​Dari luar gudang, terdengar deru puluhan mesin mobil yang merangsek masuk ke pelabuhan. Lampu-lampu sorot taktis menyapu dinding gudang yang gelap. Pintu utama didobrak hingga hancur berkeping-keping.

​"Nyonya Aaliyah! Cari Nyonya Aaliyah!"

​Itu suara Ben. Suara yang paling melegakan yang pernah Aaliyah dengar malam ini.

​Cahaya senter menyilaukan menyorot ke arah pilar beton tempat Aaliyah terkapar. Ben dan selusin pasukan taktis elit Al-Ghifari berlari mendekat. Beberapa anggota segera mengamankan Sultan yang masih pingsan di atas tumpukan kayu, memborgol tangan dan kakinya dengan rantai baja.

​Ben berlutut di samping Aaliyah, wajah prajurit kekar itu tampak pucat melihat darah yang menggenang di bawah tubuh majikannya.

​"Medis! Bawa masuk tim medis sekarang!" teriak Ben ke arah radio komunikasinya. Ia menekan bahu Aaliyah dengan kain kasa tebal untuk menghentikan pendarahan. "Bertahanlah, Nyonya. Anda berhasil... Anda mengalahkan iblis itu sendirian."

​Aaliyah mencoba tersenyum, meski bibirnya sudah seputih kertas. Ia menatap ayahnya yang masih bernapas teratur melalui mesin.

​"Ben..." bisik Aaliyah sangat lemah. "Zayn... bagaimana operasi Zayn?"

​"Fokuslah pada diri Anda sendiri, Nyonya," Ben mencoba mengelak, matanya memancarkan kesedihan yang tak bisa disembunyikan.

​Batin Aaliyah: Mengapa dia menolak menjawab? Zayn... apakah terjadi sesuatu di meja operasi? Ya Allah, jangan biarkan hamba kehilangan dia setelah semua ini...

​Belum sempat Aaliyah menuntut jawaban, kesadarannya akhirnya menyerah pada rasa sakit dan kehilangan darah. Kegelapan total menyelimutinya.

​Aroma antiseptik yang tajam menusuk hidung Aaliyah, memaksanya keluar dari alam bawah sadar yang kelam. Ia perlahan membuka matanya. Langit-langit putih yang steril menyambut pandangannya.

​"Nona Aaliyah? Anda sudah sadar?"

​Aaliyah menoleh pelan. Di samping ranjangnya, seorang perawat wanita sedang memeriksa selang infusnya. Bahu kiri Aaliyah terasa kebas, terbalut perban tebal dan ditopang oleh penyangga lengan.

​"Di mana... di mana saya?" suara Aaliyah serak dan kering.

​"Anda berada di Rumah Sakit Pusat, di lantai VVIP Al-Ghifari," jawab perawat itu dengan senyum ramah. "Anda pingsan selama dua hari penuh setelah operasi pengangkatan proyektil di bahu Anda."

​Dua hari?!

​Aaliyah seketika mencoba bangkit, mengabaikan rasa nyeri yang menyengat bahunya. "Ayah saya? Kyai Abdullah? Dan Zayn... di mana suamiku?!"

​Pintu ruang perawatan terbuka sebelum perawat itu sempat menjawab. Ben melangkah masuk. Ia tampak jauh lebih lelah dari sebelumnya. Lingkaran hitam di bawah matanya sangat kentara, dan seragam taktisnya telah berganti dengan kemeja hitam yang kusut.

​"Kyai Abdullah aman, Nyonya," Ben memberi isyarat pada perawat untuk keluar, memberikan mereka privasi. "Beliau dirawat di kamar sebelah. Mesin ventilatornya sudah diganti dengan yang lebih baik. Sultan saat ini ditahan di fasilitas rahasia kami, menunggu eksekusi interogasi."

​Aaliyah menghela napas lega yang luar biasa. "Lalu Zayn? Mengapa kau tidak langsung menyebutkan namanya, Ben? Katakan padaku yang sebenarnya."

​Ben menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Operasi pengangkatan serpihan tulang di kepala Tuan Muda berhasil. Pendarahannya berhenti. Namun..."

​Ben menelan ludah, suaranya bergetar.

​"...Namun infeksi dari air sungai kotor di hutan itu menyebar terlalu cepat ke sistem saraf pusatnya sebelum operasi dimulai. Dokter terpaksa memasukkan Tuan Muda ke dalam kondisi koma medis yang diinduksi (medically induced coma) untuk mencegah kerusakan otak permanen."

​Dada Aaliyah seolah dihantam palu godam. Koma? Pria yang paling kuat yang pernah kukenal... kini tertidur tanpa tahu kapan akan bangun?

​"Bawa aku padanya. Sekarang," perintah Aaliyah. Ia menyingkap selimutnya, menolak peduli pada tubuhnya yang masih lemah.

​"Tapi Nyonya, kondisi Anda—"

​"Aku bilang, bawa aku padanya, Ben!"

​Ben tidak berani membantah. Ia memanggil dua pengawal untuk membawakan kursi roda.

​Aaliyah didorong menyusuri lorong panjang yang sepi. Saat pintu ruang ICU VVIP itu terbuka, air mata Aaliyah tumpah seketika.

​Zayn terbaring di sana. Tidak ada lagi setelan jas yang rapi atau aura intimidasi 'The Cold Lion'. Hanya ada seorang pria yang dikelilingi oleh belasan mesin penunjang kehidupan. Kepalanya terbalut perban putih bersih. Wajahnya begitu tenang, seolah ia sedang bermimpi indah, mengabaikan badai yang sedang menghancurkan dunianya di luar sana.

