Niatnya mencari kontrakan murah.
Yang didapat justru desa yang dipenuhi hantu.
Endric belum sempat beradaptasi, sudah diajak berbicara oleh pocong. Ia juga belum sempat kabur, tetapi jalan di desa itu terus berputar tanpa arah. Belum sempat bersantai, namanya malah sudah masuk dalam daftar tumbal.
Di desa itu, aturan hidupnya sederhana, jangan pernah keluar malam, jangan menjawab saat dipanggil, dan jangan bersikap terlalu akrab dengan warga karena belum tentu mereka manusia.
Untungnya, Endric memiliki “teman”. Sayangnya, temannya adalah pocong.
Sekarang pilihannya hanya dua, kabur, yang hampir pasti gagal, atau bertahan sambil berpura-pura waras di desa paling tidak normal yang pernah ia temui.
Dan yang jadi masalahnya, besok malam adalah gilirannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Tubuh Aslinya
Suara gesekan itu berhenti mendadak. Sunyi yang tersisa justru terasa lebih menekan. Endric berdiri di tengah ruangan dengan napas tertahan, matanya terpaku pada pintu yang sudah ia kunci berlapis, seolah itu cukup menahan sesuatu yang bahkan tidak membutuhkan pintu.
"Kenapa diam?" bisiknya.
Gandhul tidak langsung menjawab. Ia menatap sekeliling rumah dengan lebih waspada dari sebelumnya, seakan mencoba menangkap sesuatu yang tidak terlihat.
"Kalau mereka diam, biasanya lagi nyari cara lain," katanya pelan.
Endric langsung mengumpat.
"Bagus. Makin pintar aja mereka."
Ia melangkah mundur sedikit, menjauh dari pintu, lalu melirik ke jendela. Kaca itu memantulkan bayangannya sendiri dengan garis hitam yang kini sudah merambat sampai ke pipi, tipis seperti retakan halus di wajahnya.
"Gue makin mirip masalah berjalan," gumamnya.
"Udah dari tadi," jawab Gandhul.
Endric tidak sempat membalas. Tiba-tiba terdengar suara dari dalam rumah.
Tok.
Bukan dari luar.
Endric langsung membeku.
"Ndhul."
"Iya."
"Ini dari dalam, kan?"
Gandhul mengangguk pelan.
"Iya."
Endric perlahan menoleh ke arah dapur. Lampu mati, hanya menyisakan bayangan samar, tetapi ia bisa melihat sesuatu berdiri di sana. Sosok itu diam, menghadapnya.
"Gue tadi kunci semua, kan?" bisiknya.
"Harusnya."
Endric menelan ludah, tubuhnya menegang.
"Berarti yang ini..."
"Udah di dalam sebelum lo sadar."
Endric langsung berdiri tegak.
"Oke. Sip. Mantap."
Ia menatap sosok itu dengan lebih fokus.
"Lo siapa lagi?" tanyanya.
Sosok itu tidak menjawab. Perlahan, kepalanya miring dengan gerakan patah yang tidak alami.
"Ini bukan yang di rumah tadi," kata Endric pelan.
"Bukan," jawab Gandhul.
"Ini beda."
Dengan penglihatan barunya, Endric melihat bentuk itu lebih jelas. Tubuhnya menyerupai manusia, tetapi terlalu tipis dan panjang, sementara wajahnya seperti belum selesai dibentuk. Kosong.
"dia belum jadi," bisik suara dari dalam tangan Endric.
Endric langsung merespons.
"Belum jadi apaan?"
"wadah"
Endric menatap sosok itu lagi.
"Jadi dia lagi nyari badan?"
"iya"
Endric menghela napas panjang.
"Kenapa harus gue sih."
Gandhul menyela.
"Karena lo paling terbuka sekarang."
Endric menoleh kesal.
"Gue ndak buka lowongan, ya."
Sosok itu mulai bergerak perlahan. Langkahnya tidak berbunyi, tetapi setiap pergerakan terasa seperti menggesek udara.
Endric langsung mundur.
"Stop. Jaga jarak."
Sosok itu tidak berhenti, justru semakin mendekat.
"beri," bisiknya.
Endric mengangkat tangan.
"Ndak ada beri-beri. Gue ndak punya apa-apa."
Gandhul berbisik cepat.
"Jangan kasih dia nyentuh lo."
"Gue juga ndak mau!"
Endric mengambil kursi di dekatnya dan menggenggamnya erat, bersiap seperti benar-benar akan berkelahi.
"Lo mundur, ya," katanya.
Sosok itu tetap maju, bahkan lebih cepat.
Endric langsung mengayunkan kursi itu.
Bam.
Kursi menembus tubuhnya, tetapi seperti sebelumnya, sosok itu tetap terdorong sedikit.
"Masih bisa," gumam Endric.
Ia mengayunkan lagi, kali ini lebih keras. Sosok itu mundur beberapa langkah, tetapi tidak menghilang.
"lapar," bisiknya.
Endric mengerutkan kening.
