Yvone Larasati, seorang desainer interior freelance yang keras kepala dan mandiri, terpaksa menelan harga dirinya dan menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Dylan Alexander Hartono, CEO Alexander Group yang dingin dan tak tersentuh. Pernikahan ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan ayah Yvone dari jerat penjara akibat jebakan korupsi politik. Di sisi lain, Dylan membutuhkan citra "pria beristri yang sempurna" untuk mengamankan mega-proyek infrastruktur dan pariwisata pemerintah senilai triliunan rupiah.
Berawal dari selembar kertas yang didasari kebencian dan pragmatisme, batasan antara sandiwara dan kenyataan mulai mengabur. Dikelilingi oleh intrik mematikan dari pejabat korup, ancaman masa lalu keluarga, dan empat rival cinta yang mematikan, Dylan dan Yvone menemukan tempat berlindung pada satu sama lain. Di bawah matahari Bali yang hangat, dinding es Dylan runtuh, dan ketakutan Yvone sirna, melahirkan gairah yang tak terbendung dan pengorbanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 11
Sejak malam di mana secangkir teh chamomile menjadi saksi bisu gencatan senjata tak kasatmata di antara mereka, ada perubahan subtil dalam ritme penthouse lantai 65.
Bukan berarti Dylan tiba-tiba berubah menjadi suami yang hangat dan penuh senyum jauh dari itu. Pria itu tetaplah gunung es yang tak tersentuh. Namun, aura permusuhan yang selalu menyengat setiap kali mereka berada di ruangan yang sama kini sedikit mereda. Yvone tidak lagi merasa diawasi seperti tahanan yang bersiap kabur, melainkan lebih seperti... tamu VIP yang harus dilindungi.
Pagi itu, di meja makan marmer, Dylan menutup laptopnya sedikit lebih awal. Ia menatap Yvone yang sedang mengoleskan selai pada roti panggangnya.
"Batalkan jadwalmu siang ini," ucap Dylan, memecah keheningan yang hanya diisi oleh denting alat makan.
Pisau selai Yvone terhenti. Ia mendongak, bersiap untuk berdebat. "Aku ada jadwal video call dengan tim vendor furnitur jam satu siang."
"Geser ke jam tiga," balas Dylan mutlak, namun nadanya tidak setajam biasanya. Ia mengambil serbet dan mengusap sudut bibirnya. "Bu Rina, Wakil Gubernur Bali, sedang berada di Jakarta. Beliau adalah pemegang kunci utama untuk perizinan lahan mega-proyek resort kita. Hadi dan kroni-kroninya sedang berusaha meracuni telinganya, mengatakan bahwa pernikahanku hanyalah sandiwara untuk menutupi skandal hukum keluargamu."
Yvone meletakkan pisaunya, nafsu makannya menguap. "Dan kau butuh aku untuk membuktikan sebaliknya."
"Tepat," Dylan berdiri dari kursinya. "Kita akan makan siang bersama beliau di restoran privat di lantai 59 kantorku. Pak Joko akan menjemputmu jam sebelas. Kenakan sesuatu yang elegan namun membumi. Bu Rina adalah wanita paruh baya yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai keluarga dan budaya. Jangan pakai perhiasan berlebihan yang Tara berikan."
"Baik," jawab Yvone singkat.
Saat Dylan berjalan menuju lift, ia menoleh sedikit melalui bahunya. "Dan Yvone..."
Yvone menatap punggung tegap itu. "Ya?"
"Jangan biarkan intimidasi Bu Rina membuatmu goyah. Beliau tajam, tapi beliau menghargai kecerdasan." Setelah mengatakan itu, pintu lift tertutup, membawa pria es itu turun ke kerajaannya.
Tepat pukul 11.45 WIB, Yvone melangkah keluar dari lift VIP di lantai 60 Menara Alexander lantai eksekutif tempat ruang kerja Dylan berada.
