Nikolas Martinez adalah pemimpin geng motor The Vultures yang urakan namun cerdas, sementara Salene Lumiere adalah putri bangsawan yang hidup dalam sangkar emas milik Keluarganya. Dua dunia yang bertolak belakang, di mana Salene menemukan kebebasan di balik jaket kulit Nikolas.
Namun, tepat di malam perayaan ulang tahun ke-18 mereka yang penuh janji manis, sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Nikolas terhempas ke dalam koma selama lima tahun. Di dalam tidur panjangnya, Nikolas hidup dalam delusi indah bahwa ia dan Salene masih bersama, tanpa menyadari bahwa di dunia nyata, waktu terus berjalan dengan kejam.
Saat Nikolas terbangun di tahun 2026, ia mendapati dunianya telah hancur. Sahabat-sahabatnya telah dewasa, dan Salene—gadis yang menjadi alasan satu-satunya untuk ia bangun—telah menghilang. Rahasia besar terkunci rapat oleh orang-orang terdekatnya, Salene telah menikah dengan pria lain di California.
Sebuah kisah tentang cinta yang melampaui logika.
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#15
Pagi itu, langit London tampak lebih pucat dari biasanya, seolah-olah ikut merasakan sirkulasi darah yang melambat di tubuh Salene Lumiere. Hari ketiga, hari terakhir ujian akhir semester. Seharusnya ini menjadi puncak kejayaan Salene, namun alam semesta memiliki rencana lain.
Di dalam kamar mewahnya yang kedap suara, Salene meringkuk di atas seprai sutranya. Rasa sakit itu datang seperti hantaman ombak yang tak kunjung reda—keram perut yang luar biasa, seolah-olah rahimnya sedang diperas oleh tangan besi. Keringat dingin membasahi pelipisnya, membuat wajah porselennya tampak seputih kertas.
Pukul lima pagi, pintu kamarnya terbuka dengan sentakan kasar. Madame Lumiere berdiri di sana, mengenakan jubah satin dengan tatapan yang bisa membekukan air terjun.
"Apa kau minum air es beberapa hari ini, Salene?" suara Madame menggelegar, tidak ada empati, hanya interogasi.
Salene mengangguk lemah, suaranya nyaris hilang. "Maaf, Madame. Setelah latihan berkuda kemarin sore... aku sangat haus. Aku lupa siklus haidku akan tiba hari ini. Efek kelelahan membuatku tidak berpikir jernih."
Dokter keluarga yang sudah dipanggil sejak subuh baru saja selesai memeriksa tekanan darah Salene. Ia merapikan stetoskopnya dengan wajah prihatin. "Nona kekurangan darah, Madame. Siklus menstruasinya sangat berat di hari pertama ini, ditambah kontraksi rahim yang mengakibatkan kram hebat. Tekanan darahnya rendah."
Salene menatap langit-langit kamar dengan mata sayu. "Madame... apa aku perlu infus? Aku benar-benar tidak kuat hanya untuk duduk."
Madame Lumiere mendengus, menatap jam dinding emasnya. "Kau akan ke sekolah satu jam lagi, Salene. Kau ingin menyerah hanya karena fungsi biologis alami wanita? Seorang Lumiere tidak menjadi lemah karena darah. Dokter, berikan dia pereda nyeri dosis tertinggi. Dia harus berangkat."
Satu jam kemudian, Rolls-Royce perak itu terjebak di tengah kemacetan total kawasan Knightsbridge karena kecelakaan truk di depan. Salene duduk di kursi belakang, meremas perutnya yang terbalut korset—yang hari ini terasa seperti alat penyiksaan. Ia melihat jarum jam di dasbor mobil. Pukul 07.25. Ujian dimulai pukul 08.00.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya, Salene Lumiere akan terlambat.
Tiba-tiba, deru mesin yang sangat ia kenal terdengar dari celah-celah kemacetan. Segerombolan motor besar meliuk-liuk di antara mobil yang berhenti. Di barisan depan, sebuah BMW M 1000 R hitam dengan aksen karbon yang gahar melaju dengan tenang namun pasti.
Tanpa pikir panjang, Salene membuka pintu mobil. Sopirnya ternganga saat melihat nona mudanya keluar ke aspal jalanan dengan wajah pucat pasi.
"Nik! Nikolas!" Salene berteriak, suaranya serak.
Nikolas Martinez mengerem mendadak. Ia membuka helmnya, menatap Salene dengan keterkejutan yang nyata. "Salene? Kenapa kau di luar mobil? Kau telat?"
Salene berjalan mendekat, langkahnya sedikit goyah. "Nik... boleh aku ikut denganmu? Tolong."