​Aaliyah berdiri dari kursi rodanya, berjalan tertatih menghampiri ranjang Zayn. Ia menyentuh punggung tangan Zayn yang dingin.

​Batin Aaliyah: Kau pembohong, Zayn Al-Fatih. Kau berjanji akan langsung membawaku ke KUA begitu kita keluar dari hutan itu. Kau berjanji tidak akan meninggalkanku. Mengapa kau tertidur di sini? Bangunlah... kumohon, bangunlah. Aku tidak peduli jika kau kehilangan seluruh hartamu, asalkan kau membuka matamu.

​Aaliyah menempelkan punggung tangan Zayn ke pipinya yang basah oleh air mata. Di tengah keheningan yang menyayat hati itu, pintu ICU tiba-tiba terbuka paksa dengan suara berdebum yang keras.

​Empat orang pria bersetelan jas abu-abu mahal melangkah masuk dengan angkuh. Di belakang mereka, Rian—mantan ahli IT yang berkhianat—berjalan dengan senyum pongah yang sangat menjijikkan. Pengawal Ben mencoba menahan mereka, namun salah satu pria berjas itu mengangkat sebuah dokumen berstempel hukum.

​"Hentikan tindakan kekerasan Anda, atau kami akan memanggil polisi!" bentak pria berjas itu, yang tampaknya adalah seorang pengacara senior.

​Ben merangsek maju, menghalangi mereka dari ranjang Zayn. "Beraninya kalian masuk ke ruangan VVIP ini! Keluar sebelum kupatahkan leher kalian!"

​"Ruangan VVIP ini bukan lagi milik Tuan Zayn Al-Fatih," ucap Rian santai, mengabaikan ancaman Ben. Rian menatap Aaliyah dengan pandangan merendahkan. "Halo, H_Zero. Senang akhirnya bisa melihat wajah asli di balik malware yang menghancurkan serverku."

​Aaliyah menghapus air matanya. Ia menegakkan tubuhnya, menatap Rian dengan kedinginan yang mematikan. "Apa yang kalian inginkan, pengkhianat?"

​Pengacara di depan Rian membuka dokumen tersebut dan membacakannya dengan suara lantang.

​"Berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa yang digelar dua hari yang lalu, Dewan Direksi telah memutuskan untuk mencopot Zayn Al-Fatih dari posisinya sebagai CEO secara permanen akibat skandal kriminal dan ketidakmampuannya secara medis (inkapasitas)."

​Pengacara itu menyerahkan dokumen tersebut ke dada Ben dengan kasar.

​"Seluruh aset Al-Ghifari Group, termasuk kepemilikan atas rumah sakit ini, telah diambil alih oleh manajemen baru di bawah kuasa Bapak Aditya Al-Fahri (Sultan). Karena Tuan Zayn Al-Fatih saat ini tidak memiliki polis asuransi pribadi yang aktif setelah pembekuan asetnya, beliau tidak lagi berhak menempati fasilitas medis ini."

​Aaliyah terkesiap. Matanya membelalak tak percaya.

​Batin Aaliyah: Ya Allah! Sultan... dia mungkin ditahan oleh Ben, tapi anak buahnya dan dewan direksi korup itu telah mengeksekusi rencananya! Mereka merampas segalanya secara legal di atas kertas saat Zayn sedang koma!

​"Kalian gila!" bentak Ben, tangannya mengepal siap memukul. "Tuan Muda adalah pemilik sah mayoritas saham! Kalian tidak bisa membuangnya dari rumah sakitnya sendiri!"

​"Kami bisa, dan kami baru saja melakukannya," sahut Rian sambil tertawa sinis. "Sultan sudah mengalihkan mayoritas saham itu tepat sebelum kalian menangkapnya di gudang. Di mata hukum, Zayn sekarang tidak lebih dari seorang gembel yang sedang koma."

​Rian menatap Aaliyah tajam. "Kalian punya waktu tepat dua jam untuk mengemasi barang kalian. Bawa pria cacat ini dan kyai tua di kamar sebelah keluar dari gedung ini, atau pihak keamanan rumah sakit akan menyeret kalian ke trotoar jalan secara paksa."

​Ruangan ICU itu mendadak terasa hampa. Udara seakan disedot keluar, meninggalkan realitas pahit yang mencekik leher. Mahkota telah benar-benar runtuh. Sang Raja Es dan Mutiara dari Timur kini resmi diusir dari istana mereka sendiri.

1
Sri Jumiati
cobaan berat bertubi tubi .terus menerus.kasihan Aaliyah
Rita Rita
AQ jadi kepikiran presiden RI,,, apakah pak Bowo Thor 🤔 novel mu Thor bikin tegangan tinggi
Misterios_Man: diem diem aja kak, jangan bilang-bilang /Shhh//Shhh//Shhh/
total 1 replies
Rita Rita
sultan memang iblis,,, meski udah dihantam kuat dengan tabung oksigen masih lagi sehat walafiat,,
Rita Rita
orang jahat memang selalu menang duluan,,🤭
Rita Rita
dari part ke part menegangkan,, Aaliyah bener bener wanita kuat,,yg cerdas dan genius. dia berjuang sendiri demi cinta pertama nya sang ayah tercinta,,
Sri Jumiati
ceritanya bagus
Rita Rita
meski tegang masih ada sisi romantis nya. Zayn bisa aja bikin Aaliyah baper kalo ga sedang kritis keadaan,,
Rita Rita
cieee Zayn,,, belum apa apa udah mengklaim permaisuri ku🤭🤣😍😍
moga ditengah badai dusta ketulusan hati menghancurkan fitnah keji
Zulfa
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!