Pewaris Tubuh Suci Legendaris adalah novel fantasi kultivasi yang mengikuti perjalanan Shou Wei, seorang pemuda yang sejak kecil dianggap biasa, lemah, dan tidak menonjol, tetapi ternyata menyimpan rahasia besar dalam tubuhnya. Di balik kehidupannya yang penuh penindasan dan kehilangan, tersimpan benih kekuatan langka yang perlahan membawanya ke jalan berbahaya: jalan warisan kuno, formasi legendaris, tubuh naga, dan konflik antar dunia.
Cerita ini menyuguhkan banyak tempat skala dunia: sekte-sekte manusia, negeri demon, pulau-pulau melayang, kerajaan asing, hingga dunia lain yang memiliki teknologi, formasi, dan kekuatan jauh melampaui bayangan manusia biasa. Pertarungan yang dihadapinya bukan lagi sekadar soal hidup dan mati, melainkan soal masa depan banyak dunia.
Perpaduan cerita antara kultivasi, pertarungan, formasi, warisan kuno, intrik politik, dunia demon, perjalanan lintas dunia, dan rahasia takdir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Paviliun Timur
Tiga hari pertama di Lanhe City berlalu lebih cepat daripada dugaan Shou Wei.
Han Lu sibuk mondar-mandir antara River Lantern Lodge, gudang barang sungai, dan Blue River Auction House. Ia tidak banyak bicara soal pelat logam dari Broken Reed Bend, tapi dari cara ia menyimpan peta dan river pulse bead secara terpisah, Shou Wei tahu pria itu tidak berniat menjual semuanya sekaligus. Bagus. Orang yang terlalu cepat membuka semua kartu biasanya hanya bertahan sebentar.
Sementara itu, Shou Wei mulai mengenal ritme kota besar.
Pagi dipenuhi lalu lintas barang.
Siang dipenuhi orang-orang yang ingin membeli atau menjual.
Malam dipenuhi transaksi yang lebih tenang, tapi jauh lebih tajam.
Lanhe City punya lebih banyak peluang dari Stone Reed Town.
Ia juga punya lebih banyak mata.
Karena itu, Shou Wei tidak gegabah. Ia tetap membantu Han Lu memeriksa kelembapan barang sungai, sesekali memasang utility marks kecil pada wadah atau peti yang memang membutuhkannya, dan memakai malam untuk dua hal:
berlatih Mistwater Breathing Method,
serta membaca ulang manual kecil tentang array anchoring and node balance sampai bagian-bagian pentingnya terasa hampir seperti bagian dari pikirannya sendiri.
Pada hari ketiga, saat matahari baru naik setinggi lantai dua rumah-rumah batu di distrik tengah, ia pergi ke paviliun timur milik rumah lelang.
Bukan pintu utama.
Bukan tangga megah dengan patung beast air.
Paviliun timur lebih kecil, lebih tenang, dan jelas dipakai untuk urusan yang tidak perlu dilihat terlalu banyak orang. Di sana tidak ada pelanggan bangsawan. Hanya pelayan, dua penjaga, beberapa peti tertutup, dan meja penerimaan barang rusak.
Shou Wei menunjukkan namanya:
“Wei Shou.”
Pelayan muda berjubah biru tua memeriksa daftar, lalu mengangguk. “Young Miss memberi izin. Tunggu.”
Ia dibawa masuk ke ruangan panjang dengan rak-rak kayu di kedua sisi. Di atas rak-rak itu tersusun:
pelat segel rusakutility arrays murahanpotongan bendera formasicincin simpul patahdan berbagai benda yang jelas terlalu kecil atau terlalu rusak untuk menarik perhatian para seniorRuangan itu sunyi, tapi tidak kosong.
Di balik meja tengah duduk seorang lelaki setengah baya berwajah datar dengan janggut tipis rapi. Jari-jarinya panjang dan bersih, tapi ada bekas halus logam serta tinta di sela kuku. Orang formasi.
Ia mengangkat kepala saat Shou Wei masuk, lalu tatapannya turun satu kali ke tangan bocah itu.
“Jadi kau yang dimaksud Young Miss,” katanya.
Shou Wei berhenti di depan meja. “Aku dipanggil.”
“Namaku Qin Mo. Aku yang mengawasi barang-barang receh di paviliun timur. Jangan tersinggung dengan kata ‘receh’. Barang receh yang benar sering kali lebih berguna daripada artefak mahal di tangan orang bodoh.”
