NovelToon NovelToon
My Possession Hot Daddy

My Possession Hot Daddy

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Sepuluh tahun Aluna (20) hidup dalam "sangkar emas" milik Bramantyo (35), wali tunggal sekaligus sahabat mendiang ayahnya. Bagi Aluna, Bram adalah pelindung yang ia panggil "Daddy". Namun bagi Bram, Aluna adalah obsesi yang ia rawat hingga matang.
Saat Aluna mulai menuntut kebebasan, kasih sayang Bram berubah menjadi dominasi yang gelap. Tatapan melindunginya berganti menjadi kilat posesif yang membakar. Di antara rasa hormat dan hasrat terlarang, Aluna harus memilih: tetap menjadi putri kecil yang penurut dalam kuasa Bram, atau melarikan diri dari jerat pria yang takkan pernah melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Sandiwara di atas perjamuan

Taman belakang kediaman Bramasta siang itu tampak seperti lukisan porselen yang sempurna.

Meja kayu mahoni panjang telah dilapisi taplak linen putih bersih yang kontras dengan hijaunya rerumputan Jepang di sekeliling paviliun.

Set piring porselen dengan pinggiran emas dan deretan gelas kristal berkilau memantulkan cahaya matahari siang yang terik.

Harum daging panggang herba dan aroma rosemary memenuhi udara, namun bagi Aluna, atmosfer itu terasa menyesakkan, seolah setiap helai oksigen telah habis tersedot oleh rahasia besar yang ia sembunyikan di balik gaun chiffon-nya.

Setiap langkah yang diambil Aluna dari teras menuju meja makan adalah siksaan fisik yang nyata. Rasa perih yang tajam dan denyut panas di pangkal pahanya—jejak penyatuan kasar dan penuh gairah dengan Bram semalam—membuatnya nyaris goyah.

Namun, saat melihat Tuan Adiguna dan Nyonya Widya sudah duduk menanti dengan tatapan meneliti, Aluna tahu ia tidak boleh terlihat lemah. Jika ia bersikap dingin atau kaku, kakeknya yang memiliki insting bisnis setajam silet pasti akan mencium ada yang tidak beres.

Maka, Aluna memutuskan untuk memakai topeng terbaiknya: Gadis Kecil kesayangan keluarga.

"Daddy!" Aluna berseru manja, suaranya sengaja dibuat melengking ceria meskipun tenggorokannya terasa kering dan jantungnya berdegup kencang.

Bram, yang baru saja hendak menarik kursi di kepala meja, menoleh. Ia sedikit tertegun melihat perubahan drastis Aluna.

Pagi tadi gadis itu tampak hancur, namun kini ia berjalan kecil—mengabaikan rasa perih yang menyayat di antara paha bawahnya—dan langsung melingkarkan tangannya di lengan kokoh Bram.

Aluna menyandarkan kepalanya di bahu Bram, tepat di depan kakek dan neneknya. Aroma maskulin Bram yang semalam memenuhi indranya kini kembali menyeruak, membuat perut Aluna bergejolak antara rindu dan takut.

"Lama sekali Daddy di ruang kerja, aku lapar tahu. Daddy selalu saja sibuk," rengek Aluna sambil memanyunkan bibirnya, sebuah gestur yang selama sepuluh tahun ini selalu berhasil mencairkan suasana.

Nyonya Widya tertawa renyah, hatinya luluh melihat pemandangan itu. "Lihat itu, Yah. Baru ditinggal sebentar saja cucumu sudah merajuk. Aluna, kau ini sudah mahasiswi, tapi manjanya pada Daddy-mu tidak pernah berubah ya?"

Tuan Adiguna tersenyum tipis, ketegangan di wajah tuanya yang tadi sempat menaruh curiga pada noda di leher Aluna kini perlahan meluruh.

"Biarlah, Widya. Selama ada Bram yang bisa menenangkan rengekannya, kita tidak perlu khawatir. Duduklah, Aluna. Jangan membuat Daddy-mu berdiri terus."

