"Menjadi anak pertama berarti harus siap menjadi benteng, harus siap mengalah, dan harus terlihat kuat meski hati rapuh.
Di mata semua orang, Zhira adalah anak yang beruntung. Tapi siapa sangka, di balik senyumnya yang tulus, tersimpan luka mendalam karena perlakuan dingin sang Ibu dan rasa tidak dianggap di rumah sendiri.
Ini adalah kisah perjuangan seorang anak sulung untuk membuktikan dirinya berharga, meski harus berjalan sendirian meniti jalan yang penuh duri."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurhikmatul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Baru di Kota Orang Lain
POV Zhira
Waktu berlalu begitu cepat. Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Hari di mana aku harus berangkat ke kota tempat universitas berada. Jaraknya cukup jauh dari rumah, membutuhkan waktu sekitar empat jam perjalanan menggunakan kereta api.
Pagi itu, suasana rumah terlihat biasa saja. Tidak ada suasana perpisahan yang haru atau penuh air mata seperti di film-film. Ibu Zainal sibuk menyiapkan sarapan untuk Rara dan Bimo, seolah hari ini adalah hari biasa seperti biasanya.
Aku sudah merapikan semua barang-barangku ke dalam sebuah koper besar dan tas ransel. Baju-bajuku tidak banyak, hanya beberapa stel yang layak pakai, dan tentu saja buku-buku pelajaran yang kubawa dengan susah payah.
"Zhira, hati-hati di jalan ya," kata Ayah Alvin sambil membantu mengangkat kopermu keluar rumah. Wajahnya terlihat sedih namun bangga.
"Iya, Yah. Ayah dan keluarga sehat-sehat selalu ya di sini," jawabku pelan. Aku menoleh ke arah Ibu yang masih berdiri di teras. "Bu... Zhira berangkat dulu."
Ibu Zainal hanya mengangguk singkat. "Hati-hati. Ingat, jangan sampai lupa asal-usul. Jangan sampai kuliah tapi kelakuan jadi rusak. Dan ingat, kalau ada uang sisa kirim ke rumah, adik-adikmu butuh biaya sekolah."
Hatiku sedikit mencelos. Tidak ada kata "jaga diri", tidak ada "kabar-kabari", yang ada malah tuntutan mengirim uang. Padahal aku sendiri belum tahu bagaimana nasib uang sakuku nanti, karena beasiswa hanya menanggung biaya pendidikan, bukan biaya hidup.
"Iya, Bu," jawabku singkat, tak ingin memperpanjang masalah.
Aku masuk ke dalam taksi yang sudah dipesan Ayah. Jendela kutatup perlahan. Saat mobil mulai bergerak meninggalkan halaman rumah yang selama ini menjadi saksi bisu air mataku, aku tidak menangis. Justru ada rasa lega yang luar biasa.
Selamat tinggal, rumah yang dingin. Selamat tinggal, Ibu yang tak pernah menganggapku ada.
Perjalanan di kereta api terasa panjang namun menyenangkan. Aku duduk di dekat jendela, memandangi pemandangan sawah dan pepohonan yang berlari ke belakang. Angin sepoi-sepoi masuk melalui celah jendela, membelai wajahku.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa bebas. Tidak ada suara bentakan, tidak ada tatapan sinis, tidak ada perbandingan. Hanya ada aku, dan dunianya sendiri.
Sesampainya di stasiun kota besar itu, suasana langsung berubah. Hiruk pikuk orang, gedung-gedung tinggi, dan kebisingan kota menyambutku. Dengan sedikit gugup namun penuh semangat, aku mencari angkutan umum menuju asrama mahasiswa yang sudah disediakan oleh pihak penyelenggara beasiswa.
Kamar asramaku kecil, sederhana, dan hanya berukuran 3x3 meter. Isinya hanya kasur tipis, meja belajar, dan lemari pakaian. Tapi bagiku, tempat ini adalah surga. Ini adalah ruang milikku sendiri! Tidak ada yang akan marah jika lampu menyala sampai malam, tidak ada yang akan mengomel jika aku makan terlambat.