Nada bicaranya datar. Tidak hangat, tidak dingin. Mirip pisau yang belum diputuskan mau dipakai memotong sayur atau tenggorokan.
Qin Mo mendorong tiga benda ke depan:
satu pelat segel kecil retaksatu cincin pengunci patahdan satu utility plate murahan yang garisnya hampir habis“Lihat. Jelaskan cepat. Mana yang bisa diperbaiki, mana yang harus dibuang, dan mana yang masih bisa dijual untuk orang miskin.”
Ujian lagi, pikir Shou Wei.
Ia tidak keberatan.
Pelat segel pertama rusaknya di luar, tapi simpul intinya masih hidup.
Cincin pengunci kedua patahnya terlalu dalam, dan jalur qi di sisi kanan sudah mati total.
Utility plate ketiga jelek, tapi bentuknya jujur—masih bisa dipakai beberapa kali untuk fungsi sederhana.
Ia menjawab satu per satu.
Qin Mo tidak memuji. Ia hanya menggeser tiga benda baru, lalu tiga lagi. Setiap kali jawabannya tepat, tatapan lelaki itu menjadi sedikit lebih sempit, sedikit lebih fokus. Bukan karena marah. Karena tertarik.
Setelah tujuh benda, Qin Mo akhirnya bersandar.
“Matamu bagus,” katanya.
Shou Wei diam.
“Dan lidahmu tidak terlalu panjang. Lebih bagus.” Qin Mo mengetuk meja dengan dua jari. “Paviliun timur tidak butuh murid. Kami butuh orang yang bisa menghemat waktu. Barang-barang kecil ini, kalau diperiksa para senior satu per satu, hanya membuang tenaga. Kalau dibiarkan sembarang, rumah lelang rugi kecil tapi terus-menerus.”
Ia mendorong sebuah kotak kayu tipis ke depan.
Di dalamnya ada dua belas benda formasi rusak tingkat rendah:
potongan utility markssegel petipelat penahan qi murahandan satu simpul pengait kecil yang hampir tak terlihat nilainya“Pisahkan jadi tiga tumpukan,” kata Qin Mo. “Bisa dijual utuh. Bisa diperbaiki murah. Dan sampah.”
Shou Wei mulai bekerja.
Ia tidak menyentuh semuanya langsung. Pertama ia melihat pola. Lalu bentuk kerusakan. Lalu baru menyentuh satu-satu dengan ujung jari atau memiringkannya ke cahaya.
Sebagian besar mudah.
Tapi simpul pengait kecil di ujung kotak membuatnya berhenti sepersekian detik.
Benda itu tampak remeh, bahkan hampir tidak punya nilai. Namun jalur dalamnya justru sangat rapi, hanya terkikis di satu sisi. Jika diberi tangan yang tepat, ia bisa jadi pengunci kecil untuk box obat, kotak surat, atau wadah batu roh. Benda semacam itu jarang diperhatikan orang, tapi justru paling cepat laku.
Shou Wei menaruhnya di tumpukan “bisa diperbaiki murah”.
Qin Mo melihat itu dan untuk pertama kalinya sudut mulutnya bergerak tipis. “Good.”
Ia bangkit dari kursi, mengambil secarik papan kayu kecil bertuliskan lambang rumah lelang, lalu meletakkannya di meja.
“Mulai hari ini, kau bisa datang tiap tiga hari atau saat dipanggil. Bayaran per sesi tergantung hasil kerja. Tidak banyak, tapi cukup untuk bocah yang belum punya nama.” Ia menatap Shou Wei lebih dalam. “Dan jika suatu hari kau mulai merasa dirimu terlalu penting untuk barang kecil, pintu ini akan tertutup sendiri.”
“Aku mengerti.”
“Aku harap begitu.”
Pintu samping ruangan terbuka pelan.
Qin Mo langsung berdiri setengah.
Shou Wei menoleh.
Lan Xue masuk.
Hari ini ia berpakaian lebih sederhana dari waktu di ruang penilaian—jubah biru pucat dengan lapisan putih tipis, tanpa ornamen emas. Tapi justru kesederhanaan itu membuat aura dinginnya lebih jelas. Ia tidak membawa pengawal. Hanya satu pelayan perempuan di belakang, memegang baki dokumen.