Bram menatap Aluna dari jarak yang sangat dekat. Ia bisa melihat butiran keringat dingin di pelipis Aluna—tanda bahwa gadis itu sedang melakukan pengorbanan fisik yang luar biasa demi sandiwara ini.

Bram melingkarkan tangannya di pinggang Aluna, membantunya duduk di kursi kayu yang keras dengan gerakan yang terlihat seperti perhatian seorang wali, padahal telapak tangannya sengaja meremas pelan pinggul Aluna, memberikan tekanan yang membuat gadis itu menahan napas.

"Duduklah, Sayang. Makan yang banyak supaya kau tidak rewel lagi," ujar Bram datar. Suaranya terdengar sangat protektif, namun matanya mengunci mata Aluna dengan kilat kepuasan yang hanya dipahami mereka berdua.

Makan siang dimulai. Aluna terus menjalankan perannya dengan sempurna. Ia meminta Bram memotongkan dagingnya, meminta diambilkan air jeruk, bahkan dengan berani menyuapkan sepotong brokoli ke mulut Bram di hadapan kedua orang tuanya.

Namun, di tengah perjamuan itu, Aluna tiba-tiba mengubah raut wajahnya menjadi sendu. Ia meletakkan garpunya dan menoleh pada Nenek Widya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Nenek... Kakek... sebenarnya Aluna sedih sekali semalam," ucap Aluna dengan nada yang bergetar hebat.

Nyonya Widya langsung menghentikan makannya, wajahnya penuh kecemasan.

"Sedih kenapa, Sayang? Apa ada yang menyakitimu?"

Aluna melirik Bram sekilas dengan tatapan "protes" yang dibuat-buat, lalu kembali menatap neneknya.

"Semalam kan Aluna sedang tidak enak badan, perut Aluna sakit sekali. Tapi Daddy jahat... Daddy malah sibuk kerja terus di kamar sebelah bersama sekretarisnya itu sampai hampir semalaman. Aluna merasa diabaikan, Nek. Aluna menangis sendirian karena Daddy sepertinya lebih peduli pada dokumen dan Kak Clara daripada Aluna yang sedang sakit."

Mendengar pengakuan itu, Nyonya Widya langsung menoleh tajam pada Bram.

"Bramasta! Apa benar kau membiarkan anak ini menangis semalam hanya karena pekerjaan? Kau tahu Aluna itu paling takut kalau sedang sakit sendirian."

Tuan Adiguna juga menaikkan sebelah alisnya, menatap putranya dengan pandangan mengadili.

"Kerja sampai larut malam di rumah bersama sekretaris saat Aluna sedang sakit? Itu tidak terdengar seperti dirimu yang biasanya, Bram."

Bram tetap tenang, meskipun di dalam hatinya ia kagum pada kecerdikan Aluna yang menggunakan keberadaan Clara semalam sebagai alibi untuk menutupi apa yang sebenarnya mereka lakukan.

Aluna baru saja memberikan penjelasan logis mengapa Bram tampak "sibuk" dan mengapa Aluna tampak "menangis" semalam.

"Maaf, Ayah, Ibu," jawab Bram dengan nada suara yang sangat meyakinkan.

"Kontrak dengan keluarga Wijaya memang sangat mendesak. Aku tidak bermaksud mengabaikannya, tapi Aluna memang sedang sangat sensitif semalam. Bahkan saat aku mencoba menenangkannya, kuku-kukunya sampai mencakar tanganku karena dia merajuk minta diperhatikan,"

Bram menunjukkan bekas cakaran Aluna di punggung tangannya sebagai bukti "kemanjaan" yang kasar—padahal itu adalah jejak kenikmatan semalam.

Aluna mendengus, lalu menyandarkan tubuhnya kembali pada bahu Bram, seolah-olah ia baru saja memaafkan kesalahan besar.

"Habisnya Daddy menyebalkan. Tapi ya sudah, Daddy sudah minta maaf tadi pagi dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi."

Tuan Adiguna tertawa kecil, rasa curiganya kini hilang sepenuhnya.

"Kau harus belajar membagi waktu, Bram. Aluna ini hartamu yang paling berharga, jangan sampai dia merasa nomor dua."