Ia mengenakan midi dress berlengan panjang warna navy dengan potongan leher boat neck yang sopan namun sangat chic. Rambutnya diikat rapi ke belakang, dan riasannya sangat natural. Ia terlihat persis seperti yang diminta Dylan: elegan, cerdas, dan membumi.
Kehadiran Yvone seketika menghentikan aktivitas di lantai tersebut. Para sekretaris dan staf eksekutif yang biasanya sibuk menelepon atau mengetik dengan kecepatan cahaya, kini mencuri pandang ke arahnya. Tentu saja, ini adalah kali pertama 'Nyonya Hartono' yang misterius menginjakkan kaki di kantor pusat sejak pernikahan mereka yang tertutup.
Marco muncul dari balik pintu ganda ruang kerja Dylan dengan senyum profesionalnya yang khas.
"Selamat datang di medan perang sesungguhnya, Nyonya Hartono," sapa Marco sedikit menunduk, lalu membimbing Yvone menyusuri lorong berlapis karpet tebal. "Bos sedang menyelesaikan conference call dengan direksi London. Beliau akan selesai dalam lima menit. Bu Rina dijadwalkan tiba jam dua belas tepat."
"Apakah Bu Rina benar-benar sesulit itu, Marco?" tanya Yvone agak gugup saat mereka masuk ke ruang tunggu privat yang langsung terhubung dengan kantor Dylan.
Marco menghela napas pelan. "Bu Rina adalah politisi pragmatis. Beliau tidak peduli dengan uang beliau sudah sangat kaya dari warisan keluarganya di Bali. Yang beliau pedulikan adalah warisan legacy. Proyek resort ini akan memakan lahan sakral seluas puluhan hektar. Jika Dylan terlihat seperti pria korporat brengsek yang tidak punya moral atau family value, Bu Rina tidak akan ragu membatalkan izinnya dan memberikannya pada konsorsium lain yang diusung Menteri Hadi."
Yvone mengangguk paham. Beban di pundaknya terasa semakin berat. Nasib triliunan rupiah dan perlindungan ayahnya kini bergantung pada seberapa meyakinkan ia bisa memakan salad dan tersenyum siang ini.
Pintu ganda terbuka, dan Dylan melangkah keluar. Pria itu telah mengenakan jas abu-abu gelapnya secara penuh. Saat matanya menangkap sosok Yvone, langkah kakinya melambat sepersekian detik. Tatapan kelamnya menyapu Yvone dari atas ke bawah.
"Pilihan pakaian yang tepat," komentar Dylan singkat, namun bagi Yvone yang sudah mulai memahami bahasa pria itu, kalimat tersebut setara dengan pujian tertinggi.
Dylan mendekat dan menyodorkan lengan kirinya. "Siap menghadapi harimau Bali?"
Yvone menarik napas panjang, mengaitkan lengannya pada lengan kokoh suaminya. Panas tubuh Dylan seketika menjalar, memberikan semacam sauh yang menenangkan saraf-sarafnya yang tegang. "Selama harimau itu tidak menggigit, aku siap."
Makan siang diadakan di private dining room yang mewah dengan pemandangan kota Jakarta dari ketinggian.
Bu Rina adalah seorang wanita berusia awal lima puluhan yang memancarkan aura keibuan namun memiliki sorot mata setajam elang. Ia mengenakan kebaya modern berbalut selendang tenun Bali yang elegan. Sejak hidangan pembuka (appetizer) disajikan, wanita itu belum berhenti menembakkan pertanyaan-pertanyaan yang menguji kesabaran.
"Saya harus jujur, Dylan," ucap Bu Rina sambil meletakkan garpunya dengan anggun. "Pernikahanmu ini sangat mendadak. Di lingkaran politik, tidak ada yang namanya kebetulan. Pak Hadi bahkan berbisik padaku bahwa kau hanya menjadikan gadis malang ini sebagai tameng hukum untuk menghindari audit KPK terkait ayah mertuamu."
