Aliora Amerta gadis cantik 19 tahun. Hidupnya berubah ketika pamannya berhutang besar pada Saga. Untuk melunasi hutang itu, Liora dipaksa menikah dengan Saga, pria yang sangat ditakutinya.
Sagara Verhakc berusia 27 tahun. Di dunia bisnis ia dikenal sebagai CEO jenius dan juga kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 25
Akhirnya setelah beberapa hari perjalanan bisnis Kini Perjalanan kembali ke mansion terasa panjang.
Padahal jalanan lengang. Mobil melaju stabil.
Namun suasana di dalamnya.
dingin.
Bukan dingin biasa. Tapi dingin karena dua orang yang sama-sama diam.
Liora menatap ke luar jendela.
Sejak kejadian di hotel. ia tidak banyak bicara.
Tidak membalas. Tidak menatap.
Ia memilih diam.
Menjauh. Dengan caranya sendiri.
Sementara Saga.
duduk di sampingnya.
Tenang.
Namun rahangnya mengeras. Tatapannya beberapa kali beralih ke Liora.
Dan setiap kali. tidak mendapat respons.
***
Mobil akhirnya memasuki halaman mansion.
Gerbang besar terbuka..Anak buah langsung berdiri rapi menyambut.
Pintu mobil dibuka. Saga turun lebih dulu.
Lalu menoleh.
Liora keluar tanpa menunggu. Tanpa melihatnya. Langsung berjalan masuk.
DEG.
Langkah Saga terhenti sesaat. Tatapannya menggelap.
***
Di dalam mansion.
para pelayan menyambut. Namun suasana terasa berbeda.
Lebih tegang. Liora melewati mereka begitu saja.
Naik tangga. Tanpa sepatah kata. Tanpa menoleh.
“Non Liora—”
Salah satu pelayan mencoba menyapa Namun Liora tetap berjalan. Menghilang di lantai atas.
***
Brak!
Pintu kamar tertutup.
Di bawah, Saga berdiri diam.
Tangannya mengepal pelan. Rahangnya mengeras.
“Ben.”
“Ya, Tuan.”
“Jangan ada yang mengganggunya.”
“Baik, Tuan.”
***
Malam turun perlahan.
Dan akhirnya. Liora keluar kamar.
Perutnya lapar. Namun wajahnya tetap datar. Ia turun ke ruang makan.
Duduk.
Diam.
Tidak lama. langkah berat terdengar.
Saga datang. Tanpa banyak kata.
ia langsung duduk. Di kursi utama.
Makanan disajikan.
Namun. belum sempat Liora menyentuh sendok.
tangan kuat menariknya.
DEG!
“Sa—”
Dalam satu gerakan. Liora sudah berpindah. Duduk di pangkuan Saga.
Tubuhnya langsung menegang.
“Aku bisa makan sendiri!”
protesnya. Namun suara itu tidak terlalu keras.
Saga tidak menjawab. Tangannya menahan pinggang Liora.
“Duduk.”
Perintah singkat. Liora mengepalkan tangan.
Kesal.
Namun.
tidak melawan lebih jauh.
Perlahan. ia mengambil sendok.
Mulai makan.
Dalam diam. Saga menatapnya.
Tidak berkedip.
Seolah memastikan, ia tetap di sana.
***
Malam semakin larut. Liora kembali ke kamar lebih dulu.
Tanpa kata. Tanpa melihat Saga.
Ia naik ke kasur. Membelakangi pintu.
Berusaha tidur.
Namun.
tidak lama.
pintu terbuka. Langkah itu masuk.
Berat.
Pasti.
Liora langsung menegang. Namun tetap diam.
Tidak menoleh. Kasur bergerak.
Saga naik. Berbaring di belakangnya.
Dekat.
Terlalu dekat. Liora langsung bergeser.
Mencoba menjauh.
Namun. tangan itu menariknya kembali. Memeluk dari belakang.
“Lepasin.” Ucap Liora pelan.
Nada suaranya dingin. Tidak seperti biasanya.
Saga diam.
Namun pelukannya tidak lepas.
“Jangan menjauh.”
Bisiknya rendah. Liora menutup mata.
Menahan gugup. Namun tidak bergerak lagi.
Beberapa saat berlalu.
Liora pikir Saga akan diam.
Namun.
tangan itu naik. Menyentuh dagunya. Memutar wajahnya perlahan.
DEG.
Tatapan mereka bertemu.
Dekat. Dalam gelap.
“Saga—”
Belum selesai bicara. Saga sudah mendekat.
Cup.
Mencium.
Singkat. Namun cukup membuat Liora membeku.
Ia langsung mendorong.
“Jangan.”
Suaranya pelan.
Namun jelas. Saga berhenti.
Menatapnya.
Beberapa detik.
Namun.
ia tidak benar-benar mundur. Hanya memberi sedikit jarak.
Cukup.
untuk menunjukkan. bahwa ia masih menahan diri.
Dengan caranya sendiri.
Liora membalikkan badan lagi.
Membelakangi. Matanya terbuka.
Tidak bisa tidur. Sementara di belakangnya.
pelukan itu masih ada. Tidak sekuat tadi. Namun tetap menahan.
Seolah tidak ingin kehilangan.
***
Dan di dalam kamar itu.
tidak ada teriakan. Tidak ada perlawanan besar.