Wajahnya masih mencoba mempertahankan keangkuhan Lumiere, namun bibirnya yang pucat mengkhianati segalanya. Nik tidak sempat bertanya mengapa gadis yang biasanya sudah duduk manis di kelas tiga puluh menit sebelum bel itu sekarang berada di tengah jalanan.
"Bagaimana cara naiknya? Motor ini... terlalu tinggi," tanya Salene, menatap jok belakang BMW M 1000 R yang nungging tajam.
Nik tidak banyak bicara. Ia turun dari motornya, melangkah mendekat, dan tanpa peringatan, ia melingkarkan tangannya di pinggang ramping Salene. Dengan satu gerakan kuat dan mantap, Nik mengangkat tubuh Salene dan mendudukkannya di atas jok belakang.
Dion, yang berada di motor belakangnya, melongo hingga hampir menjatuhkan helmnya. Dion yang dikenal sebagai playboy kelas berat pun tidak pernah mengangkat kekasihnya dengan cara seberani dan sealami itu di depan umum.
"Pegang erat, Salene," perintah Nik.
Salene tidak membantah. Ia langsung memeluk pinggang Nik, menyandarkan wajahnya yang dingin di punggung jaket pria itu. Bau maskulin Nik yang bercampur aroma bensin entah bagaimana memberikan sedikit kekuatan pada perutnya yang mulas.
Motor melesat membelah kemacetan. Mereka sampai di gerbang sekolah pukul 07.30. Hanya tersisa Tiga puluh menit.
Salene turun dengan hati-hati. Beruntung, Lauren yang biasanya berisik belum terlihat di sekitar parkiran. Namun, saat Salene baru melangkah beberapa meter menuju gedung sekolah, Nik yang sedang menyimpan helmnya tiba-tiba melihat sesuatu.
Mata Nik menajam. Ia melihat noda merah yang mulai merembes di bagian belakang rok seragam abu-abu Salene yang mahal.
Tanpa suara, Nik melepas jaket kulitnya yang berat. Ia berlari kecil mengejar Salene dan langsung melampirkan jaket itu di pinggang Salene, mengikat lengannya dengan kuat di depan perut gadis itu.
Salene tersentak, wajahnya memerah karena kaget. "Nik, apa yang kau—"
"Bocor," bisik Nik tepat di telinganya.
Darah Salene seolah berhenti mengalir. Rasa malu yang lebih hebat dari rasa sakit perutnya menghantam seketika. Ia membeku di tempat.
"Ikuti aku dari belakang, Nik... aku takut jaket mu tidak bisa menutupinya dengan sempurna," bisik Salene dengan nada memohon yang hancur.
"Baiklah. Jalan sekarang, waktu kita tinggal Dua puluh menit," jawab Nik tenang.
Nik berjalan di belakang Salene, menjaga jarak agar tidak ada siswa lain yang melihat ke arah belakang rok Salene. Begitu sampai di area toilet wanita yang sepi, Salene langsung masuk dan mengunci pintu.
Nik tidak diam. Ia berlari seperti orang gila. Pertama, ke kantin sekolah, mengetuk pintu belakang dan meminta tolong pada petugas kantin untuk mencarikan kebutuhan darurat wanita dengan harga Dua kali lipat. Setelah itu, ia berlari ke ruang koperasi pembelian seragam, mendobrak masuk dan membeli satu set rok seragam baru ukuran Salene.
Tok-tok-tok.
"Buka pintunya, Sal... ini aku."
Pintu toilet terbuka sedikit. Salene terperangah melihat Nik berdiri di sana dengan napas terengah-engah, membawa kantong berisi seragam baru dan pembalut.
"Makasih, Nik," bisik Salene, matanya berkaca-kaca. "Bisa hubungi Lauren untukku? Aku butuh dia untuk membantuku berganti. Kau boleh ke kelas, lima menit lagi ujian dimulai."
Nikolas menyeka keringat di dahinya, memberikan senyum tipis yang sangat menenangkan. "Santai saja, Salene. Aku tidak akan ke mana-mana sampai kau keluar dari sini."
"Tapi ujiannya—"
"Nilai bukan segalanya bagi seorang Martinez, Tuan Putri," potong Nikolas. "Lauren sedang menuju ke sini, aku sudah mengirim pesan padanya. Cepat ganti pakaianmu."
Salene menutup pintu toilet. Di dalam sana, ia terduduk di atas tutup kloset, memeluk seragam baru pemberian Nik. Untuk pertama kalinya, di hari paling menyakitkan dan memalukan dalam hidupnya, Salene merasa bahwa kesempurnaan yang dipaksakan Madame tidak ada artinya dibandingkan dengan jaket kulit hitam yang kini masih terikat di pinggangnya—jaket yang berbau kebebasan dan perlindungan yang nyata.
🌷🌷