"Lapar apa sih lo!"
"hidup"
Endric langsung mengumpat.
"Semua juga butuh hidup, tapi ndak gitu caranya, cok!"
Gandhul hampir tertawa.
"Lo ceramahin hantu?"
"Biar dia ngerti!"
Tiba-tiba sosok itu menghilang begitu saja tanpa gerakan. Endric membeku, matanya bergerak cepat mencari keberadaannya.
"Eh?"
"Waspada," kata Gandhul cepat.
Endric langsung menoleh ke segala arah. Sunyi. Tidak ada apa-apa, tetapi justru itu yang membuat suasana semakin menekan.
"Gue ndak suka kalau hilang gini," gumamnya.
Tiba-tiba dari belakang sesuatu memeluknya. Dingin, sangat dingin.
Endric langsung berteriak.
"Anjir!"
Ia refleks menyikut ke belakang.
Kena.
Sosok itu muncul lagi, kini sangat dekat. Tangannya hampir menembus dada Endric.
"beri," bisiknya lagi.
Endric langsung menahan lengan itu. Kali ini ia benar-benar merasakan sentuhannya, dingin dan lengket, seperti memegang sesuatu yang tidak stabil.
"Gue ndak mau!" teriaknya.
Gandhul berteriak.
"Dorong keluar!"
Endric mengumpulkan tenaga, lalu mendorong keras. Sosok itu terdorong mundur, tetapi tidak jatuh. Ia tetap berdiri dan menghadap Endric.
Endric terengah-engah.
"Ini lebih kuat dari tadi."
"Karena dia hampir masuk," jawab Gandhul.
Endric menatap tangannya.
"Lo bantu!" katanya cepat.
Garis hitam itu langsung bergerak.
"kami bantu"
Tiba-tiba ruangan berubah lagi. Bayangan-bayangan di dinding bergerak, lebih aktif dan lebih hidup. Kali ini, mereka tidak diam.
Mereka mendekat ke arah sosok itu.
Endric membeku.
"Eh?"
Bayangan-bayangan itu langsung menyerang. Gerakannya bukan seperti manusia, melainkan seperti arus yang menabrak, menarik, dan mendorong.
Sosok itu melawan, tetapi kalah jumlah.
"kembali," bisik suara di tangan Endric.
Bayangan-bayangan itu menarik sosok tersebut menjauh dari Endric, menyeretnya ke arah dinding, lalu menghilang.
Sunyi kembali.
Endric berdiri diam dengan napas berat.
"Gue barusan diselamatin sama hantu lain."
Gandhul mengangguk.
"Iya."
Endric tertawa kecil.
"Gue harus bilang makasih ke siapa sekarang?"
"Ke isi tangan lo."
Endric menatap tangannya.
"Makasih," katanya pelan.
Garis itu bergerak halus.
"kami jaga"
Endric mengangguk pelan.
"Ya, jaga gue, ya. Jangan malah rebutan."
Beberapa detik hening, tetapi kali ini tidak terasa seseram sebelumnya. Endric mulai terbiasa, sedikit demi sedikit.
Ia duduk kembali dan menghela napas panjang.
"Gue mulai ngerti sistemnya," katanya.
Gandhul menoleh.
"Gimana?"
Endric menatap tangannya.
"Yang di bawah, yang gagal, yang di luar, semuanya nyari jalan ke atas."
Gandhul mengangguk.
"Betul."
"Dan gue sekarang jadi jalan tol."
Gandhul tersenyum tipis.
"Kurang lebih."
Endric mendesah.
"Bagus. Gue fasilitas umum sekarang."
Namun tiba-tiba garis hitam itu bergerak lagi, lebih cepat dan lebih kuat. Endric langsung menegang.
"Ndhul."
"Iya."
"Ini beda."
Garis itu naik lagi, menyebar ke leher, lalu sedikit ke rahang.
Endric langsung berdiri.
"Woi!"
"kami tumbuh," bisiknya.
Endric menelan ludah.
"Ndak. Ndak boleh."
"kami kuat"
Gandhul menatap serius.
"Rek, ini bahaya."
Endric mengangguk cepat.
"Gue tahu!"
Namun sebelum mereka sempat bertindak, dari luar terdengar suara. Bukan langkah, bukan gesekan.
Suara manusia.
"Mas Endric..."
Endric langsung membeku. Itu suara Pak Wakhid.
"keluar sebentar, Mas."
Endric menatap pintu, lalu menatap Gandhul.
"Gue ndak buka."
Gandhul mengangguk.
"Bagus."
Namun suara itu tidak berhenti.
"Mas Endric, kami lihat lampunya mati. Kami khawatir."
Nada suaranya tenang.
Normal.
Terlalu normal.
Endric menelan ludah.
"Ini beneran dia, kan?"
Gandhul tidak langsung menjawab. Ia menatap pintu lebih lama, wajahnya tegang.
"Rek."
Endric menatapnya.
"Apa?"
Gandhul menghela napas pelan.
"Gue ndak yakin."