Hanya dua orang, yang sama-sama keras. Yang sama-sama tidak mau mengalah.
Dan satu di antaranya, terbiasa memaksa.
Sementara yang lain mulai belajar menolak.
***
Pagi di mansion terasa berbeda.
Tidak ada suara riang. Tidak ada langkah ringan.
Hanya keheningan. yang terasa lebih berat dari biasanya.
Liora bangun lebih dulu. Pelukan itu sudah tidak ada.
Saga sudah pergi. Seperti biasa.
Namun kali ini. Liora justru merasa… lega.
Ia duduk di atas kasur. Menarik napas panjang. Tangannya mengepal pelan.
“Aku gak bisa terus begini…”
gumamnya.
Pelan.
Namun penuh tekad. Ia turun dari tempat tidur.
Bersiap.
Namun kali ini.
bukan untuk mendekat.
Melainkan.
untuk menjauh. Dengan caranya sendiri. ia takut kalau sudah punya perasaan nanti.
***
Di ruang makan. para pelayan sudah bersiap. Namun suasana berubah saat Liora masuk.
Beberapa pelayan saling melirik.
Masih ada yang tidak suka. Masih ada yang iri. Namun tidak ada yang berani bicara.
Liora duduk.
Sendiri.
Untuk pertama kalinya. tanpa Saga.
Ia mulai makan.
Perlahan.
Tenang. Dan untuk sesaat. ia merasa seperti dirinya sendiri lagi.
Namun...
ketenangan itu tidak bertahan lama. Langkah kaki terdengar.
Pelan.
Namun langsung membuat seluruh ruangan menegang.
Saga.
Datang.
Tatapannya langsung menemukan Liora. Yang duduk sendiri.
Tidak di dekatnya. Tidak menunggunya.
DEG.
Rahangnya mengeras.
Ia berjalan mendekat. Langsung berdiri di samping kursi Liora.
Tanpa kata. tangan itu menarik.
“Kamu—”
Belum selesai Liora bicara.
ia sudah kembali. Duduk di pangkuan Saga.
Seperti biasa.
Namun.
kali ini berbeda. Liora langsung menahan.
Tangannya menekan meja. Tidak mau sepenuhnya menurut.
“Aku bisa duduk sendiri.” Ucapnya.
Tenang.
Tapi tegas.
Saga menatapnya.
Dingin.
“Tidak.”
Satu kata.
Mutlak. Liora menatap balik.
Untuk beberapa detik. tidak ada yang mengalah.
Para pelayan menahan napas. Tidak berani bergerak.
Akhirnya.
Liora menghela napas. Namun bukan menyerah.
Ia tetap duduk.
Tapi tubuhnya kaku. Tidak bersandar.
Tidak nyaman.
Jelas.
ia tidak menerima. Bagaimana nanti kalau dia akan jatuh cinta pada orang seperti saga.
Saga menyadari itu.
Tatapannya sedikit berubah. Namun ia tidak melepaskan.
“Kenapa berubah?”
Tanyanya tiba-tiba. Liora diam.
Beberapa detik.
Lalu.
“Karena aku capek.”
Jawabnya jujur.
Pelan.
Namun terasa. Saga tidak langsung menjawab.
Tangannya masih di pinggang Liora. Namun genggamannya sedikit melemah.
“Capek apa?”
Liora tertawa kecil.
Pahit.
“Capek dipaksa.”
DEG.
Kalimat itu
langsung mengenai. Namun Saga tetap diam.
“Capek gak punya pilihan,” lanjut Liora.
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Tiap aku nolak—kamu paksa lagi.”
Hening.
Tidak ada yang berani bergerak. Bahkan udara terasa berat.
Liora menunduk. Namun suaranya masih terdengar.
“Aku takut sama kamu…”
bisiknya.
“…tapi aku juga capek takut terus.”
DEG.
Untuk pertama kalinya.
Saga tidak langsung merespon. Tatapannya berubah.
Lebih dalam.
Lebih… rumit.
Tangannya yang tadi menahan.
perlahan.
melepas.
Liora langsung berdiri. Menjauh satu langkah.
Namun tidak lari. Tidak seperti biasanya.
Ia tetap di sana. Menatap Saga. Dengan keberanian yang baru.
“Kalau kamu mau aku tetap di sini…”
ucapnya pelan,
“…jangan paksa aku terus.”
Sunyi. Kalimat itu menggantung.
Di antara mereka.
Saga berdiri.
Perlahan. Tatapannya tidak lepas dari Liora.
Aura dinginnya masih ada.
Namun kali ini.
tidak sepenuhnya sama. Ia melangkah mendekat.
Liora menegang.
Namun tidak mundur. Berhenti tepat di depannya.
Dekat.
Sangat dekat.
“Kalau aku tidak paksa…”
suara Saga rendah,
“…kamu akan pergi.”
Liora terdiam.
Karena itu.
benar.
Dan Saga tahu. Itulah yang membuatnya seperti ini.
Namun kali ini. ia tidak menarik.
Tidak memaksa. Hanya berdiri.
Lalu berjalan menjauh meninggalkan ruang makan . liora masih berdiri diam menatap punggung saga mulai menghilang di balik pintu.
" Ish... Makin rumit.." gumannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
..
.
.
.
.
Bersambung.............................