Udara di ruangan itu seketika mendingin. Rahang Dylan mengeras, namun sebelum ia sempat membuka mulut untuk mengeluarkan serangan verbalnya yang mematikan, Yvone meletakkan tangannya dengan lembut di atas punggung tangan Dylan yang terkepal di atas meja.
Sentuhan Yvone begitu ringan, namun berhasil meredakan ketegangan di otot-otot Dylan. Pria itu menoleh menatap istrinya dengan sedikit terkejut.
Yvone tersenyum manis ke arah Bu Rina. Senyum yang mencapai matanya, bukan sekadar tarikan bibir palsu.
"Saya sangat memahami kekhawatiran Ibu," ucap Yvone dengan nada suara yang tenang dan berwibawa. "Di dunia tempat Ibu dan Dylan bekerja, sinisme adalah mekanisme pertahanan diri. Tapi, cinta sejati tidak pernah peduli dengan jadwal kampanye atau audit politik, Bu."
Bu Rina menaikkan sebelah alisnya, tertarik. "Begitukah, Nyonya Yvone?"
"Saya bertemu Dylan saat saya sedang hancur. Ayah saya dijebak, dunia saya runtuh," Yvone menatap langsung ke mata Bu Rina, membiarkan sedikit kerentanan aslinya terlihat. "Di saat semua orang menjauh karena takut terseret, Dylan adalah satu-satunya yang berdiri di depan saya. Dia tidak menyelamatkan ayah saya karena politik, Bu. Dia melakukannya karena dia tahu saya tidak akan bisa bernapas tanpa keluarga saya. Pria yang rela mempertaruhkan reputasi perusahaannya demi air mata seorang wanita... saya rasa itu bukan tameng hukum. Itu adalah komitmen."
Keheningan yang memukau menyelimuti meja itu. Dylan menatap profil samping wajah Yvone tanpa berkedip. Ada sesuatu yang bergemuruh keras di dalam dadanya mendengar pembelaan itu. Tentu saja itu semua hanya akting belaka sesuai kontrak, namun cara Yvone mengatakannya, emosi yang wanita itu pancarkan... terasa terlalu nyata.
Bu Rina menatap Yvone selama beberapa detik, sebelum akhirnya senyum lebar yang tulus mengembang di wajah keibuannya.
"Luar biasa," Bu Rina tertawa kecil. "Menteri Hadi benar-benar bodoh jika ia meremehkan kekuatan seorang istri yang mencintai suaminya."
Bu Rina menoleh pada Dylan. "Baiklah, Dylan. Kau lulus ujian moral dari dewan adat kami. Tapi, itu baru masalah personal. Masalah teknis proyek resort kita belum selesai. Para pemuka adat di Bali sangat menentang desain arsitektur Alexander Group yang terlalu memakan area hijau. Mereka tidak ingin tebing Uluwatu diubah menjadi blok beton yang tak bernyawa."
Dylan segera kembali ke mode CEO-nya. "Kami telah menginstruksikan tim arsitek untuk merevisi layout, Bu Rina. Kami akan mengurangi area indoor sebanyak lima belas persen—"
"Dengan segala hormat, itu tidak menyelesaikan masalah esensialnya, Dylan," sela Yvone tiba-tiba.
Baik Dylan maupun Bu Rina menoleh ke arahnya dengan kaget. Dylan memberikan tatapan peringatan yang tajam. Jangan ikut campur urusan bisnis.
Namun Yvone mengabaikannya. Kepercayaan dirinya sebagai seorang desainer sedang mengambil alih. "Masalahnya bukan pada persentase luas area, Bu Rina. Masalahnya adalah material dan transisi."
"Lanjutkan," ucap Bu Rina, matanya berbinar penasaran.