"Hai! Kamu penghuni baru ya?"
Suara ceria menyapaku. Seorang gadis berambut pendek masuk ke kamar sebelah. Dia tersenyum sangat lebar dan ramah.
"Iya, nih. Baru sampai," jawabku sedikit malu-malu.
"Kenalin aku Dinda! Dari Jawa Tengah. Kamu siapa? Jurusan apa?" tanyanya antusias mendekat.
"Aku Zhira. Sastra Indonesia," jawabku.
"Wah! Satu jurusan dong! Asyik nih kita bisa barengan! Senang kenalan sama kamu, Zhira!" Dinda tersenyum lebar, lalu menepuk bahuku pelan.
Sentuhan itu... hangat dan ramah. Tidak ada rasa takut, tidak ada rasa sungkan. Untuk pertama kalinya, aku merasakan bagaimana rasanya memiliki teman yang tulus.
Hari-hari pertama kuliah berlalu dengan sangat menyenangkan. Dunia perkuliahan benar-benar berbeda dengan SMA. Aku bertemu banyak orang baru dari berbagai daerah, dengan pemikiran yang terbuka dan menyenangkan.
Aku aktif di berbagai organisasi, aku berani berpendapat di kelas, dan nilai-nilaku tetap menjadi yang terbaik. Dinda dan teman-teman baru yang lain selalu memanggilku dengan ceria, "Zhira! Nanti kita ke perpustakaan yuk!" atau "Zhira, kamu hebat banget sih bisa jawab pertanyaan dosen sekeren itu!"
Pujian-pujian kecil itu perlahan menambal luka-luka lama di hatiku. Aku mulai tersenyum lebih sering. Aku mulai merasa bahwa aku berharga, aku diterima, dan aku dihargai.
Namun, realitas hidup tidak semudah itu. Uang saku yang kuterima terbatas sekali. Seringkali aku harus berhemat luar biasa. Makan sehari sekali pun jadi hal biasa, atau hanya makan mie instan agar uangnya bisa ditabung.
Suatu sore, saat aku sedang duduk di meja belajar sambil mengerjakan tugas, ponselku bergetar. Ada pesan masuk dari Ibu Zainal via SMS.
"Zhira, Ibu butuh uang. Adikmu mau bayar SPP. Kirimkan sebagian uangmu ke Ibu secepatnya. Jangan pelit-pelit, kamu kan sudah kuliah pasti banyak uangnya."
Jari-jariku berhenti mengetik. Aku menatap layar ponsel itu dengan perasaan campur aduk.
Mereka tidak pernah bertanya "Sudah makan belum?", "Kamarnya nyaman nggak?", atau "Kamu kesepian nggak di sana?". Yang mereka tanyakan hanya uang.
Aku memegang perutku yang sedikit keroncongan. Hari ini aku belum makan karena menunggu kiriman uang saku beasiswa yang belum cair. Tapi aku tahu, jika aku tidak mengirim, pasti akan ada amukan telepon nanti malam.
Dengan berat hati, aku pergi ke ATM. Aku mengambil sebagian kecil tabunganku yang sebenarnya kusisakan untuk membeli buku wajib yang harganya mahal. Aku transferkan uang itu ke rekening Ibu.
Saat struk keluar dari mesin, air mataku jatuh menetes di atas kertas itu.
"Kenapa harus begini terus...?" bisikku lirih di tengah keramaian kota yang tak peduli. "Aku juga butuh hidup, Bu. Aku juga manusia yang butuh makan dan butuh buku..."
Tapi aku tahu, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tetap anaknya, dan entah sampai kapan aku harus menanggung beban ini sendirian.
POV End
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Waduh, sedih banget ya padahal Zhira sudah jauh tapi masih dimintai uang 😢. Gimana Bab 9-nya? Lanjut Bab 10 nanti ya! Semangat terus! 💪❤️