Tatapannya langsung jatuh ke tiga tumpukan barang yang sudah dipisahkan Shou Wei.
“Finished?” tanyanya pada Qin Mo.
“Ya, Young Miss. Matanya stabil.”
Lan Xue mendekat ke meja dan melihat hasil pemisahan itu tanpa banyak bicara. Jarinya berhenti sesaat pada simpul pengait kecil yang tadi dimasukkan Shou Wei ke tumpukan perbaikan murah.
“Kebanyakan orang akan menaruh ini di sampah,” katanya.
“Bisa dipakai untuk kotak kecil,” jawab Shou Wei. “Kalau diperbaiki, nilainya mungkin tak besar, tapi cepat terjual.”
Lan Xue mengangkat matanya menatapnya langsung. “Exactly.”
Tidak ada senyum setelah itu. Tidak ada pujian berlebihan. Tapi satu kata itu saja sudah cukup untuk membuat Qin Mo paham bahwa keputusan awalnya benar.
Lan Xue memandang rak panjang di ruangan itu, lalu berkata seolah bicara tentang cuaca, “Blue River Auction House tidak kekurangan pria yang ingin bicara padaku. Kami justru kekurangan orang yang bisa melihat nilai pada benda yang tidak tampak indah.”
Pelayan perempuan di belakangnya menunduk sedikit lebih rendah.
Qin Mo pura-pura tidak mendengar.
Shou Wei juga tidak menanggapi kalimat itu sebagai sesuatu selain bisnis.
Dan memang begitulah maksudnya.
Lan Xue lalu berkata lagi, “Aku tidak tertarik memelihara orang yang hanya punya sedikit bakat lalu tumbuh sombong. Tapi aku tertarik pada orang yang bisa membuat bakat kecil menjadi hasil nyata.” Tatapannya turun sebentar ke tangan Shou Wei. “Kau bisa jadi berguna.”
Kalimatnya dingin.
Sangat dingin.
Tapi justru karena itu, ia terasa lebih jujur.
Lan Xue tidak sedang menggoda.
Tidak sedang bermain mata.
Tidak sedang bersikap lembut pada bocah miskin.
Ia hanya menyatakan fakta:
aku melihat nilai,
dan aku ingin menjaga hubungan baik selama itu menguntungkan.
Shou Wei menunduk tipis. “Aku mengerti, Miss Lan.”
Lan Xue mengangguk sekali. “Good.”
Ia lalu memberi isyarat pada pelayannya. Sebuah kantong kain kecil dan dua lembar kertas tipis diletakkan di meja.
“Bayaran sesi pertama,” katanya. “Dan dua izin masuk terbatas ke paviliun timur. Satu untuk kerja. Satu untuk mengakses daftar barang rusak tingkat rendah yang tidak masuk lelang besar.”
Jantung Shou Wei bergerak sedikit.
Itu lebih dari sekadar uang.
Itu akses.
Akses ke barang-barang yang tak menarik perhatian orang besar, tapi bisa sangat berguna untuk orang seperti dirinya.
“Terima kasih.”
Lan Xue menatapnya sesaat. “Jangan terlalu cepat berterima kasih. Aku membenci hubungan yang kabur antara budi baik dan bisnis.”
Kalimat itu hampir membuat Qin Mo tertawa, tapi lelaki itu menahannya.
Shou Wei menyimpan kata-katanya baik-baik.
Lan Xue melanjutkan, “Kalau kau menemukan broken plates atau utility fragments bernilai tapi tak mampu membelinya, laporkan lewat paviliun timur. Kami bisa bicara soal margin.” Ia berhenti, lalu menambahkan dengan nada sama rata, “Selama kau jujur soal apa yang kau tahu.”
Itu garis.
Jelas dan bersih.
Rumah lelang ini mau hubungan kerja.
Tidak lebih.
Tidak kurang.
Dan justru karena itu, Shou Wei lebih nyaman.
Saat keluar dari paviliun timur, Shou Wei menghitung cepat isi kantong bayaran.
Dua perak.
Tiga puluh tembaga.
Untuk satu sesi barang rusak kecil, itu sudah sangat layak.
Tapi pikirannya tidak berhenti pada uang.
Ia memikirkan:
akses ke daftar barang rusak tingkat rendahkemungkinan mendapat broken plates murahkesempatan belajar dari potongan-potongan yang orang lain anggap sampahdan fakta bahwa Lan Xue telah menandainya, setidaknya dalam lingkup bisnis rumah lelangItu penting.