Yvone mencondongkan tubuhnya ke depan dengan antusias. "Tebing Uluwatu memiliki tekstur batu kapur alami yang sangat ikonik. Jika Alexander Group menggunakan beton cor atau kaca memantul secara masif, resort itu akan terlihat seperti benda asing yang jatuh dari langit. Kita harus menggunakan pendekatan eco-luxury. Desain interior transisional. Gunakan kayu ulin yang didaur ulang untuk pilar utama, dan rancang area lobi dengan konsep open-air yang memanfaatkan sirkulasi angin laut, bukan AC sentral."
"Dan bagaimana dengan area vilanya?" tanya Bu Rina, kini sepenuhnya mengabaikan Dylan dan fokus pada Yvone.
"Kita tidak meratakan tanahnya," jawab Yvone cepat, matanya menyala oleh passion. "Kita bangun vila-vila tersebut mengikuti kontur tebing. Atapnya bisa menggunakan alang-alang sintetis berkualitas tinggi yang tahan api namun tetap terlihat menyatu dengan alam. Dengan begitu, dari laut, resort itu tidak akan merusak garis horizon Bali, melainkan menjadi bagian darinya."
Bu Rina terdiam. Ia mengambil serbet, menyeka bibirnya, dan menatap Dylan dengan ekspresi kagum yang tidak disembunyikan.
"Dylan," ucap Bu Rina tegas. "Berapa banyak kau membayar kepala arsitekmu saat ini?"
"Sekitar lima miliar setahun, Bu," jawab Dylan, masih berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi.
"Pecat dia," perintah Bu Rina sambil tertawa. "Dan bayar istrimu ini sepuluh miliar. Konsepnya barusan adalah persis apa yang dicari oleh para tetua adat kami."
Bu Rina berdiri, menandakan makan siang telah usai. "Kirimkan draf revisi desain berdasarkan konsep istrimu minggu depan. Jika sesuai dengan yang ia bicarakan, aku akan menandatangani izin penggunaan lahan itu sebelum akhir bulan."
Dylan dan Yvone ikut berdiri. Dylan menjabat tangan Wakil Gubernur itu. "Terima kasih, Bu Rina. Saya jamin, revisi itu akan ada di meja Anda tepat waktu."
Kembali di ruang kerja Dylan yang kedap suara, keheningan terasa sangat tebal hingga bisa dipotong dengan pisau.
Yvone berdiri di dekat jendela kaca raksasa, melihat ke bawah. Jantungnya masih berdegup kencang karena adrenalin dari percakapan tadi. Ia tahu ia telah melanggar aturan tak tertulis untuk tidak mencampuri urusan Alexander Group, dan ia bersiap menerima kemarahan suaminya.
Dylan melepaskan jasnya dan melemparkannya ke sofa. Pria itu melonggarkan dasinya, lalu berjalan perlahan menghampiri Yvone dari belakang.
"Apa yang kau lakukan tadi?" suara rendah Dylan terdengar tepat di belakang telinga Yvone.
Yvone berbalik, menemukan Dylan berdiri sangat dekat dengannya. Jauh di luar batas profesional.
"Aku hanya... aku menyelamatkan proyekmu," Yvone mendongak, mencoba menutupi kegugupannya. "Tim arsitekmu terlalu kaku. Mereka berpikir dalam skala monumen, bukan skala organik. Jika kau memaksakan beton di Uluwatu, kau akan menghadapi demo masyarakat adat setiap hari."
Dylan menatap lurus ke dalam mata Yvone. Tangan besar pria itu terangkat, dan kali ini, tanpa keraguan, ia menyentuh rahang Yvone dengan buku-buku jarinya. Sentuhan itu membuat Yvone terpaku.
"Kau berbohong dengan sangat indah di depan Bu Rina tadi," bisik Dylan, suaranya serak, ibu jarinya membelai lembut garis rahang Yvone. "Kau membuatku terdengar seperti pahlawan romantis yang mabuk kepayang. Dari mana kau belajar merangkai kata-kata seperti itu, hm?"