Di bawah meja, kaki Bram mulai beraksi. Ia melepaskan sepatu kulitnya dan mulai menggesekkan ibu jarinya ke betis Aluna yang tertutup gaun chiffon.

Sentuhan itu naik perlahan ke area paha bagian dalam Aluna, tepat di tempat yang paling perih dan sensitif. Aluna tersedak air putihnya saat merasakan tekanan kaki Bram yang semakin berani menyentuh titik yang membuat tubuhnya bergetar.

"Uhukk! Uhukk!"

"Hati-hati, Sayang," ujar Bram sambil menepuk-nepuk punggung Aluna dengan lembut.

Tangannya yang lebar menetap di punggung Aluna, sementara kakinya di bawah meja justru menekan lebih dalam ke area sensitif Aluna, seolah menghukum Aluna karena telah membawanya ke dalam "pengadilan" kecil di depan orang tuanya tadi.

Aluna mencengkeram serbet di pangkuannya kuat-kuat, giginya menggigit bibir bawah untuk menahan desah yang hampir lolos.

Mata elang Bram seolah menelanjangi Aluna di depan umum, menikmati kepasrahan gadis itu yang terjepit antara rasa sakit dan gelombang kenikmatan yang belum tuntas.

Nyonya Widya hanya tersenyum melihat interaksi itu.

"Kalian benar-benar tidak terpisahkan. Oh iya, Bram, tadi di telepon Clara bilang dia akan mampir sebentar untuk mengantarkan berkas yang kau minta. Dia sangat ingin membawakan buah untuk Aluna juga."

Mendengar nama Clara disebut, Aluna sengaja mengeratkan pegangannya pada tangan Bram di atas meja, menunjukkan pose posesif yang sangat natural bagi kakek-neneknya.

"Yah... Daddy mau ada tamu lagi? Berarti Daddy tidak bisa menemaniku tidur siang dan mengolesi minyak ke perutku?"

Bram mengecup puncak kepala Aluna dengan sangat lama, memberikan sensasi dingin sekaligus panas yang membuat seluruh bulu kuduk Aluna meremang.

"Hanya sebentar, Aluna. Setelah urusan dengan Clara selesai, Daddy akan menjadi milikmu sepenuhnya sepanjang sore ini."

Tuan Adiguna menghembuskan napas lega. Baginya, sandiwara Aluna adalah bukti bahwa hubungannya dengan Bram masih dalam batas "ayah-anak" yang sangat manja.

Ia tidak pernah membayangkan bahwa di balik rajukan manja itu, terdapat rahasia intim yang telah merusak batas-batas kesucian di bawah atap rumah mereka sendiri.

1
Lfa🩵🪽
yey akhirnya up lagi 😍😍
ollyooliver🍌🥒🍆
aluna terlalu lemah, dia mudah menujukkan rasa cemburu.
Hilag
semangatt kak 👍Bram Luna lope
Senja_Puan: siap kak💪
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
mengungkapkan cinta dengan gairah? itu bukan cinta..nafsu iya🙃
Yasa: terlalu terobsesi juga Bram nya. Ngeri sih, kalau ada yang kaya gini di dunia asli.

tapi perbedaan usia 15 tahun, masih oke-oke aja.
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
tiga hari sdh berlalu dan bram bekerja diruang kerjanya bahkan menginzinkan aluna menemaninya..kok baru ketahuan bau parfum clara..mereka flu parah kh🙃 kalau anting" wajar gk keliatan. lalu emng masuk akal clara datang kerumah bram tanpa bram ketahui?🙂
Senja_Puan: 2. Untuk yang Clara, sudah dijelaskan ya Kak. Clara ini cukup 'cerdas' dan 'ngeyel' ya, jadi dia tetap datang walau dilarang. Dan Anwar tetap memperbolehkannya masuk karena tahu dia putri rekannya Bram.
total 4 replies
Anom
team second lead a.k Rio😍
Senja_Puan: wah keren kak, sudah siap memilih akmj
total 1 replies
Anom
waduh disadap
Anom
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!