Di kota sebesar Lanhe City, punya satu pintu masuk lebih berharga daripada punya satu kantong uang.
Namun langkah berikutnya belum sempat tertata rapi di kepalanya, karena saat ia berbelok ke jalan luar rumah lelang, ia melihat sosok yang terlalu dikenal berdiri di bawah bayang balkon batu.
Tinggi.
Kurus.
Jubah gelap cokelat.
Tangan memegang tabung bambu sempit.
Wei Kuan.
Pria itu tidak tampak terkejut melihatnya. Justru seperti sudah menunggu kemungkinan ini.
“Jadi benar,” katanya pelan. “Aku pikir mataku salah saat melihatmu masuk ke Blue River Auction House.”
Shou Wei berhenti beberapa langkah darinya. “Lanhe City kota besar. Banyak orang datang.”
“Ya. Tapi tidak semua orang masuk dari paviliun timur.” Wei Kuan memiringkan kepala sedikit. “Itu pintu yang menarik untuk bocah dari Stone Reed Town.”
Nada suaranya tetap lembut, tapi kini ada sesuatu yang lebih dingin di bawahnya.
Ia sudah melihat cukup banyak untuk mengerti satu hal:
Shou Wei tidak datang ke kota besar hanya sebagai pembantu sungai biasa.
Shou Wei menjawab datar, “Dan kau? Datang untuk melihat lelang, atau mengikuti orang?”
Wei Kuan tersenyum tipis. “Kalau aku bilang keduanya?”
Mereka saling diam beberapa napas.
Orang-orang lewat di jalan depan rumah lelang, tapi aliran manusia di kota besar punya caranya sendiri untuk memberi ruang pada ketegangan tanpa benar-benar menyadarinya. Tidak ada yang berhenti menonton. Tidak ada yang peduli. Di Lanhe City, dua orang saling menilai di tengah jalan bukan hal menarik selama belum ada darah.
Wei Kuan mengangkat tabung bambunya sedikit. “Aku mendapatkan sesuatu dari sungai. Kau juga. Kini kita berada di kota yang sama, melihat rumah lelang yang sama, dan mungkin segera mengejar barang yang sama. Lucu, bukan?”
“Aku tidak suka hal lucu.”
“Bagus. Aku juga tidak.” Senyum tipis itu hilang. “Dengar, Wei Shou. Di Stone Reed Town, kita hanya dua orang kecil berebut sisa rawa. Di Lanhe City, orang yang salah langkah bukan cuma kehilangan uang. Mereka bisa kehilangan tempat berdiri.”
“Kalau begitu jangan salah langkah.”
Untuk sepersekian detik, mata Wei Kuan benar-benar terlihat hidup. Bukan marah. Tapi seperti seseorang yang menemukan lawan catur yang cukup mengerti papan.
“Aku harap begitu,” katanya. “Karena aku mulai tidak ingin kau mati terlalu cepat.”
Ia lalu melangkah pergi, tapi sebelum benar-benar menjauh, ia berkata tanpa menoleh, “Tiga hari lagi ada listing kecil untuk fragmented water-route scraps di daftar rusak rumah lelang. Kalau kau bisa masuk paviliun timur... mungkin kita akan bertemu lagi.”
Jadi itulah sebabnya ia ada di sini.
Bukan kebetulan.
Ia juga sudah mencium ada barang terkait jalur sungai tua yang masuk ke rumah lelang.
Shou Wei berdiri diam sampai punggung pria itu hilang di antara kereta dan pejalan kaki.
Tiga hari lagi.
Fragmented water-route scraps.
Paviliun timur.
Masalah dengan Wei Kuan memang belum selesai.
Ia justru baru naik satu tingkat.
Namun kali ini, Shou Wei tidak merasa terdesak seperti saat di Stone Reed Town.
Kini ia punya:
sedikit uangsedikit reputasipintu masuk ke paviliun timurdan mata dingin Lan Xue yang melihat nilainyaItu belum cukup untuk menang besar.
Tapi cukup untuk tidak lagi menjadi mangsa yang mudah.
Saat ia kembali ke River Lantern Lodge, langkahnya tetap tenang.
Lanhe City memang lebih besar, lebih tajam, dan lebih penuh orang berbahaya.