Napas Yvone tertahan. Jarak mereka sangat dekat. Ia bisa melihat bayangan dirinya di dalam manik mata kelam Dylan. "Aku... aku hanya menyesuaikannya dengan karakter yang beliau inginkan."
"Begitukah?" Sudut bibir Dylan berkedut, membentuk seringai yang sangat tipis namun mematikan. Pria itu menunduk sedikit, hidungnya nyaris menyentuh pipi Yvone. "Lalu bagaimana dengan desain eco-luxury itu? Apakah itu dari rekan kerjamu, si arsitek muda kesayanganmu itu?"
Nada posesif dalam pertanyaan itu kembali muncul, membuat Yvone sedikit kesal sekaligus tersanjung di saat yang bersamaan.
"Itu adalah ideku," desis Yvone, membalas tatapan pria itu dengan berani. "Rangga adalah arsitek yang hebat, tapi visi tentang tebing itu murni milikku."
Dylan menatap bibir Yvone yang sedikit terbuka, lalu kembali menatap matanya. Tarikan napas pria itu terdengar lebih berat dari sebelumnya. Di dalam ruangan yang kedap suara ini, dinding es sang CEO seolah meleleh sedikit demi sedikit, membiarkan percikan api yang selama ini ia tekan mulai membakar ke udara.
Dylan mencondongkan tubuhnya lebih jauh, seolah gravitasi telah bergeser dan berpusat pada bibir wanita di hadapannya. Yvone memejamkan mata secara refleks, tubuhnya bereaksi pada dominasi pria itu.
Brak!
Pintu ruang kerja terbuka kasar.
"Bos! Kita punya masalah bes—"
Marco mematung di ambang pintu, dokumen di tangannya hampir terlepas saat matanya menangkap posisi bosnya dan Yvone di dekat jendela. Wajah pengacara cerdas itu seketika memucat. "S-Sial. Maafkan saya. Saya akan kembali ke—"
Dylan menarik tubuhnya menjauh dari Yvone dengan kecepatan kilat, rahangnya seketika mengeras kembali layaknya baja yang baru disiram air es. Ia berdeham kasar, memunggungi Yvone dan menatap Marco dengan tatapan membunuh.
"Apa yang terjadi, Marco?!" bentak Dylan, suaranya kembali menjadi guntur yang menakutkan.
Yvone membuang muka ke arah jendela, wajahnya memerah padam, jantungnya berdetak tak karuan karena ciuman yang hampir terjadi itu.
Marco menelan ludah, berjalan masuk dengan hati-hati. "Ini tentang proyek Bali, Bos. Menteri Hadi baru saja melakukan manuver kotor. Seseorang di dalam tim kementerian dalam negeri membocorkan informasi rahasia. Menteri Dalam Negeri... Ayah dari Nadia Pramudya... baru saja mengeluarkan dekrit yang membekukan sementara analisis AMDAL kita di Uluwatu."
Dylan memukul meja marmernya dengan keras hingga terdengar suara dentuman. "Bajingan tua itu."
"Ada satu hal lagi, Bos," Marco menatap Dylan dengan cemas, lalu melirik ke arah Yvone sejenak. "Pihak kementerian mengusulkan solusi 'mediasi silang'. Mereka menunjuk seorang utusan khusus untuk datang ke kantor kita besok pagi guna membahas negosiasi ulang izin tersebut."
"Siapa yang mereka kirim?" desis Dylan, matanya menyipit berbahaya.
Marco menarik napas panjang. "Nadia Pramudya. Dan dia secara eksplisit meminta pertemuan itu hanya dihadiri oleh Anda berdua secara tertutup."
Di sudut ruangan, Yvone merasakan udara seolah ditarik paksa dari paru-parunya.
Nama itu kembali muncul. Nadia Pramudya.